Jumat, 13 November 2015

ILANA TAN - SUMMER IN SEOUL

ILANA TAN - SUMMER IN SEOUL





Prolog




Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku?
Dulu kalau aku tak di situ, kini di mana aku?
Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku?
Kini kalau aku di sini, kelak di mana aku?

Tak tahu kelak ataupun dulu
Cuma tahu kini aku begini
Cuma tahu kini aku di sini
Dan kini aku melihatmu


KONON  ketika  seseorang  dalam  keadaan  hidup  dan  mati,  ia  akan  bisa  melihat
potongan-potongan kejadian dalam hidupnya, seperti menonton film yang tidak jelas
alur ceritanya. Benarkah begitu?
  Oh  ya,  ia  sedang  mengalaminya.  Ketika  tubuhnya  terlempar  ke  sana-sini,
pandangannya  mendadak  gelap,  namun  anehnya  ia  kemudian  bisa  melihat  wajah
seseorang dengan jelas. Ia juga bisa mendengar suaranya.
  Betapa  ia  sangat  merindukannya  sekarang,  ingin  bertemu  dengannya,  ingin
berbicara  dengannya.  Ada  yang  harus  ia  katakan  pada  orang  itu.  Ia  harus
memberitahunya ia rindu.
  Hanya sekali saja…
  Kalau boleh, ia ingin mengatakannya sekali saja…
  Kalau boleh, ia ingin melihatnya sekali saja… 4

  Tapi tidak bisa…
  Suaranya tidak bisa keluar…
  Ia tidak punya tenaga untuk bicara…































 5


Satu




“S EKARANG  aku  masih  di  jalan…  Mm,  baru  pulang  kantor…  Aku  juga  tahu
sekarang  sudah  jam  sepuluh…  Ya,  jam  sepuluh  lewat  delapan  belas  menit.
Terserahlah.”
  Sandy  melangkah  perlahan.  Sebelah  tangannya  memegang  ponsel  yang
ditempelkan  ke  telinga,  dan  tangan yang  sebelah  lagi  mengayun-ayunkan  tas  tangan
kecil  merah.  Ia  mengembuskan  napas  panjang  dengan  berlebihan  dan  mengerutkan
kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Lee Jeong-Su, tapi
laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.
  “Jeong-Su, sudah dulu ya? Aku lelah sekali,” Sandy menyela ucapan Lee Jeong-Su
dan  langsung  menutup  telepon.  Sekali  lagi  ia  mengembuskan  napas  panjang,  lalu
menatap ponselnya dengan kesal.
  Kenapa hari  ini  muncul banyak masalah yang  tidak  menyenangkan? Tadi pagi  ia
sudah  bermasalah  dengan  salah  satu  klien  perusahaan,  kemudian  diomeli  atasannya
dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini.
  Sandy semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari.
Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan
otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang.
  Ini bukan pertama kalinya Sandy harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia
sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang  busana itu. Pekerjaannya
sungguh-sungguh  memakan  waktu  dan  tenaga  sehingga  tidak  ada  lagi  tenaga  yang
tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari.
  Ia berhenti melangkah dan mendesah. “Bisa gila aku,” gumamnya pada diri sendiri. 6

  Sandy  memandang  sekelilingnya.  Kota  Seoul  masih  belum  menunjukkan  tanda-
tanda  mengantuk.  Bangunan-bangunan  di  sepanjang  jalan  seakan  sedang  berlomba-
lomba  menerangi  seluruh  kota,  membujuk  orang-orang  untuk  menikmati  indahnya
suasana  malam  musim  panas  di  ibukota  Korea  Selatan  yang  menakjubkan  itu.
Meskipun  sudah  bertahun-tahun  menetap  di  Seoul,  Sandy  masih  terkagum-kagum
pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun
jalanan  masih  dipenuhi  pejalan  kaki  dan  mobil-mobil  yang  berlalu-lalang.  Aroma
makanan  tercium  dari  restoran  Jepang  di  depan  sana,  lagu  disko  terdengar  samar-
samar dari toko musik di sampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan
tertawa.
  Tiba-tiba Sandy merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko
makanan  kecil  di  seberang  jalan.  Setelah  merenung  sesaat,  ia  mengangguk  dan
bergumam,  “Baiklah,”  seolah  menyerah  pada  perdebatan  yang  dia  lakukan  seorang
diri.
  Sandy menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan
sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko
itu.  Setelah  memberi  salam  kepada  bibi  pemilik  toko  yang  sudah  lama  dikenalnya,
Sandy langsung berjalan ke rak keripik.
  “Nah, Soon-Hee, ada masalah apa lagi di kantor?” tanya bibi pemilik toko setelah
melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Sandy di meja kasir.
  Sandy tersenyum malu. “Ah, tidak ada. Saya hanya sedikit stres.” Ia membuka tas
tangannya dan mencari dompet. Ke mana dompet itu?
  “Sebentar,  Bibi.  Saya  yakin  sekali  sudah  memasukkan  dompet  tadi…”  Sandy
mengaduk-aduk  isi  tas  tangannya,  lalu  menumpahkan  seluruh  isinya  ke  meja  kasir.
Kini, selain lima bungkus keripik kentang, di sana ada sisir kecil, buku kecil yang agak
lusuh, bolpoin yang tutupnya sudah hilang, bedak padat, lipgloss, kunci, payung lipat,
tiga  keping  uang  logam,  saputangan  merah,  ponsel,  dua  lembar  struk  belanja  yang
sudah kusam, bungkus permen kosong, dan jepitan rambut.
  “Kenapa tidak ada?” Sandy bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di
rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari ia tidak membawa dompet?
  Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Sandy melirik ponselnya yang tergeletak di
meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi.
  “Kau sudah sampai di rumah? … Ya, sebentar lagi aku ke sana.”
  Sandy  menoleh  ke  arah  suara  bernada  rendah  itu.  Suara  itu  milik  pria  bersetelah
putih  yang  berdiri  di  belakangnya.  Rupanya  bunyi  tadi  adalah  bunyi  ponsel  pria
tersebut. Sekarang Sandy melihat orang itu menutup ponsel dan memasukkannya ke
saku celana panjangnya. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi lima botol 7

soju*. Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan
atau  awal  tiga  puluhan,  wajahnya  tampan  dan  penampilannya  rapi  sekali  seperti
seseorang yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan besar.
  Pria itu memandang Sandy, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Sandy
melihat  senyum  yang  begitu  menarik.  Senyum  itu  membuat  rasa  lelahnya  seakan
menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat…
  Sandy menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian
pada barang-barangnya yang berserakan di meja kasir.
  Tiba-tiba  Sandy  merasa  tangannya  ditepuk-tepuk.  Ia  mengangkat  wajahnya  dan
melihat  bibi  pemilik  toko  sedang  tersenyum  kepadanya  dan  berkata,  “Soon-Hee,
bagaimana kalau tuan itu membayar belanjaannya duluan?”
  Sandy  memandang  bibi  pemilik  toko,  lalu  berpaling  ke  arah  pria  yang  berdiri  di
belakangnya. “Oh, ya. Maaf.” Sandy menyingkir ke samping dan pria itu melangkah
maju.
  “Berapa?” tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel lagi.
  Kepala  Sandy  mulai  terasa  sakit  seperti  ditusuk-tusuk.  Ia  sudah  sangat  lelah  dan
sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali.
  Pria  itu  mengeluarkan  ponsel  dari  saku  celana  dan  meliriknya  sekilas.  Lalu  ia
meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan
ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring.
  Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus
punya dua? pikir Sandy sambil memijat-mijat pelipisnya.
  Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu.
Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir.
“Maaf,” gumamnya sambil tersenyum kepada bibi pemilik toko dan Sandy.
  Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun.
  Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Sandy memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika
ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan
putih yang diparkir di depan toko.
  Karena  Sandy  tetap  tidak  bisa  menemukan  dompetnya,  bibi  pemilik  toko
mengizinkannya  membayar  besok.  Sandy  mengumpulkan  kembali  barang-barangnya
yang berserakan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam
sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf.


* Sejenis minuman keras khas Korea. 8

  Begitu  keluar  dari  toko,  Sandy  langsung  membuka  sebungkus  keripik  dan  mulai
makan. “Sekarang pulang ke rumah,” katanya pada dirinya sendiri.
  Selesai berkata begitu, ponselnya  berbunyi. Saat itu juga ia mengutuk hari  ponsel
diciptakan.  Sebenarnya  ia  tidak  ingin  menjawab  ponselnya  karena  merasa  harus
menghemat  tenaga  untuk  perjalanan  pulang,  tapi  benda  tidak  tahu  diri  itu  terus
menjerit  minta  diangkat.  Akhirnya  Sandy  menyerah  dan  mengaduk-aduk  tasnya
dengan ganas untuk mencari ponsel sialan itu sebelum ia sendiri yang bakal menjerit
histeris di tengah jalan.
  “Haaloo!” Sandy ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa.
  Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?
  “Halo? Siapa ini? Silakan bicara… Halo? HALOO?”
  Sandy baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang
ragu-ragu di seberang sana.
  “Maaf… bukankah ini ponsel Tae-Woo?”
  Siapa lagi orang ini?
  “Anda salah sambung. Ini ponsel Han Soon-Hee,” ujar Sandy ketus dan langsung
menutup flap ponselnya dengan keras.
  Sandy  menatap  ponselnya  sambil  menggigit  bibir  penuh  rasa  dongkol.  “Tidak
bisakah  kaubiarkan  aku  tenang  sedikit?”  Ia  baru  akan  mencabut  baterai  ponsel  itu
ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di
rumah. Walaupun Sandy tinggal di Seoul dan orangtuanya  di Jakarta, mereka sering
menelepon  dan  mengecek  keberadaannya.  Tadi  ibunya  malah  sudah  sempat
menelepon untuk menanyakan kenapa Sandy belum sampai di rumah.
  Ia  membuka  ponselnya  kembali  dan  menekan  angka  satu  yang  akan  langsung
terhubung ke rumah orangtuanya di Jakarta, tapi ia heran ketika melihat tulisan yang
tertera di layar ponselnya setelah ia menekan angka itu. Bukan tulisan “Rumah Jakarta”
yang  tertera  seperti  biasa,  tapi  nama  “Park  Hyun-Shik”.  Sandy  cepat-cepat
memutuskan hubungan dan tertegun.
  Sandy  memerhatikan  ponsel  yang  dipegangnya.  Memang  itu  ponsel  miliknya,
setidaknya  bentuk  dan  warnanya  sama  persis  dengan  ponsel  miliknya.  Ia  membuka
daftar telepon di ponselnya dan melongo melihat nama-nama yang tidak dikenalnya.
Otaknya yang sudah lelah dipaksa berpikir.
  Tadi  di  toko  bibi  itu,  semua  barangnya  berserakan  di  meja  kasir,  termasuk
ponselnya. Ketika ponsel milik pria yang berdiri di belakangnya tadi berbunyi untuk
pertama kali, ia mengira ponselnya sendiri yang berbunyi karena dering ponsel mereka
sama. 9

  Kemudian  ponsel  kedua  pria  itu  berbunyi.  Pria  itu  meletakkan  ponselnya  yang
pertama di meja dan mengeluarkan ponsel kedua. Jadi, di meja kasir ada ponsel pria itu
dan ponsel Sandy.
  Sandy  teringat  bentuk  ponsel  pria  itu  yang  diletakkan  di  meja  memang  sama
dengan  bentuk  ponselnya  sendiri.  Sebelum  keluar  dari  toko,  pria  itu  berbalik  untuk
mengambil  ponsel  pertamanya  yang  tertinggal  di  meja.  Sekarang  Sandy  memegang
ponsel dengan daftar nama yang tidak dikenalnya.
  Otaknya mulai bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Artinya… artinya… orang
itu telah mengambil ponsel yang salah. Pria tadi mengambil ponsel Sandy.
  Sandy memukul-mukul dadanya dan mengerang putus asa. “Bagaimana ini? Aduh,
bisa gila aku. Gila.” Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Mobil pria itu sudah tidak tampak.
Sandy  merasa  tubuhnya  nyaris  ambruk  ke  tanah.  Rasanya  ingin  menangis  saja.  Ke
mana ia harus mencari orang itu?
  Tiba-tiba ide muncul di otaknya yang sudah hampir lumpuh. Ponselnya ada pada
pria  itu,  bukan?  Berarti  Sandy  bisa  menelepon  ke  ponselnya  dan  pria  itu  akan
menjawab. Sebersit tenaga muncul kembali. Ia menghubungi ponselnya dengan ponsel
pria tadi yang sedang dipegangnya.
  Sandy  berjalan  mondar-mandir  di  tepi  jalan  dengan  gelisah  sambil  menunggu
hubungannya tersambung. “Cepat angkat… cepat… tolong… ce—Halo?”


“Oh, Hyong*. Kenapa lama sekali?”
  Park  Hyun-Shik  tersenyum  meminta  maaf  kepada  laki-laki  bertubuh  tinggi  yang
membuka  pintu,  lalu  melangkah  masuk  ke  rumah  yang  sudah  sering  didatanginya.
“Maaf, jalanan agak macet,” katanya sambil berjalan ke ruang duduk yang luas. “Hei,
Tae-Woo. Punya makanan ringan? Aku sudah beli minuman.”
  Jung Tae-Woo mengikuti Park Hyun-Shik ke ruang duduk. Ia tidak menghiraukan
pertanyaan temannya dan balik bertanya, “Hyong sudah dengar gosipnya?”
  Park Hyun-Shik memerhatikan temannya mengempaskan diri ke sofa. Tatapan Jung
Tae-Woo terlihat menerawang dan cemas. Sebagai manajer Jung Tae-Woo, Park Hyun-
Shik memahami alasan kekhawatirannya.
  “Dari  mana  asal  gosip  itu?”  kata  Tae-Woo,  seakan-akan  bertanya  pada  dirinya
sendiri.
  Park Hyun Shik hanya tersenyum kecil dan mengulurkan sebotol soju kepadanya.


* Kakak, panggilan pria kepada pria yang lebih tua. 10

  Tae-Woo membuka tutup botol itu dan meneguk isinya. “Aku dibilang  gay.” Tae-
Woo  tertawa  pahit.  “Kenapa  mereka  bisa  berpikir  seperti  itu?  Memangnya  sikapku
seperti wanita? Atau aku pernah terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku,  Hyong.
Jangan-jangan selama ini Hyong juga berpikir seperti mereka?”
  Park Hyun-Shik duduk di kursi di hadapan Tae-Woo, ikut meneguk soju langsung
dari  botolnya.  “Kau  tahu  aku  tidak  pernah  berpikir  seperti  itu,”  ujarnya  tenang.
“Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita. Kau juga tahu mereka
sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir
kau  gay?  Mungkin  karena  selama  ini  kau  tidak  pernah  terlihat  dekat  dengan  wanita
mana pun di depan publik.”
  Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Kalau begitu, terserah mereka mau berpikir apa.
Kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri.”
  Park Hyun-Shik menggeleng. “Dua minggu lagi album barumu akan diluncurkan.
Aku takut rumor ini bisa memengaruhi penjualan albummu nantinya. Satu gosip bisa
menimbulkan  gosip-gosip  lain.  Bahkan  masalah  lama  juga  bisa  diungkit-ungkit.
Produsermu  tidak  akan  senang.  Ditambah  lagi,  bagaimana  dengan  para
penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar.”
  Jung Tae-Woo mendongak menatap langit-langit dan mengembuskan napas berat.
“Lalu bagaimana?”
  Park Hyun-Shik meneguk minumannya lagi dan berkata, “Untuk masalah gosip gay
itu,  kurasa  sudah  saatnya  bagimu  untuk  memperkenalkan  seorang  wanita  kepada
publik.”
  Kepala Tae-Woo berputar cepat ke arah Park Hyun-Shik. “Apa?”
  “Sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?” usul Park Hyun-Shik langsung.
  “Apa?”
  Park  Hyun-Shik  tidak  memandang  Jung  Tae-Woo  dan  melanjutkan  dengan  nada
serius,  “Yang  penting  jangan  berpacaran  dengan  artis.  Bisa  jadi  skandal.  Terlalu
berisiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan
bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan wanita karena mereka pasti curiga dan
akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay.”
  Park  Hyun-Shik  mengerutkan  kening  dan  tenggelam  dalam  pikiran.  Akhirnya  ia
menoleh dan mendapati Tae-Woo sedang menunggu hasil renungannya.
  “Baiklah,”  katanya  sambil  tersenyum.  “Kita  misalkan  saja  bahwa  sebenarnya  kau
punya kekasih tapi kekasihmu tidak bersedia diekspos, jadi kau terpaksa merahasiakan
hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu siapa wanita itu dan tidak ada
yang pernah melihatnya.” 11

  Tae-Woo  mengerutkan  kening  karena  bingung.  “Tidak  ada  yang  pernah  melihat
dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu? Orang-orang tidak akan percaya pada
sekadar kata-kata belaka.”
  “Tapi kita bisa memberikan bukti.”
  “Bukti apa?”
  “Foto dirimu bersama wanita itu.”
  “Wanita yang mana?”
  “Wanita yang menjadi kekasihmu.”
  “Kekasih yang mana?”
  “Semua bisa diatur kalau memang kau mau.”
  “Maksudnya?”
  Senyum  Park  Hyun-Shik  bertambah  lebar.  “Kita  cari  wanita  yang  tidak  dikenal
siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu
memamerkannya di depan wartawan. Beres, bukan?”
  Tae-Woo  merenung,  lalu  berkata,  “Bagaimana  kalau  wartawan  mulai  menyelidiki
asal-usul  wanita  itu?  Lagi  pula  di  mana  kita  cari  wanita  yang  bersedia  dan  bisa
dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?”
  Park  Hyun-Shik  meneguk  soju-nya  lagi  dan  menatap  Tae-Woo.  Temannya  itu
tampak mempertimbangkan usulnya dengan ekspresi sangat cemas. Alisnya berkerut,
sesekali ia menggigit bibir bawahnya.
  Setelah  beberapa  saat,  Tae-Woo  mendesah  dan  melanjutkan,  “Wanita  yag  seperti
apa yang akan kita pilih? Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja wanita pertama
yang berjalan melewati pintu itu?” Ia menunjuk pintu depan rumahnya dengan dagu.
  Tawa Park Hyun-Shik meledak. Tae-Woo menatapnya dengan pandangan bingung.
“Hyong, ada apa?”
  Park  Hyun-Shik  mendorong  pelan  bahu  Tae-Woo.  “Astaga,  Tae-Woo.  Aku  hanya
bercanda. Kenapa kau serius begitu?”
  “Apa?”
  Park Hyun-Shik menggeleng-geleng. “Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah,
tidak usah dipikirkan. Pasti ada jalan keluarnya.”
  Tae-Woo mendengus, lalu tertawa kecil. “Ah, pusing!  Aku mau keluar  jalan-jalan
sebentar. Hyong mau ikut?” kata Tae-Woo sambil merebahkan kepala di sandaran sofa
dan memandang langit-langit ruang duduk.
  Park Hyun-Shik mengangkat bahu. “Oke.”
  Tae-Woo  mengayun-ayunkan  botol  soju  yang  sedang  dipegangnya,  lalu  bertanya,
“Oh, Hyong, ponselku sudah diperbaiki belum?” 12

  Park Hyun-Shik mengeluarkan ponsel dan mengulurkannya kepada Tae-Woo. Tiba-
tiba  ia  teringat  pada  telepon  yang  diterimanya  dalam  perjalanan  ke  rumah  Tae-Woo
tadi. Wanita yang mengaku bernama Han Soon-Hee itu berkata ponsel mereka tertukar.
Karena ia sendiri tidak bisa kembali mengambilnya, Park Hyun-Shik meminta wanita
itu datang ke rumah Jung Tae-Woo. Mungkin permintaannya agak keterlaluan karena
bagaimanapun tertukarnya ponsel mereka bukan salah wanita itu, tapi apa boleh buat.
Jung  Tae-Woo  sedang  uring-uringan  dan  kalau  sedang  uring-uringan,  ia  tidak  suka
menunggu lama.
  Ia baru akan menceritakan hal ini kepada Tae-Woo ketika bel pintu berbunyi.
  “Siapa yang datang malam-malam begini?” gumam Tae-Woo heran.


Sandy benar-benar tidak mengerti kenapa hari ini ia sial sekali. Mungkin begitu sampai
di  rumah  ia  harus  cepat-cepat  mandi  kembang  tujuh  warna  seperti  yang  pernah
diajarkan  ibunya,  apa  pun  untuk  mengguyur  hingga  tak  bersisa  segala  kesialan.
Sekarang  ia  berdiri  di  depan  pintu  rumah  besar  berwarna  putih.  Pria  yang  katanya
bernama  Park  Hyun-Shik  menyuruhnya  kemari  untuk  mengambil  ponselnya  yang
tertukar. Sandy jengkel. Kenapa ia yang harus datang, bukankah orang itu yang duluan
mengambil  ponsel  yang  salah?  Ia  bahkan  sampai  harus  meminjam  uang  dari  bibi
pemilik  toko  supaya  bisa  naik  bus,  ditambah  harus  berjalan  kaki  untuk  sampai  di
kawasan perumahan elite ini.
  Sandy  kembali  menghembuskan  napas.  Sudahlah,  tidak  apa-apa.  Hal  terpenting
sekarang  adalah  mendapatkan  ponselnya  kembali.  Setelah  ini  ia  bakal  bisa  bergegas
pulang. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam lima belas
menit terakhir.
  Pintu  terbuka  dan  Sandy  mengenali  wajah  pria  yang  membuka  pintu  itu.  Ia  pria
yang ada di toko tadi. Walaupun agak sulit, Sandy memaksakan seulas senyum sopan.
Pipinya terasa agak kaku, tapi ia berharap senyumnya terlihat normal.
  “Apa kabar? Saya Han Soon-Hee yang tadi menelepon. Saya ingin mengembalikan
ponsel Anda. Ini.” Sandy mengulurkan tangannya yang memegang ponsel.
  “Oh,  terima  kasih  banyak,”  kata  pria  itu  ramah.  “Saya  benar-benar  minta  maaf
karena sudah merepotkan. Silakan masuk. Ponsel Anda ada di dalam.”
  Sebenarnya  Sandy  tahu  ia  tidak  boleh  masuk  ke  rumah  pria  yang  tidak  ia  kenal,
apalagi  pada  jam  selarut  ini.  Tapi  otaknya  sudah  tidak  bisa  berfungsi  sebagaimana
mestinya dan ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah supaya bisa pulang ke
rumah dan tidur. Lagi pula pria itu kelihatannya sangat baik. 13

  Sandy  melangkah  masuk  dan  membiarkan  dirinya  dibawa  ke  ruang  duduk  luas
dengan perabotan mewah. Di sofa panjang yang mendominasi ruang tamu itu duduk
laki-laki  yang  sedang  berbicara  di  telepon.  Wajahnya  tampan,  potongan  rambutnya
bagus dan rapi, walaupun Sandy pribadi tidak terlalu suka dengan warna rambut yang
agak pirang. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu. Tapi di mana ya?
  “Mungkin Anda salah sambung,” Sandy mendengar pria itu berkata di ponselnya.
“Tidak ada yang namanya Han Soon-Hee atau Sandy di sini.”
  Sandy menatap Park Hyun-Shik dengan pandangan bertanya sambil menunjuk ke
arah ponsel yang sedang dipegang laki-laki tampan di sofa itu.
  “Ya, itu ponsel Anda,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum kecil.
  Laki-laki  yang  duduk  di  sofa  masih  sibuk  sendiri,  tidak  menyadari  kedatangan
Sandy. Keningnya tampak berkerut sebal. Ia berkata dengan nada agak marah. “Maaf,
Lee Jeong-Su ssi*, saya benar-benar tidak mengenal Anda. Saya juga tidak kenal Han
Soon-Hee.  Bagaimana  saya  bisa  meminta  dia  menjawab  telepon?  Anda  salah
sambung.”
  Selesai  berkata  seperti  itu,  laki-laki  itu  menutup  flap  ponselnya  dengan  keras.
“Orang aneh,” ia menggerutu sendiri.
  “Hei…,”  Sandy  mendengar  Park  Hyun-Shik  memanggil  laki-laki  itu.  “Ponsel  itu
milik nona ini.”
  Laki-laki di sofa itu berpaling ke arah Park Hyun-Shik, lalu ke arah Sandy. Ketika
mata mereka bertemu, Sandy baru sadar siapa laki-laki itu.


Jung  Tae-Woo  agak  bingung  mendengar  penjelasan  Park  Hyun-Shik.  Pandangannya
berpindah-pindah dari sang manajer ke gadis yang berdiri di hadapannya, lalu kembali
ke  manajernya  lagi.  Secara  sekilas,  ia  mengamati  orang  asing  yang  sekarang  ada  di
ruang tamunya itu: gadis bertubuh kecil dengan rambut dikucir dan tangan menjinjing
kantong plastik besar serta tas tangan. Raut wajahnya terlihat kusam, lelah, dan pucat.
Gadis itu diam tak bersuara sementara Park Hyun-Shik menjelaskan apa yang sudah
terjadi.
  “Oh,  jadi  ini  ponsel  Anda?”  tanya  Tae-Woo  sambil  bangkit  dari  sofa.  Ia
mengulurkan  ponsel  yang  sedang  dipegangnya.  “Itu…  tadi—siapa  namanya,  maaf,
saya lupa—menelepon mencari Han Soon-Hee atau Sandy. Anda sendiri Han Soon-Hee
atau Sandy?”
  Gadis itu tersenyum samar dan menjawab, “Dua-duanya nama saya.”


*Partikel dalam bahasa Korea untuk menyatakan rasa hormat. 14

  Tiba-tiba  ponsel  itu  berbunyi  dan  membuat  Tae-Woo  tersentak  kaget.  “Silakan
dijawab,” katanya cepat.
  Han Soon-Hee menerima ponsel itu dan langsung membuka flap-nya. “Halo?”
  Kemudian  Tae-Woo  dan  Park  Hyun-Shik  tertegun  ketika  mendengar  gadis  itu
berbicara dalam bahasa asing. Tae-Woo yakin percakapan tersebut bukan dalam bahasa
Inggris ataupun Jepang karena ia menguasai kedua bahasa itu. Entah bahasa apa yang
sedang  dipakai  gadis  itu,  pokoknya  ia  berbicara  lancar  sekali.  Tae-Woo  menoleh  ke
arah manajernya untuk bertanya dan sebagai jawaban Park Hyun-Shik menggeleng.
  Percakapan  itu  tidak  berlangsung  lama.  Setelah  menutup  telepon  si  gadis
memandang Park Hyun-Shik dan Tae-Woo bergantian dengan sikap serbasalah. Sambil
tersenyum kaku ia berkata, “Ehm, terima kasih banyak. Saya pulang dulu.”
  “Tunggu,”  Park  Hyun-Shik  menyela.  Gadis  itu  memandangnya  tanpa  ekspresi.
“Kalau boleh tahu, yang tadi itu bahasa apa?”
  “Bahasa Indonesia,” jawab gadis itu langsung.
  “Oh,  begitu.”  Park  Hyun-Shik  tersenyum  dan  mengangguk-angguk  karena
sepertinya  gadis  itu  tidak  ingin  menjelaskan  lebih  lanjut.  “Anda  bisa  berbahasa
Indonesia rupanya.”
  “Saya permisi,” kata gadis itu lagi sambil beranjak ke pintu.
  “Sebentar,” Park Hyun-Shik kembali  menahan gadis itu. Ia  memandang  Tae-Woo
sekilas, lalu kembali memandang gadis itu. “Anda tidak datang dengan mobil, bukan?
Tadi saya lihat tidak  ada mobil di luar. Begini saja, kebetulan kami juga mau keluar.
Bagaimana  kalau  Anda  kami  antar?  Saya  merasa  tidak  enak  karena  Anda  harus
mengantar ponsel itu kemari.”
  Gadis itu tersenyum kaku dan menggoyang-goyangkan sebelah tangannya. “Tidak
usah. Saya bisa naik bus.”
  “Kami bisa mengantar Anda ke halte bus,” timpal Tae-Woo. Ia tidak yakin gadis itu
bisa pulang sendiri karena bila dilihat dari keadaannya sekarang, gadis itu sepertinya
bisa jatuh pingsan kapan saja. “Anggap saja sebagai tanda terima kasih sekaligus tanda
maaf dari kami.”
  Gadis itu memandang mereka berdua bergantian dengan matanya yang besar. Raut
wajahnya tampak  bimbang.  Sepertinya otaknya  sedang  berputar, mencari cara untuk
menolak  tawaran  itu.  Tae-Woo  bisa  memahaminya.  Seorang  gadis  yang  langsung
bersedia diantar dua pria tidak dikenal sudah pasti gadis yang tidak beres.
  “Tidak usah khawatir. Kami tidak akan macam-macam. Percayalah,” kata Tae-Woo
sambil  tersenyum  lebar,  walaupun  ia  tahu  pasti  kalimat  itu  terdengar  tidak  terlalu
meyakinkan. 15

  “Oh,  bukan.  Saya  tidak  bermaksud  begitu,”  kata  gadis  itu  sambil  menggoyang-
goyangkan tangannya lagi.
  “Ayo,  biar  kami  antar  sampai  ke  halte  bus,”  sela  Tae-Woo  sambil  meraih  kunci
mobil manajernya yang ada di meja. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik. “Hyong, kita
pakai mobilmu saja, ya?”


Sepanjang  perjalanan  gadis  itu  lebih  banyak  diam.  Bila  diajak  bicara,  ia  hanya
menjawab seperlunya. Tae-Woo melirik manajernya yang sedang menyetir dan melirik
ke kaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang. Gadis itu duduk bersandar
dan memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tae-Woo ingin tahu apa yang
membuat gadis itu terlihat begitu lelah.
  Tiba-tiba gadis itu membuka suara, “Saya turun di depan sini saja.”
  Jung  Tae-Woo  membalikkan  tubuhnya  sedikit  supaya  bisa  melihat  gadis  itu.  “Di
sini saja? Yakin tidak mau kami antar sampai di rumah?”
  “Benar, kami tidak keberatan,” Park Hyun-Shik menambahkan.
  Gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan. “Tidak usah.
Berhenti di sini saja.”
  Park Hyun-Shik menghentikan mobilnya di tepi jalan, di dekat halte bus.
  “Terima kasih,” kata gadis itu sambil keluar dari mobil. “Selamat malam.”
  Ketika gadis itu membungkuk untuk memberi salam kepada mereka berdua, Park
Hyun-Shik  menurunkan  kaca  mobil  dan  bertanya,  “Nona  Han  Soon-Hee,  ada  yang
ingin saya tanyakan. Apakah Anda mengenal teman saya ini?”
  Tae-Woo menyadari manajernya sedang menunjuk ke arahnya.
  Han Soon-Hee mengerjapkan  matanya  sekali, lalu mengangguk. “Orang  ini? Jung
Tae-Woo,  bukan?  Jung  Tae-Woo  yang  penyanyi  itu?”  Lalu  seakan  baru  menyadari
sesuatu, ia memandang Tae-Woo dan berkata, “Lagu Anda… lagu Anda… bagus.”









 16


Dua




“‟L AGU Anda bagus‟?”
  Sandy  yang  duduk  bersila  di  tempat  tidur  dengan  selimut  membungkus  tubuh
menatap  bingung  Kang  Young-Mi  yang  duduk  di  sampingnya.  Temannya  yang
bermata  sipit  dan  berambut  lurus  panjang  tergerai  melewati  bahu  itu  balas  menatap
Sandy dengan kedua tangan terlipat di dada.
  “Aku  tidak  percaya  kau  hanya  bisa  berkata  begitu.  Kenapa  tidak  minta  tanda
tangannya?” Young-Mi melanjutkan dengan nada menuduh.
  Sandy  mengerang.  “Mungkin  karena  kemarin  aku  sedang  kesal  dan  lelah…  dan
lumpuh otak.” Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng. “Betul,
sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana bisa aku masuk ke
mobil  bersama  dua  laki-laki  yang  tidak  kukenal?  Dan  saat  itu  sudah  hampir  tengah
malam. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu. Tidak, tidak.
Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-
apa kemarin?”
  Kayng  Young-Mi  mendecakkan  lidah.  “Hei,  kau  bukannya  bersama  orang  asing.
Kau  bersama  Jung  Tae-Woo.  Kenapa  kau  tidak  minta  tanda  tangannya?”  tanyanya
sekali lagi, nada penyesalan kental terdengar.
  “Jung Tae-Woo orang asing bagiku,” cetus Sandy tegas. “Lagi pula kau tahu sendiri
aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?”
  “Walaupun bukan penggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini penggemar
beratnya,”  tegur  Young-Mi  lagi  sambil  menekankan  telapak  tangan  di  dada.  “Aku
sudah begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya
kau bisa minta tanda tangannya untukku… Tidak semua orang bisa bertemu langsung 17

dengan  Jung  Tae-Woo,  kau  tahu?  Dan  kemarin,  entah  dengan  keajaiban  apa,  kau
bertemu  dengannya,  kau  bicara  dengannya,  dan  dia  bahkan  mengantarmu  dengan
mobilnya.”
  “Mobil temannya,” sela Sandy. “Temannya juga ada di sana.”
  Young-Mi  tidak  mengacuhkan  Sandy.  “Kau  naik  mobil  bersamanya.  Haah,  kalau
aku jadi kau, aku akan—“
  “Hei, Kang Young-Mi!”
  Sikap Young-Mi melunak. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kalau lain kali kau bertemu
dengannya, jangan lupa minta tanda tangan untukku.”
  Sandy  membaringkan  diri  ke  tempat  tidur.  “Kalau  aku  bertemu  dengannya  lagi,”
gumamnya lirih. Pandangannya menerawang. “Kalau aku bertemu dengannya lagi.”
  Young-Mi  bermain-main  dengan  salah  satu  ujung  selimut  Sandy  lalu  tiba-tiba
menyeletuk,” Oh ya, kudengar Jung Tae-Woo itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip
itu  benar  atau  tidak,  meski  aku  bisa  mati  karena  kecewa  kalau  dia  benar-benar  gay.
Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti
apa?  Apakah  dia  kelihatan  normal-normal  saja?  Terlihat  berbeda?  Apakah
penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?”
  Sandy  mengerutkan  kening  dan  berpikir.  “Entahlah,  aku  tidak  merasa  ada  yang
aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah bilang bahwa kemarin aku lumpuh
otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya.”
  Young-Mi menatap prihatin temannya. “Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau
yang  bisa  demam  di  musim  panas  seperti  ini.  Kepalamu  masih  sakit?  Sudah  baikan,
belum?”
  Sandy tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia
menggigit  bibir  dan  bertanya,  “Young-Mi,  sebenarnya  apa  yang  kau  suka  dari  Jung
Tae-Woo? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?”
  Senyum  Kang  Young-Mi  mengembang.  “Karena  dia  tampan,  lucu,  pandai
menyanyi—aduh,  suaranya  bagus  sekali—dan  karena  dia  menulis  lagu-lagu  yang
begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar lagi.
Ah, aku sudah tidak sabar.”
  “Begitu?”
  Tiba-tiba Young-Mi memekik dan membuat Sandy terperanjat.
  “Kenapa?  Ada  apa?”  tanya  Sandy  begitu  melihat  Young-Mi  meraih  tasnya  yang
tergeletak di lantai dengan kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya.
  “Bodohnya  aku,  bodohnya  aku,”  gumam  Young-Mi  berulang-ulang.  “Seharusnya
aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku.”
  “Apa?” tanya Sandy heran. 18

  Young-Mi mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya. “Nah, coba kau
lihat ini.”
  sandy  melihat  artikel  berjudul  “Pertemuan  Tengah  Malam”  yang  ditunjukkan
Young-Mi dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Jung Tae-Woo
bersama seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi Sandy sudah tentu
bisa mengenali dirinya sendiri. Wanita yang bersama Jung Tae-Woo di dalam foto itu
adalah dirinya. Astaga! Apa-apaan ini?
  Foto  pertama  memperlihatkan  Sandy  dan  Jung  Tae-Woo  yang  sedang  keluar  dari
rumah artis itu. Kepala Sandy tertunduk ketika difoto sehingga wajahnya tidak terlihat.
Sandy  ingat  saat  itu  teman  Jung  Tae-Woo  masih  berada  di  dalam  rumah  sehingga
orang itu tidak ikut terfoto.
  Foto  yang  kedua  diambil  ketika  Jung  Tae-Woo  sedang  membuka  pintu  mobil
untuknya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Jung Tae-Woo. Sandy merasa
bersyukur karena wajahnya tidak terlihat.
  “Aku sempat melupakan tabloid ini ketika aku mendengar kau sakit,” kata Young-
Mi  menjelaskan.  “Seharusnya  aku  sudah  bisa  menduga  ketika  kau  menceritakan  apa
yang kaualami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lambat sekali. Wanita
yang di foto itu kau, bukan?”
  “Astaga,” gumam Sandy tidak percaya. “Siapa yang mengambil foto-foto ini?”
  “Jung  Tae-Woo  itu  artis  terkenal,”  kata  Young-Mi  dengan  nada  aku-tahu-semua-
jadi-percaya-saja-padaku.  “Tentu  saja  banyak  wartawan  yang  sibuk  mencari  berita
tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau
kekasih Jung Tae-Woo.”
  Sandy  menggeleng-geleng  dan  mengembalikan  tabloid  itu  kepada  Young-Mi.  Ia
masih merinding, “Aku tidak berdua saja dengan Jung Tae-Woo. Paman berkacamata
itu,  teman  Jung  Tae-Woo,  juga  ada  bersama  kami,  seharusnya  siapa  pun  yang
mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?”
  Kang Young-mi menarik napas panjang. “Sudah kubilang, Jung  Tae-Woo itu artis
terkenal.  Tabloid-tabloid  harus  mencari  berita  yang  bisa  menarik  perhatian  orang.
Kalau kalian bertiga yang ada dalam foto itu, tidak akan ada berita.”
  Sandy merasa tubuhnya menggigil. “Untunglah wajahku tidak terlihat. Young-Mi,
kuharap  kau  tidak  akan  memberitahu  siapa  pun  tentang  pertemuanku  dengan  Jung
Tae-Woo.”
  Alis Young-Mi terangkat. “Kenapa?”
  Sandy  mengerutkan  kening  dan  menggaruk  kepala.  “Enak  saja  mereka  membuat
gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti
gosip artis…” 19

  “Kepalamu  masih  sakit?”  tanya  Young-Mi  ketika  melihat  Sandy  terdiam  sambil
memegang dahi.
  Sandy menggeleng dan tersenyum. “Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara
kecapekan  ditambah  stres,  akhirnya  demam.  Tapi  sekarang  aku  sudah  tidak  apa-apa
Young-Mi, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah
makan ibumu pasti sedang ramai.”
  “Ibuku juga mencemaskanmu, jadi aku diizinkan tinggal lebih lama. Oh ya, ibuku
sudah  memasak  bubur  untukmu.  Tadi  aku  taruh  di  dapur.  Kau  harus  makan,
mengerti?” kata Young-Mi sambil mengambil tasnya yang ada di lantai. Ia meletakkan
tangannya  di  kening  Sandy  dan  bergumam,  “Sudah  tidak  panas,  tapi  tetap  harus
minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”
  “Kau  baik  sekali,  Young-Mi,”  kata  Sandy  sambil  tersenyum.  “Sampaikan  terima
kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya
aku  sendiri  yang  meneleponnya  dan  berterima  kasih.  Oh  ya,  kau  harus  ingat,  soal
pertemuanku  dengan  Jung  Tae-Woo  kemarin  malam,  jangan  kaukatakan  pada  siapa
pun.”
  “Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa,” kata
Young-Mi sebelum keluar dari kamar Sandy.


Jung  Tae-Woo  berdiri  tegak  di  dekat  jendela  besar  ruangan  kantor  manajernya  yang
berada  di  lantai  20  gedung  pencakar  langit.  Ia  memandang  ke  luar  jendela  dengan
kedua  tangan  dimasukkan  ke  saku  celana.  Ia  tidak  sedang  menikmati  pemandangan
kota  Seoul  seperti  yang  sering  dilakukannya  pada  hari-hari  biasa.  Pagi  ini  sebuah
tabloid lagi-lagi memuat artikel yang mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat
dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan. Wartawan-
wartawan akan mengejarnya… menanyainya… menuntut tanggapannya. Itulah risiko
menjadi  artis.  Kenangan  buruk  masa  lalu  itu  muncul  lagi.  Ketika  para  wartawan
mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustrasi dan harus
bersembunyi  untuk menenangkan diri. Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari
penuh perjuangan akan kembali dimulai… atau apakah sebenarnya sudah dimulai?
  “Oh, Tae-Woo, sudah datang rupanya.”
  Tae-Woo begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari
manajernya sudah masuk ke kantor itu.
  Park  Hyun-Shik  berjalan  ke  meja  kerjanya  dan  meletakkan  map  biru  di  meja.
“Sudah lama?” 20

  Tae-Woo  menggeleng  dan  menghampiri  kursi  di  depan  meja.  “Baru  saja  sampai.
Ada apa menyuruhku kemari pagi-pagi?”
  Park Hyun-Shik menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu membuka map yang
tadi  diletakkannya  di  meja.  Ia  mengeluarkan  tabloid  dari  dalamnya  dan
menyodorkannya kepada Tae-Woo.
  Tae-Woo  menerima  tabloid  yang  disodorkan  dengan  bingung,  namun  begitu
melihat artikel yang ada di sana, raut wajahnya berubah. “Apa-apaan ini? Bagaimana
mereka bisa… Ini—“
  Tae-Woo memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk. “Benar. Ini foto
yang diambil kemarin malam ketika kita mengantar gadis itu.”
  Dengan kesal Tae-Woo melemparkan tabloid itu ke meja. “Bagus, satu gosip masih
tidak  cukup  rupanya.”  Ia  duduk  dan  bersandar  di  kursi.  “Bagaimana  mereka  bisa
mendapatkan  foto-foto  ini?  Apakah  menurut  Hyong,  gadis  yang  kemarin  itu  ada
hubungannya dengan masalah ini?”
  Manajernya  menggeleng  pelan.  “Tidak,  kurasa  tidak.  Meski  kemungkinan  seperti
itu tetap ada, sekecil apa pun, tapi menurutku tidak begitu.”
  Tae-Woo  mengusap-usap  dagu  sambil  merenung.  Ia  harus  mengakui  gadis  yang
kemarin itu tidak mungkin ada hubungannya dengan gosip ini, tapi…
  “Gadis yang kemarin itu, Han Soon-Hee… aku sudah menyelidikinya,” kata Park
Hyun-Shik  sambil  mengulurkan  sehelai  kertas  kepada  Tae-Woo.  Ia  lalu  melanjutkan,
“Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butik seorang perancang busana.
Ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Korea. Ayahnya kepala cabang perusahaan
mobil dan ibunya ibu rumah tangga. Dia anak tunggal, lahir di Jakarta dan tinggal di
sana sampai usianya sepuluh tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai,
mereka sekeluarga pindah ke Seoul. Lima tahun yang lalu orangtuanya pindah kembali
ke  Jakarta  karena  ayahnya  ditugaskan  lagi  di  sana,  sedangkan  dia  tetap  tinggal  di
Seoul. Latar belakangnya bersih dan sederhana.”
  Tae-Woo membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. “Dari
mana  Hyong  mendapatkan  semua  informasi  ini?  Sampai  tinggi  dan  berat  badannya
ada.”
  Park Hyun-Shik hanya tersenyum dan mengeluarkan sehelai kertas lain dari dalam
mapnya lalu mulai membaca, “Menurut orang-orang yang kenal baik dengannya, Han
Soon-Hee wanita baik-baik dan bisa dipercaya. Tidak merokok, tidak pernah mabuk-
mabukan,  tidak  memakai  obat-obat  terlarang,  dan  tidak  punya  catatan  kriminal  apa
pun. Jadi aku berani menyimpulkan dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto di
tabloid itu.” Lalu ia menyodorkan kertas itu.
  Tae-Woo menerima kertas yang disodorkan manajernya. 21

  Park  Hyun-Shik  menghela  napas.  “Meski  harus  diakui…  secara  tidak  langsung,
gosip yang satu ini sudah membantu kita,” katanya.
  Tae-Woo mengangkat wajah dari kertas di tangannya dan memandang Park Hyun-
Shik, menunggu si manajer menjelaskan maksud kata-katanya.
  “Bukankah  gosip  ini  dengan  sendirinya  mematahkan  gosip  gay-mu?  Foto-foto  itu
memperlihatkan kau bersama seorang wanita di depan rumah pribadimu pada waktu
yang sangat mencurigakan,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum lebar.


“Aku tahu kau sudah meminta izin untuk tidak  datang  bekerja hari  ini karena tidak
enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Miss Han. Saat ini juga. Kami
di  sini  sibuk  sekali,  apalagi  aku,  sampai  hampir  tidak  punya  waktu  untuk  menarik
napas.  Aku  terpaksa  memintamu  datang,  Miss  Han.  Tolong  datanglah  sekarang.
Please…  Kau  pasti  tidak  sedang  sakit  berat.  Kalau  tidak,  saat  ini  kau  pasti  sudah
diopname di rumah sakit dan bukannya istirahat di rumah. Okay, Miss Han?”
  Sandy berbaring di ranjang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengarkan
kata-kata bosnya yang mengalir seperti air bah di ujung sana dengan mata terpejam.
Seharusnya  ia  tidak  mengaktifkan  ponselnya  hari  ini.  Seharusnya  bosnya  tidak
menghubunginya. Seharusnya bosnya tidak bersikap begini. Orang sakit masa disuruh
kerja? Lagi pula ini kan hari Sabtu. Diktator!
  “Miss Han? Miss Han? Halooo? Kau mendengarkanku, Miss Han? Aku tidak bisa
berbicara lama-lama, Miss Han. Very very busy. Kau akan datang, kan?”
  “Ya,  ya,  Mister  Kim.  Saya  mengerti.  Saya  akan  sampai  di  sana  dalam  satu  jam,”
sahut Sandy malas.
  “Kau punya waktu setengah jam untuk sampai di studioku, Miss Han,” kata bosnya
sebelum menutup telepon.
  Sandy  menatap  ponselnya  dengan  hati  dongkol.  “Lihat  saja,  kau  akan  menerima
surat  pengunduran  diriku  hari  Senin  nanti.  Drakula!  Pengisap  darah!  Hhh,  bisa  gila
aku!”
  Sambil mengumpat, Sandy memaksa dirinya bangkit dan berjalan terseok-seok ke
lemari pakaian.


Empat  puluh  tiga  menit  kemudian,  Sandy  sudah  berdiri  di  studio  Mister  Kim,  salah
satu  perancang  busana  paling  populer  di  Korea.  Yang  disebut  studio  oleh  bosnya
adalah  ruang  kerja  berantakan  yang  penuh  kain  berbagai  corak,  baik  kain  perca  tak
berguna  maupun  kain  yang  masih  baru.  Studio  itu  terletak  di  lantai  teratas  gedung 22

berlantai  tiga.  Butik  Mister  Kim  sendiri  terdiri  atas  dua  lantai:  lantai  pertama
diperuntukkan tamu umum sedangkan lantai duanya untuk tamu VIP.
  Sandy  masuk  dan  melihat  pria  setengah  baya  berpenampilan  perlente,  berambut
dicat merah, dan berkaca-mata itu sedang  memandangi model kurus dengan tatapan
tidak  puas.  Lalu  dengan  sekali  sentakan  tangan,  ia  menyuruh  model  itu  pergi  dan
menyuruh anak buahnya memanggil model lain.
  Tepat pada saat model lain masuk ke ruangan, Mister Kim menyadari keberadaan
Sandy  dan  langsung  memekik,  “Miss  Han!  Kau  terlambat.  Kenapa—sebentar…”  Ia
berpaling ke arah si model yang baru masuk dan berkata ketus, “No, no! Bukan kau.
Apa  yang  harus  kulakukan  supaya  mereka  mengerti  model  seperti  apa  yang
kubutuhkan? Astaga! Panggilkan Mister Cha ke sini.”
  Sandy merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model wanita. Harus diakui Mister
Kim ini bukan orang yang mudah. Kadang-kadang orang jenius memang sulit dibuat
senang.
  Mister Kim kembali memusatkan perhatian kepada Sandy. “Kau lihat sendiri, Miss
Han,  kami  sedang  sibuk  sekali  untuk  fashion  show.  Tolong  kauantarkan  pakaian-
pakaian untuk dicoba.”
  Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Mister Kim selalu mengharapkan orang
lain langsung bisa memahami kata-katanya yang tidak selalu jelas.
  “Diantarkan kepada siapa dan dicoba untuk apa, Mister Kim?” tanya Sandy.
  Mister  Kim  menatapnya  dengan  mata  dibelalakkan  selebar-lebarnya,  setidaknya
selebar yang mungkin di lakukan mata yang pada dasarnya sipit. “Astaga, Miss Han.
Kau tentu ingat aku pernah bercerita tentang Jung Tae-Woo, bukan? Dia sudah setuju
akan memakai pakaian rancanganku dalam setiap penampilannya. Makanya kau cepat-
cepatlah pergi ke sana dan pastikan pakaian-pakaian itu sudah cocok dengan ukuran
dan seleranya.”
  Lalu, sebelum  Sandy  bertanya  lagi  dia sudah menunjuk rak pakaian beroda yang
ada di dekat pintu, “Itu! Pakaian yang di rak itu!”
  Tidak, Anda belum pernah menyebut-nyebut tentang masalah ini kepadaku, gerutu
Sandy  dalam  hati,  tapi  yang  keluar  dari  mulutnya  adalah,  “Siapa  yang  Anda  sebut
tadi?”
  “Jung Tae-Woo. Penyanyi itu. Kau tidak kenal? Sudahlah, kenal atau tidak bukan
masalah  penting.  Sana  cepat  pergi!  Dia  sudah  menunggu  di  butik.  Ayo  sana.  Go!
Cepat!” katanya sambil mendorong punggung Sandy ke arah pintu keluar studionya.

* * * 23

Sandy mendorong rak beroda yang nyaris terisi penuh pakaian di sepanjang koridor.
Masih dengan perasaan sebal, ia berjalan menuju lift. Di tengah jalan Sandy berpapasan
dengan penjaga butik yang sudah kenal baik dengannya dan diberitahu Jung Tae-Woo
sudah menunggu di lantai dua.
  Sesampainya di depan pintu ruang peragaan lantai dua yang memancarkan kesan
elite  itu,  ia  berhenti  beberapa  saat.  Ia  ragu.  Kenapa  ia  harus  bertemu  Jung  Tae-Woo
lagi? Apa yang harus ia katakan kepadanya? Apa yang harus ia lakukan? Apakah laki-
laki itu sudah tahu tentang foto-foto yang dimuat di tabloid itu?
  Sandy  mendesah  dan  menggigit  bibir.  Mungkin  saja  Jung  Tae-Woo  malah  tidak
ingat  padanya  lagi.  Sandy  mengangguk.  Benar,  Jung  Tae-Woo  pasti  sudah  lupa
padanya.  Artis-artis  pasti  sulit  mengingat  wajah  karena  setiap  hari  mereka  harus
bertemu  begitu  banyak  orang  baru.  Pasti  begitu.  Mana  mungkin  mereka  ingat  setiap
orang yang mereka temui dalam waktu singkat, kan?
  Dengan  keyakinan  itu,  Sandy  mendorong  pintu  kaca  besar  di  hadapannya  dan
melangkah  masuk.  Ia  menarik  napas  dalam-dalam  dan  memaksa  kakinya  terus
berjalan.
  Sandy berdiri di depan pintu putih salah satu kamar peragaan dan kembali menarik
napas.  Baiklah,  ini  saatnya.  Lakukan  dan  selesaikan  secepatnya!  Tidak  usah  cemas.
Orang itu tidak akan ingat padamu. Kerjakan saja tugasmu.
  Ia meraih pegangan pintu dan membukanya.


“Salah  seorang  anak  buahnya  akan  mengantarkan  pakaian-pakaian  itu  ke  sini,”  kata
Park Hyun-Shik sambil menutup flap ponsel.
  Tae-Woo mengembuskan napas keras-keras dan mengempaskan diri ke sofa empuk
yang diletakkan di tengah-tengah kamar peragaan. “Sudah kubilang, seharusnya kita
tidak  usah  datang  secepat  ini.”  Ia  melirik  jam  tangannya.  “Ah,  aku  salah,  ternyata
bukan kita yang datang terlalu cepat. Mereka yang terlambat. Hhh… harus menunggu
berapa lama?”
  Park  Hyun-Shik  baru  akan  menjawab  ketika  ponselnya  berdering  untuk  kesekian
kalinya dalam dua jam terakhir.
  Tae-Woo  menatap  manajernya  yang  sedang  berbicara  dengan  bahasa  formal  di
ponsel. Sepertinya telepon dari produser atau semacamnya. Park Hyun-Shik memberi
isyarat  akan  keluar  sebentar.  Tae-Woo  mengangguk  tak  acuh  dan  Park  Hyun-Shik
keluar dari ruangan itu. 24

  Tae-Woo  merebahkan  kepala  ke  sandaran  sofa,  mencoba  mendapatkan
kenyamanan. Baru saja ia merasa damai dan hampir terlelap ketika ia mendengar bunyi
pintu dibuka dan suara seorang wanita.
  “Selamat siang. Maaf membuat Anda menunggu lama.”
  Tae-Woo  membuka  mata.  Gadis  berambut  sebahu  dan  bertopi  merah  memasuki
ruangan sambil mendorong rak pakaian beroda. Gadis itu membungkuk hormat. Tae-
Woo berdiri dan membungkuk sedikit untuk membalas sapaannya.
  “Mister Kim meminta saya membawakan pakaian-pakaian ini untuk Anda. Silakan
dicoba.”  Gadis  itu  mendorong  rak  hingga  ke  ujung  ruangan,  ke  dekat  bilik  ganti.  Ia
mengeluarkan  salah  satu  pakaian  dari  gantungan  dan  mengulurkannya  kepada  Tae-
Woo. “Silakan dicoba di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah bilik yang tertutup
tirai tebal.
  Ada  perasaan  janggal  yang  mengusik  Tae-Woo,  tapi  ia  tidak  tahu  apa  yang
membuatnya merasa seperti itu. Ia menerima pakaian yang disodorkan dan beranjak ke
bilik ganti.
  Selesai  mengenakan  pakaian,  Tae-Woo  menyibakkan  tirai.  Tepat  pada  saat  itu  ia
melihat gadis yang membawakan pakaian tadi sedang duduk di kursi bulat di samping
sofa. Topi merahnya dilepas dan gadis itu sedang menyisir rambutnya yang agak ikal
dengan jari-jari tangan. Tae-Woo tertegun dan menatap gadis itu. Itulah kali pertama ia
melihat jelas wajah si gadis sejak ia masuk bersama rak pakaian.
  Tiba-tiba gadis itu menoleh dengan wajah terkejut, sepertinya ia menyadari sedang
diperhatikan.  Ia  cepat-cepat  mengenakan  kembali  topinya  dan  berdiri.  “Bagaimana?
Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?”
  Bukankah  ia  gadis  yang  kemarin  ditemuinya?  Tidak  salah  lagi.  Tae-Woo  masih
ingat wajah gadis itu. Wajah yang lelah dan pucat. Gadis yang berdiri di hadapannya
ini memang gadis yang kemarin. Wajahnya masih terlihat lelah dan pucat. Tapi kenapa
gadis ini tidak mengatakan apa-apa? Apakah ia tidak mengenalinya?
  “Kita  pernah  bertemu,”  kata  Tae-Woo.  Ia  tidak  sedang  bertanya.  Ia  benar-benar
yakin, karena itu ia ingin melihat reaksi si gadis.
  Gadis  itu  tertegun,  lalu  perlahan-lahan  mengangkat  kepala  dan  memandang  Tae-
Woo dengan ragu-ragu.
  Tatapan  yang  ragu-ragu  itu  tidak  salah  lagi  sama  dengan  tatapan  gadis  yang
kemarin datang ke rumahnya. Tae-Woo menunggu si gadis mengatakan sesuatu.
  Setelah hening beberapa detik, gadis itu hanya bergumam, “Oh?”
  Tae-Woo  kecewa  karena  gadis  itu  tidak  menunjukkan  reaksi  apa  pun.  Ia  hanya
menatapnya dengan matanya yang besar. Gadis itu bodoh atau benar-benar tidak ingat
lagi  kejadian  kemarin  malam?  Bukannya  sombong,  tapi  Tae-Woo  tidak  habis  pikir 25

bagaimana seseorang  bisa melupakan artis  yang  baru ia temui kemarin malam? Tae-
Woo  kesal  karena  justru  dirinyalah  yang  ingat  pada  si  gadis,  sementara  si  gadis
tampaknya sama sekali tidak ingat padanya. Bagaimana bisa? Atau sebenarnya ia tidak
sepopuler yang ia kira? Apakah dunia sudah berubah tanpa sepengetahuannya?
  “Kau  datang  ke  rumahku  kemarin  malam  karena  ponselku  tertukar  dengan
ponselmu,” kata Tae-Woo datar dan cepat, berusaha membantu ingatan gadis itu. Demi
Tuhan, memangnya gadis ini menderita amnesia?


Sandy  memerhatikan  Jung  Tae-Woo  masuk  ke  bilik  ganti  dan  menarik  tirai.  Ia
mengembuskan napas lega dan duduk di kursi bulat yang empuk. Laki-laki itu teryata
memang tidak mengenalinya. Sandy melepaskan topi dan memegang pipinya dengan
sebelah tangan. Lelah sekali. Semoga saja sampai pekerjaannya selesai Jung  Tae-Woo
tidak akan mengenalinya. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangan sambil melamun.
Tiba-tiba  ia  melihat  Jung  Tae-Woo  sudah  berdiri  di  sana  sambil  memerhatikannya.
Sandy tersentak dan segera memakai topinya kembali.
  “Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?” tanyanya dengan nada yang
dibuat riang dan sopan.
  “Kita pernah bertemu.”
  Sandy  bergeming.  Ia  menggigit  bibir.  Ternyata  Jung  Tae-Woo  mengenalinya.
Bagaimana sekarang? Mengaku saja? Tapi kalau baru mengaku sekarang  akan terasa
aneh. Akhirnya ia hanya bisa bergumam tidak jelas.
  “Kau  datang  ke  rumahku  kemarin  malam  karena  ponselku  tertukar  dengan
ponselmu,” kata Jung Tae-Woo lagi. Nada suaranya datar.
  Baiklah, ia tidak  bisa  mengelak lagi.  Sandy memaksakan seulas senyum. “Oh, ya,
benar. Apa kabar?”
  Hanya itu yang bisa dipikirkannya. Sandy memarahi dirinya sendiri dalam hati.
  Jung Tae-Woo memandangnya dengan tatapan aneh, lalu memalingkan wajah dan
mendengus pelan. “Ternyata ingat juga,” gumamnya.
  Sandy mengangkat alis. “Ya?”
  Jung Tae-Woo kembali menatapnya dan berkata, “Jadi kau bekerja di sini?”
  “Ya…  bisa  dibilang  begitu,”  jawab  Sandy.  Ia  lega  sekarang.  Setidaknya  ia  tidak
perlu menundukkan kepala lagi. Tidak perlu menyembunyikan wajah lagi.
  “Foto di tabloid itu… Kau sudah melihatnya?” tanya Jung Tae-Woo.
  Sandy menelan ludah. Ini dia. Apakah Jung Tae-Woo menyangka ia berada di balik
semua ini? 26

  “Sudah…,”  sahutnya  ragu,  lalu  cepat-cepat  menambahkan  sambil  menggoyang-
goyangkan tangan, “tapi bukan aku… Maksudku, aku tidak ada hubungannya dengan
itu. Sungguh.”
  Jung Tae-Woo tertawa kecil. “Kami juga berpikir begitu. Lagi pula sebenarnya foto-
foto itu malah membantuku.”
  Sandy tidak mengerti.
  “Kau sering membaca tabloid?” tanya Tae-Woo.
  Sandy menggeleng. Ia tidak punya waktu untuk itu. Lagi pula ia sama sekali tidak
perlu  membaca  tabloid  untuk  tahu  gosip  seputar  artis.  Temannya,  Kang  Young-Mi,
adalah  tabloid  berjalan.  Kang  Young-Mi  tahu  semua  yang  terjadi  dalam  dunia  artis.
Apa pun yang ia ketahui pasti akan diceritakannya kepada Sandy, tidak peduli Sandy
sebenarnya mau tahu atau tidak.
  Jung  Tae-Woo  mengangguk-angguk.  “Hm,  berarti  kau  tidak  tahu-menahu  soal
gosip tentang diriku.”
  “Gosip gay itu?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sandy tanpa diproses
di otaknya terlebih dahulu.
  Jung  Tae-Woo  menatapnya.  “Bukannya  kau  tadi  bilang  kau  tidak  membaca
tabloid?”
  Sandy  memiringkan  kepala  dengan  salah  tingkah.  “Temanku  yang
menceritakannya padaku.”
  “Ternyata  banyak  orang  yang  sudah  tahu.”  Jung  Tae-Woo  mendesah.
“Bagaimanapun, foto-foto itu sudah membantuku mengatasi gosip.”
  Sandy hanya mengangguk-angguk tidak acuh, namun ia terkejut ketika laki-laki di
hadapannya itu mendadak berpaling ke arahnya dengan wajah berseri-seri.
  “Han  Soon-Hee  ssi—namamu  Han  Soon-Hee,  bukan?”  tanyanya  cepat.  Tanpa
menunggu jawaban Sandy, ia meneruskan, “Karena kau sudah membantuku satu kali,
bagaimana kalau kau membantuku lagi?”
  Sandy mundur selangkah. “Bantu… apa?”
  “Jadi pacarku.”
  “A-apa?!”


Tae-Woo agak kaget mendengar pekikan gadis itu, tapi ia bisa memakluminya.
  “Begini,  biar  kuganti  kalimat  permintaanku,”  katanya  sambil  berkacak  pinggang
dan berpikir-pikir. Kemudian ia mengangkat wajah dan menatap Sandy. “Aku hanya
ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku.” 27

  Sandy  mengerjap-ngerjapkan  mata  dengan  bingung.  Tae-Woo  cepat-cepat
menjelaskan.  Ia  sangat  menyadari  alis  gadis  itu  terangkat  ketika  mendengarkan
ceritanya.
  “Hanya  berfoto.  Bagaimana?”  tanya  Tae-Woo  di  akhir  penjelasannya.  Ia  menatap
Sandy  yang  masih  tercengang.  Kenapa  tiba-tiba  ia  merasa  seolah  sedang  disidang  di
pengadilan? Ia sangat penasaran apa yang akan dikatakan gadis itu, apa jawabannya.
  Kalimat pertama yang keluar dari mulut Sandy adalah, “Kenapa aku?”
  Pertanyaan yang bagus. “Tidak ada alasan khusus,” sahut Tae-Woo santai. “Kupikir
kau  mungkin  mau  membantuku.  Bagaimanapun  kita  sudah  pernah  difoto  bersama
walaupun tanpa sengaja.”
  Sandy  masih  terlihat  bingung,  tapi  Tae-Woo  melihat  kening  gadis  itu  berkerut,
tanda  sedang  mempertimbangkan  usul  yang  ia  ajukan.  Setidaknya  Sandy  tidak
langsung menolak mentah-mentah.
  Tae-Woo cepat-cepat mengambil kesempatan itu untuk menambahkan, “Kalau kau
mau,  anggap  saja  aku  menawarkan  pekerjaan  kepadamu.  Tidak  akan  mengganggu
pekerjaanmu yang sekarang. Kau masih kuliah? Kuliahmu juga tidak akan terganggu.”
  “Memangnya  aku  terlihat  seperti  sedang  butuh  pekerjaan?”  tanya  Sandy  datar.
“Atau butuh uang?”
  Tae-Woo terdiam. Ia memandang Sandy dari kepala sampai ke ujung kaki. Tidak,
gadis ini memang sudah punya pekerjaan dan dilihat dari cara berpakaiannya, ia tidak
tampak seperti gadis yang kekurangan uang.
  “Memang tidak,” Tae-Woo mengakui. “Begini saja, aku akan memberimu apa pun
yang kauinginkan kalau kau bersedia membantuku.”
  “Hanya untuk berfoto bersama?” tanya Sandy memastikan.
  “Begitulah rencananya,” jawab Tae-Woo pasti. Ia mulai  merasa tidak  percaya diri
melihat  tanggapan  gadis  itu.  Apa  yang  sedang  dipertimbangkannya?  Yah,  mungkin
memang  karena  pada  dasarnya  Han  Soon-Hee  bukanlah  salah  satu  penggemarnya.
Jadi, tidak aneh kalau gadis itu tidka antusias dengan gagasan ini.
  Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Otomatis Tae-Woo merogoh saku bagian dalam
jasnya. Pada saat yang sama Sandy juga merogoh tas tangannya yang terletak di meja.
Ternyata yang berdering ponsel milik gadis itu. Tae-Woo baru ingat ponsel Sandy sama
dengan ponsel miliknya. Bahkan nada deringnya juga persis sama. Mungkin salah satu
dari mereka harus segera mengganti nada dering.
  Sandy  menatap  ponselnya,  membuka  flap-nya,  tapi  langsung  menutupnya  lagi
tanpa  dijawab  terlebih  dulu.  Rasa  ingin  tahu  Tae-Woo  bertambah  ketika  ia  melihat
gadis  itu  melepaskan  baterai  ponselnya  kemudian  kembali  menyimpan  tas  beserta
baterainya itu ke tas. Siapa yang meneleponnya tadi? Tidak tampak ekspresi apa pun di 28

wajahnya. Tapi sepertinya Sandy tidak berniat memberikan penjelasan atas tidakannya
barusan.
  “Mau membantu, kan?” Tae-Woo akhirnya membuka suara setelah mereka berdua
terdiam beberapa saat.
  Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Tae-Woo. “Baiklah, asalkan wajahku
tidak terlihat.”
  Udara di sekeliling Tae-Woo jadi terasa lebih ringan. Ia mengembuskan napas pelan
dan tersenyum lega. Meminta bantuan Sandy ternyata tidak sesulit dugaannya. Tidak
ada syarat yang aneh-aneh. Kalau sekadar merahasiakan identitas, ia bisa memaklumi
itu. Gadis ini tentu saja tidak ingin berurusan dengan wartawan.
  “Terima kasih. Kuharap kau tidak akan memberitahu orang lain tentang kesepakan
kita  ini,  bahkan  orangtuamu  sekalipun.  Aku  tidak  ingin  menciptakan  skandal  yang
lebih parah. Aku bisa memercayaimu, kan?”
  “Mm, aku mengerti,” kata Sandy menyanggupi. Tapi begitu melihat matanya yang
agak  menerawang,  Tae-Woo  jadi  kurang  yakin  apakah  gadis  itu  benar-benar
memahami kata-katanya.
  Pada saat itu pintu terbuka dan mereka berdua menoleh. Ternyata yang masuk Park
Hyun-Shik. Sang manajer memandang mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya,
lalu setelah beberapa saat wajahnya menjadi cerah.
  “Oh, kau yang kemarin itu?” tanya Park Hyun-Shik sambil menghampiri Sandy.
  Tae-Woo tersenyum lebar. “Hyong, dia bersedia menjadi pacarku.”
  Senyum manajernya langsung lenyap. “Maksudmu?”
  “Yang Hyong katakan kemarin… soal foto… aku sudah memikirkannya,” kata Tae-
Woo, masih tetap tersenyum. “Kita lakukan saja. Dia juga sudah bersedia membantu.
Memang tidak persis seperti rencana yang Hyong usulkan kemarin.”
  Park Hyun-Shik terlihat bingung. “Soal yang kemarin…?” Ia terdiam sebentar, lalu,
“Astaga, kau serius?”
  “Akan kujelaskan lebih lanjut pada Hyong nanti,” kata Tae-Woo sambil menepuk-
nepuk pundak manajernya. “Kita lanjutkan pekerjaan kita dulu. Bukankah kita ke sini
karena aku harus mencoba semua pakaian ini?”


Sandy keluar dari tempatnya bekerja dengan langkah gamang seolah setengah sadar.
Tugasnya  mencocokkan  pakaian  Jung  Tae-Woo  sudah  selesai,  tapi  otaknya  seakan
masih tertinggal sebagian di butik itu. Ia berjalan dengan langkah lambat, membelok di
ujung jalan, lalu langkah kakinya terhenti. 29

  “Apa yang sudah kulakukan?” ia bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang
pipi dengan sebelah tangan.
  Sandy harus berusaha keras menenangkan diri karena jantungnya berdebar kencang
sekali. Sejak tadi ia berjuang supaya rasa gugupnya tidak terlihat oleh kedua pria itu.
Perasaan  canggung  saat  Jung  Tae-Woo  menjelaskan  rencananya  kepada  si  manajer
sementara pria itu mencoba pakaian tadi bahkan masih bisa ia rasakan hingga kini.
  Si manajer agak bimbang. Ia banyak bertanya pada Sandy, selain itu juga berulang
kali  menekankan  bahwa  masalah  ini  tidak  boleh  sampai  diketahui  orang  lain.  Tentu
saja Sandy mengerti. Diam-diam, sambil mendengarkan pesan Park Hyun-Shik, Sandy
mengamatinya.  Pria  yang  satu  itu  benar-benar  memiliki  daya  tarik.  Cara  bicaranya
menyenangkan,  senyumnya  menawan,  dan  matanya  ramah.  Sandy  tahu  Hyun-Shik
bertanya-tanya kenapa ia mau begitu saja membantu Jung Tae-Woo, tapi ia pura-pura
bodoh.  Pada  awalnya  Sandy  memang  agak  ragu  dengan  tawaran  Tae-Woo,  tapi
akhirnya  rasa  penasarannyalah  yang  menang.  Ia  meyakinkan  dirinya  ini  jalan  yang
tepat. Ini mungkin kesempatan yang telah lama dinantinya untuk mendapat jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama menghantui….
  Lagi pula menurutnya pekerjaan yang ditawarkan kepadanya tidak susah. Ia hanya
perlu  difoto  bersama  Jung  Tae-Woo.  Bukan  masalah.  Ia  pasti  bisamelakukannya.  Ia
sadar kesepakatan ini akan membuatnya sering bertemu Jung Tae-Woo, tapi ini bukan
masalah, toh ia tidak merasakan apa-apa terhadap artis itu. Nilai tambah lain, kalau ia
sering bersama Jung Tae-Woo, ia akan tahu dan mengerti kenapa teman dekatnya juga
banyak wanita lain bisa tergila-gila pada pria itu.
  “Baiklah,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku pasti bisa melakukannya. Ah, astaga!
Aku lupa minta tanda tangan Jung Tae-Woo untuk Young-Mi.”
  Sandy  merogoh  tasnya  untuk  mencari  ponsel,  tapi  kemudian  berhenti.  Apakah
sebaiknya  aku  tidak  memberitahu  Young-Mi  aku  bertemu  Tae-Woo  tadi?    Dia  pasti
kesal karena aku lupa meminta tanda tangan  lagi. Tapi ia pasti bakal jadi lebih kesal
kalau tahu aku menyembunyikan soal pertemuan ini…
  Sandy  melanjutkan  mencari  ponselnya  di  tas  tangannya  dan  menemukan  baterai
ponsel yang tadi ia lepas. Mendadak ia jadi teringat Lee Jeong-Su tadi meneleponnya.
Mudah-mudahan Jeong-Su bisa mengerti kenapa ia tidak bisa menerima telepon tadi.
Eh… tunggu dulu, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ia harus merasa bersalah? Mana ada
orang yang bisa menjawab telepon kalau sedang berada dalam situasi seperti tadi? Lagi
pula  sepanjang  pengalamannya,  kalau  Lee  Jeong-Su  yang  menelepon,  pasti  bukan
karena ada hal penting.
  Kenapa Lee Jeong-Su masih terus menghubunginya? Bukankah pria itu sendiri yang
meminta putus hubungan? Orang aneh! 30

  Sandy memasang baterai ponselnya kembali dan baru akan menghubungi Young-
Mi ketika ia teringat janjinya. Aah… benar juga, aku sudah berjanji pada Park Hyun-
Shik  ssi  tidak  akan  menceritakan  masalah  ini  pada  orang  lain.  Ah,  bagaimana  ini?
Yah… apa boleh buat…
  Ia kembali memasukkan ponsel itu ke tas tangannya, lalu ia mendongak menatap
langit  yang  biru  dan  bergumam,  “Baiklah,  Sandy.  Semoga  keputusanmu  ini  ada
gunanya. Aja aja, fighting*!”
  Sekarang  ia  harus  pulang  dan  tidur  dulu  untuk  mengumpulkan  tenaga.  Ia  sudah
berjanji akan menemui kedua pria itu nanti malam.




























* Ayo, semangat! 31


Tiga




“S OON-HEE  SSI,  sebaiknya  pinggiran  topimu  diturunkan  sedikit  lagi.  Wajahmu
harus tertutup,” perintah Park Hyun-Shik.
  Sandy bergumam tidak jelas, menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Jung
Tae-Woo,  lalu  menarik  turun  topi  merahnya.  “Kalau  begini  aku  sendiri  tidak  bisa
melihat  apa-apa,”  desahnya.  “Paman  sebenarnya  ada  di  mana?  Dia  sedang
meneropong kita atau semacamnya?”
  Ia dan Jung Tae-Woo sedang berada di dalam mobil Jung Tae-Woo yang diparkir di
lapangan parkir depan gedung tempat Park Hyun-Shik bekerja. Saat itu pukul sepuluh
malam dan suasana di tempat parkir sepi sekali. Jung Tae-Woo yang mengenakan topi
hitam  dan  kacamata  hitam  duduk  di  balik  kemudi,  Sandy  duduk  di  sampingnya,
sementara  Park  Hyun-Shik  mengawasi  mereka  entah  dari  mana.  Semua  komunikasi
dilakukan lewat ponsel. Mereka sudah siap menjalankan tahap pertama rencana.
  Jung Tae-Woo menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sudah bisa dimulai.”
  Ia  menutup  ponsel  dan  memandang  Sandy  yang  sedang  merapikan  kepang
rambutnya. “Sekitar semenit lagi kita keluar,” katanya pendek.
  “Jadi kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke
mobil?” tanya Sandy memastikan.
  Jung  Tae-Woo  mengangguk.  Ia  diam,  lalu,  “Nah,  sepertinya  Hyong  sudah  siap
dengan kameranya. Kita keluar sekarang.”
  Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.
  “Kenapa jauh begitu?” tanya Jung Tae-Woo.
  Sandy  menoleh  dan  menyadari  Jung  Tae-Woo  sedang  mengomentari  jarak  antara
mereka berdua yang terlalu jauh. “Kenapa? Kurasa ini sudah cukup dekat.” 32

  “Orang-orang  tidak  akan  percaya  aku  punya  hubungan  khusus  denganmu  kalau
kau berdiri sejauh itu.”
  Sandy  berhenti  berjalan  dan  memutar  tubuh  menghadap  Jung  Tae-Woo.
“Menurutku  seperti  ini  juga  sudah  lumayan.  Kita  tidak  perlu  sampai  berpelukan
supaya orang percaya kita punya hubungan khusus, kan?”
  Jung Tae-Woo tertawa pendek. “Apanya yang lumayan? Tubuhmu kaku begitu dan
jalanmu seperti robot.”
  Sandy tetap diam.
  Jung Tae-Woo balas menatapnya, lalu berkata, “Kita harus melakukan sesuatu.”
  Sandy terkejut ketika Jung Tae-Woo melangkah mendekati dirinya. “Mau apa kau?”
tanyanya, tapi saking gugupnya ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.
  Jung  Tae-Woo  berdiri  tepat  di  depannya.  Sandy  baru  menyadari  betapa  dirinya
begitu  pendek  dibandingkan  pria  itu.  Kepalanya  sampai  harus  mendongak  kalau  ia
mau melihat wajah Jung Tae-Woo.
  “Hei, Jung Tae-Woo ssi, kau sebenarnya mau apa?” tanya Sandy sekali lagi ketika
setelah beberapa saat Jung Tae-Woo hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Ia
tidak  bisa  melihat  ekspresi  Jung  Tae-Woo  dengan  jelas  karena  laki-laki  itu  memakai
kacamata hitam, tapi Sandy bisa melihat bibir pria itu membentuk seulas senyum.
  “Aku? Hanya memberikan pose yang bagus untuk foto kita,” katanya santai, lalu ia
mundur kembali.
  Sandy mendengus pelan. “Lucu sekali.”


“Misi  selesai,”  kata  Sandy  ketika  mereka  sudah  duduk  kembali  di  dalam  mobil.
“Hhhh… lelahnya. Benar-benar pekerjaan yang berat.”
  Tae-Woo  tersenyum  kecil  mendengar  gurauan  Sandy.  Ternyata  gadis  ini  bisa
bercanda  juga.  Tae-Woo  yakin  sebenarnya  Sandy  orang  yang  ramah,  meski  saat  ini
gadis itu lebih sering bersikap kaku dan menjaga jarak, bahkan terkadang cenderung
dingin.  Bagaimanapun  hal  itu  wajar  saja  mengingat  mereka  tidak  terlalu  saling
mengenal.
  “Aku  merasa  seperti  sedang  main  film,”  Sandy  menambahkan.  “Mungkin
seharusnya aku jadi aktris saja. Bagaimana menurutmu?”
  “Teruslah bermimpi,” sahut Tae-Woo sambil menghidupkan mesin mobil.
  Saat itu terdengar dering ponsel. Mereka berdua serentak mencari ponsel mereka.
Yang berdering ternyata ponsel Tae-Woo.
  “Sebaiknya  kauganti  nada  dering  ponselmu,”  gerutu  Sandy  sambil  memasukkan
ponselnya kembali ke saku celana. 33

  “Kenapa  harus  aku?  Kau  saja  yang  ganti,”  kata  Tae-Woo  sebelum  menjawab
teleponnya. “Ya, Hyong… Sudah?”
  Tiba-tiba ponsel Sandy berdering juga. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Sandy
langsung menjawab teleponnya. “Halo?”
  Tae-Woo melihat  gadis itu mendesah dan  melepaskan topi merahnya. Siapa  yang
meneleponnya?  Lamunan  dalam  benaknya  buyar  ketika  ia  sadar  Park  Hyun-Shik
berulang kali menyebut namanya di telepon.
  “Eh, apa, Hyong?... Oh, oke. Sampai jumpa besok,” kata Tae-Woo sebelum menutup
ponsel.
  “Aku? Sekarang? Sedang di luar,” kata Sandy dengan nada santai.
  Tae-Woo  memerhatikan  alis  Sandy  terangkat  ketika  gadis  itu  mendengarkan
jawaban orang di seberang sana.
  “Sebentar lagi juga akan pulang. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bicarakan nanti
saja.  Aku  sekarang  sedang  sibuk.  Tutup  dulu  ya.”  Sandy  langsung  menutup
teleponnya.
  “Telepon dari siapa?” tanya Tae-Woo sambil lalu.
  Sandy  menoleh  ke  arahnya.  “Teman,”  sahut  gadis  itu  pendek,  lalu  mengalihkan
pembicaraan. “Kita sudah selesai sekarang? Paman bilang apa tadi?”
  Tae-Woo  memandang  Sandy  dengan  kening  berkerut.  “Paman?”  tanyanya  heran.
“Kenapa kau memanggil Hyong „paman‟? Dia kan belum setua itu. Kalau aku sih tidak
akan sudi dipanggil „paman‟.”
  Sandy baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Tae-Woo menambahkan,
“Tapi  terserah  kau  sajalah.  Panggil  saja  dia  „paman‟  atau  apa  pun  sesukamu.  Hyong
tidak akan keberatan. Dia bukan orang yang suka ambil pusing untuk masalah seperti
ini. Asal kau tidak memanggilnya „onni*‟ saja.”
  Sandy menarik napas dan berdeham “Jadi Paman bilang apa tadi?” tanyanya sekali
lagi.
  “Katanya  mungkin  lusa  foto-foto  itu  akan  muncul  di  tabloid,”  jawab  Tae-Woo.
Namun kemudian perkataannya selanjutnya seakan ditujukan kepada dirinya sendiri,
“Harus lagi-lagi siap menghadapi wartawan. Tapi setidaknya reputasiku akan kembali
seperti dulu…”
  Tae-Woo  menoleh  dan  mendapati  Sandy  sedang  menatapnya  dengan  pandangan
aneh. “Apa? Ada apa?”
  “Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Sandy agak ragu.
  “Apa?”


* Kakak, panggilan wanita kepada wanita yang lebih tua. 34

  “Sebenarnya… kau gay atau bukan?”
  Tae-Woo melepas kacamatanya dan menatap Sandy dengan kesal.
  Tanpa  menunggu  jawaban,  Sandy  mengibaskan  tangan.  “Oh,  baiklah,  aku  tidak
akan bertanya lagi. Kau gay atau bukan juga bukan urusanku.”


Seperti  rencana  Park  Hyun-Shik,  hari  Senin  pagi  foto-foto  mereka  sudah  mucul  di
tabloid. Sandy baru memasuki ruang kuliah ketika Kang Young-Mi berlari ke arahnya.
  “Hei, Han Soon-Hee!” seru Young-Mi dengan suara menggelegar.
  Sandy  mengerjapkan  matanya  dengan  bingung,  lalu  setelah  pulih  dari
kekagetannya,  ia  menggerutu,  “Sudah  kubilang  berkali-kali  jangan  panggil  nama
lengkapku seperti itu. Memangnya „Sandy‟ terlalu susah diucapkan?”
  “Dan sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak suka nama yang kebarat-baratan,”
balas Young-Mi lalu melanjutkan, “Sekarang itu bukan masalah penting. Lihat ini!” Ia
melambai-lambaikan tabloid tepat di depan wajah Sandy.
  “Apa ini?” tanya Sandy. Ia harus mundur selangkah supaya bisa melihat jelas apa
yang ingin diperlihatkan temannya itu.
  “Jung  Tae-Woo  ternyata  punya  pacar!”  kali  ini  seruan  Young-Mi  begitu  keras
sampai-sampai Sandy terlompat kaget.
  Sandy  melihat  halaman  depat  tabloid  itu  dan  menahan  napas.  Ia  membaca  judul
utamanya  “JUNG  TAE-WOO  DAN  KEKASIH  WANITA?”  dicetak  dengan  ukuran
besar. Di bawah judul itu ada tiga fotonya bersama Jung Tae-Woo. Foto-foto itu agak
buram, tapi kenapa Sandy merasa dirinya terlihat begitu jelas?
  Foto  pertama  memperlihatkan  mereka  berdua  di  dalam  mobil.  Jung  Tae-Woo
sedang memegang kemudi dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Sandy sendiri
juga  sedang  memandang  pria  itu  dengan  kepala  dimiringkan  sehingga  wajahnya
tertutup topi merahnya. Kapan mereka berpose seperti itu? Sandy sendiri tidak ingat.
  Foto yang kedua diambil ketika mereka berjalan bersama. Foto itu diambil sedikit
menyamping sehingga Sandy agak tertutup tubuh Jung Tae-Woo. Sandy memerhatikan
foto  itu  dan  mengerutkan  kening.  Seingatnya  mereka  tidak  berdiri  sedekat  itu,  tapi
mungkin arah pengambilan fotonya yang menyebabkan mereka terlihat dekat.
  Foto ketiga adalah saat Jung Tae-Woo berdiri tepat di depannya dan begitu dekat,
Sandy  sendiri  berdiri  tegak  dengan  kepala  mendongak  memandangnya.  Lagi-lagi
sudut pengambilan foto membuat foto itu terlihat bagus sekali dan wajah Sandy agak
tertutup.  Ditambah  lagi  Jung  Tae-Woo  sedang  tersenyum  dalam  foto  itu.  Mau  tidak
mau Sandy kagum pada Park Hyun-Shik. Ternyata Paman pintar memotret. 35

  “Kau  lihat?  Sudah  lihat?”  Young-Mi  jelas-jelas  terlihat  kesal  dan  sedikit  histeris.
“Ternyata selama ini Jung Tae-Woo sudah punya kekasih. Siapa wanita itu? Artis? Kau
tahu tidak, semua penggemarnya sedang shock saat ini.”
  Sandy  agak  lega  karena  Kang  Young-Mi  tidak  menyadari  bahwa  dirinyalah  yang
ada  di  dalam  foto  bersama  Jung  Tae-Woo.  Ia  melipat  kembali  tabloid  itu,
mengembalikannya  kepada  Young-Mi,  lalu  berkata,  “Kenapa  kesal?  Bukankah  ini
malah membuktikan Jung Tae-Woo bukan gay?”
  Young-Mi  terdiam  dan  menimbang-nimbang.  “Tapi  kalau  melihat  dia  dengan
wanita lain, rasanya hatiku… aduh,” katanya dengan wajah memelas.
  Sandy tertawa geli.
  “Tapi… mungkin juga gadis ini bukan kekasihnya,” kata Young-Mi tiba-tiba.
  “Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?”
  “Bisa  saja  kasusnya  sama  dengna  kasusmu  waktu  itu.  Jung  Tae-Woo  hanya
mengantarmu  dan  tidak  ada  hubungan  apa-apa  di  antara  kalian.  Lagi  pula  semua
orang tahu wartawan suka membesar-besarkan masalah.”
  Sandy  cepat-cepat  menoleh  dan  mendapati  sahabatnya  sedang  memandangnya
yakin. “Tapi menurutku yang ini memang benar. Di artikel ini bahkan juga tertulis ada
sumber tepercaya yang menyatakan Jung Tae-Woo memang sudah punya pacar, kan?
Lagi pula kalau dipikir-pikir, bukankah ini hal yang baik? Maksudku, bagi penggemar
sepertimu, yang paling penting kan Jung Tae-Woo bukan gay alias suka wanita….”
  Karena ekspresi kecewa Young-Mi belum berubah, Sandy menambahkan, “Kau juga
tidak perlu histeris begitu. Kalaupun wanita di foto ini memang pacarnya, masih ada
kemungkinan mereka berpisah. Kau berdoa saja supaya mereka cepat berpisah.”
  “Kau  bisa  berkata  seperti  itu  karena  kau  bukan  penggemarnya!  Aku  penasaran
sekali  siapa  wanita  itu.  Di  sini  juga  tidak  diceritakan  siapa  dia….”  Young-Mi
mengembuskan  napas  panjang.  Mendadak  dia  menepuk  tangan  dan  berkata  penuh
semangat,  “Tapikau  benar.  Tidak  apa-apa,  sebentar  lagi  pasti  ketahuan.  Dia  harus
putus dengan Tae-Woo oppa*-ku!”
  Sandy  geleng-geleng  menahan  geli.  Tapi  sebelum  senyumnya  mereda,  Young-Mi
sudah  berkata  lagi,  “Tapi  ada  yang  aneh.  Coba  lihat  foto-foto  ini,  Soon-Hee.  Kenapa
mereka  berdua  tidak  bersentuhan?  Mungkin  memang  bukan  hal  penting,  tapi
maksudku,  orang  pacaran  bukannya  suka  berpegangan  tangan  kalau  berjalan
bersama?”

* * *


*Kakak, panggilan wanita kepada pria yang lebih tua. 36

Jung  Tae-Woo  sedang  berada  di  kantor  Park  Hyun-Shik.  Ia  memegang  tabloid  yang
memuat foto-fotonya bersama Sandy.
  “Hyong ternyata pandai memotret,” kata Tae-Woo sambil tersenyum.
  Park Hyun-Shik hanya mengangkat bahu menerima pujian itu. “Menurutku rencana
kita cukup sukses karena sejak pagi kantor kita sudah dibanjiri telepon yang meminta
kepastian dan wawancara denganmu.”
  “Dia sudah melihat ini atau belum ya?” tanya Tae-Woo sambil meletakkan tabloid
itu di atas meja.
  “Soon-Hee  ssi?  Seharusnya  sudah  karena  orang-orang  juga  akan  membicarakan-
nya,” sahut Park Hyun-Shik. Ia meraih tabloid itu dan mengamati foto-foto Tae-Woo
dan Sandy. “Dia melakukannya dengan baik  sekali, kan? Gadis yang  tenang, mudah
diajak kerja sama. Bagus juga dia bukan salah satu penggemarmu, jadi dia tidak histeris
atau semacamnya.”
  Tae-Woo hanya mengangkat bahu.
  Park Hyun-Shik berkata pelan seperti merenung.  “Ya,  gadis yang tenang. Bahkan
mungkin  terlalu  tenang…  Tidakkah  menurutmu  dia  terlalu  mudah  menyetujui
permintaanmu?”
  Tae-Woo mengangkat bahu lagi. “Tidak juga,” jawabnya.
  “Dia tidak minta imbalan apa pun?” tanya Park Hyun-Shik lagi.
  Tae-Woo mengingat-ingat. “Tidak.”
  “Aneh,”  gumam  Park  Hyun-Shik.  Setelah  berkata  seperti  itu,  telepon  di  meja
kerjanya berdering.
  Sementara  manajernya  menjawab  telepon,  Jung  Tae-Woo  menimbang-nimbang
apakah  sebaiknya  ia  menelepon  Sandy.  Tak  berapa  lama  akhirnya  ia  mengeluarkan
ponselnya dan menekan angka sembilan.


Sandy dan Young-Mi sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan Jung
Tae-Woo dan pacar misteriusnya ketika Sandy mendengar namanya dipanggil.
  Mereka  berdua  menoleh  ke  belakang  dan  melihat  laki-laki  tinggi  besar  sedang
berlari-lari kecil menghampiri mereka.
  Young-Mi menyikut lengan Sandy dan berbisik, “Mau apa lagi dia?”
  Sandy mengerutkan kening dan menggeleng tanda tidak tahu.
  Laki-laki  itu  berhenti  di  depan  mereka  berdua  sambil  tersenyum  lebar.  “Halo,
kebetulan sekali bertemu kalian di sini. Mau makan siang? Ayo, kutraktir.”
  Young-Mi meringis. “Kebetulan apanya?”
  “Lee Jeong-Su ssi, sedang apa kau di sini?” tanya Sandy. 37

  “Tidak ada alasan khusus,” jawab Lee Jeong-Su riang, seakan tidak menyadari nada
ketus kedua gadis itu. “Kupikir karena sudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya
kita makan siang bersama sambil mengobrol.”
  “Pacarmu  mana?”  tanya  Young-Mi  tiba-tiba.  “Dia  tidak  marah  kalau  kau  makan
siang bersama dua wanita? Ngomong-ngomong, kau masih bersama gadis yang waktu
itu, kan? Atau sudah ada yang baru?”
  Wajah Lee Jeong-Su memerah dan dia agak salah tingkah ketika menjawab, “Oh, dia
sedang  ada  urusan  di  tempat  lain.  Ayolah,  mumpung  pekerjaanku  sedang  tidak
banyak. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan kalian. Oke?”
  Sandy  dan  Young-Mi  berpandangan.  Mereka  tahu  mereka  tidak  bisa  menghindar
tanpa bersikap kasar kepada laki-laki seperti Lee Jeong-Su.
  Mereka  masuk  ke  restoran  kecil  yang  sudah  sering  mereka  datangi.  Mereka  baru
saja duduk di meja kosong ketika Sandy mendengar ponselnya berbunyi. Ia menatap
layar ponselnya. Ia tidak mengenal nomor telepon yang tertera di sana.
  “Halo?”
  “Sudah lihat?”
  “Apa?”  Dalam  kebingungan  Sandy  menatap  ponselnya,  lalu  menempelkannya
kembali di telinga. “Siapa ini?”
  Laki-laki di ujung sana mendengus kesal. “Kau tidak tahu?”
  “Tidak.”
  Sepi sebentar, lalu suara itu berkata dengan nada datar, “Ini Jung Tae-Woo.”
  Sandy  tersentak  dan  sontak  menatap  Young-Mi  dan  Jeong-Su  bergantian.  Kedua
orang  itu  jadi  ikut  menatapnya  dengan  pandangan  bertanya.  Tepat  pada  saat  itu
pelayan datang dan menanyakan pesanan.
  Sandy  memalingkan  wajah  dan  berkata  dengan  suara  pelan  di  telepon,  “Oh,  kau
rupanya. Ada apa?”
  Sandy mendengar Jung Tae-Woo menarik napas di seberang sana. “Kau sudah lihat
fotonya?” Nada suaranya sudah kembali seperti biasa.
  “Sudah,” sahut Sandy. “Lalu bagaimana? Kau sudah ditanya-tanya?”
  “Sore ini aku ada jadwal wawancara.”
  “Soon-Hee, kau mau makan apa?” tanya Jeong-Su tiba-tiba.
  Sandy menoleh dan menjawab, “Terserah. Pesankan saja untukku.”
  “Kau tidak sedang sendirian?” tanya Tae-Woo.
  “Aku sedang makan bersama teman.”
  “Hei, kenapa tidak bilang dari tadi? Kau bisa membongkar rencana kita.”
  “Lho,  kenapa  marah-marah?  Kau  sendiri  tidak  bertanya  dulu,  lagi  pula  aku  kan
tidak bilang apa-apa ke siapa pun.” 38

  Jung  Tae-Woo  terdiam  sebentar,  lalu  berkata,  “Malam  ini  jam  tujuh  kau  harus  ke
rumah Hyun-Shik Hyong. Ada yang ingin dibicarakan. Mengerti?”
  Wajah Sandy berubah kesal, tapi ia berkata, “Ya,  ya, mengerti. Tapi rumahnya  di
mana?”
  Sandy mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari dalam tasnya. Setelah mencatat
alamat Park Hyun-Shik seperti yang disebutkan Jung Tae-Woo, ia menutup ponsel dan
mendapati Young-Mi dan Jeong-Su sedang memerhatikannya.
  “Dari siapa?” tanya Jeong-Su.
  “Teman,”  sahut  Sandy  ringan  sambil  tersenyum  kecil.  “Makanannya  sudah
dipesan?”


Tae-Woo menutup ponselnya sambil melamun.
  “Kau sudah memintanya datang ke tempatku nanti malam?” tanya Park Hyun-Shik
membuyarkan lamunannya.
  “Sudah,” jawabnya pelan.
  “Kau  juga  nanti  malam  jangan  datang  terlambat,”  kata  manajernya  sambil
mengenakan jas. “Ayo, kita pergi makan siang. Mau makan apa?”
  “Hyong,” panggil Tae-Woo tiba-tiba.
  “Apa?”
  “Hyong  pernah  mencari  informasi  tentang  Han  Soon-Hee.  Apakah  Hyong  sudah
mengecek dia punya pacar atau tidak?”
  “Memangnya kenapa?”
  “Tadi ketika aku meneleponnya, dia sedang bersama laki-laki. Kalau memang dia
punya pacar, pacarnya bisa tahu soal kita.”
  Park  Hyun-Shik  berpikir.  “Nanti  malam  kita  bisa  menanyakannya  langsung  pada
Soon-Hee  ssi. Ayolah, kita pergi makan dan setelah itu kau harus bersiap-siap untuk
wawancara.”


“Jadi  kau  sudah  mengatakannya  pada  wartawan?”  tanya  Sandy  sambil  menjepit
sepotong daging panggang dengan sumpit dan memasukkannya ke mulut.
  Mereka  bertiga—Jung  Tae-Woo,  Park  Hyun-Shik,  dan  dia  sendiri—sudah
berkumpul  di  apartemen  Park  Hyun-Shik  yang  besar  dan  mewah.  Ketika  Sandy
datang, kedua laki-laki itu baru akan mulai memanggang daging. Hyun-Shik berkata
makan malam ini adalah ucapan terima kasihnya atas bantuan Sandy. 39

  “Kau bisa baca sendiri beritanya di koran,” sahut Jung Tae-Woo sambil membolak-
balikkan potongan daging di atas panggangan.
  Sandy meringis, lalu menoleh ke arah Park Hyun-Shik yang sedang meneguk soju.
“Paman tidak makan?” tanyanya ketika melihat pria itu tidak memegang sumpit.
  Park Hyun-Shik meraih sumpit dan berkata, “Soon-Hee ssi…”
  “Kalian  boleh  memanggilku  Sandy  saja,”  Sandy  menyela  dengan  cepat  dan
memandang Park Hyun-Shik dan Jung Tae-Woo bergantian.
  Jung Tae-Woo mendengus pelan, tapi tidak menjawab.
  Pakr  Hyun-Shik  berdeham  dan  melanjutkan,  “Oke,  kalau  memang  kau  tidak
keberatan.  Sandy,  sepertinya  aku  belum  pernah  bertanya,  tapi  apa  kau  punya  pacar
sekarang ini?”
  Sandy tersedak mendengar pertanyaan Park Hyun-Shik. “Pacar?”
  Park  Hyun-Shik  cepat-cepat  berkata,  “Aku  tidak  bermaksud  mencampuri  urusan
pribadimu, tapi kalau kau memang punya pacar, itu bisa agak menyulitkan. Kau tidak
mungkin bisa menyembunyikan hal ini darinya.”
  Sandy  mengangguk-angguk  pelan.  “Oh,”  gumamnya.  “Tenang  saja,  aku  tidak
punya pacar.”
  “Siang  tadi  ketika  aku  meneleponmu,  bukankah  kau  sedang  bersama  pacarmu?”
Jung Tae-Woo menimpali.
  Sandy menoleh ke arahnya. “Siang tadi? Aah… dia bukan pacarku.”
  “Kedengarannya seperti pacar,” Jung Tae-Woo bersikeras.
  Sandy menatap kedua laki-laki itu dengan mata disipitkan. “Baiklah,” akhirnya ia
berkata.  Ia  meletakkan  sumpitnya  di  meja.  “Karena  kalian  curiga  begitu,  aku  akan
mengatakan yang sebenarnya.”
  “Dia pacarmu?” tanya Jung Tae-Woo langsung.
  “Bukan,”  Sandy  menegaskan.  “Aku  dan  dia  memang  pernah  berhubungan,  tapi
hubungan itu sudah berakhir delapan bulan yang lalu.”
  “Lalu  hubungan  kalian  sekarang  masih  baik?”  Kali  ini  Park  Hyun-Shik  yang
bertanya.
  “Susah  mengatakannya,”  sahut  Sandy  agak  bingung.  Ia  bertopang  dagu  dan
mengerutkan  kening.  “Sebenarnya  setelah  berpisah,  kami  tidak  bertemu  lagi.
Kemudian kira-kira sebulan lalu dia mulai menghubungiku. Aku juga tidak tahu apa
maunya.”
  “Itu  artinya  dia  ingin  kembali  kepadamu,”  kata  Jung  Tae-Woo.  “Kenapa  kau
memutuskan dia waktu itu? Itu juga kalau kami boleh tahu.”
  Alis  Sandy  terangkat.  “Siapa  bilang  aku  yang  memutuskannya?  Dia  sendiri  yang
minta putus dariku karena dia tertarik pada wanita lain.” 40

  Kedua  laki-laki  itu  menatapnya  dengan  pandangan  aneh.  Apakah  pandangan  itu
disebabkan  rasa  kasihan?  Sandy  memang  merasa  dirinya  dulu  sangat  menyedihkan.
Pacar yang ia percayai meninggalkannya demi wanita lain.
  “Tidak  usah  melihatku  seperti  itu.  Aku  tidak  apa-apa.  Waktu  itu  aku  memang
sedih, tapi aku bukan tipe wanita yang histeris. Ada banyak hal yang bisa membuatku
bahagia. Banyak sekali…”
  Merasa  canggung  telah  membicarakan  masalah  pribadinya  pada  kedua  pria  itu,
sebelum  Sandy  bisa  menghentikan  dirinya  sendiri,  bibirnya  terus  mengoceh,  “Mmm,
aku suka mendengarkan musik, suka keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan
bintang.  Jadi  waktu  itu  untuk  menenangkan  diri,  aku  makan  banyak  sekali  keripik
kentang dan aku sering membeli bunga untuk diriku sendiri. Kedengarannya mungkin
aneh, tapi perasaanku langsung jadi lebih baik.”
  “Lalu kenapa sekarang dia mendekatimu lagi?” desak Jung Tae-Woo.
  Sandy mengangkat bahu. “Mana aku tahu.”
  “Mungkinkah dia sudah berpisah dengan wanita yang dulu itu?” tanya Park Hyun-
Shik.
  Sandy memiringkan kepala. “Sepertinya belum.”
  “Bagaimana denganmu?” tanya Jung Tae-Woo sambil menatap Sandy ingin tahu.
  Sandy membalas tatapannya. “Bagaimana apanya?”
  “Kau masih mengharapkannya?”
  Sandy  terdiam  sejenak,  lalu  ia  mengetukkan  sumpitnya  ke  piring  dan  berkata,
“Sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Yang penting sekarang aku tidak punya pacar dan
tidak akan menyulitkan kalian berdua. Ayo, makan lagi.”
  Jung Tae-Woo masih terlihat tidak puas, tapi kali ini Sandy berhasil mengendalikan
mulutnya.  Bagaimanapun,  ia  kan  baru  mengenal  kedua  laki-laki  itu,  rasanya  tidak
nyaman membicarakan masalah pribadinya dengan mereka.
  Sandy berdeham untuk mengalihkan topik, lalu bertanya, “Lalu rencana selanjutnya
apa? Paman akan memotret kami lagi?”
  Park  Hyun-Shik  menggeleng.  “Tidak.  Untuk  saat  ini  kau  boleh  bersantai  dulu.
Meski kau harus tetap siap seandainya kami tiba-tiba butuh bantuanmu.”
  “Aku mengerti,” ujar Sandy. “Yang jadi bosnya kan kalian berdua.”
  “Oh  ya,  hari  Sabtu  nanti  Tae-Woo  akan  mengadakan  jumpa  penggemar  untuk
mempromosikan album barunya,” kata Park Hyun-Shik tiba-tiba. “Kau mau datang?”
  Sandy tersedak dan terbatuk-batuk. Sumpitnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke
lantai. 41

  Sandy memungut sumpit yang jatuh dan mengulurkannya kepada Park Hyun-Shik.
“Maaf, sepertinya aku makan terlalu buru-buru,” katanya sambil menggosok-gosokkan
telapak tangannya yang basah karena keringat dingin ke celana jins.
  “Tidak perlu rakus seperti itu,” kata Jung Tae-Woo. Sama sekali tidak membantu.
  Sandy  tidak  mengacuhkannya  dan  bertanya  pada  Park  Hyun-Shik,  “Jumpa
penggemar? Seperti yang dulu?”
  Jung  Tae-Woo  tertegun  menatap  daging  panggangnya.  Ia  kaget  Sandy  tahu  soal
jumpa  penggemar  terakhir  yang  dilakukannya  sebelum  mengambil  jeda  dari  dunia
selebriti.
  “Tidak, tidak seperti dulu,” Park Hyun-Shik cepat-cepat menyela sebelum suasana
hati  Tae-Woo  berubah  menjadi  buruk.  “Kali  ini  tidak  seramai  dulu.  Kami  akan
membatasi jumlah penonton. Bagaimana? Kau mau datang?”
  “Oh, begitu? Hmmm…” Sandy menerima sumpit baru yang diulurkan Park Hyun-
Shik. “Aku boleh datang?”
  Jung  Tae-Woo  mendengus  dan  meneguk  soju-nya,  rupanya  Park  Hyun-Shik
terlambat menyelamatkan situasi. “Untuk apa kau datang? Memangnya kau termasuk
penggemarku?”
  “Memang  bukan,”  jawab  Sandy  terus  terang,  lalu  menjepit  daging  panggang  dan
memasukkannya ke mulut. Ia melihat Jung Tae-Woo menatapnya dengan pandangan
bertanya-tanya, seolah menantinya memberi alasan.
  Entah  kenapa  sandy merasa  tidak  nyaman  dengan  cara  Tae-Woo  memandangnya
itu, ia pun berdecak. “Ya sudah, aku tidak akan datang. Lagi pula aku juga sudah bosan
melihatmu. Aneh juga, kenapa teman-temanku begitu menyukaimu ya?”
  Tae-Woo  sudah  membuka  mulut  untuk  membalas  komentar  Sandy,  tapi  Park
Hyun-Shik buru-buru menengahi, “Jangan begitu. Aku akan memberikan dua lembar
tiket  untukmu.  Datanglah  bersama  temanmu  hari  Sabtu  nanti.  Kau  belum  pernah
mendengar Tae-Woo menyanyi, kan?”
  Sandy  meringis  dan  menatap  Jung  Tae-Woo  yang  melahap  daging  panggang
dengan kesal. “Sebenarnya pernah. Di televisi…,” katanya.
  Setelah beberapa saat Sandy memutuskan untuk melunak, “Bagaimana? Aku boleh
datang, tidak? Siapa tahu setelah pergi ke acara itu, aku jadi bisa melihat apa yang tidak
kulihat  selama  ini.  Siapa  tahu  nantinya  aku  jadi  bisa  mengerti  kenapa  banyak  orang
menyukaimu.”
  Jung  Tae-Woo  menatapnya  dan  mendesah.  “Datang  saja  kalau  kau  mau.  Tapi
jangan macam-macam.”
  Sandy tersenyum jail, tiba-tiba saja ia merasa menggoda Tae-Woo adalah kegiatan
yang  menyenangkan,  dan  berkata,  “Baiklah,  kau  mau  aku  berpura-pura  menjadi 42

penggemarmu yang paling fanatik? Aku bisa berlari ke arahmu dan memelukmu kuat-
kuat.  Lalu  menjerit-jerit  memanggil  namamu.  Tae-Woo  Oppa!  Aku  cinta  padamu!  Itu
yang biasanya dilakukan para penggemarmu, kan?”
  “Mungkin  sebaiknya  kau  tidak  usah  datang,”  kata  Tae-Woo  sambil  meletakkan
sumpitnya dengan keras. “Benar. Jangan datang!”
  Sandy  menggoyang-goyangkan  jari  telunjuknya.  “Kau  tadi  sudah  setuju.  Tidak
boleh  ditarik  kembali.  Lagi  pula  temanku  Kang  Young-Mi  penggemar  beratmu.  Aku
sudah  merasa  tidak  enak  karena  harus  menyembunyikan  masalah  ini  darinya.  Dia
sangat ingin mendapatkan tanda tanganmu. Jadi, aku pasti akan mengajaknya ke acara
jumpa penggemarmu Sabtu nanti.”
  Jung Tae-Woo hanya bisa menarik napas panjang. “Ya, ya, terserah kau sajalah.”
 


 





















 43


Empat




“H YONG, hari ini tidak ada jadwal kerja, kan? … Aku sedang di luar. Ada sedikit
urusan… Oke, sampai jumpa.”
  Tae-Woo  melempaskan  earphone  dari  telinga  dan  kembali  memusatkan  perhatian
pada jalanan di depannya.
  “Sepertinya di sini kampusnya,” gumamnya pada diri sendiri sambil menghentikan
mobil di tepi jalan. Ia membuka flap ponselnya dan baru akan menekan angka sembilan
ketika gerakannya terhenti.
  Ia melihat  Sandy melalui kaca jendela mobilnya. Gadis itu sedang berjalan keluar
dari gerbang kampus bersama laki-laki tinggi besar. Tae-Woo terus mengamati mereka
ketika laki-laki itu membukakan pintu mobilnya untuk Sandy dan gadis itu masuk.
  Tae-Woo menutup ponsel, melemparkannya ke kursi penumpang di sampingnya,
lalu memutar mobilnya untuk mengikuti mobil putih itu.
  Ternyata mereka tidak pergi jauh. Mobil putih itu berhenti di depan kafe dan kedua
orang  itu  turun.  Tae-Woo  menghentikan  mobil  di  seberang  jalan  dan  tetap  diam  di
dalam  mobil.  Ia  melihat  Sandy  dan  laki-laki  itu  masuk  ke  kafe  dan,  untungnya,
menempati meja di dekat jendela. Dari mobilnya, Tae-Woo bisa melihat mereka berdua
dengan  jelas.  Si  laki-laki  tidak  henti-hentinya  tersenyum  dan  berbicara,  Sandy  juga
sering tersenyum dan sesekali menanggapi kata-kata pria itu.
  Tae-Woo meraih ponselnya dan menekan angka sembilan. Begitu mendengar suara
operator telepon, Tae-Woo langsung menutup flap ponselnya dengan keras.
  “Kenapa ponselnya dimatikan?” tanyanya kesal. 44

  Tae-Woo memerhatikan Sandy yang sedang tersenyum kepada pelayan yang meng-
antarkan minuman. Ia memalingkan wajah lalu bertanya pada dirinya sendiri dengan
nada heran, “Kenapa aku harus peduli?”
  Ia  menghidupkan  mesin  dan  menjalankan  mobil  dengan  kasar  sehingga  rodanya
berdecit.


“Kau mau pulang? Bagaimana kalau kuantar?”
  Sandy  menggeleng  dan  tersenyum.  “Tidak  usah,  Jeong-Su  ssi.  Aku  belum  mau
pulang.”
  Lee Jeong-Su berdiri di samping mobil putihnya dan bertanya lagi, “Kalau begitu
kau mau ke mana? Aku bisa mengantarmu.”
  Sandy menggeleng lagi. “Tidak usah. Kau pasti sibuk. Pergi saja dulu.”
  Karena  tidak  bisa  membujuk  Sandy,  Lee  Jeong-Su  akhirnya  melambaikan  tangan
dan masuk ke mobil.
  Sandy memerhatikan mobil putih itu membelok di sudut jalan dan mengembuskan
napas.  Ia  berbalik  dan  mulai  berjalan  pelan.  Karena  teringat  ponselnya  yang  tadi  ia
matikan,  ia  merogoh  tas  dan  menyalakan  alat  komunikasi  itu  segera  setelah
menemukannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
  “Halo?” katanya, menempelkan ponsel ke telinga.
  “Ini aku,” ujar suara di seberang sana.
  “Jung Tae-Woo ssi?” Sandy agak heran mendengar suara Jung Tae-Woo.
  “Kau di mana sekarang?” tanya Jung Tae-Woo cepat.
  “Aku… oh…” Sandy melihat sekelilingnya dan menyebutkan tempatnya.
  “Tunggu  di  sana.”  Lalu  tanpa  menunggu  jawaban,  Jung  Tae-Woo  langsung
memutuskan hubungan.
  Sandy menatap ponselnya dengan bingung. Orang aneh. Tunggu di sini? Kenapa?
Dia mau datang?
  Sandy sedang mempertimbangkan apakah ia harus menunggu sambil berdiri di tepi
jalan atau masuk lagi ke kafe ketika mobil merah berhenti tepat di depannya. Jendela
mobil itu diturunkan dan Sandy membungkukkan badan untuk melihat ke dalam. Ia
melihat Jung Tae-Woo yang berkacamata gelap seperti biasa duduk di balik kemudi.
  “Masuk,” kata laki-laki itu singkat.
  Sandy mendengus pelan mendengar nada memerintah dalam suara Jung Tae-Woo,
tapi ia masuk juga ke mobil.
  “Kenapa cepat sekali datangnya? Tadi kau sedang ada di sekitar sini?” tanya Sandy
ringan ketika mereka sudah melaju di jalan. 45

  Tae-Woo tidak menjawab, hanya bergumam tidak jelas.
  “Kenapa mencariku? Kita harus berfoto?” tanya Sandy lagi sambil menatap teman
seperjalanannya yang entah kenapa agak aneh hari ini.
  Sepertinya  Jung  Tae-Woo  tidak  bisa  menahan  emosi  lagi  karena  ia  mulai
menggerutu. “Aku mencoba menghubungimu dari tadi. Kenapa ponselmu dimatikan?
Bukankah  Hyong  sudah  bilang  padamu  kau  harus  siap  setiap  saat  kalau-kalau  kami
menghubungimu?”
  Sandy  menatap  Jung  Tae-Woo  dengan  jengkel.  “Baiklah,  aku  minta  maaf.  Aku
memang  baru  mengaktifkan  kembali  ponselku.  Tapi  bukankah  sekarang  kau  sudah
berhasil menghubungiku?”
  “Kau tadi sedang apa sampai tidak bisa menjawab telepon?” tanya Jung Tae-Woo
sambil tetap menatap lurus ke jalan.
  “Sedang  bersama  teman,”  jawab  Sandy,  lalu  mengalihkan  pembicaraan.  “Kenapa
kau mencariku? Kita mau ke mana?”
  Sandy  melihat  Jung  Tae-Woo  agak  ragu  sesaat,  lalu  laki-laki  itu  berkata,  “Aku
sampai  lupa  apa  yang  ingin  kukatakan  saking  terlalu  lamanya  menunggumu.  Tapi
sebaiknya kau menemaniku membeli sesuatu.”
  “Beli apa?”
  “Hadiah  untuk  penggemarku,”  sahut  Jung  Tae-Woo  sambil  memandang  Sandy
sebentar,  lalu  kembali  menatap  ke  depan.  “Untuk  dibagikan  dalam  acara  jumpa
penggemar Sabtu nanti.”
  “Untuk semua orang?”
  “Tidak, hanya untuk beberapa orang yang terpilih.”
  “Ooh.”  Sandy  mengangguk-angguk.  “Kenapa  kau  baik  sekali?  Kukira  artis  tidak
membeli  sendiri  hadiah  untuk  penggemarnya.  Kupikir  hal-hal  semacam  itu  diurus
orang lain.”
  “Aku  lebih  suka  membelinya  sendiri.  Karena  kebetulan  kau  tidak  sibuk,  kau  bisa
membantuku.”
  Sandy menoleh cepat. “Hei, siapa bilang aku tidak sibuk? Dua jam lagi aku harus
menemui Mister Kim. Lagi pula menurut perjanjian, kita hanya akan berfoto bersama.
Tidak pernah disebut-sebut soal aku harus menemani atau membantumu mengerjakan
apa pun.”
  “Bukankah  sejak  awal  sudah  kukatakan,  kita  anggap  saja  kesepakatan  ini  sama
dengan  aku  menawarkan  pekerjaan  untukmu.  Kau  tidak  menolak.  Jadi  intinya,  kau
sekarang  bekerja  untukku.  Bukankah  begitu?”  kata  Jung  Tae-Woo  sambil  tersenyum.
“Soal Mister Kim-mu itu, tidak usah cemas. Kau akan bisa menemuinya tepat waktu.
Sudah kubilang aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu di sana.” 46

  Sandy merasa tidak perlu memberitahu Jung Tae-Woo bahwa ia tadi bersama Lee
Jeong-Su.  Bagaimanapun,  masalahnya  dengan  Lee  Jeong-Su  adalah  masalah  pribadi
yang  tidak  ada  hubungannya  dengan  Jung  Tae-Woo  maupun  Park  Hyun-Shik.
Ditambah  lagi  kenyataan  bahwa  pertemuan  dengan  Lee  Jeong-Su  tadi  hanyalah
perbincangan singkat tanpa arti khusus.
  Jung Tae-Woo menghentikan mobil di depan toko pakaian yang kelihatan mewah di
Apgujeong-dong,  salah  satu  kawasan  paling  trendi  di  Seoul,  dipenuhi  restoran  kelas
atas dan toko pakaian dari para desainer terkenal. Sandy tahu toko itu karena ia sering
melewatinya.  Kadang-kadang  ia  berhenti  dan  mengagumi  pakaian  yang  dipajang  di
etalasenya, tapi tidak pernah sekali pun ia menapakkan kakinya di dalam toko itu. Ia
tidak perlu masuk ke toko itu untuk tahu bahwa harga barang yang dijual di toko itu
pasti mahal, sama seperti butik Mister Kim. Ia lebih suka berbelanja di Meyong-dong
yang sering disebut Ginza-nya Seoul, salah satu kawasan perbelanjaan yang populer.
Harga  barang-barang  di  Myeong-dong  memang  tidak  jauh  berbeda  dengan  harga
barang di Apgujeong-dong, tetapi Sandy merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa
berbelanja di sana.
  Sandy mencondongkan badan dan mengamati bangunan itu. “Hei, kau mau masuk
ke  sana?  Memangnya  tidak  apa-apa  kalau  kau  dikenali  orang?  Lalu  aku  bagaimana?
Aku tidak ingin terlihat bersamamu.”
  Jung Tae-Woo melepaskan sabuk pengamannya dan mendesah. Ia menatap Sandy
dengan kening berkerut, lalu berkata, “Aku ini bukan narapidana yang tidak boleh ke
mana-mana. Lagi pula apa gunanya jadi artis kalau tidak ingin dikenal orang?”
  Sandy masih tidak berniat melepas sabuk pengamannya. “Oh, begitu? Kau merasa
senang  kalau  orang-orang  mengenalimu,  jadi  histeris,  lalu  jatuh  pingsan  di
hadapanmu?”
  “Orang-orang  tidak  akan  pingsan  begitu  melihatku,”  kata  Jung  Tae-Woo.  “Kau
tenang saja. Aku kenal pemilik toko ini. Dia tidak akan banyak bertanya. Aku sering ke
sini  dengan  staf  manajemenku.  Soal  dirimu…  anggap  saja  kau  salah  satu  anggota
stafku.”
  Jung Tae-Woo membuka pintu, lalu mulai beranjak dari kursi ketika ia berhenti dan
menoleh  ke  arah  Sandy  lagi.  “Tunggu  dulu.  Kau  kan  memang  anggota  stafku.  Kau
bekerja untukku, bukan? Ayo, turun.”
  Sandy mengangkat bahu, melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.


“Sebenarnya kau ingin beli apa?” tanya Sandy bingung. Ia melihat-lihat barang-barang
yang dijual di toko itu dan ia benar, harganya sama sekali tidak murah. 47

  “Entahlah,  aku  belum  tahu,”  jawab  Jung  Tae-Woo  sambil  melepas  kacamata
gelapnya. “Bagaimana kalau kau saja yang pilih. Ayo, kita naik.”
  “Hei, Jung Tae-Woo!”
  Sandy  dan  Jung  Tae-Woo  serentak  menoleh  ke  arah  seruan  penuh  semangat  itu.
Ternyata  suara  itu  milik  laki-laki  yang  tampan  sekali.  Sandy  merasa  pernah  melihat
laki-laki  itu.  Di  mana  ya?  Ah!  Di  televisi.  Laki-laki  itu  kan  bintang  iklan  pakaian
olahraga. Tidak salah lagi.
  “Apa kabar, Danny?” Jung Tae-Woo menyapa dan menepuk punggungnya.
  Sandy menjauh dari sana dan membiarkan kedua laki-laki itu berbincang-bincang.
Kalau  tidak  salah,  ia  memang  pernah  dengar  Jung  Tae-Woo  berteman  baik  dengan
Danny.  Walaupun  sudah  berdiri  agak  jauh  dan  tersembunyi  di  balik  rak  pakaian,  ia
masih bisa mendengar jelas pembicaraan kedua laki-laki itu.
  “Hei,  kauganti  nomor  ponselmu,  ya?”  Sandy  mendengar  Danny  bertanya  kepada
Jung Tae-Woo.
  “Tidak. Kenapa?”
  “Beberapa hari  yang  lalu aku meneleponmu, tapi yang  menjawab wanita dan dia
bilang dia tidak kenal denganmu.”
  Sandy  menutup  mulut  dengan  sebelah  tangan.  Ia  ingat  hari  itu,  hari  ketika
ponselnya  dan  ponsel  Jung  Tae-Woo  tertukar.  Saat  itu  ia  mengira  orang  itu  salah
sambung.  Sandy  mengalihkan  tatapan  ke  arah  Jung  Tae-Woo,  penasaran  bagaimana
jawaban pria itu.
  “Kau  pasti  salah  sambung.  Nomor  ponselku  tetap  seperti  yang  dulu,”  katanya
tenang sambil tersenyum.
  “Tidak  mungkin  salah  sambung,”  Danny  bersikeras.  “Tapi  sudahlah,  itu  bukan
masalah. Kakakku terus menanyakan kabarmu. Katanya sudah lama kau tidak ke sini.”
  “Maaf. Aku memang agak sibuk belakangan ini.”
  Danny menatap Jung Tae-Woo penuh selidik. “Oh ya, aku baru ingat. Kenapa kau
tidak cerita padaku?”
  Jung Tae-Woo mengangkat alis. “Tentang apa?”
  “Pacarmu.”
  Sandy menahan napas.
  Jung Tae-Woo terlihat bingung. “Pacar? Pacar yang man—Aah, itu…”
  Bagaimana  sih?  Sandy  merasa  kesal.  Jung  Tae-Woo  selalu  khawatir  Sandy  akan
membocorkan  rahasia  mereka,  tapi  sekarang  ia  sendiri  yang  hampir  membongkar
semuanya.
  Danny tertawa. “Masa kau lupa pacarmu sendiri?” 48

  Jung  Tae-Woo  ikut  tertawa.  “Lain  kali  saja  kuceritakan.  Nah,  itu  ada  yang
memanggilmu. Sudah, pergilah, tidak usah melayaniku.”
  “Hei, tadi itu Danny yang bintang iklan itu ya?” tanya Sandy ketika Jung Tae-Woo
sudah berada di sampingnya.
  “Mmm. Memangnya kenapa?” Jung Tae-Woo balas bertanya.
  “Ternyata  dia  tampan  sekali,”  kata  Sandy.  “Aku  tidak  percaya  aku  bisa  melihat
aslinya. Seharusnya tadi aku minta tanda tangan, siapa tahu Young-Mi mau.”
  Jung Tae-Woo memandangnya, lalu bergumam pelan. “Untuk temanmu atau…”
  “Hm?”
  “Ah, tidak…. Sudah memilih sesuatu?”
  “Katanya  kau  ingin  memilih  sendiri,”  protes  Sandy,  tapi  Jung  Tae-Woo  sudah
berjalan pergi. Sandy membiarkan dirinya beberapa saat memandang sosok belakang
Danny yang menjauh, lalu membalikkan tubuh menyusul Jung Tae-Woo yang sudah
naik ke lantai dua toko itu.
  “Ini tokonya?” tanya Sandy lagi setelah berhasil menyusul Jung Tae-Woo.
  “Apa?” Jung Tae-Woo sibuk melihat-lihat aksesori yang dijual di sana.
  “Maksudku, toko ini milik Danny?”
  “Sebenarnya milik kakak perempuannya, tapi Danny sering ada di sini,” sahut Jung
Tae-Woo.  Lalu  ia  tiba-tiba  menoleh  dan  menatap  Sandy  dengan  pandangan
menyelidik. “Kenapa tanya-tanya?”
  Sandy membalas tatapan Jung Tae-Woo tanpa merasa bersalah. “Hanya ingin tahu.
Eh, kau kenal siapa lagi? Kenap mantan personel H.O.T? Shinhwa?”
  Jung  Tae-Woo  mendesah  keras  dan  berkacak  pinggang.  “Kalau  nona  besar  tidak
lupa, kau di sini untuk membantuku memilih sesuatu!”
  Sandy  mencibir.  “Oke,  oke.  Bagaimana  kalau  bros?”  katanya  sambil  menunjuk
barisan bros cantik yang dipajang di kotak kaca.
  “Aku  sudah  pernah  memberikan  bros  untuk  penggemarku  dulu,”  kata  Jung  Tae-
Woo.
  “Aah, benar juga.” Sandy mengangguk-angguk sambil terus mengamati bros-bros
itu. “Waktu itu sudah pernah ya…”
  Beberapa detik berlalu tanpa tanggapan, meski begitu Sandy merasa Jung Tae-Woo
sedang menatapnya. Sandy pun mengangkat kepala dan melihat ke arah laki-laki itu.
Ah, sepertinya ia keliru, Tae-Woo sedang memandang ke arah lain.
  “Kau kenapa?” tanya Sandy.
  Jung Tae-Woo menoleh dan menunjuk ke bagian topi. “Kita ke sana.”
  Sandy  mengikuti  laki-laki  itu,  namun  ketika  ia  melewati  salah  satu  manekin,
langkahnya tiba-tiba terhenti. Mata Sandy tertuju pada syal panjang yang dipakaikan 49

pada manekin itu. Syal bermotif kotak-kotak hitam-putih yang kelihatan bagus sekali.
Sandy menjulurkan tangan dan menyentuh syal itu.
  “Sedang apa kau di sini?” Tiba-tiba Jung Tae-Woo sudah berdiri di belakangnya.
  Sandy menoleh ke belakang dan berkata, “Lihat syal ini. Bagus, kan?”
  “Menurutmu bagus?” tanya Jung Tae-Woo.
  Sandy mengelus-elus syal itu. “Tentu saja. Aku suka sekali motif dan warnanya.”
  Jung  Tae-Woo  melepaskan  syal  itu  dari  manekin  dan  memakainya.  Ia  berjalan  ke
cermin  dan  mematut  diri.  Sandy  mengikuti  dari  belakang  sambil  menggerutu  dalam
hati, kenapa jadi Jung Tae-Woo yang mencoba memakainya?
  “Memang bagus,” Jung Tae-Woo mengakui. “Cocok untukku, bukan?”
  Sandy ikut melihat bayangan Jung Tae-Woo di cermin dan harus mengakui pria itu
memang terlihat keren sekali dengan syal itu.
  “Cocok. Kau bisa memakainya pada acara jumpa penggemarmu nanti,” usul Sandy
sambil mengalihkan pandangan.
  “Boleh juga,” kata Jung Tae-Woo dan berputar dari cermin. “Lalu soal hadiah untuk
penggemar, kupikir sebaiknya mereka kubelikan topi saja. Bagaimana?”




















 50


Lima




“B ERUNTUNG sekali kita bisa dapat tiket ini. Tempat duduk kita di barisan paling
depan,  lagi!  Kau  tahu  tidak,  tiketnya  sudah  habis  terjual  dalam  setengah  jam!  Tapi
kurasa itu bukan berita aneh. Sudah empat tahun Jung Tae-Woo tidak mengeluarkan
album,  makanya  aku  yakin  albumnya  kali  ini  pasti  hebat,”  kata  Young-Mi  sambil
mencium  tiket  masuk  acara  jumpa  penggemar  Jung  Tae-Woo.  “Apakah  aku  harus
menelepon Mister Kim dan mengucapkan terima kasih?”
  “Ah, tidak usah. Aku sudah berterima kasih padanya,” sahut Sandy cepat-cepat.
  Park  Hyun-Shik  memenuhi  janjinya  dan  memberikan  dua  lembar  tiket  kepada
Sandy. Tentu saja Sandy langsung mengajak Kang Young-Mi dan karenanya ia harus
mengarang cerita tentang asal-usul tiket itu. Ia berkata pada Young-Mi bahwa Mister
Kim  yang  menghadiahkan  tiket  itu  untuknya  karena  sudah  menyelesaikan  tugas
dengan sempurna. Yang  benar saja!  Kalau Mister Kim pernah sebaik  itu pada orang,
namanya  sudah  pasti  bukan  Mister  Kim.  Tapi  Young-Mi  sama  sekali  tidak  curiga
dengan cerita itu.
  Mereka tiba di tempat acara jumpa penggemar diselenggarakan dan melihat ratusan
gadis  remaja  berkerumun  di  pintu  masuk.  Ternyata  penggemar  setia  Jung  Tae-Woo
banyak  sekali.  Mereka  membawa  spanduk-spanduk  besar,  balon,  dan  papan  karton
yang bertuliskan nama Jung Tae-Woo. Sandy masih belum memahami kenapa orang-
orang  itu  begitu  tergila-gila  pada  Jung  Tae-Woo  walaupun  ia  sudah  menghabiskan
waktu  bersama  laki-laki  itu  seminggu  terakhir  ini.  Ia  bertanya-tanya  apakah  ia  akan
merasa aneh melihat Jung Tae-Woo berdiri di panggung dan menyanyi.
  “Kali  ini  mereka  membatasi  jumlah  penonton,”  celetuk  Young-Mi.  “Acara  jumpa
penggemar yang sebelumnya jauh lebih ramai.” 51

  Sandy mengalihkan pandangan dari kerumunan penggemar Jung Tae-Woo kepada
temannya. “Benarkah?”
  Kang Young-Mi mengangguk tegas. “Tentu saja. Aku juga datang ke acara jumpa
penggemar  yang  dulu  itu.  Wah,  yang  datang  banyak  sekali.  Kau  tidak  akan  bisa
membayangkannya. Waktu itu aku sampai susah bernapas. Tidak heran kalau banyak
penggemarnya  yang  jatuh  pingsan  di  acara  itu,  malah  ada  yang  sampai  meninggal.
Aku pernah cerita, kan? Kau ingat, Soon-Hee?”
  Sandy mengangguk dan merenung. “Aku pernah dengar tentang kejadian itu, tapi
karena belum pernah menghadiri acara seperti ini, aku tidak tahu suasananya seperti
apa.”
  Kang  Young-Mi  tersenyum  dan  menggandeng  lengan  Sandy.  “Walaupun  jumlah
penontonnya sudah dikurangi, aku yakin mereka tetap liar. Kau akan bisa merasakan
suasananya. Oh ya, Jung Tae-Woo masih ingat padamu, tidak ya?”
  Sandy menatapnya kaget. “Maksudmu?”
  Young-Mi  mendecakkan  lidah.  “Bukankah  waktu  itu  kau  sempat  ke  rumahnya,
bahkan  dia  mengantarkanmu  pulang?  Hei,  kauingatkan  saja  dia!  Sewaktu  acara
pembagian tanda tangan nanti, bilang kau pernah berjumpa dengannya. Setelah itu kita
pasti  bisa  mengobrol  lebih  lama.  Ya?  Ya?  Kau  harus  menarik  perhatiannya  kepada
kita.”
  “Apa? Bukannya sudah kubilang aku tidak  mau orang-orang sampai tahu malam
itu  aku  bertemu  dengannya?”  sahut  Sandy.  “Aku  tidak  mau  terlibat  gosip  semacam
itu.”  Oh  ya,  ia  tahu  benar  ucapannya  ini  bertolak  belakang  dengan  keputusannya
membantu Jung Tae-Woo.
  “Kalau begitu tidak usah terang-terangan. Kau bisa memberikan petunjuk-petunjuk
yang bisa membuatnya—“
  “Hei, Kang Young-Mi! Sudahlah, kita masuk saja,” potong Sandy sambil cepat-cepat
menarik tangan temannya masuk ke gedung.


Acara  dimulai  dan  Jung  Tae-Woo  muncul  diiringi  jeritan  para  penggemarnya.  sandy
agak terperangah karena para penggemar jung Tae-Woo benar-benar penuh semangat
dan  jeritan  mereka  mengagumkan.  Young-Mi  juga  menjerit  dan  mengibas-ngibaskan
balon  yang  dipegangnya  keras-keras.  Melihat  temannya  seperti  itu,  Sandy  jadi  ikut
bersorak  dan  menjerit  walaupun  suaranya  sudah  jelas  tidak  terdengar  di  antara
lengkingan  penggemar-penggemar  lain  yang  lebih  ahli  dalam  hal  ini.  Sandy  melihat
Jung  Tae-Woo  berdiri  di  depan  penonton  sambil  tersenyum  lebar  dan  melambaikan 52

tangan. Pria itu mengenakan kaus hitam, jaket putih, celana panjang  putih, juga syal
hitam-putih yang dibelinya bersama Sandy.
  Kemudian  Jung  Tae-Woo  mulai  bernyanyi  dan  Sandy  membiarkan  dirinya
dipengaruhi  para  penggemar  Jung  Tae-Woo  yang  liar.  Ia  ikut  berteriak-teriak  dan
mengibas-ngibaskan  balon  seperti  Young-Mi.  Sandy  mengakui  suara  Jung  Tae-Woo
memang  bagus,  sehingga  ia  tidak  sempat  memikirkan  apakah  memang  terasa  aneh
melihat laki-laki itu di panggung.
  Jung Tae-Woo menyanyikan lagu-lagu dari album barunya, diselingi perbincangan
singkat  dengan  para  penonton.  Para  penggemarnya  terus  saja  menjerit-jerit
kesenangan,  bahkan  tidak  sedikit  yang  jatuh  pingsan.  Yang  berikutnya  adalah  acara
pembagian tanda tangan. Sandy dan Young-Mi ikut antre.
  Sandy melihat  para penggemar satu per satu menjabat tangan Jung  Tae-Woo dan
tersenyum bahagia, ada juga yang menangis saking gembiranya. Senyum ramah Jung
Tae-Woo tidak  pernah lepas dari wajahnya.  Kadang-kadang ia berbicara pendek dan
bercanda  sebentar  dengan  beberapa  penggemar.  Sandy  bertanya-tanya  dalam  hati
apakah laki-laki itu tidak merasa lelah.
  Ketika  giliran  Sandy  dan  Young-Mi  sudah  hampir  tiba,  Sandy  bisa  mendengar
percakapan  antara  Jung  Tae-Woo  dan  penggemarnya.  Umumnya  si  penggemar  akan
memuji  penampilan  dan  lagunya,  lalu  Jung  Tae-Woo  akan  berterima  kasih  dengan
sopan  dan  ramah  sekali,  setelah  itu  ia  akan  menanyakan  nama  si  penggemar  dan
membubuhkan  tanda  tangan  di  atas  CD,  poster,  atau  apa  pun  yang  disodorkan
kepadanya.
  Ketika  akhirnya  Sandy  berdiri  di  depan  Jung  Tae-Woo,  laki-laki  itu  tidak  terlihat
terkejut saat melihatnya. Sandy mencoba bersikap seperti kebanyakan penggemar Jung
Tae-Woo yang lain dan menyodorkan CD Jung Tae-Woo yang baru dibelinya tadi.
  “Tae-Woo  Oppa,  aku  suka  lagumu,”  kata  Sandy  dengan  menggebu-gebu.  Ia  tidak
memedulikan Young-Mi yang terus-menerus menyikutnya.
  Ia  mendengar  Jung  Tae-Woo  terbatuk  pelan  dan  membubuhkan  tanda  tangan  di
sampul  depan  CD  yang  ia  sodorkan.  Kemudian  dengan  senyumnya  yang  biasa,  ia
mengembalikan  CD  itu  kepada  Sandy.  Sandy  langsung  meraih  dan  meremas  tangan
Jung Tae-Woo yang menjulurkan CD, membuat laki-laki itu agak terperanjat.
  “Terima kasih, Tae-Woo Oppa. Terima kasih. Aku cinta padamu,” serunya gembira.
Di dalam hati ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah laki-laki itu.
  Ketika  berjalan  kembali  ke  tempat  duduknya,  Sandy  melihat  Park  Hyun-Shik
berdiri  tidak  jauh  dari  Jung  Tae-Woo.  Park  Hyun-Shik  juga  melihatnya.  Sandy
membungkukkan  badan  sedikit  untuk  memberi  salam  yang  dibalas  Park  Hyun-Shik 53

dengan  senyuman  dan  acungan  jempol.  Pasti  paman  yang  satu  itu  sudah  melihat
adegan kecil tadi.
  Setelah acara tanda tangan selesai, pembawa acara mengumumkan Jung Tae-Woo
akan membagikan hadiah khusus kepada sepuluh penggemar.
  “Wah!  Dia  mau  membagikan  hadiah!  Apa  ya?”  Young-Mi  begitu  bersemangat
sampai tidak berhenti bergerak-gerak di tempat duduknya.
  “Topi,” jawab Sandy tanpa sadar.
  Jung  Tae-Woo  yang  berdiri  di  samping  pembawa  acara  berkata  ia  akan
menghadiahkan sepuluh topi yang sudah dibelinya sendiri. Kepala Young-Mi langsung
menoleh ke arah Sandy.
  “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya curiga.
  Sandy menjadi serbasalah dan buru-buru berkata, “Cuma asal tebak. Biasanya artis
suka memberikan hadiah topi. Kalau bukan topi ya gantungan kunci atau bros.”
  Young-Mi tersenyum. “Mungkin kau benar. Dulu dia pernah memberikan hadiah
bros untuk penggemarnya. Sayangnya waktu itu aku tidak kebagian.”
  Topi-topi itu dibagikan kepada penggemar yang memenuhi syarat. Misalnya ketika
pembawa  acaranya  bertanya  siapa  yang  membawa  poster  resmi  Jung  Tae-Woo  yang
pertama, atau penggemar yang datang dari jauh, dan sebagainya. Ada juga yang dipilih
secara  acak  dengan  melemparkan  bola,  dan  barang  siapa  yang  menangkap  bola  itu
akan  mendapatkan  hadiah.  Semua  orang  bersenang-senang  termasuk  Sandy  dan
Young-Mi.
  “Nah,  sekarang  kami hanya  punya  satu  topi  terakhir,”  kata  pembawa  acara  yang
disambut  jeritan  para  penggemar.  Entah  itu  jeritan  kecewa  atau  bahagia  karena  bagi
telinga Sandy jeritan penggemar Jung Tae-Woo terdengar sama saja.
  “Itu  punyaku!”  seru  Young-Mi  sekeras-kerasnya,  berusaha  mengalahkan  teriakan
penggemar lain sambil melambai-lambaikan kedua tangan ke arah si pembawa acara.
  “Mungkin  kalian  ingat,  sebelum  acara  dimulai  kami  meminta  kalian  menuliskan
nomor ponsel kalian pada secarik kertas dan memasukkannya ke kotak besar yang di
sana itu. Kalian tahu apa maksudnya?” tanya si pembawa acara.
  terdengar  gemuruh  gumaman  dari  para  penonton  sementara  mereka  melihat  ke
kanan-kiri dan bertanya-tanya.
  “Saya akan menjelaskannya,” kata si pembawa acara lagi dan suasana pun menjadi
hening. “Begini, Jung Tae-Woo akan memilih salah satu nomor telepon di dalam kotak
itu  secara  acak  dan  dia  akan  menghubungi  nomor  telepon  itu.  Barang  siapa  yang
ponselnya  nanti  berbunyi,  majulah  ke  depan,  dan  topi  terakhir  ini  akan  menjadi
miliknya. Sekarang kalian harus memegang  ponsel kalian dan pastikan ponsel kalian
dalam keadaan aktif.” 54

  Semangat  para  penonton  melambung  tinggi  dan  mereka  sibuk  mengeluarkan
ponsel  mereka.  Sandy  merasa  ia  sudah  menjadi  penggemar  fanatik  karena  ia  juga
sedang memegang ponselnya penuh harap seperti Young-Mi.
  “Sudah  siap?  Kita  mulai  ya?”  seru  Jung  Tae-Woo  yang  disambut  jeritan  para
penggemar.
  Ia  memasukkan  tangannya  ke  kotak  besar  itu  dan  mengaduk-aduk,  lalu
mengeluarkan secarik kertas kecil. Para penggemar masih terus menjerit-jerit. Lalu Jung
Tae-Woo  mengeluarkan  ponselnya  sendiri  dan  membuka  flap-nya.  Jeritan  ribuan
penggemarnya  semakin  menjadi-jadi.  Pembawa  acara  pun  harus  menenangkan  para
penonton dengan berkata mereka tidak mungkin bisa mendengar dering telepon kalau
semua orang terus menjerit sepenuh hati seperti itu. Akhirnya suasana kembali hening,
kini hanya terdengar bisikan lirih di sana-sini.
  Jung  Tae-Woo  menekan-nekan  tombol  ponsel  sambil  melihat  kertas  kecil  di
tangannya,  lalu  menempelkan  ponsel  itu  ke  telinga.  Kertas  kecil  tadi  dimasukkan
kembali ke kotak.
  Detik-detik menunggu hubungan tersambung terasa begitu lama. Semua roang di
sana menatap ponsel mereka penuh harap. Tiba-tiba terdengar nada panggil.
  “Astaga!”  Sandy  berteriak  kaget  ketika  ponsel  yang  digenggamnya  berbunyi
nyaring.
  “Soon-Hee, ponselmu!” Young-Mi menjerit sambil tertawa histeris.
  Para  penonton  mulai  bersuara  dan  pembawa  acara  menyuruh  Sandy  berdiri  dan
menjawab ponselnya.
  “Nona yang memakai baju biru, coba dijawab dulu. Apakah benar yang menelepon
Jung Tae-Woo?”
  Sandy sebenarnya tidak perlu menjawab karena di layar ponselnya muncul tulisan
“JTW”,  nama  yang  disimpannya  untuk  nomor  ponsel  Jung  Tae-Woo.  Memang  benar
Jung  Tae-Woo  yang  meneleponnya,  tapi  Sandy  tetap  membuka  flap  ponsel  dan
menempelkannya ke telinga. Walaupun suasana saat itu riuh sekali karena orang-orang
bersorak dan bertepuk tangan, ia masih bisa mendengar suara Jung Tae-Woo di telepon
yang berkata, “Hei, majulah ke depan.”
  Young-Mi  mencengkeram  lengan  Sandy  dan  mengguncang-guncang  keras
tubuhnya.  Sandy  heran  dari  mana  asal  tenaga  temannya  itu.  Akhirnya  ia  berhasil
membebaskan diri dari temannya dan maju dengan dikawal dua penjaga. Jantungnya
berdebar  keras  karena  ini  kali  pertama  baginya  berdiri  di  depan  orang  banyak  yang
terus  bersorak  dan  menjerit.  Ia  bolak-balik  membungkukkan  badan  ke  arah  para
penggemar juga kepada pembaca acara di panggung.   Ketika  Sandy  berdiri  di  depan  Jung  Tae-Woo,  ia  menyadari  baik  Jung  Tae-Woo
ataupun pembawa acara tidak memegang topi. Ia melihat si pembawa acara memberi
isyarat  kepada  salah  seorang  staf  yang  berdiri  di  pojok,  tapi  anggota  staf  itu
menggeleng.
  Ada apa ini? Tidak ada topi? Sandy yakin mereka sudah membeli sepuluh buah dan
ia tadi menghitung ada sembilan topi yang sudah dihadiahkan. Pasti masih tersisa satu
topi. Jangan-jangan Jung Tae-Woo mau mempermainkannya.
  Si pembawa acara terlihat bingung tapi mencoba bersikap tenang. Namun Jung Tae-
Woo  tiba-tiba  berkata,  “Wah,  sepertinya  topi  yang  terakhir  hilang.  Saya  benar-benar
minta maaf. Bagaimana ya?”
  Para penonton terdiam dan Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan mata disipitkan.
Pandangan  curiga.  Kalau  Jung  Tae-Woo  memang  sedang  mempermainkannya,  ini
benar-benar tidak lucu. Ia sudah gugup sekali berdiri di bawah sinar lampu seperti ini
dan sekarang ia harus menerima permainan Jung Tae-Woo?
  Si pembawa acara ikut menimpali, “Ya, maaf sekali. Sepertinya memang topi yang
terakhir hilang. Kami sedang mencarinya sekarang.”
  Sandy  merasa  seperti  orang  tolol,  hanya  berdiri  diam  di  depan  semua  orang.  Ia
memutuskan sebaiknya ia kembali ke tempat duduknya. Ketika ia membalikkan tubuh,
Jung Tae-Woo menahannya.
  “Tunggu dulu,” katanya sambil tersenyum meminta maaf. “Karena sudah tidak ada
topi, bagaimana kalau kuberikan ini saja?”
  Jung Tae-Woo melepaskan syal di lehernya dan melilitkannya di leher Sandy. Para
penonton pun kembali berteriak dan menjerit. Sandy memandang syal bermotif kotak-
kotak  hitam-putih  yang  sekarang  melilit  lehernya.  Ia  menyentuh  syal  itu  dan
mendongak  menatap  Jung  Tae-Woo  dengan  tercengang.  Laki-laki  itu  sedang  tertawa
dan tawa di wajah itu membuat Sandy akhirnya ikut tersenyum.


“Waah... kau beruntung sekali, Soon-Hee! Kau memang tidak mendapat topi, tapi kau
mendapat syal yang dipakainya. Aduh, aduh, jantungku... Kalau aku jadi kau, aku pasti
tidak akan bisa tidur malam ini,” kata Young-Mi antusias dalam perjalanan pulang dari
acara tadi. Mereka berdua duduk di barisan belakang bus yang tidak terlalu ramai.
  “Ya,  aku  beruntung  sekali,”  kata  Sandy  menyetujui  sambil  tersenyum.  Ia  terus
memandangi syal yang melilit lehernya. Tadi ia sempat mengira Jung Tae-Woo sedang
mempermainkannya,  tpai  ternyata  tidak  begitu.  Tadinya,  kalau  dugaan  jelek  Sandy
terbukti benar, ia berniat meninju Tae-Woo saat itu juga.
56

  Tiba-tiba  Young-Mi  menegakkan  punggung  dan  mencengkeram  lengan  Sandy.
“Tunggu dulu, Soon-Hee. Kau punya nomor telepon Jung Tae-Woo!”
  Itu bukan pertanyaan dan Sandy hanya bisa mengerjapkan mata dengan bingung.
  Young-Mi  menepuk  lengan  Sandy  dan  berseru,  “Tadi  dia  kan  menghubungi
ponselmu dengan ponselnya, jadi artinya di ponselmu sekarang pasti masih ada nomor
ponselnya, kan?”
  “Tidak!”  bantah  Sandy  cepat-cepat.  Apa  yang  harus  dikatakannya?  “Tadi...  tadi
sewaktu aku kembali ke tempat duduk setelah menerima hadiah, Jung Tae-Woo sendiri
yang  bilang  ponsel  itu  milik  salah  satu  anggota  stafnya.  Lagi  pula,  coba  pikir,  mana
mungkin  Jung  Tae-Woo  bisa  sembarangan  membiarkan  nomor  ponselnya  diketahui
orang tak dikenal?”
  Young-Mi mengangguk-angguk. “Masuk akal juga.”
  Sandy  mengembuskan  napas  lega  dan  menggerutu  dalam  hati.  Sepanjang
kesepakatan  ini,  Jung  Tae-Woo  sudah  banyak  membuat  masalah  sendiri,  tapi  justru
Sandy yang harus memperbaikinya. Mungkin laki-laki itu perlu ditinju.
  “Hei,  coba  kulihat  CD-mu  yang  ditandatangani  tadi,”  pinta  Young-Mi  sambil
mengeluarkan CD miliknya sendiri.
  Sandy  mengeluarkan  CD-nya  dari  dalam  tas  dan  menyerahkannya  kepada
temannya itu.
  “Lihat, dia menulis „Untuk Kang Young-Mi... dari Jung Tae-Woo‟,” kata Young-Mi
sambil menunjukkannya kepada Sandy. Ia memekik senang dan mengelus-elus kotak
CD-nya.  Sandy  hanya  bisa  geleng-geleng  melihat  kelakuan  temannya.  Kemudian
Young-Mi beralih membaca tulisan di sampul depan CD milik Sandy. “Untuk Sandy...
dari Jung Tae-Woo.” Ia terdiam sesaat, lalu bertanya, “Sandy?”
  Sandy langsung menoleh. “Kenapa?”
  “Memangnya tadi kau memberitahunya nama Indonesia-mu, ya?” tanya Young-Mi.
  “Oh, itu...” Sandy agak gelagapan. “Ya, sepertinya begitu.”
  Young-Mi  mengerutkan  dahi  dan  menggeleng.  “Tidak,  tidak.  Sepertinya  kau
bahkan tidak menyebutkan namamu.”
  “Masa  sih?”  ujar  Sandy  kaget.  Ia  mulai  panik  dan  cepat-cepat  memutar  otak,
berusaha keras mengingat acara tanda tangan tadi.
  Young-Mi  meneruskan,  “Aku  berdiri  tepat  di  belakangmu  waktu  itu.  Kau  hanya
bilang kau suka lagunya.”
  Sandy  ingat,  tapi  ia  berusaha  membantah,  “Ah,  tidak.  Aku  bilang  „Apa  kabar?
Namaku Sandy. Tae-Woo  Oppa, aku suka lagumu‟.  Aku yakin kok. Kalau tidak, dari
mana dia tahu namaku?” 57

  Kenapa temannya yang satu ini pintar sekali sih? Untuk sesaat Sandy merasa takut
akan  ketelitian  Kang  Young-Mi.  Lama-kelamaan,  kalau  ia  dan  Jung  Tae-Woo  terus
melakukan kesalahan kecil seperti ini, ia akan kehabisan alasan.
  Young-Mi berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Benar juga ya? Waktu itu berisik
sekali,  jadi  mungkin  aku  tidak  mendengarnya.  Sudahlah,  tidak  penting.  Ngomong-
ngomong, lagu yang dinyanyikannya tadi benar-benar bagus ya?”


“Acara hari ini sukses sekali. Kuucapkan selamat untukmu,” kata Park Hyun-Shik. Ia
dan  Tae-Woo  sudah  kembali  ke  kantor  manajemen.  Dengan  lega  ia  menyandarkan
punggung ke kursi kerja dan menatap Tae-Woo dengan gembira.
  Tae-Woo menoleh ke arah manajernya dan tersenyum. “Memang. Aku senang kita
bisa melewatinya dengan baik sekali, tidak seperti yang dulu.”
  “Semuanya  baik-baik  saja,  kau  tidak  usah  cemas,”  kata  Park  Hyun-Shik.  Ia
mengembuskan  napas  dan  berkata,  “Aku  tahu  kau  sengaja  menelepon  Sandy  tadi.
Nomor yang tertera di kertas itu bukan nomor ponsel Sandy, kan?”
  Tae-Woo tertawa. “Memang. Tadi aku berniat mengerjainya, tapi tidak jadi.”
  Park  Hyun-Shik  ikut  tertawa  dan  melonggarkan  simpul  dasinya.  “Aku  sudah
merasa aneh sewaktu kau memintaku menyimpan topi terakhir itu.”
  Tae-Woo bangkit dari kursinya. “Hyong simpan di mana topi itu?”
  Park  Hyun-Shik  mengeluarkan  topi  yang  ditanyakan  dari  balik  jasnya  dan
melemparkannya kepada Tae-Woo.
  Tae-Woo menangkap  topi kain kuning  itu  dengan santai dan memandanginya. Ia
ingat  ia  dan  Sandy  sempat  berbeda  pendapat  tentang  topi  kuning  yang  satu  ini.
Menurut  Sandy  topi  itu  bagus,  sedangkan  menurutnya  warna  kuningnya  terlalu
mencolok. Tapi sekarang kalau dipikir-pikir, topi kuning ini memang tidak jelek.
  “Hyong aku pulang dulu,” katanya sambil melambaikan topinya.
  “Ya,  istirahat  yang  banyak.  Minggu  depan  jadwalmu  sangat  padat,”  Park  Hyun-
Shik mengingatkan.







 58


Enam




P ONSELNYA masih berdering. Sandy ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak.
Ia sudah melihat huruf-huruf muncul di layar ponselnya. Dari Mister Kim. Hari ini hari
Minggu  dan  seharusnya  Sandy  tidak  bekerja.  Kenapa  atasannya  menelepon?  Tapi
Sandy juga tahu kalau teleponnya tidak dijawab, Mister Kim akan terus meneleponnya
sampai laut mengering.
  Akhirnya ia menyerah dan meraih ponselnya.
  “Hha-lho...”  Salah  satu  alasannya  malas  menjawab  telepon  adalah  karena
tenggorokannya  sedang  sakit  dan  ia  tidak  bisa  berbicara  seperti  biasa.  Sekarang
suaranya nyaris seperti bisikan angin.
  Di seberang sana terdengar suara Mister Kim yang melengking. “Astaga, Miss Han.
Kenapa suaramu seperti hantu begitu? Aku tahu, aku tahu, hari ini Minggu. Tapi aku
harus tetap meneleponmu untuk meminta bantuan. Tolong kauantarkan pakaian untuk
Jung Tae-Woo, ya? Kami di sini sibuk sekali. Ya, sibuk sekali. Tidak ada yang sempat
membawakan  pakaiannya.  Tolong  ya?  Antarkan  ke  rumahnya.  Kau  tahu  alamat
rumahnya? Tentu saja tidak, bodoh sekali aku. Eeh... alamatnya di mana ya? Sebentar,
ya...  Mister  Cha...  MISTER  CHA!  Di  mana  kutaruh  alamat  Jung  Tae-Woo?  Tolong
carikan untukku. Miss Han, kembali ke pembicaraan kita tadi. Begini saja, akan kukirim
alamat  Jung  Tae-Woo  lewat  SMS  begitu  kutemukan  nanti.  Kau  bisa  mengambil
pakaiannya dari butik lalu langsung pergi ke rumahnya ya? Thank you very much. Miss
Han, kau baik sekali. Bye-bye!”
  Sandy  mendengar  telepon  ditutup  di  ujung  sana.  Ia  sama  sekali  tidak  punya
kesempatan bicara. Kalaupun punya kesempatan, ia tidak akan bisa bicara banyak. Ia 59

menarik napas perlahan-lahan dan mengembuskannya perlahan-lahan juga. Mungkin
atasannya ini dari dulu sampai sekarang tidak akan bisa berubah. Seenaknya sendiri.
  Diktator, pikir Sandy dalam hati sambil melotot kepada ponselnya. Sebaiknya kau
menambah gajiku atau aku akan mengundurkan diri. Lihat saja siapa yang mau bekerja
untukmu.
  Kata-kata  ini  sudah  sering  diucapkannya,  tapi  ia  belum  pernah  benar-benar
mengajukan  surat  pengunduran  diri.  Walaupun  Mister  Kim  orang  yang  aneh  dan
seenaknya,  Sandy  merasa  bisa  belajar  banyak  darinya.  Sejak  kecil  Sandy  suka  sekali
dunia fashion. Jadi, walaupun jalan tidak  selalu  lancar, ia senang bisa bekerja dengan
perancang busana terkenal yang tidak segan-segan mengajarinya banyak hal.
  Sandy  meneguk  teh  panasnya  lagi  dan  duduk  meringkuk  di  tempat  tidur.  Hari
memang sudah siang, tapi ia masih segan bangun dari sana. Pagi tadi begitu ia bangun,
tenggorokannya terasa sakit dan suaranya mulai serak. Mungkin ini efek segala jeritan
dan  teriakannya  kemarin  di  acara  jumpa  penggemar  Jung  Tae-Woo.  Kemarin  ia
memang menjerit sekuat tenaga bersama-sama ribuan penggemar lain. Entah apa yang
diteriakkannya, ia sendiri juga sudah lupa. Ia hanya terus menjerit untuk meramaikan
suasana. Akibatnya, hari ini berbisik saja susah!
  Sandy baru saja akan terlelap kembali ketika ia teringat perintah Mister Kim. Sambil
mendecakkan  lidah  dengan  kesal  dan  mengumpat-umpat  dalam  hati,  ia  bangun  dan
berganti pakaian.


Sekitar satu setengah jam kemudian, Sandy sudah berdiri di depan pintu rumah Jung
Tae-Woo yang berada di kawasan perumahan mewah. Ia hanya bisa terkagum-kagum
dalam  hati.  Malam  itu,  ketika  pertama  kalinya  datang  ke  sana,  ia  tidak  begitu
memerhatikan sekelilingnya. Saat itu ia kan sedang frustasi. Sekarang Sandy baru bisa
melihat  jelas  bentuk  rumah  yang  tersembunyi  di  balik  pagar  besi  tinggi  itu.  Ia
membiarkan matanya berpesta sepuasnya.
  Rumah berlantai dua itu lumayan besar, dengan tembok putih, beranda yang luas,
dan banyak jendela kaca. Sandy menyukai beranda di lantai dua. Ia mengangkat tangan
untuk  menaungi  mata  dari  sinar  matahari  dan  mendongak  memerhatikan  rumah  itu
dengan perasaan senang.
  Lalu ia mengulurkan tangan dan memencet bel pintu.
  Selanjutnya terdengar suara Jung Tae-Woo dari interkom.
  Sandy  ragu.  Ia  berdeham,  walaupun  tindakan  itu  tidak  membantu  sama  sekali,
memencet tombol interkom, dan menyebutkan namanya dengan suara serak.
  “Apa? Siapa? Maaf, suaranya kurang jelas,” suara Jung Tae-Woo terdengar lagi. 60

  Sandy  mengulangi  ucapannya  sambil  mengerutkan  kening.  Seharusnya  Jung  Tae-
Woo bisa melihat  siapa yang  sedang  berdiri di depan pintu. Rumah besar seperti ini
pasti  dilengkapi  kamera  pengawas.  Pasti.  Kenapa  laki-laki  itu  harus  membuat
tenggorokannya bertambah sakit?
  “Aku  masih  tidak  mengerti  apa  yang  kauucapkan.  Tapi,  baiklah.  Masuk  saja,
Sandy.”
  Sandy memalingkan wajahnya dan mendengus. Benar, kan? Jung  Tae-Woo sudah
tahu siapa yang berdiri di depan pintu.
  Sambil menjinjing gantungan baju beberapa pakaian yang dibungkus plastik, Sandy
melewati  pagar  besi  yang  terbuka  secara  otomatis,  lalu  mendorongnya  sampai
menutup dengan kakinya. Ia menaiki anak-anak tangga menuju rumah besar itu.
  Jung  Tae-Woo  sudah  menunggu  di  depan  pintu.  Laki-laki  itu  mengenakan  kaus
longgar  kelabu  dan  celana  panjang  hitam.  Rambutnya  agak  berantakan  karena  tidak
ditata. Sandy menyadari Tae-Woo menatapnya dari kepala sampai ke kaki, lalu tatapan
laki-laki itu kembali ke wajahnya. “Ada apa denganmu? Mana yang sakit?” tanya Jung
Tae-Woo tanpa basa-basi.
  Sandy menunjuk lehernya.
  “Sudah minum obat?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
  Sandy tersenyum dan mengangguk.
  Jung Tae-Woo memandangnya, lalu bertanya, “Kenapa kemari?”
  Sandy  mengacungkan  pakaian-pakaian  yang  dibawanya.  “Misther  Kim...  coba
pakhaian...”
  Jung  Tae-Woo  mengibaskan  tangan.  “Astaga...  Aku  tidak  tahan  mendengar
suaramu yang mengerikan itu. Ikut aku, Aku punya obat untukmu. Ayo, masuk.”
  Sandy berusaha berbicara, tapi lehernya terlalu menyiksa. Akhrinya ia menurut saja.
Bagaimanapun ia tidak bisa melawan kata-kata Jung Tae-Woo dalam keadaan seperti
ini. Tunggu saja sampai suaranya kembali seperti semula.
  Di  dalam  rumah,  ia  melepaskan  sepatu  dan  mengenakan  sandal  rumah  yang
ditunjukkan Jung Tae-Woo.
  Bagian  dalam  rumah  itu  ditata  rapi  sekali.  semua  perabot  dan  hiasan  di  dalam
rumah  itu  terkesan  mewah.  Setelah  meletakkan  pakaian  di  sofa  terdekat,  Sandy
mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Kebanyakan foto sepasang pria dan
wanita  setengah  baya.  Sandy  menduga  mereka  orangtua  Jung  Tae-Woo.  Ada  juga
beberapa foto Jung Tae-Woo sewaktu kecil, remaja, dan saat ini.
  Begitu asyiknya Sandy mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari
Jung Tae-Woo sudah berdiri di sampingnya. 61

  “Kenapa  tiba-tiba  sakit  tenggorokan?  Kemarin  bukannya  biasa-biasa  saja?”
tanyanya.
  “Kemarinh...  jhumpa  pengghemar...  menjerith,”  Sandy  berusaha  menjelaskan
terpatah-patah.
  Jung  Tae-Woo  tertawa.  “Ah,  jadi  karena  kemarin  kau  ikut  menjerit-jerit?  Anak
bodoh. Minum ini,” katanya sambil mengulurkan gelas berisi cairan berwarna cokelat
pekat.
  Sandy menerimanya dengan bimbang.
  “Tidak  usah  kuatir.  Itu  bukan  obat  bius.  Minum  saja  dan  sebentar  lagi
tenggorokanmu akan membaik.”
  Sandy  menatap  Jung  Tae-Woo  yang  berjalan  kembali  ke  dapur.  Setelah  dengan
ragu-ragu meminum cairan itu, yang ternyata lumayan enak, ia kembali melihat-lihat
sekeliling ruangan. Ada grand piano putih di ruang tengah yang tidak diingatnya ada
di  sana  ketika  pertama  kali  datang  ke  rumah  itu.  Sandy  mengelus  permukaan  piano
tersebut dan membuka tutupnya. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik, tapi ia
suka mendengarkan musik. Ia menekan salah satu tuts piano dan tersenyum sendiri.
  “Hei, jangan pegang-pegang sembarangan.”
  Sandy mengangkat kepala dan melihat Jung Tae-Woo berjalan menghampirinya. Ia
melambai-lambaikan tangan menyuruh Jung Tae-Woo datang sambil menunjuk piano.
  “Apa?” tanya Jung Tae-Woo bingung setelah berdiri di dekat piano.
  “Mainhkhan,” Sandy berbisik serak sambil menggerak-gerakkan jari tangan seperti
sedang bermain piano.
  “Kau mau aku main piano?”
  Sandy mengangguk dan menarik Jung Tae-Woo supaya duduk di kursi piano.
  Jung Tae-Woo duduk dengan enggan dan berkata, “Kau mau bayar berapa?”
  “Appha?” tanya Sandy sambil menggerakkan dagu.
  “Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini?” Jung Tae-Woo mengulangi.
  Sandy mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk piano dengan tegas.
  “Ya, ya. Aku mengerti,” kata Jung Tae-Woo.
  Suara  dentingan  piano  yang  lembut  mulai  terdengar.  Sandy  berdiri  di  samping
piano,  menopangkan  dagu  di  atasnya  sambil  melihat  jemari  tangan  Jung  Tae-Woo
menari-nari  di  atas  tuts  piano.  Ketika  alunan  nada  yang  dimainkan  laki-laki  itu
akhirnya berhenti, Sandy bertepuk tangan.
  “Bagus  sekali!”  katanya,  lalu  memegang  leher.  “Eh,  tenggorokanku  sudah  tidak
terlalu sakit lagi.”
  Jung Tae-Woo tersenyum. “Sudah kubilang obatnya manjur.”
  “Mainkan satu lagu lagi,” pinta Sandy. 62

  Tiba-tiba  terdengar  nada  dering  ponsel.  Sandy  merogoh  saku  celana  dan
mengeluarkan  ponselnya.  Raut  wajahnya  berubah  ketika  melihat  layarnya.  Ia  segera
membuka flap ponsel dan berjalan menjauh dari Jung Tae-Woo agar laki-laki itu tidak
mendengar pembicaraannya.
  “Halo?  Ada  apa,  Jeong-Su  ssi?”  Sandy  berbicara  dengan  nada  rendah.  “Apa?
Sekarang? Aku... tidak bisa. Aku sedang... eh...”
  “Telepon dari Hyun-Shik Hyong, ya?” seru Jung Tae-Woo keras.
  Sandy terlompat kaget dan buru-buru menutup ponsel dengan tangan. Tapi tidak
ada gunanya, Lee Jeong-Su sudah mendengar kata-kata itu dengan jelas.
  “Soon-Hee,  kau  sedang  bersama  seseorang?”  tanya  Lee  Jeong-Su  dengan  nada
curiga.
  Sandy  membelalak  kepada  Jung  Tae-Woo  yang  memasang  tampang  polos  tak
berdosa, lalu berkata pelan, “Ya. Aku harus pergi. Sudah dulu ya?”
  Sandy menutup ponsel dan berkacak pinggang. Jung Tae-Woo sudah gila ya? Kalau
memang Paman Park Hyun-Shik yang menelepon, Sandy kan tidak mungkin berbicara
dengan suara pelan seperti tadi. Orang aneh!
  “Jung  Tae-Woo,  kau  ini  kenapa?  Kau  mau  orang-orang  tahu  tentang  kita?”  tanya
Sandy sambil menatap Tae-Woo yang bangkit dari piano.
  Jung  Tae-Woo  kelihatannya  tidak  peduli.  Ia  hanya  melewati  Sandy  dan  berkata,
“Aku ke kamarku sebentar.”
  Sandy memandangi  sosok Jung  Tae-Woo yang  menaiki tangga dengan cepat,  lalu
menghilang di ujung tangga. Benar-benar orang aneh! Sandy menggeleng dan kembali
melihat-lihat rumah Jung Tae-Woo. Jarang ada orang yang bisa masuk ke rumah artis.
Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
  Ia  sedang  mengamati  tongkat  pemukul  bisbol  dengan  perasaan  heran  ketika
mendengar ponselnya berbunyi lagi.
  Siapa lagi? Jangan-jangan Lee Jeong-Su, katanya pada diri sendiri sambil melihat ke
kanan-kiri, mencari asal bunyi. Tadi ponselnya ia taruh di mana ya? Ah, itu dia, di atas
piano.
  Ia berlari ke arah piano dan langsung membuka flap ponsel. “Halo?”
  “Halo? Siapa ini?” tanya suara wanita di ujung sana.
  Sandy  mengerutkan  dahi.  Ia  tidak  mengenali  suara  wanita  itu.  Maka  ia  bertanya,
“Ini Han Soon-Hee. Anda ingin mencari siapa?”
  Suara wanita itu tidak ragu-ragu ketika menjawab, “Bukankah ini ponsel Jung Tae-
Woo?” 63

  Sandy  terkejut.  Astaga!  Lagi-lagi  ia  mengambil  ponsel  yang  salah.  Ia  memutar
kepala  ke  sekeliling  ruangan  dan  melihat  ponselnya  tergeletak  di  meja  makan.
Bagaimana ini?
  “Oh...  Benar,  ini  memang  ponsel  Jung  Tae-Woo,”  kata  Sandy  agak  gugup.  “Akan
saya panggilkan dia.”
  Wanita di ujung sana tiba-tiba menahannya. “Tunggu sebentar. Anda ini nona yang
ada di foto bersama Tae-Woo itu, ya?”
  Sandy menahan napas dan berpaling ke arah tangga, berharap Jung Tae-Woo segera
muncul.
  “Anu...  saya...”  Sandy  sungguh  tidak  tahu  apa  yang  harus  ia  katakan.  Ia  tidak
pernah  diberitahu  bagaimana  cara  menghadapi  orang-orang  yang  menanyakan
hubungannya dengan Jung Tae-Woo.
  “Tidak apa-apa,” suara wanita itu berubah ramah. “Aku ibu Jung Tae-Woo.”
  Astaga! Ibunya? Pengetahuan ini malah membuat Sandy panik.
  “Ah, apa kabar, Bibi?” kata Sandy berusaha terdengar tenang meski sebenarnya ia
bergerak-gerak gelisah. Kemudian Sandy menutup ponsel dengan tangan dan berseru
memanggil Tae-Woo dengan suaranya yang masih sedikit serak. “Jung Tae-Woo ssi!”
  Ia  kembali  menempelkan  ponsel  ke  telinga  dan  berkata,  “Sebentar  lagi  Jung  Tae-
Woo ssi akan turun.”
  Ibu  Jung  Tae-Woo  tertawa  pelan.  “Senang  sekali  bisa  mendengar  suaramu
walaupun  Tae-Woo  belum  memperkenalkan  kita.  Dasar  anak  itu.  Tadi  kau  bilang
namamu Han Soon-Hee, bukan? Kedengarannya kau sedang flu. Kau tidak apa-apa?”
  “Oh, saya tidak apa-apa.” Tepat pada saat itu ia melihat Jung Tae-Woo menuruni
tangga, ia cepat-cepat berlari ke arah laki-laki itu.
  “Jung  Tae-Woo  ssi  sudah di  sini. Silakan Anda bicara dengannya,”  kata Sandy di
telepon, lalu menyodorkan ponsel ke Tae-Woo.
  Jung Tae-Woo menerima ponsel itu dengan bingung. “Siapa?”
  “Ibumu,” bisik Sandy panik.
  Tae-Woo mengangkat alis karena terkejut dan menjawab telepon. “Halo, Ibu?” Lalu
tiba-tiba  ia  menjauhkan  ponsel  dari  telinganya.  Bahkan  Sandy  bisa  mendengar  suara
ibu Jung Tae-Woo yang berteriak keras.
  Akhirnya  Jung  Tae-Woo  menempelkan  ponsel  kembali  ke  telinga  dan  berkata,
“Bukannya  aku  tidak  mau  menceritakannya  pada  Ayah  dan  Ibu,  hanya  saja
menurutku… Aku tahu… Apa? Aku di rumah. Ya, baiklah. Akan kujelaskan kepada
Ayah nanti. Apa? … Dia?”
  Sandy agak bingung ketika laki-laki itu menatapnya.
  “Sebentar,” kata Jung Tae-Woo, lalu mengulurkan ponsel ke Sandy. 64

  Sandy menatap Jung Tae-Woo dan ponsel itu bergantian.
  “Ibuku  mau  bicara  denganmu,”  kata  Jung  Tae-Woo  sambil  meletakkan  ponsel  ke
tangan Sandy. “Tidak apa-apa.”
  Sandy  menggigit  bibir  dan  menatap  Jung  Tae-Woo.  Kemudian  ia  menempelkan
ponsel  itu  ke  telinga  dan  menyapa  ibu  Jung  Tae-Woo.  Ia  mendengarkan  perkataan
wanita  yang  lebih  tua  itu  sebentar  sambil  mengangguk-angguk  dan  sesekali  berkata
“baik” dan “saya mengerti”. Akhirnya ia mengucapkan “sampai jumpa” dan menutup
ponsel.
  “Ibuku bilang apa?” tanya Jung Tae-Woo ketika Sandy mengembalikan ponselnya.
  Sandy balas bertanya, “Apa yang kaukatakan pada ibumu tentang aku?”
  “Aku  bahkan  belum  sempat  mengatakan  apa-apa,”  kata  Jung  Tae-Woo.  “Ayahku
melihat  foto-foto  kita  di  internet  dan  ibuku  menelepon  untuk  menanyakan
kebenarannya.”
  Sandy hanya mengangguk-angguk. “Oh, foto-foto kita ada di internet juga?”
  “Lalu ibuku bilang apa padamu?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
  Sandy  tersenyum.  “Katanya  aku  harus  mengawasi  makanmu  karena  kau  sering
lupa  makan  kalau  sudah  sibuk  bekerja.  Katanya  aku  harus  banyak  bersabar  kalau
menghadapimu,  apalagi  kalau  kau  sedang  uring-uringan.  Katanya  sebenarnya  kau
anak yang baik dan tidak akan membuatku kecewa. Ibumu juga bilang ingin bertemu
denganku dan memintamu membawaku ke Amerika untuk menemuinya.”
  Jung  Tae-Woo  mengerang.  “Cerewet  sekali.  Kenapa  ibuku  begitu  baik  padamu?
Padaku tadi dia malah berteriak-teriak.”
  Sandy mengangkat bahu. “Mungkin ibumu lebih suka anak perempuan. Hei, kalau
tidak  salah,  ibumu  penulis  buku,  ya?  Aku  pernah  membaca  salah  satu  bukunya  dan
aku suka sekali. Ibumu benar-benar berpikir aku pacarmu, ya? Wah, hebat.”
  Jung  Tae-Woo  tidak  mengacuhkan  kata-kata  Sandy  dan  bertanya,  “Kenapa  kau
menjawab teleponku?”
  Sandy  berdeham  dan  menjawab,  “Kupikir  ponselku  yang  berbunyi.  Tadi  kan
memang ada yang meneleponku. Sewaktu ponselmu berbunyi, kukira dia menelepon
lagi. Sudah kubilang kau harus mengganti nada deringmu.”
  “Siapa yang menelepon?”
  “Teman,”  sahut  Sandy  sambil  memalingkan  wajah.  “Oh,  coba  lihat.  Sudah
waktunya makan siang. Pantas saja aku mulai lapar. Kau juga belum makan, kan?”
  Jung  Tae-Woo  berkacak  pinggang  dan  menunduk  menatap  lantai.  Kemudian  ia
mengangkat kepala dan berkata, “Kalau begitu, kita pergi makan di luar saja.”
  “Hei,  kau  mau  kita  berdua  dilihat  orang?  Kau  mau  membuat  hidupku  susah?”
tanya Sandy. 65

  “Lalu bagaimana?”
  “Kita  pesan  pizza  saja,”  usul  Sandy  cepat.  “Sudah  lama  aku  tidak  makan  pizza.
Oke?”
  “Sakit  tenggorokan  malah  mau  makan  pizza?”  tanya  Jung  Tae-Woo.  “Kau  makan
bubur saja.”
  “Tenggorokanku sudah sembuh,” protes Sandy.


“Kapan kau akan membawaku menemui ibumu?”
  Tae-Woo mengangkat kepala dan menatap gadis yang sedang menggigit potongan
pizza  di  hadapannya  itu  dengan  kaget.  Lalu  Sandy  tertawa  dan  berkata,  “Bercanda.
Tidak usah bingung begitu.”
  Tae-Woo kembali memakan pizza-nya tanpa berkata apa-apa.
  “Bulan  lalu  sewaktu  kau  ke  Amerika,  apakah  kau  pergi  untuk  mengunjungi
orangtuamu?” tanya Sandy sambil lalu.
  “Bagaimana  kau  bisa  tahu  aku  pergi  ke  Amerika  bulan  lalu?”  Tae-Woo  balik
bertanya.
  Sandy mengedikkan bahu. “Semua orang juga tahu,” katanya. “Di masa sekarang
ini,  tidak  ada  yang  bisa  disembunyikan  selebriti.  Orang-orang  punya  banyak  cara
untuk mencari tahu. Dari hal-hal yang mendasar, misalnya soal ibumu yang penulis,
ayahmu komponis, dan soal mereka tinggal di Amerika Serikat, sampai ukuran bajumu
dan jam berapa kau tidur di malam hari.”
  “Benarkah?” Tae-Woo tersenyum dan menambahkan, “Jadi menurutmu tidak ada
yang tidak diketahui orang-orang tentang aku?”
  Sandy terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu, “Eh, ada,” kata Sandy tegas.
  “Apa?”
  Sandy  tersenyum  bangga  dan  menjawab,  “Orang-orang  tidak  tahu  kau
mengenalku.”
  Ah, dia benar. Mereka berdua punya rahasia. Entah kenapa hal ini membuat Tae-
Woo senang.
  “Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Tae-Woo tiba-tiba.
  Sandy menatapnya, menunggu kata-katanya.
  “Aku  ingin  tahu  siapa  orang  yang  meneleponmu  tadi,”  kata  Tae-Woo.  Ia  melihat
raut wajah Sandy berubah maka ia cepat-cepat menambahkan, “Jangan katakan lagi dia
itu teman dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan.”
  Sandy  membuka  mulut  dan  menutupnya  kembali.  Tae-Woo  menyadari  gadis  itu
bimbang. 66

  “Dia mantan pacarmu yang pernah kauceritakan?” tanya Tae-Woo hati-hati.
  Sandy menarik napas panjang dan mengembuskannya. Lalu ia mengangguk.
  Tae-Woo  tiba-tiba  merasa  tidak  bersemangat.  Ia  bertanya  lagi,  “Untuk  apa  dia
meneleponmu lagi setelah apa yang dilakukannya padamu?”
  Sandy mengangkat bahu. “Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Dia hanya mengajak
ngobrol, makan, dan hal-hal kecil seperti itu.”
  Tae-Woo tidak menyadari suaranya bertambah keras. “Lalu kenapa kau masih mau
menemuinya?”
  Sandy sampai menatapnya heran. “Kurasa aku… aku… entahlah.”
  Tae-Woo bisa melihat Sandy agak bingung menjawab pertanyaannya.
  “Lagi  pula…  memangnya  setelah  berpisah  harus  bermusuhan?”  kata  Sandy
akhirnya.
  “Sampai sekarang… kau masih menyukainya?” Kata-kata itu meluncur begitu saja
dari mulut Tae-Woo tanpa bisa dicegah. Lalu tanpa disadarinya, tubuhnya menegang
menunggu jawaban gadis itu.
  Sandy terlihat ragu-ragu, lalu akhirnya menjawab, “Mungkin.”
  “Apa?”
  Sandy  menatapnya  dengan  agak  bingung.  “Mungkin,”  katanya  sekali  lagi.
“Mungkin aku memang masih punya perasaan terhadapnya. Entahlah.”
  Mendadak  Tae-Woo  merasa  susah  bernapas.  Matanya  tertuju  ke  meja  tapi
tatapannya kosong. Pikirannya juga kosong.
  Lalu  ia  mendengar  suara  Sandy  lagi.  “Ini  masalah  pribadiku  dan  tidak  ada
hubungannya  denganmu  dan  Paman.  Tidak  perlu  cemas.  Aku  berjanji  tidak  akan
mengatakan  apa  pun  mengenai  kalian  berdua  pada  orang  itu.  Aku  orang  yang  bisa
membedakan masalah pribadi dengan pekerjaan.”
  Tae-Woo tertawa masam. “Begitu?”
  “Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Sandy tiba-tiba.
  Tae-Woo menatap wajah gadis itu berubah serius, “Apa?”
  Sandy  tidak  menatap  Tae-Woo,  tapi  memandang  pizza  di  tangannya.  “Kejadian
empat tahun lalu… Bisa kauceritakan?”
  Tae-Woo tertegun. Ia tidak menyangka Sandy akan menanyakan hal itu.
  Sandy  meliriknya  sekilas  dan  menambahkan,  “Aku  hanya  ingin  mendengar
ceritanya dari sisimu… kalau kau tidak keberatan.”
  Entah kenapa Tae-Woo merasa agak gelisah. Sampai sekarang ia masih belum bisa
melupakan kejadian tersebut. Kecelakaan yang seakan-akan baru terjadi kemarin.
  “Apa yang ingin kauketahui?”
  “Semuanya.” 67

  Tae-Woo  menarik  napas  dalam-dalam.  Pandangannya  menerawang.  Kata-katanya
meluncur  pelan  dan  datar.  “Saat  itu  acara  sudah  berakhir.  Hujan  turun.  Aku  sudah
berada  di  dalam  mobil  yang  menunggu  di  pintu  utama.  Para  penggemar  masih
berkerumun di sekeliling mobilku. Mereka berteriak-teriak, berdesak-desakan. Sopirku
nyaris  tidak  bisa  menjalankan  mobil.  Para  petugas  keamanan  juga  kewalahan
membuka  jalan  agar  mobil  bisa  lewat.  Akhirnya  mereka  berhasil  menahan  para
penggemar.  Mobil  pun  mulai  bergerak.  Pelan,  tidak  cepat,  karena  aku  masih
melambaikan tangan kepada para penggemar. Lalu hal itu terjadi begitu saja.”
  Tae-Woo mengernyitkan dahi mengingat saat-saat itu.
  “Mobil  direm  mendadak.  Ketika  aku  bertanya  pada  sopirku  apa  yang  terjadi,  dia
berkata salah seorang penggemarku tertabrak. Seperti mimpi buruk. Semua orang jadi
panik  dan  gadis  itu  cepat-cepat  dilarikan  ke  rumah  sakit.  Kami  tidak  diizinkan
melihatnya karena dokter harus melakukan pemeriksaan di ruang gawat darurat.
  “Aku  sendiri  tidak  tahu  pasti  bagaimana  kejadian  sesungguhnya,  tapi  menurut
beberapa saksi mata, para penggemar saling mendesak dan gadis ini terdorong jatuh ke
depan tepat ketika mobilku lewat. Walaupun mobil tidak melaju kencang, kepala gadis
itu membentur aspal sehingga…”
  Tae-Woo mendengar napas Sandy tersentak. Namun ketika mengangkat wajah, ia
melihat gadis itu mengangguk kecil, meminta Tae-Woo melanjutkan cerita. Apa yang
ada dalam benak gadis itu? Tae-Woo ingin tahu.
  Masih dengan agak enggan, Tae-Woo melanjutkan, “Kudengar gadis itu bukan dari
Seoul. Ia datang dari jauh untuk… Aku bahkan tidak sempat menjenguknya di rumah
sakit  karena  ia  langsung  dibawa  pulang  entah  ke  mana.  Kami  hanya  bisa
menyampaikan ucapan turut berdukacita melalui media.”
  Sandy hanya diam.
  “Bagaimana menurutmu?”
  Sandy tersentak dari lamunan. “Eh, apa?”
  “Bagaimana menurutmu?” ulang Tae-Woo.
  “Oh… entahlah… tapi kurasa… kau tidak salah.”
  Tae-Woo  menduga  Sandy  gugup  karena  tidak  tahu  apa  yang  harus  dikatakan
setelah  mendengar  cerita  itu.  Tapi  Tae-Woo  merasa  sikap  itu  lebih  baik  daripada
berpura-pura memahami perasaannya.




 68


Tujuh




SUDAH hampir dua minggu berlalu sejak Sandy terakhir kali bertemu dan berbicara
dengan  Jung  Tae-Woo  di  rumah  pria  itu.  Entah  kenapa  Sandy  merasa  serbasalah.  Ia
ingin  menghubungi  Jung  Tae-Woo,  tapi  tidak  tahu  apa  yang  akan  dikatakannya.  Ia
ingin  bertanya  pada  Paman  Park  Hyun-Shik,  tapi  tidak  tahu  apa  yangakan
ditanyakannya.
  Sandy berjalan tanpa tujuan di sekitar kampus. Ia berjalan dari gedung ke gedung,
dari  kelasnya  ke  perpustakaan,  dari  perpustakaan  ke  aula.  Akhirnya  ia  berhenti  di
halaman kampus, duduk di bangku panjang di bawah pohon. Ia mengeluarkan ponsel
dan menatap benda itu sambil menarik napas.
  Kenapa  dia  tidak  menelepon?  Tapi  memangnya  kenapa  dia  harus  menelepon?
Sandy menggeleng-geleng dan menarik napas lagi. Kenapa dia tidak menelepon?
  Sandy  tersentak  karena  mendengar  suara  Kang  Young-Mi  yang  ternyata  sudah
berdiri di belakangnya. “Apa?” tanyanya pada Young-Mi.
  Young-Mi duduk di sampingnya.  Wajahnya terlihat ceria seperti biasa. “Tadi kau
bertanya kenapa dia tidak menelepon. Siapa yang yang kaumaksud?”
  Ternyata tanpa sadar ia telah menyuarakan pikirannya. Ini berarti bahaya. Ia kenapa
sih?
  “Ah, tidak. Bukan siapa-siapa,” sahut Sandy sambil memaksakan tawa.
  “Aku harap bukan Lee Jeong-Su,” kata Young-Mi sinis.
  Sandy langsung mengibaskan tangan. “Bukan! Bukan dia.”
  “Baguslah kalau bukan,” kata Young-Mi. Ia mengangkat tangan dan menarik napas
dalam-dalam. “Haaah… cuaca hari ini indah sekali!”
  Sandy  memandang  langit,  lalu  melirik  temannya  dengan  hati-hati.  “Young-Mi,”
panggilnya. 69

  Young-Mi menoleh. “Hm?”
  “Album baru Jung Tae-Woo sudah diluncurkan, kan?”
  Young-Mi  mengangguk.  “Benar,  beberapa  hari  yang  lalu.  Memangnya  kenapa?
Bukankah  kau  sudah  punya?  Kita  kan  sudah  mendapatkannya  sewaktu  acara  jumpa
penggemar itu.”
  Sandy menggeleng. “Ah, tidak ada apa-apa.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,
“Berarti Jung Tae-Woo akhir-akhir ini pasti sibuk sekali, ya?”
  Temannya  mengangguk  sekali  lagi  dan  berkata,  “Tentu  saja.  Kudengar  beberapa
waktu yang lalu dia sibuk syuting video klip. Belum lagi kenyataan dia harus  tampil
dalam  banyak  acara  untuk  mempromosikan  albumnya.”  Young-Mi  bertepuk  tangan
gembira. “Kita akan sering melihatnya di televisi.”
  “Begitu?”
  Ternyata memang sedang sangat sibuk…
  “Majalah-majalah  juga  banyak  memuat  artikel  tentang  dia,”  Young-Mi
menambahkan  penuh  semangat.  “Mereka  membahas  albumnya,  lagu-lagunya,  dan
mereka juga mulai mengungkit-ungkit soal kekasihnya.”
  Sandy menatap temannya. “Apa yang mereka katakan?”
  Young-Mi  mengerutkan  dahi.  “Banyak,  mereka  bertanya-tanya  oal  keberadaan
wanita  itu,  identitasnya.  Aku  sendiri  juga  penasaran.  Intinya,  mereka  tiba-tiba
meragukan apakah wanita itu benar-benar kekasih Jung Tae-Woo.”
  “Kenapa mereka meragukannya?”
  “Karena  wanita  itu  tidak  terlihat  di  media  lagi  sejak  fotonya  muncul.  Bahkan
sekadar  kabarnya  tidak  terdengar,”  Young-Mi  menjelaskan.  “Mereka  mulai  berpikir
mungkin  hubungan  Jung  Tae-Woo  dan  wanita  itu  sudah  berakhir.  Terus  terang  saja,
aku  juga  berharap  itu  benar.  Oh  ya,  mereka  juga  mengungkit  kejadian  empat  tahun
lalu.”
  “Masalah yang…?”
  “Benar. Yang kuceritakan waktu itu. Soal empat tahun lalu ketika ada penggemar
Jung  Tae-Woo  yang  meninggal  pada  saat  acara  jumpa  penggemarnya.  Kau  ingat?
Untung saja acara tahun ini lancar-lancar saja dan tidak ada kejadian buruk.”
  Sandy  menengadah  memandang  langit  biru  dan  sibuk  dengan  pikirannya  sendiri
sementara  temannya  terus  bercerita.  Tiba-tiba  ponselnya  berbunyi.  Sandy  buru-buru
menjawab dan raut wajahnya berubah. “Oh, Jeong-Su ssi.”


Park  Hyun-Shik  duduk  merenung  di  kantornya.  Di  meja  terdapat  beberapa  majalah
yang  terbuka  pada  halaman  yang  memuat  artikel  Jung  Tae-Woo.  Ia  sudah  menduga 70

akan  ada  kejadian  seperti  ini.  Begitu  album  baru  Tae-Woo  keluar,  orang-orang  akan
sibuk membicarakan artis asuhannya itu. Bukan hanya lagu-lagunya, tapi segala gosip
yang berhubungan dengan Jung Tae-Woo, termasuk gosip tentang pacar misteriusnya.
Mereka  bahkan  kembali  menyinggung-nyinggung  kecelakaan  empat  tahun  lalu,  tapi
untungnya hanya sekilas, jadi seharusnya tidak apa-apa.
  Park  Hyun-Ship  mengusap-usap  dagu  dan  berpikir  mungkin  sudah  tiba  saatnya
mereka  membutuhkan  bantuan  Sandy  lagi.  Kali  ini,  mau  tidak  mau  gadis  itu  harus
bersedia  menampakkan  diri.  Ia  mengangkat  gagang  telepon  yang  ada  di  meja  dan
menekan beberapa tombol.
  “Halo,  Sandy.  Apa  kabar?  Ini  Park  Hyun-Shik…  Kau  punya  waktu  sekarang?  …
Bagus. Bisa datang ke kantorku? … Baik, sampai jumpa.”


“Seperti yang sudah kukatakan, sepertinya kami tidak cocok.”
  Sandy  memandang  laki-laki  tinggi  besar  yang  duduk  di  hadapannya  itu  dengan
perasaan  lelah.  Lee  Jeong-Su  tampak  menyedihkan.  Ia  baru  mengakui  kepada  Sandy
bahwa ia dan kekasihnya sedang bermasalah.
  “Kami  tidak  cocok,”  Lee  Jeong-Su  mengulangi  kata-katanya  dan  menatap  Sandy,
menunggu reaksinya.
  Sandy tertawa pahit. “Dan kau baru tahu setelah hampir setahun bersamanya?”
  “Kau masih marah?” tanya Lee Jeong-Su dengan nada bersalah.
  Sandy menarik napas. “Tidak juga,” katanya. “Marah juga tidak ada gunanya.”
  “Tidak, kau berhak marah padaku,” Lee Jeong-Su bergumam pelan. “Aku memang
salah. Sekarang aku sadar.”
  Sandy mengerutkan keningnya. “Lalu?”
  “Sepertinya hubungan kami tidak bisa diteruskan lagi,” kata Lee Jeong-Su tegas.
  Alis  Sandy  terangkat.  Sesaat  ia  bingung,  lalu  ia  mendengar  ponselnya  berbunyi.
Merasa lega karena tidak harus menanggapi apa yang baru saja dikatakan Lee Jeong-
Su, Sandy cepat-cepat membuka flap ponselnya.
  “Halo?”
  Ia kaget ketika mendengar suara Park Hyun-Shik di seberang sana. “Oh, apa kabar,
Paman?  …  Sekarang?  Ya,  aku  sedang  tidak  sibuk…  Aku  akan  ke  sana  sekarang…
Sampai jumpa.”
  Sandy  menutup  ponsel  dan  memandang  Lee  Jeong-Su  yang  menatapnya  dengan
pandangan menyelidik.
  “Kau  mau  pergi  sekarang?”  tanyanya  ketika  melihat  Sandy  buru-buru
menghabiskan minumannya. 71

  “Maaf,  Jeong-Su  ssi.  Ada  urusan  mendadak.  Aku  harus  pergi.  Lain  kali  saja  baru
dilanjutkan,” kata Sandy cepat-cepat, lalu bangkit dan keluar dari kafe itu.


“Kita akan pergi menemui Tae-Woo,” kata Pakr Hyun-Shik kepada gadis yang duduk
di hadapannya.
  Sandy mengangguk. “Kami harus difoto lagi?”
  “Benar,”  Park  Hyun-Shik  mengiyakan.  “Karena  itu  kita  harus  mengubah
penampilanmu. Kau tidak ingin sampai dikenali, kan?” Lalu Park Hyun-Shik bangkit
dari kursi dan meraih jas.
  “Jadi kapan kita mulai bekerja?” tanya Sandy.
  Pakr Hyun-Shik memandang Sandy dan berkata, “Sekarang juga.”
  Sandy agak terkejut. “Oh, sekarang?” Ia belum merasa siap.
  “Ya, ada masalah?” tanya pria itu sambil mengenakan jas dan memperbaiki posisi
dasi.
  Sandy  menggeleng.  “Tidak.”  Sepertinya  mau  tak  mau  ia  harus  mempersiapkan
dirinya saat ini juga.
  “Ayo, kita pergi,” kata Park Hyun-Shik, mulai berjalan ke pintu. “Saat ini Tae-Woo
sedang  diwawancara.  Kita  akan  pergi  ke  lokasi  wawancaranya,  tapi  sebelum  itu  kita
harus memberimu penampilan baru.”
  Park  Hyun-Shik  merasa  tidak  enak  karena  harus  menyembunyikan  sesuatu  dari
Sandy, tapi ia tidak punya pilihan. Kalau Sandy tahu, kemungkinan besar ia tidak akan
bersedia  diajak  menemui  Tae-Woo  dan  saat  ini  Park  Hyun-Shik  tidak  punya  cukup
waktu untuk meyakinkannya.
  Ia  membawa  Sandy  ke  toko  pakaian  yang  juga  merangkap  salon  dan  menyuruh
gadis itu mencoba beberapa pakaian. Ia tidak ingin Sandy terlihat cantik atau bergaya.
Ia  ingin  Sandy  tampil  sesederhana  mungkin  supaya  tidak  menonjol  dan  tidak  ada
orang yang dapat mengenalinya. Ia juga menyuruh Sandy mencoba beberapa rambut
palsu,  tapi  tidak  ada  yang  cocok  di  matanya.  Akhirnya  Park  Hyun-Shik  meminta
pegawai toko itu menyanggul rambut Sandy.
  Dengan  rambut  yang  disanggul,  kemeja  krem  polos  tanpa  lengan  dan  rok  polos
berwarna  sama,  Sandy  terlihat  seperti  wanita  yang  lebih  tua  daripada  usianya  yang
sebenarnya.  Persis  seperti  yang  dibayangkan  Park  Hyun-Shik.  Sebagai  sentuhan
terakhir,  ia  mengulurkan  kacamata  berlensa  kecokelatan  yang  bisa  menyamarkan
wajah Sandy.
  “Baiklah,”  Park  Hyun-Shik  berkata  puas.  “Kita  berangkat  sekarang.  Seharusnya
wawancara Tae-Woo akan selesai sebentar lagi.” 72

* * *

Jung Tae-Woo bangkit dari sofa yang didudukinya sejak tadi dan bersalaman dengan
para kamerawan dan reporter yang mewawancarainya. Ia sedikit lelah, tapi ia tahu ini
sudah menjadi risiko pekerjaannya. Para wartawan tadi juga sempat bertanya tentang
hubungannya  dengan  kekasih  misteriusnya,  namun  Tae-Woo  hanya  memberikan
jawaban  samar.  Ada  juga  yang  mengungkit  kejadian  empat  tahun  lalu.  Tae-Woo
berhasil  menanggapinya  dengan  tenang,  walau  ia  harus  mengakui  dalam  hati
perasaannya masih agak resah bila diingatkan kembali tentang kejadian itu.
  Tae-Woo dan beberapa anggota stafnya keluar dari lift dan berjalan ke pintu utama
gedung  tempat  diadakannya  wawancara  tadi.  Tiba-tiba  langkahnya  terhenti  ketika
pandangannya menembus pintu kaca yang lebar dan melihat seorang wanita turun dari
mobil  sedan  putih.  Tae-Woo  tertegun  sejenak,  lalu  ia  mempercepat  langkahnya,
mendorong pintu kaca sampai terbuka dan menghampiri wanita itu.
  “Sedang apa kau di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.
  Wanita itu berbalik dan agak terkejut melihatnya.
  “Sedang  apa  kau  di  sini?”  tanya  Tae-Woo  sekali  lagi.  Ia  tidak  menyangka  bisa
bertemu  Sandy  di  sini.  Ia  menatap  Sandy  tajam  dan  melihat  pipi  gadis  itu  agak
memerah.
  “Itu… Paman yang menyuruhku ke sini,” Sandy mencoba menjelaskan dengan agak
bingung. “Kau tidak tahu? Katanya kita akan difoto.”
  Tae-Woo  menoleh  ke  belakang  dan  melihat  kerumunan  wartawan  mulai
menghampiri mereka dengan cepat.
  “Tidak,” jawabnya. “Ikut aku.”
  Ia merangkul pundak Sandy dan berjalan menjauh ketika kilatan-kilatan lampu blitz
kamera mulai beraksi dan para wartawan berlomba-lomba mengajukan pertanyaan.
  “Jung Tae-Woo, siapa wanita ini?”
  “Apakah dia wanita misterius di foto waktu itu?”
  “Nona! Siapa nama Anda?”
  “Apa hubungan kalian berdua?”
  “Apakah Anda bisa memberikan sedikit komentar?”
  Tae-Woo  hanya  mengangkat  sebelah  tangan  dan  menuntun  Sandy  ke  mobilnya
yang  diparkir  tidak  jauh  dari  sana.  Ia  membuka  pintu  mobil  untuk  Sandy  sambil
berusaha  menghalangi  para  wartawan  mengambil  gambar  jelas  gadis  itu.  Ia
memerhatikan  Sandy  terus  menunduk  dan  menutupi  wajah  dengan  sebelah  tangan.
Tae-Woo  cepat-cepat  menutup  pintu  dan  berjalan  mengelilingi  mobilnya  ke  bagian 73

tempat duduk pengemudi. Sebelum masuk ke mobil, ia tersenyum dan melambaikan
tangan sekali lagi ke arah para wartawan.
  Setelah  mereka  sudah  agak  jauh  dari  tempat  itu,  Tae-Woo  melirik  Sandydan
bertanya, “Kau baik-baik saja?”
  Sandy melepaskan kacamata dan mengembuskan napas kesal. “Paman bilang kita
akan difoto. Difoto apanya? Ternyata begini… Ah, tapi benar juga. Kita memang difoto.
Oleh wartawan.”
  “Jangan menyalahkan Hyong,” kata Tae-Woo. “Setidaknya Hyong sudah mengubah
penampilanmu sebelum menjebak kita.”
  “Menurutmu mereka berhasil memotretku?” tanya Sandy ingin tahu.
  “Sudah  tentu,”  sahut  Tae-Woo  sambil  tersenyum.  “Tapi  kau  tidak  usah  cemas.
Dengan penampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang tahu kau adalah kau.”
  Gadis  itu  menunduk  memerhatikan  penampilannya  sendiri.  Tiba-tiba  ia  bertanya,
“Tapi tadi kau langsung mengenaliku. Bagaimana bisa?”
  Tae-Woo tidak tahu harus menjawab apa. TAdi ketika melihat seorang wanita turun
dari mobil Park Hyun-Shik, ia langsung tahu wanita itu Sandy. Kalau dipikir-pikir, ia
sendiri juga tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu yakin. Penampilan Sandy berbeda
sekali dengan biasanya, tapi tadi ia bahkan tidak memerhatikan penampilan gadis itu.
Ia hanya tahu wanita yang berdiri di sana Sandy.
  “Terus terang saja, aku juga tidak tahu,” sahut Tae-Woo.
  Sandy tersenyum, lalu bertanya, “Sekarang bagaimana? Kau mau ke mana?”
  Tae-Woo  melirik  jam  tangannya  dan  berkata,  “Sekarang  aku  harus  menghadiri
konser amal…”
  Ponselnya  berbunyi.  “Sebentar.”  Ia  memasang  earphone  untuk  menjawab.  “Hyong,
ada apa? … Aku sedang di jalan… Begitu? Hyong yakin? … Baiklah.”
  Ia  melepaskan  earphone    dan  menoleh  ke  samping.  Sandy  ternyata  juga  sedang
berbicara di telepon.
  “Oh,  Young-Mi,  ada  apa?”  kata  gadis  itu  dengan  ponsel  yang  ditempelkan  ke
telinga. “Aku? Aku sedang di jalan… Apa? Bukan, bukan bersama Jeong-Su ssi.” Tae-
Woo menyadari Sandy meliriknya sekilas. “Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah…
Mm, nanti telepon aku lagi.”
  “Sepertinya kau belum bisa pulang sekarang,” kata Tae-Woo setelah melihat Sandy
memasukkan ponsel ke tas tangannya.
  “Kenapa?”
  “Hyong menyuruhmu ikut denganku ke konser amal itu.”
  “Kenapa?! Tidak mau.” 74

  Tae-Woo  melihat  gadis  itu  agak  cemas.  “Tidak  apa-apa,”  katanya  menenangkan.
“Kau hanya perlu hadir di sana. Selebihnya serahkan padaku. Hyong juga ada di sana.
Tidak akan lama.”
  Sandy menggeleng-geleng. “Tidak, tidak. Sudah kubilang aku hanya akan berfoto
denganmu. Tidak lebih.”
  Tae-Woo menarik napas. “Kau juga tahu tadi kita dikejar-kejar wartawan. Saat ini
mereka  pasti  sedang  mengikuti  kita.  Apalagi  mereka  juga  tahu  aku  akan  pergi  ke
konser amal itu. Kalau kau kuturunkan di tengah jalan atau di mana pun, mereka pasti
akan mengerumunimu. Kau mau begitu?”
  Sandy tidak menjawab. Tae-Woo meliriknya dan melihat gadis itu menggigit bibir
dengan kening berkerut.
  “Aku minta  maaf atas semua kejadian hari  ini,” kata Tae-Woo lagi.  “Aku berjanji
akan mengantarmu pulang secepatnya.”
  “Apa yang sudah kulakukan?”
  Sandy mengucapkan kata-kata itu dengan pelan, tapi Tae-Woo bisa mendengarnya.
Karena  tidak  tahu  harus  berkomentar  apa,  ia  diam  saja.  Gadis  yang  duduk  di
sampingnya juga tidak mengatakan apa-apa lagi.


Kang Young-Mi baru saja selesai membantu ibunya mencuci piring. Jam makan siang
sudah lewat sejak tadi dan sekarang rumah makan milik keluarganya ini tidak begitu
ramai.
  “Ibu,  aku  naik  ya?”  Young-Mi  berseru  kepada  ibunya  yang  duduk  di  meja  kasir,
lalu berlari menaiki tangga ke lantai atas tanpa menunggu jawaban.
  Young-Mi segera menyalakan televisi karena sebentar lagi siaran langsung konser
musik amal akan ditayangkan. Ia membuka sebungkus keripik kentang dan berbaring
telungkup di lantai sambil bertopang dagu.
  “Ah,  ternyata  sudah  dimulai,”  gerutunya  ketika  gambar  muncul  di  layar  televisi.
“Wah, yang datang banyak sekali.”
  Di layar televisi terliaht artis-artis berjalan memasuki aula konser dan para reporter
sibuk mewawancarai  artis-artis yang  lewat. Lalu di  layar televisi muncul  wajah Jung
Tae-Woo.
  “Oh, ternyata Jung TaeWoo juga datang ke konser itu!” seru Young-Mi pada dirinya
sendiri. “Dia ikut menyanyi juga ya?”
  Kang  Young-Mi  memerhatikan  idolanya  dengan  hati  berbunga-bunga.  Jung  Tae-
Woo  yang  mengenakan  turtleneck  hitam  dan  jas  cokelat  muda  itu  terlihat  tampan
seperti biasa dan ia terus tersenyum ramah ketika diwawancarai reporter. 75

  “Jadi,  Jung  Tae-Woo,  siapakah  wanita  yang  tadi  datang  bersama  Anda?  Wanita
yang  berdiri  di  sana  itu?  Kekasih  Anda?”  tanya  si  reporter  sambil  menyodorkan
mikrofon kepada Jung Tae-Woo.
  Young-Mi  melihat  wanita  berkacamata  gelap  yang  berdiri  agak  jauh  di  belakang
Jung  Tae-Woo.  Wajahnya  tidak  terlihat  jelas  sehingga  Young-Mi  pun  merangkak
mendekati pesawat televisi sambil memasukkan beberapa potong keripik ke mulut.
  Jung Tae-Woo tertawa dan menoleh ke arah si wanita dan berpaling kembali kepada
si reporter.
  Bagi  Young-Mi,  reaksi  Jung  Tae-Woo  sudah  menunjukkan  jawabannya,  dan
ternyata si reporter juga berpendapat sama. Tanpa menunggu jawaban Jung Tae-Woo,
si  reporter  bertanya  lagi  dengan  nada  menggoda,  “Kenapa  Anda  tidak
memperkenalkan Nona itu kepada kami semua? Ayolah, kenapa harus malu?”
  “Benar! Kenapa harus disembunyikan?” seru Young-Mi kepada gambar Jung Tae-
Woo di televisi.
  Jung Tae-Woo masih tersenyum ketika menjawab, “Memang benar, tapi sebenarnya
dia  agak  pemalu.  Dia  bersedia  datang  hari  ini  juga  karena  saya  yang  memintanya.
Kalau tidak, dia sama sekali tidak akan datang.”
  “Wah,  gadis  yang  sombong.  Soon-Hee  harus  melihat  ini,”  kata  Young-Mi  sambil
duduk  bersila.  Ia  meraih  telepon  dan  menghubungi  nomor  ponsel  Sandy.  Matanya
tetap  mengawasi  Jung  Tae-Woo  yang  sudah  beranjak  pergi  dari  si  reporter  dan
menghampiri  kekasihnya.  Kamera  memang  sudah  tidak  difokuskan  pada  Jung  Tae-
Woo karena sekarang ada artis lain yang sedang diwawancarai. Tapi Jung Tae-Woo dan
kekasihnya masih terlihat di bagian latar, walaupun tidak terlalu jelas.
  “Han  Soon-Hee,  cepat  angkat  teleponmu  sebelum  Jung  Tae-Woo  dan  kekasihnya
masuk,”  kata  Young-Mi  gemas.  Ia  terus  menatap  Jung  Tae-Woo  dan  kekasihnya  di
televisi,  seakan-akan  kedua  orang  itu  bakal  lenyap  kalau  ia  mengalihkan  pandangan
sedetik saja.
  Young-Mi melihat wanita itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam tas tangannya
sementara Jung Tae-Woo berdiri di sampingnya. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari
tasnya,  lalu  melakukan  gerakan  membuka  dan  menutup.  Tepat  pada  saat  itu  nada
sambung di telepon Young-Mi terputus.
  “Ah,  anak  aneh  ini  kenapa  tidak  menjawab  teleponku?  Tidak  mau  melihat  pacar
Jung  Tae-Woo?”  gerutu  Young-Mi  sambil  menekan  nomor  ponsel  Sandy  sekali  lagi.
“Jangan-jangan dia masih di jalan ya?”
  Young-Mi  menatap  layar  televisi  dan  merasa  lega  karena  Jung  Tae-Woo  dan
kekasihnya  masih  terlihat  di  sudut.  Sambil  menunggu  Sandy  menjawab  telepon, 76

Young-Mi  menyipitkan  mata  supaya  bisa  melihat  lebih  jelas  Jung  Tae-Woo  dan
pacarnya. Kali ini wanita itu kembali merogoh tas.
  “Ada apa dengannya? Kelihatannya sibuk sekali,” Young-Mi bertanya sendiri.
  Wanita itu mengeluarkan sesuatu lagi dan menatap benda yang dipegangnya itu.
  “Ponsel?” gumam Young-Mi tidak yakin sambil menyipitkan mata.
  Wanita itu menatap tangannya, lalu menatap Jung Tae-Woo. Jung Tae-Woo terlihat
menggeleng-geleng,  memberi  isyarat  supaya  wanita  itu  melihat  ke  sekeliling,  sambil
mengucapkan sesuatu. Entah apa yang ia katakan karena akhirnya wanita itu terlihat
mengutak-atik benda yang dipegangnya.
  Tepat pada saat itu nada sambung di telepon Young-Mi terputus sekali lagi. Young-
Mi tertegun. Ia menatap layar televisi dengan mata terbelalak. Bungkusan keripik yang
sejak tadi dipeluknya terlepas dan jatuh ke lantai. Matanya terpaku pada layar televisi.
Ia  melihat  kekasih  Jung  Tae-Woo  sedang  menundukkan  kepala  dan  mengutak-atik
sesuatu yang menurut Young-Mi ponsel, lalu memasukkannya kembali ke tas tangan.
Kemudian mereka berdua bergerak dan menghilang dari layar televisi Young-Mi.
  Young-Mi  menatap  layar  televisi  dan  telepon  yang  dipegangnya  bergantian.
Otaknya sibuk berputar. Ia mencoba menghubungi ponsel Sandy sekali lagi dan kali ini
ia hanya mendengar suara operator telepon yang berkata telepon yang dituju sedang
tidak aktif. Young-Mi menutup telepon dan mengerutkan dahi.
  “Apa  yang  kulihat  tadi?  Apa  artinya  ini?  Hanya  kebetulan?  Kebetulan  yang
aneh…,” gumam Young-Mi pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi bersemangat menonton
konser amal itu. Ia sibuk memutar otak, memikirkan apa yang  baru saja ia lihat dan
alami.  Ia  tidak  percaya  dengan  kemungkinan  yang  muncul  di  benaknya.  “Ini  tidak
mungkin. Tapi memang kalau dipikir-pikir…”


Seperti yang dikatakan Jung Tae-Woo sebelumnya, Sandy tidak perlu mengikuti acara
konser amal itu sampai selesai karena Tae-Woo punya jadwal lain yang sangat padat.
Begitu  Sandy  sudah  menyelesaikan  tugasnya,  Park  Hyun-Shik  mengantarnya  pulang
sementara Jung Tae-Woo menghadiri acara selanjutnya.
  Ketika  berjalan  di  sepanjang  koridor  menuju  apartemennya,  Sandy  agak  heran
melihat Kang Young-Mi berdiri di depan pintu gedung itu.
  “Young-Mi,  sedang  apa  kau  di  sini?”  tanya  Sandy  sambil  mempercepat  langkah
untuk menghampiri temannya.
  Young-Mi  mengangkat  wajah  dan  Sandy  melihat  mata  temannya  terbelalak  kaget
ketika melihatnya. Lalu Young-Mi tersenyum aneh. “Ternyata tidak salah,” gumamnya. 77

  “Mm?  Kau  bilang  apa?”  Sandy  mengeluarkan  kunci  pintu  dan  memandang
temannya.
  Young-Mi tersenyum dan menggeleng. “Tidak, aku sedang bicara sendiri. Ayo, kita
masuk dulu. Aku sudah capek berdiri sejak tadi.”
  Sandy segera membuka pintu dan mengajak Young-Mi masuk. “Kenapa menunggu
di sini? Kau kan bisa menelepon dulu.”
  Young-Mi melangkah masuk dan menjawab, “Ponselmu tidak aktif.”
  Sandy menepuk dahi. “Oh, memang kumatikan tadi. Maaf.”
  Kang Young-Mi berdiri di tengah-tengah ruang duduk dan mengamati Sandy dari
ujung kepala sampai ujung kaki.
  Sandy merasa aneh diamati begitu. “Kenapa memandangiku seperti itu?”
  “Pakaianmu,” gumam Young-Mi dengan pandangan penuh arti.
  Sandy tersentak. Ia baru menyadari ia masih mengenakan pakaian yang diberikan
Park  Hyun-Shik.  Gaya  rambutnya  juga  masih  seperti  tadi.  Young-Mi  pasti  heran
dengan penampilannya yang seperti ini.
  “Ah, ini?” Sandy berbalik memunggungi temannya dan pura-pura mencari sesuatu
di dalam emari es. Otaknya berputar cepat, mencari alasan yang masuk akal. “Biasa lah,
Mister  Kim  sedang  melakukan  percobaan  baru.  Katanya  penampilan  ini  cocok
untukku. Tapi kurasa tidak begitu. Aku benar, kan? Eh, kau mau minum apa?”
  Sandy memutar tubuh, kembali menghadap temannya. Young-Mi sudah duduk di
sofa  dengan  tangan  terlipat  di  depan  dada.  Tatapan  temannya  itu  seakan  bisa
menembus ke dalam hatinya. Sandy mulai gugup.
  “Kau tahu,” Young-Mi membuka mulut, “tadi aku menonton acara konser amal di
televisi.”
  Sandy merasa jantungnya  berdebar dua kali lebih  cepat daripada  biasanya.  Tidak
mungkin  Young-Mi  melihatnya.  Ia  sudah  sangat  hati-hati  agar  tidak  disorot  kamera.
“Aku  melihat  Jung  Tae-Woo  bersama  kekasihnya,”  Young-Mi  melanjutkan  dengan
nada  tenang.  Ia  tersenyum  kecil.  “Anehnya,  kekasihnya  itu  memakai  pakaian  yang
sama dengan yang kaupakai sekarang. Gaya rambut kalian juga sama persis.”
  Baiklah, Sandy harus melakukan sesuatu. Ia tertawa dan berkata, “Lalu kau mengira
aku wanita itu? Young-Mi, kau ada-ada saja.”
  Young-Mi  mengangkat  alis.  “Benarkah,  begitu?  Sebenarnya  aku  juga  tidak  akan
berpikir  wanita  itu  kau,  Soon-Hee,  kalau  saja  aku  tidak  meneleponmu  saat  itu.  Aku
melihatmu di televisi. Memang tidak jelas, tapi aku melihat kejadiannya.”
  Sandy ingat Young-Mi memang menghubungi ponselnya ketika ia berada di acara
konser  amal.  Ia  tidak  menjawab  karena  suasana  di  sana  berisik  sekali,  semua  orang
berbicara  dan  irama  musik  terdengar  di  mana-mana.  Kalau  ia  menjawab,  Young-Mi 78

akan  mendengar  bunyi  berisik  di  latar  belakang  dan  merasa  curiga.  Tae-Woo  juga
berkata  sebaiknya  ia  tidak  menjawab  telepon.  Itulah  sebabnya  Sandy  mematikan
ponselnya. Ternyata saat itu Young-Mi melihatnya di televisi.
  “Ketika aku meneleponmu, kekasih Jung Tae-Woo secara kebetulan juga menerima
telepon.  Ketika  dia  memutuskan  hubungan,  tepat  pada  saat  itu  nada  sambung  di
teleponku  juga  terputus,”  Young-Mi  melanjutkan.  “Aku  mencoba  lagi  dan  melihat
wanita itu akhirnya mematikan ponselnya.”
  Sandy  tidak  bisa  mengelak  lagi.  Ia  sudah  tidak  tahu  alasan  apa  lagi  yang  bisa  ia
gunakan. Ia sudah mengenal Kang Young-Mi selama bertahun-tahun dan tahu benar
temannya  itu  pintar  dan  berotak  tajam.  Mungkin  saja  saat  ini  Young-Mi  sudah  bisa
menduga sendiri. Sandy tidak bisa lagi menyembunyikan masalah ini darinya.
  “Han  Soon-Hee,  kurasa  sekarang  waktunya  kau  memberitahuku  apa  yang
sebenarnya terjadi,” kata Young-Mi. “Aku sudah berpikir lama dan ingin tahu apakah
kenyataannya seperti yang kupikirkan.”


Suasana di  salah satu toko buku terbesar di Seoul itu terlihat ramai sekali.  Di depan
toko terpasang spanduk yang bertuliskan “Peluncuran Buku Salju di Musim Panas dan
Pembagian  Tanda  Tangan  Choi  Min-Ah”.  Mungkin  ini  sebabnya  kenapa  buku  yang
paling banyak dipajang di etalase toko itu adalah Saljut di Musim Panas karya Choi Min-
Ah.  Para  pengunjung  toko  masing-masing  memegang  buku  tersebut  sambil  berdiri
berdesak-desakan sementara anggota-anggota staf toko bersusah payah mengendalikan
keadaan. Selain para pengunjung toko, beberapa wartawan juga tampak hadir di sana.
  “Choi Min-Ah sudah datang?” seru seorang wanita berkacamata kepada salah satu
anggota stafnya yang sedang berbicara di telepon.
  Anggota  staf  tersebut  menutup  telepon  dan  menjawab,  “Katanya  dia  akan  tiba
dalam dua puluh menit.”
  Wanita berkacamata itu memegang kening dan mengembuskan napas. “Aku tidak
tahu apakah kita bakal mampu bertahan dua puluh menit lagi. Hei, semuanya sudah
siap  di  belakang  sana?  Aku  ingin  semuanya  sempurna  sebelum  Choi  Min-Ah
menginjakkan kaki di toko ini. Mengerti?”
  Dua  puluh  dua  menit  kemudian,  orang  yang  ditunggu-tunggu  akhirnya  tiba.
Seorang wanita cantik keluar dari mobil hitam dan berjalan masuk ke toko buku sambil
tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan anggun.
  “Itu Choi Min-Ah! Cantik sekali! Lebih cantik daripada fotonya.”
  “Katanya dia baru pulang dari Amerika.”
  “Dia pulung khusus untuk menghadiri acara ini.” 79

  “Dia kelihatan masih muda ya.”
  “Kaulihat pakaiannya? Bagus sekali!”
  “Aku sudah membaca semua buku yang ditulisnya.”
  Choi  Min-Ah  menyalami  wanita  berkacamata  yang  adalah  manajer  toko  itu,
kemudian  berdiri  di  balik  meja  panjang  yang  sudah  tersedia.  Senyumnya  yang  tulus
dan menyenangkan masih tersungging di bibir.
  “Apa kabar, semuanya?” Choi Min-Ah menyapa para pengunjung dengan suaranya
yang indah dan ramah. Para pengunjung pun membalas sapaannya meski dengan agak
kacau-balau. Choi Min-Ah tertawa kecil dan melanjutkan, “Saya baru saja turun dari
pesawat dan sepanjang perjalanan dari bandara saya merasa lelah sekali. Tapi begitu
tiba di sini dan mendapat sambutan sehangat ini, tiba-tiba saya merasa segar kembali.
Terima kasih banyak.”
  Para pengunjung pun tertawa dan bertepuk tangan.
  Setelah  acara  penandatanganan  buku  itu  selesai,  Choi  Min-Ah  mengizinkan  para
wartawan  mewawancarainya.  Mula-mula  para  wartawan  menanyainya  tentang  buku
barunya, tentang proses penulisan bukunya, tentang ide-idenya dan hal-hal teknis lain.
Sering  berlalunya  berbagai  pertanyaan,  para  wartawan  pun  semakin  berani  karena
meliaht sikap Choi Min-Ah yang ramah dan terbuka.
  “Nyonya Choi Min-Ah, bagaimana kabar suami Anda?”
  “Dia  baik-baik  saja,  masih  terus  membenamkan  diri  dalam  not-not  balok  seperti
biasa,” jawab Choi Min-Ah ceria. “Kadang-kadang dia malah melupakan istrinya yang
cantik ini.”
  “Lalu bagaimana kabar putra Anda?”
  “Tae-Woo? Seharusnya  dia baik-baik  saja. Saya belum sempat meneleponnya. Dia
bahkan belum tahu saya ada di Seoul. Mungkin saya akan meneleponnya nanti,” sahut
Choi  Min-Ah.  “Tapi  saya  rasa  Anda  sekalian  tentu  sudah  tahu  dengan  sangat  jelas
keadaannya. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan album barunya.”
  “Kabarnya dia sudah punya kekasih. Apakah Anda tahu itu, Nyonya?”
  Wajah  Choi  Min-Ah  berseri-seri.  “Ah,  benar.  Tentu  saja  saya  tahu.  Saya  pernah
berbicara dengannya. Han Soon-Hee ssi itu gadis yang baik. Aku berharap hubungan
mereka akan berhasil.”





 80


Delapan




B EBERAPA  hari  sudah  berlalu  sejak  Kang  Young-Mi  tahu  tentang  Sandy  dan  Jung
Tae-Woo. Sebenarnya Sandy ingin segera memberitahukan hal ini kepada Park Hyun-
Shik dan Jung Tae-Woo, tapi belum punya kesempatan untuk itu. Kedua laki-laki itu
begitu  sibuk  dan  susah  dihubungi.  Kalaupun  bisa  dihubungi  seperti  sekarang,  Jung
Tae-Woo sedang sibuk dan Sandy tidak bisa bicara banyak.
  “Jung Tae-Woo ssi, sekarang kau sedang sibuk?” tanya Sandy di telepon.
  “Aku? Sebentar lagi aku harus tampil. Ada apa?”
  “Mm, setelah ini kau ada acara lagi?”
  Jung  Tae-Woo  terdiam  sejenak  lalu  berkata,  “Sebenarnya  tidak  ada,  tapi  sesudah
acara ini selesai, aku harus pergi menemui ibuku. Oh ya, ibuku datang ke Seoul hari ini.
Baru  tiba  siang  tadi.  Aku  sudah  janji  makan  malam  dengannya.  Kenapa?  Ada
masalah?”
  Sandy cepat-cepat berkata, “Tidak,  tidak  ada masalah. Hanya saja ada yang  ingin
kubicarakan denganmu. Bukan masalah penting. Lain kali saja kita bicarakan.”
  “Atau kau mau ikut makan malam bersama kami?” Jung Tae-Woo menawarkan.
  “Kau  gila?”  Sandy  berseru.  “Sudahlah,  tidak  apa-apa.  Kau  makan  saja  dengan
ibumu.”
  Jung Tae-Woo tertawa. “Baiklah, nanti kutelepon.”
  Sandy  menutup  flap  ponsel  dan  meletakkannya  di  meja  ruang  duduk.  Ia
mengembuskan napas, meraih remote control, lalu menyalakan televisi.

* * * 81

“Jadi  temanmu  sudah  tahu  tentang  kita?”  tanya  Park  Hyun-Shik  sambil  mengusap-
usap dagu.
  Sandy duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk. Jung Tae-Woo yang duduk
di sebelahnya hanya bisa duduk bertopang dagu. Mereka bertiga berkumpul di kantor
Park  Hyun-Shik.  Sandy  baru  saja  selesai  bercerita  kepada  kedua  laki-laki  itu  tentang
Kang Young-Mi yang sudah tahu kesepakatan mereka.
  “Jadi  alasan  kau  meneleponku  kemarin  adalah  karena  ingin  memberitahukan
masalah ini?” tanya Jung Tae-Woo.
  “Ya. Maafkan aku,” gumam Sandy dengan kepala tertunduk.
  “Bukan salahmu,” kata Jung Tae-Woo sambil mengibaskan tangan. “Siapa yang bisa
menduga temanmu bisa menelepon tepat ketika kau muncul di televisi?”
  Park  Hyun-Shik  mendesah.  “Tidak  perlu  merasa  bersalah…  Lalu  apa  yang
dikatakan temanmu?”
  Sandy  mengangkat  wajah  dan  menatap  Jung  Tae-Woo  serta  Park  Hyun-Shik
bergantian. “Yah, dia memang agak terkejut… Tapi dia teman baikku dan aku percaya
padanya. Dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apa-apa.”
  “Baiklah,” kata Park Hyun-Shik pada akhirnya. “Sepertinya kita tidak punya pilihan
lain selain percaya padanya.”
  Mereka  bertiga  terdiam,  sibuk  dengan  pikiran  masing-masing.  Beberapa  saat
berlalu, kemudian kesunyian itu dipecahkan dering telepon di meja Park Hyun-Shik.
Park Hyun-Shik mengangkatnya.
  “Apa?  Siapa  katamu?”  katanya  di  telepon  sambil  menegakkan  punggung  dengan
satu gerakan cepat. “Baiklah.”
  Ia  meletakkan  gagang  telepon  kembali  ke  tempatnya.  Sandy  memandangnya
dengan tatapan bertanya-tanya.
  “Ada apa, Hyong?” tanya Jung Tae-Woo.
  Park Hyun-Shik bangkit dari kursi dan berkata, “Ibumu ada di sini.”
  Tepat  pada  saat  itu  pintu  kantor  Park  Hyun-Shik  terbuka.  Sekretaris  Park  Hyun-
Shik muncul diikuti wanita cantik berpostur tinggi semampai.
  Sandy  terkesiap  dan  duduk  mematung  di  tempatnya.  Wanita  itu  Choi  Min-Ah,
penulis buku terkenal. Ibu Jung Tae-Woo. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
  “Ibu?”  Jung  Tae-Woo  melompat  dari  kursi  dan  menghampiri  ibunya  dengan
ekspresi kaget. “Sedang apa Ibu di sini?”
  “Oh, halo, Tae-Woo,” sapa ibunya riang. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik dan
menyalaminya. “Hyun-Shik, apa kabar? Senang sekali melihatmu lagi.”
  Park  Hyun-Shik  tersenyum  hangat  dan  berkata,  “Saya  juga  senang  bertemu  Bibi
lagi. Maafkan saya karena kemarin saya tidak bisa makan malam bersama Bibi.” 82

  “Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Kau memang sangat sibuk. Orangtuamu baik-
baik saja?” tanya Choi Min-Ah. “Sudah lama tidak bertemu mereka. Mereka masih di
Kanada?”
  “Iya, mereka masih di sana. Ibu saya juga sering bertanya kapan bisa bertemu Bibi
lagi.”
  Choi  Min-Ah  mengangguk.  “Benar,  kita  harus  berkumpul  lagi.  Aku  ingin  tahu
bagaimana kabarnya.”
  “Ibu,  kenapa  Ibu  datang  ke  sini?”  tanya  Jung  Tae-Woo  sekali  lagi  sambil
menggandeng lengan ibunya.
  Choi  Min-Ah  menoleh  memandang  anak  laki-lakinya.  “Oh,  pesawatku  baru  akan
berangkat sore nanti, jadi aku ingin mengajak kalian makan siang bersamaku. Hyun-
Shik, kau tidak boleh menolak.”
  Saat  itu  pandangan  Sandy  bertemu  dengan  tatapan  penuh  tanya  Choi  Min-Ah.
Wanita itu tersenyum dan Sandy membalas senyumnya dengan kaku.
  “Nah, sebentar. Apakah ini Han Soon-Hee ssi?” tanya ibu Jung Tae-Woo.
  Dengan kikuk Sandy menatap Jung Tae-Woo dan Park Hyun-Shik bergantian, lalu
bangkit dari kursinya. “Apa kabar?” katanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
  “Tae-Woo,  kau  ini  bagaimana?  Kenapa  tidak  memperkenalkan  kami?”  kata  Choi
Min-Ah sambil memukul pelan lengan anaknya.
  Jung Tae-Woo tersadar dan menghampiri Sandy. “Ibu, ini Han Soon-Hee. Sandy, ini
ibuku.”
  Choi  Min-Ah  mengerutkan  kening  dan  mendecakkan  lidah.  “Perkenalan  macam
apa itu?” Lalu ia memandang Sandy sambil tersenyum. “Senang sekali akhirnya bisa
bertemu  denganmu,  Soon-Hee.  Kau  tidak  keberatan  kalau  kupanggil  Soon-Hee  saja,
bukan?”
  “Tentu, tentu saja tidak,” kata Sandy cepat-cepat.
  “Begini  saja,  bagaimana  kalau  kita  berempat  pergi  makan  siang?  Kita  bisa
mengobrol sambil makan. Soon-Hee, kau ada waktu, kan? Kau mau, kan?” bujuk ibu
Jung Tae-Woo ramah.
  Sandy membuka mulut, lalu menutupnya  kembali. Ia tidak  tahu harus menjawab
apa.  Apakah  ia  boleh  makan  siang  bersama  ibu  Jung  Tae-Woo?  Atau  sebaiknya  ia
segera  pamit  dan  pergi  dari  sana  saja?  Ia  memandang  kedua  laki-laki  yang  sedang
berdiri tanpa suara itu, menunggu isyarat.
  Jung  Tae-Woo  dan  Park  Hyun-Shik  berpandangan.  Akhirnya  Park  Hyun-Shik
berkata, “Baiklah, Bibi. Saya juga sedang tidak punya jadwal kerja siang ini.”
  Choi Min-ah bertepuk tangan. “Bagus sekali. Ayo, cepat. Kita mau makan di mana
ya?” 83

  “Kau  kenal  ibunya?”  tanya  Park  Hyun-Shik  kepada  Sandy  dengan  nada  rendah
ketika ibu Jung Tae-Woo keluar duluan dari kantornya, meninggalkan mereka bertiga
di dalam.
  Sandy  merasa  kesulitan,  susah  menjelaskannya.  “Itu…  waktu  itu  aku  tidak
sengaja—“
  Jung  Tae-Woo  menyela,  “Hyong,  nanti  saja  kujelaskan.Sebaiknya  sekarang  kita
segera menyusul ibuku.”


Awalnya  Tae-Woo  agak  mencemaskan  sikap  ibunya  terhadap  Sandy,  tapi  sepertinya
kekhawatiran  tersebut  tidak  beralasan  karena  kedua  wanita  itu  cepat  sekali  akrab.
Tampak jelas ibunya menyukai Sandy dan begitu juga sebaliknya. acara makan siang
itu berjalan ringan dan menyenangkan. Bahkan ketika ibunya menanyakan bagaimana
pertemuan pertama mereka, Sandy menjawab dengan lancar, “Jadi kalau Paman tidak
salah  mengambil  ponsel  saya  waktu  itu,  saya  rasa  saya  tidak  akan  pernah  bertemu
Paman maupun Jung Tae-Woo ssi,” kata Sandy.
  “Wah,  rupanya  cinta  pada  pandangan  pertama,”  kata  ibu  Jung  Tae-Woo  penuh
minat.
  Sandy tersedak dan Tae-Woo otomatis menyodorkan segelas air kepada gadis yang
duduk  di  sebelahnya  itu.  Park  Hyun-Shik  yang  duduk  berhadapan  dengan  Tae-Woo
hanya bisa menahan senyum.
  “Oh  ya,  Soon-Hee,  Hyun-Shik  kan  belum  setua  itu.  Kenapa  kau  memanggilnya
„paman‟?”  tanya  ibu  Tae-Woo  lagi  sambil  menepuk  tangan  Park  Hyun-Shik  yang
duduk di sebelahnya. “Hyun-Shik, kau hanya dua tahun lebih tua daripada Tae-Woo,
kan?”
  Park Hyun-Shik membenarkan.
  “Sepertinya saya sudah terbiasa memanggilnya begitu. Saya sendiri juga tidak tahu
kenapa,  tapi  mungkin  karena  penampilan  dan  sikapnya  yang  dewasa  sekali,”  jawab
Sandy.
  Tae-Woo menyadari ibunya mengamati dirinya, lalu Park Hyun-Shik. “Benar juga,”
kata  ibunya.  “Hyun-Shik  memang  kelihatan  lebih  dewasa  kalau  dibandingkan  Tae-
Woo. Tapi, Hyun-Shik, kenapa sampai sekarang kau masih sendiri? Bagaimana kalau
kusuruh Soon-Hee mencarikan gadis untukmu?”
  Sementara ibunya mendesak Park Hyun-Shik, Tae-Woo mendengar dering ponsel.
Ia meraba saku jasnya, tapi lalu berpaling kepada Sandy. “Punyamu.”
  Sandy  merogoh  tas  dan  mengeluarkan  ponsel.  Ia  menatap  layar  ponsel  sekilas.
Sambil berdeham pelan, ia membuka dan langsung menutup flap ponselnya. Beberapa 84

detik  kemudian  ponselnya  berbunyi  lagi.  Tae-Woo  menoleh  ke  arah  Sandy  dan
mendapati gadis itu sedang mencopot baterai ponselnya.
  “Dia lagi?” tanya Tae-Woo setelah Sandy memasukkan ponsel dan baterai ke dalam
tas.
  Sandy tidak menjawab, hanya memandangnya sambil tersenyum samar.
  “Kenapa tidak dijawab?”
  “Kemungkinan  besar  dia  akan  membicarakan  hal-hal  yang  tidak  penting.  Seperti
biasa.”


Lee  Jeong-Su  menutup  ponselnya  dengan  kesal  dan  berdiri  di  tepi  jalan  dengan
perasaan  tidak  menentu.  Rupanya  Sandy  tidak  mau  menjawab  teleponnya.  Ia
mengangkat tangan kirinya yang sedang memegang tabloid hiburan yang memuat foto
Jung  Tae-Woo  bersama  wanita  dengan  kacamata  hitam  dan  rambut  disanggul.  Di
bawah  foto  itu  ada  foto  lain  yang  juga  memperlihatkan  Jung  Tae-Woo  berdiri  dekat
sekali dengan si wanita misterius, tapi kali ini wanita itu bertopi merah dengan rambut
dikepang.  Di  bawah  foto  itu  ada  tulisan  besar-besar  “IDENTITAS  KEKASIH  JUNG
TAE-WOO”.
  Artikel kecil itu sudah dibacanya berkali-kali dengan perasaan tidak percaya, tapi
Lee Jeong-Su ingin meyakinkan dirinya sekali lagi. Ia pun membaca kembali artikel itu
dengan  hati-hati.  Matanya  terhenti  pada  kalimat  yang  menyatakan  wanita  misterius
yang menjadi kekasih Jung Tae-Woo akhirnya diketahui bernama Han Soon-Hee.
  Han Soon-Hee.
  Mata  Lee  Jeong-Su  kembali  menatap  foto-foto  itu.  Tidak  salah  lagi.  Semakin
diperhatikan, wanita di foto itu memang mirip sekali dengan Soon-Hee. Benarkah itu?
Inilah  yang  ingin  ia  tanyakan  pada  Soon-Hee,  tapi  gadis  itu  tidak  mau  menjawab
teleponnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Lee Jeong-Su tidak mengerti kenapa
hatinya  tidak  bisa  tenang.  Ia  merasa  kesal  dan  gelisah.  Ia  harus  terus  berusaha
menghubungi Soon-Hee sampai berhasil mendapatkan penjelasan dari gadis itu. Kalau
perlu, ia akan pergi ke rumah Soon-Hee dan menunggunya di sana.


Kang  Young-Mi  mendecakkan  lidah  dengan  geram.  Sejak  tadi  ia  mencoba
menghubungi ponsel Soon-Hee, tapi anak itu tidak mengaktifkan ponselnya. Ke mana
dia?
  Young-Mi menatap majalah di tangannya. Ia mengerutkan dahi. Apakah Soon-Hee
sudah  tahu  tentang  ini?  Sepertinya  belum.  Kalau  sudah  tahu,  Soon-Hee  pasti  akan 85

meneleponnya.  Apakah  anak  itu  sedang  bersama  Jung  Tae-Woo?  Kalau  begitu
seharusnya dia sudah tahu.
  “Young-Mi, di mana majalan yang baru Ibu beli tadi?” tanya ibunya tiba-tiba.
  Young-Mi  tersentak  kaget  dan  berusaha  menyembunyikan  majalah  itu.  “Oh?
Majalah yang mana?”
  Ibunya berkacak pinggang. “Yang sedang kausembunyikan di balik punggungmu
itu. Sini.”
  Young-Mi  tidak  bisa  berbuat  apa-apa  sementara  ibunya  mulai  membuka-buka
majalah itu. Jantungnya berdebar keras. Ia sangat berharap bakal ada tamu yang datang
ke restoran mereka, karena dengan begitu ibunya akan sibuk untuk sesaat, memberinya
kesempatan menyembunyikan majalah itu. Tapi harapannya tidak terkabul. Tidak ada
tamu yang datang dan ibunya terus asyik membaca gosip artis.
  “Astaga!”
  Ini dia yang sudah ia takutkan sejak tadi.
  “Hei, Young-Mi, lihat ini!” Ibunya mendorong majalah itu ke arahnya.
  “Ada apa?” Young-Mi berpura-pura tidak tahu.
  “Lihat ini! Ini Soon-Hee, bukan? Soon-Hee temanmu itu?”
  Young-Mi melihat majalah itu sekilas dan mendorongnya kembali kepada ibunya.
“Ah, Ibu. Mana mungkin itu Soon-Hee. Masa Soon-Hee pacaran dengan artis terkenal?”
  Ibunya tetap ngotot. “Tapi di sini ditulis namanya Han Soon-Hee.”
  Young-Mi  berkata  dengan  tidak  sabar,  “Bisa  saja  namanya  sama.  Banyak  orang
yang bernama Han Soon-Hee.”
  Ibunya  terdiam  sejenak.  Young-Mi  melirik  ibunya  untuk  melihat  bagaimana
reaksinya.  Ibunya  mengamati  foto-foto  di  majalah  itu  dengan  kening  berkerut.  Ini
gawat, ibunya terlalu cerdik untuk dibohongi.
  “Tidak,  ini  memang  Han  Soon-Hee  temanmu,”  kata  ibunya  pasti.  “Memang
wajahnya  tidak  jelas,  tapi  lihat  tulang  pipinya  dan  senyumnya.  Ibu  yakin  seyakin-
yakinnya ini Han Soon-Hee yang kita kenal. Kau mau bertaruh dengan Ibu?”
  Young-Mi  tidak  menjawab.  Sepertinya  ibunya  juga  tidak  menginginkan  jawaban
karena ibunya tidak memandangnya.
  “Ternyata dia pacaran dengan Jung Tae-Woo si penyanyi itu, ya…?” gumam ibunya
sambil terus memerhatikan foto-foto dalam majalah. “Bagaimana bisa? Kau sudah tahu
tentang ini, Young-Mi?”
  Mata  Young-Mi  bertemu  pandang  dengan  ibunya,  ia  lalu  cepat-cepat  berkata,
“Mana aku tahu? Tidak, aku tidak tahu apa-apa.”

* * * 86

Jung Tae-Woo merasa senang siang itu. Perasaannya ringan sekali selama makan siang
tadi. Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika mereka berempat selesai makan
siang  dan  keluar  dari  restoran,  tiba-tiba  saja  begitu  banyak  orang  mencegat  mereka.
Para wartawan mulai berebut mengajukan pertanyaan dan kamera-kamera diarahkan
kepada mereka.
  “Jung Tae-Woo, benarkah ini Han Soon-Hee, kekasih Anda?”
  “Anda berempat sedang apa di sini, Jung Tae-Woo?”
  “Nyonya Choi, apakah Anda baru bertemu Han Soon-Hee ssi?”
  “Ada komentar, Han Soon-Hee ssi?”
  Tae-Woo  tidak  bisa  mendengar  kata-kata  lain  karena  semua  orang  berteriak
bersamaan.  Ia  merasakan  Sandy  membeku  di  sampingnya.  Ia  memahami  perasaan
gadis itu, ia sendiri  juga sangat terkejut karena mendadak  harus berhadapan dengan
kerumunan wartawan seperti ini. Dan dari mana mereka tahu nama Sandy?
  Suasana  menjadi  kacau.  Park  Hyun-Shik  berusaha  menenangkan  para  wartawan
yang  tidka  henti-hentinya  memotret.  Ibu  Tae-Woo  ikut  kebingungan,  tapi  tetap  bisa
bersikap  tenang.  Sandy  hanya  bisa  menunduk.  Secara  otomatis,  Tae-Woo  menarik
Sandy ke belakang punggungnya. Ia menyadari tubuh gadis itu tegang.
  Tepat  pada  saat  itu  mobil  mereka  sudah  diantarkan  ke  depan  restoran.  Tae-Woo
segera merangkul pundak Sandy dan menuntunnya menerobos kerumunan wartwan.
Sandy  dan  ibunya  berhasil  masuk  ke  mobil.  Lalu  ketika  Tae-Woo  ikut  masuk  dan
duduk di samping kemudi, Park Hyun-Shik sudah menyalakan mesin mobil.
  “Apa  yang  sedang  terjadi?”  tanya  Park  Hyun-Shik  ketika  mereka  melaju  di  jalan
raya.
  Tae-Woo  tidak  menjawab.  Ia  memutar  tubuhnya  dan  memandang  Sandy  yang
duduk di belakang bersama ibunya. “Kau tidak apa-apa?”
  Sandy  tidak  kelihatan  sehat.  Wajahnya  agak  pucat,  tapi  ia  memaksakan  seulas
senyum. “Ya.”
  “Bagaimana  mereka  bisa  tahu  nama  Sandy?”  Tae-Woo  bertanya  kepada
manajernya.
  Park Hyun-Shik menatapnya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan
raya. “Entahlah.”
  “Kalian  belum  memberi  keterangan  lengkap  tentang  Soon-Hee  pada  wartawan,
ya?”
  Tae-Woo  memandang  ibunya  yang  tampak  sangat  gelisah.  “Belum.  Memangnya
kenapa, Bu?”
  Ibu  Tae-Woo  agak  salah  tingkah  ketika  menjawab,  “Sepertinya  Ibu  yang  telah
membocorkannya kepada wartawan.” 87

  Tae-Woo hanya bisa mendengarkan dalam diam sementara ibunya menjelaskan apa
yang terjadi saat wawancara di toko buku. Park Hyun-Shik tidak berkomentar. Sandy
juga hanya duduk di sana tanpa suara.
  “Maafkan  Bibi,  Soon-Hee.  Bibi  tidak  sengaja.  Bibi  tidak  tahu  kalian  tidak  ingin
orang-orang tahu.”
  Sandy tersenyum lebar menenangkan wanita cantik itu. “Tidak apa-apa, Bibi. Bukan
masalah besar. Lagi pula cepat atau lambat mereka akan tahu juga.”
  Tae-Woo  menduga  Sandy  sebenarnya  risau,  hanya  saja  ia  tidak  mau
menunjukkannya karena takut ibunya merasa bersalah.
  “Benar,  ini  bukan  masalah  besar,”  kata  Park  Hyun-Shik  memecah  kesunyian.
“Sekarang  yang  penting  kita  antar  Sandy  pulang  dulu,  lalu  kita  ke  bandara  untuk
mengantar  Bibi.”  Ia  memandang  ibu  Tae-Woo  melalui  kaca  spion.  “Bibi  tidak  usah
khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.”


Ketika  mereka  tiba  di  gedung  apartemen  Sandy,  Tae-Woo  mengantarnya  sampai  ke
depan pintu apartemennya.
  “Oke,  aku  sudah  sampai,”  kata  Sandy  di  depan  pintu  apartemen.  “Pergilah.  Kau
masih harus mengantar ibumu ke bandara.”
  Tae-Woo  menatap  gadis  yang  berdiri  di  hadapannya  itu.  Walaupun  Sandy
tersenyum, Tae-Woo bisa melihat senyum itu bukan senyum ceria yang biasa.
  “Apa yang kaupikirkan sekarang?” tanya Tae-Woo.
  Mata  Sandy  tampak  menerawang.  Ia  menarik  napas  dalam-dalam  dan
mengembuskannya pelan. “Aku tidak tahu,” sahutnya. “Banyak sekali yang kupikirkan
sampai-sampai aku sendiri bingung.”
  Tae-Woo  tidak  mengatakan  apa-apa.  Ia  menunggu  karena  sepertinya  gadis  itu
masih ingin berkata-kata.
  “Semua  orang  sudah  tahu.  Apa  yang  harus  kulakukan  sekarang?”  tanya  Sandy,
lebih  kepada  dirinya  sendiri.  Tiba-tiba  matanya  melebar  dan  ia  menatap  cemas  Tae-
Woo.  “Orangtuaku.  Mereka  pasti  juga  akan  tahu.  Apa  yang  harus  kukatakan  pada
mereka?”
  Tae-Woo tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tapi tiba-tiba, saat
itu juga, ia sangat yakin akan satu hal. Ia tidak ingin gadis yang berdiri di hadapannya
itu mendapat kesulitan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal pada dirinya sendiri
karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur.
  Perlahan ia maju selangkah dan memeluk gadis itu. Sandy tidak menghindar. Entha
kenapa  Tae-Woo  merasa  segalanya  tepat  seperti  seharusnya  ketika  gadis  itu  dalam 88

pelukannya.  Seluruh  rasa  lelah  seolah  mengalir  keluar  dari  tubuhnya.  Ia  ingin  sekali
terus seperti ini. Ia ingin sekali tetap berdiri di sana dan memeluk Sandy selamanya.
  “Tidak usah dipikirkan,” kata Tae-Woo pelan. “Kau akan baik-baik saja. Percayalah
padaku.”
  Aku akan pastikan kau tidak mendapat masalah….
  Ia  melepaskan  pelukannya  dan  menatap  Sandy.  Sandy  menarik  napas  dan
tersenyum kecil.
  “Aku tahu,” kata Sandy  sambil mengangguk tegas. “Aku bisa mengatasinya. Kau
pergilah.”
  Tae-Woo menunggu sampai Sandy masuk ke apartemen sebelum berbalik pergi. Ia
berjalan  menuju  lift  tanpa  menyadari  ada  pria  berpostur  tinggi  besar  sedang
memerhatikan kepergiannya tidak jauh dari sana.


Sandy menutup pintu apartemen dan menarik napas panjang. Ia melemparkan tasnya
ke kursi lalu duduk di lantai.
  Kenapa  bisa  begini?  Acara  makan  siang  yang  menyenangkan  berubah  menjadi
kekacauan.  Sandy  tidak  bisa  menggambarkan  perasaannya  ketika  ia  keluar  dari
restoran  dan  tiba-tiba berhadapan  dengan  segerombolan  wartawan  yang  tidak  henti-
hentinya menjepretkan kamera, meneriakkan namanya, dan  mengajukan pertanyaan-
pertanyaan. Seakan kejadian yang dialaminya tadi tidak nyata, seperti mimpi.
  Apa yang harus ia lakukan? Apa yang sudah ia lakukan?
  Mungkin sejak awal seharusnya ia tidak terlibat dengan Jung Tae-Woo. Namanya
kini  sudah  tersebar  dan  mungkin  besok  wajahnya  akan  terpampang  jelas  di  tabloid-
tabloid. Sebenarnya hanya satu hal yang mencemaskannya, yaitu reaksi orangtuanya.
Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini kepada orangtuanya?
  Sandy  meraih  tas  dan  mengeluarkan  ponsel.  Baterai  ponsel  itu  masih  belum
dipasang.  Ia  menatap  ponselnya.  Apakah  ia  harus  menelepon  orangtuanya?  Kalau
orangtuanya  tahu,  mereka  pasti  tidak  akan  tinggal  diam,  apalagi  ibunya.  Meski  ia
menjelaskan  bahwa  semua  itu  tidak  benar  dan  sesungguhnya  ia  sama  sekali  tidak
punya  hubungan  apa  pun  dengan  Jung  Tae-Woo,  ia  yakin  keadaannya  tidak  akan
berbeda.
  Jung  Tae-Woo. Pikiran Sandy kembali melayang  ke saat ia berada dalam pelukan
laki-laki  itu.  Ketika  Jung  Tae-Woo  memeluknya,  waktu  seakan  berhenti  berputar.
Ketika  Jung  Tae-Woo  mengatakan  semuanya  akan  baik-baik  saja,  ia  benar-benar
percaya. Ketika Jung Tae-Woo melepaskan pelukannya, keyakinan diri itu hilang lagi.
Kenapa begini? 89

  Jung  Tae-Woo.  Sandy  tidak  sepenunya  jujur  pada  laki-laki  itu.  Apakah  ini  adil
baignya? Sandy bangkit dan menghampiri lemari kecil di samping televisi. Ia membuka
lemari  itu  dan  mengeluarkan  kantong  ungu  kecil  yang  terbuat  dari  kain  beludru.  Ia
membuka  ikatan  kantong  itu,  merogohnya  dan  mengeluarkan  bros  berbentuk  hati
berwarna merah mengilat dengan pinggiran keemasan. Sandy menatap bros di telapak
tangannya  itu  sambil  berpikir.  Sejak  awal  ia  seharusnya  tidak  boleh  terlibat  dengan
Jung Tae-Woo. Andai saja ia menolak…
  Tapi saat itu ia benar-benar ingin tahu.
  Apakah sekarang ia sudah mendapatkan jawaban?
  Bel pintu berbunyi, menarik pikiran Sandy kembali ke alam sadar. Sandy berjalan
tanpa suara ke pintu dan mengintip dari lubang kecil di pintunya. Ia melihat wajah Lee
Jeong-Su. Lagi-lagi dia. Sandy tidak ingin bicara dengannya, terlebih lagi saat ini.
  Lee  Jeong-Su  mengetuk  pintu  dan  berkata,  “Soon-Hee,  buka  pintunya.  Aku  tahu
kau ada di dalam.”
  Sandy mengerutkan kening. Ia tetap tidak bergerak dari balik pintu.
  “Kita harus bicara, Soon-Hee,” kata Lee Jeong-Su lagi. “Aku akan terus menunggu
di sini sampai kau mau membuka pintu.”
  Sandy  mendengus  pelan.  Terserah  saja,  katanya  dalam  hati.  Kau  mau  menunggu
sampai besok? Silakan. Ia membalikkan tubuh dan berjalan ke tempat tidur.

















 90


Sembilan




J AM  dinding  menunjukkan  pukul  00:52  ketika  Tae-Woo  tiba  di  rumah.  Ia
melemparkan  kunci  mobil  ke  meja  dan  mengempaskan  tubuh  ke  sofa.  Ia  mengusap
wajahnya dan melepaskan jaket. Hari ini benar-benar melelahkan. Setelah mengantar
Sandy  pulang  siang  tadi,  ia  dan  Park  Hyun-Shik  langsung  mengantar  ibunya  ke
bandara. Setelah itu Tae-Woo kembali disibukkan dengan jadwal kerjanya yang padat.
Tentu saja sepanjang hari itu ia terus dikejar-kejar wartawan yang tidak henti-hentinya
bertanya tentang Sandy, tapi Park Hyun-Shik menyuruhnya tidak berkomentar dulu.
Mereka harus membicarakan langkah selanjutnya dengan Sandy.
  Sejak  sore  tadi  Tae-Woo  ingin  menelepon  Sandy.  Ia  ingin  tahu  apakah  gadis  itu
baik-baik saja, tapi ia tidak punya waktu. Sekarang ia mengeluarkan ponsel dari saku
dan membuka flap-nya. Apakah sekarang sudah terlalu malam untuk menelepon?
  Sepertinya tidak ada salahnya mencoba.
  Tae-Woo menekan angka sembilan dan menempelkan ponsel ke telinga. Keningnya
agak berkerut ketika mendengar suara operator telepon yang memberitahunya telepon
yang  dihubungi  sedang  tidak  aktif.  Tae-Woo  menutup  kembali  ponselnya  dan
menimbang-nimbang.
  Baiklah,  hair  ini  tidak  perlu  diperpanjang  lagi.  Besok  ia  akan  langsung  pergi
menemui gadis itu.
  Setelah  mandi  dan  kembali  berpakaian—kaus  longgar  jingga  dan  celana  panjang
putih, Tae-Woo merasa lebih nyaman. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia
berjalan ke ruang duduk dan menyalakan televisi. Kemudian ia berjalan ke dapur yang
terletak tidak jauh dari ruang duduk dan membuka-buka lemari. 91

  “Tidak  ada  makanan.  Kenapa  Ibu  cuma  beli  mi  instan?”  gerutunya  sambil
mengeluarkan  sebungkus  mi  instan.  Ia  berbalik,  memandang  sekilas  televisi,  lalu
membungkuk  untuk  membuka  pintu  lemari  bagian  bawah.  Tiba-tiba  gerakannya
terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tubuh. Matanya terbelalak
menatap layar televisi.
  Layar  televisi  menampilkan  reporter  wanita  yang  melaporkan  berita  di  lokasi
kejadian. Di latar belakangnya terlihat gedung yang dilalap api. Para petugas pemadam
kebakaran  berlalu-lalang  dan  para  polisi  berusaha  menertibkan  orang-orang  yang
berkerumun  di  tempat  kejadian.  Suasana  sepertinya  hiruk  pikuk,  terdengar  teriakan
dan tangisan orang-orang.
  Tae-Woo  menyambar  remote  control  dan  mengeraskan  volume  televisinya  untuk
mendengar kata-kata si reporter.
  “…sampai sekarang pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api. Kami
belum mendapat konfirmasi apakah gedung apartemen itu sudah kosong atau belum.
Api begitu besar, kami berharap semua penghuni sudah berhasil keluar…”
  Mata  Tae-Woo  terpaku  pada  layar  televisi.  Tubuhnya  menegang,  jantungnya
berdebar begitu keras. Ini tidak mungkin. Mustahil itu gedung apartemen Sandy. Siang
tadi  ia  baru  saja  dari  sana.  Tuhan,  katakan  ini  tidak  benar.  Namun  si  reporter  kini
menyebutkan nama dan lokasi gedung yang sedang terbakar. Darah Tae-Woo langsung
terasa membeku.
  Tanpa  berpikir  lagi,  Tae-Woo  melemparkan  handuk  ke  lantai,  menyambar  kunci
mobil, dan keluar dari rumah.
  Ia  melajukan  mobil  dengan  kecepatan  penuh,  tangannya  mencengkeram  kemudi
erat-erat  sampai  buku-buku  jarinya  memutih.  Perasaannya  kacau…  gelisah…  takut.
Jantungnya  masih  terus  berdebar  keras  dan  seluruh  tubuhnya  terasa  dingin.  Ia
mencoba menghubungi ponsel Sandy tapi hasilnya masih tetap sama. Ponselnya tidak
aktif. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa semoga Sandy tidak apa-apa. Semoga Sandy
sudah keluar dan tidak terluka. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaan Sandy?
Bagaimana kalau…
  Astaga, ia bisa gila!
  Ketika ia hampir sampai di tempat kejadian, jalanan sudah ditutup sehingga tidak
ada mobil yang bisa lewat. Tae-Woo langsung melompat keluar dari mobil dan berlari
menerobos kerumunan orang. Suasana yng kacau dan udara yang begitu panas karena
asap dari kobaran api terasa begitu menyesakkan. Tae-Woo berlari ke sana kemari dan
melihat  ke  sekeliling,  mencari  sosok  Sandy.  Ia  berjalan  cepat  di  antara  orang-orang
sambil berteriak-teriak memanggil nama Sandy. Di mana gadis itu? 92

  Tae-Woo bolak-balik memutar kepala dan terus mencari. Tiba-tiba matanya terpaku
pada  sosok  yang  berdiri  agak  jauh  dari  kerumunan.  Orang  itu  hanya  mengenakan
piama, berdiri menatap gedung yang dilalap api dengan pandangan kosong.
  “Sandy!” Tae-Woo berseru namun gadis itu tetap bergeming.
  Rasa lega membanjiri dirinya ketika ia berlari menghampiri gadis itu.
  “Sandy…”  Kini  Tae-Woo  sudah  berdiri  di  samping  Sandy  dan  menyentuh
lengannya.
  Gadis  itu  menoleh  dengan  linglung  dan  Tae-Woo  melihat  wajahnya  kotor  karena
asap. Ada sinar ketakutan di mata besarnya. Ketika Tae-Woo memegang lengan Sandy,
ia baru menyadari tubuh gadis itu gemetaran.
  “Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?” tanya Tae-Woo dengan nada khawatir sambil
mengamati Sandy dari atas ke bawah. Gadis itu hanya mengenakan piama tanpa alas
kaki.  Rambutnya  tergerai  kusut  di  bahu  dan  kedua  tangannya  meremas  syal  basah
bermotif  kotak-kotak  hitam  dan  putih.  Syal  yang  diberikan  Tae-Woo  kepadanya
sewaktu acara jumpa penggemar dulu.
  Sandy  mengangguk  masih  dengan  raut  wajah  linglung.  “Ya,  aku  tidak  apa-apa,”
sahutnya pelan. Tae-Woo mendengar suaranya juga bergetar.
  Tae-Woo mengembuskan napas lega dan langsung memeluk gadis itu. “Syukurlah
kau tidak apa-apa.”
  “Aku tidak sempat membawa apa-apa,” gumam Sandy.
  Tae-Woo  merenggangkan  pelukannya  dan  menatap  Sandy  yang  sepertinya  masih
terguncang. “Tidak apa-apa. Asalkan kau selamat, itu sudah cukup. Ayo, ikut aku.”
  Sandy  menurut  dan  membiarkan  Tae-Woo  menuntunnya  ke  tempat  mobilnya
ditinggalkan.  Mata  Sandy  terus  terpaku  pada  api  yang  berkobar  dan  asap  yang
bergulung-gulung.
  Sepanjang perjalanan Sandy tidak berbicara dan Tae-Woo juga tidak mengajaknya
bicara. Ketika akhirnya mereka tiba di rumahnya, Tae-Woo baru menyadari rumahnya
terang benderang, pintu rumahnya lupa dikunci, dan televisinya lupa dimatikan karena
ia begitu terburu-buru keluar rumah tadi.
  “Kau duduk dulu di sini,” katanya sambil mendudukkan Sandy di sofa. “Aku akan
mengambil minuman untukmu.”
  Ketika  kembali  membawa  secangkir  teh  hangat,  ia  melihat  Sandy  menangis.
Sepertinya kesadaran gadis itu sudah kembali sepenuhnya dan akibat guncangan tadi
mulai terasa olehnya.
  Tae-Woo  meletakkan  cangkir  di  meja,  duduk  berhadapan  dengan  Sandy,  lalu
memandang khawatir gadis itu. “Ada yang sakit?” 93

  Sandy  menggeleng-geleng  sambil  menghapus  air  mata  dengan  punggung
tangannya. Lalu ia berbicara sambil terisak-isak. Dengan agak susah payah, Tae-Woo
mendengarkan  kata-kata  yang  tidak  terlalu  jelas  karena  diucapkan  sambil  menangis,
tapi ia bisa menarik kesimpulan dari kalimat Sandy yang kacau-balau.
  Sandy bercerita api itu berasal dari apartemen sebelah. Saat itu ia sedang menonton
televisi lalu tiba-tiba merasa panas dan susah bernapas. Kemudian segalanya menjadi
kacau. Alarm tanda kebakaran berbunyi  nyaring dan orang-orang berteriak.  Ia panik
dan  hanya  sempat  berpikir  harus  mengambil  sesuatu  untuk  menutupi  hidung  dan
mulutnya.  Ia  pun  menyambar  syal  pemberian  Tae-Woo  yang  tergeletak  di  samping
tempat tidurnya dan langsung berlari keluar dari apartemen.
  Tae-Woo  menyodorkan  sekotak  tisu  kepada  Sandy  dan  gadis  itu  menerimanya.
“Baiklah, aku sudah mengerti. Sudah, tidak apa-apa.”
  Sandy terlihat lebih tenang. Ia mengeringkan air mata dan membersihkan hidung.
Lalu ia memandang Tae-Woo dengan cemas. “Sekarang bagaimana?”
  “Di sini banyak kamar kosong. Sebaiknya malam ini kau tinggal di sini dulu.” Tae-
Woo menunjuk cangkir teh di meja. “Minumlah. Masalah lainnya kita pikirkan besok
saja.”
  Sandy mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya.  Walaupun Sandy masih
agak  tegang,  Tae-Woo  melihat  tangan  gadis  itu  sudah  tidak  gemetar  lagi.  Sandy
meminum tehnya pelan-pelan, lalu memandang piamanya yang kotor.
  Tae-Woo berdeham. “Ibuku tidak meninggalkan pakaiannya di sini, tapi kalau kau
tidak keberatan, aku bisa meminjamkan bajuku.”
  Sementara  Sandy  membersihkan  diri  dan  berganti  pakaian,  Tae-Woo  menelepon
manajernya dan menceritakan apa yang terjadi.
  “Baiklah,  aku  akan  ke  sana  besok  pagi,”  kata  Park  Hyun-Shik  sebelum  menutup
telepon. “Syukurlah dia tidak apa-apa.”
  Sandy  kembali  ke  ruang  duduk  ketika  Tae-Woo  menutup  telepon.  Tae-Woo
tersenyum kecil ketika melihat penampilan gadis itu. Sandy mengenakan kaus lengan
panjang  yang  kebesaran  untuknya,  dan  celana  panjang  yang  ujungnya  harus  dilipat
berkali-kali. Wajahnya sudah dibersihkan dan rambutnya basah karena baru keramas.
  “Boleh  aku  pinjam  teleponmu?”  tanya  Sandy.  “Aku  ingin  menelepon  temanku,
Young-Mi. Aku tidak tahu dia sudah dengar tentang kejadian ini atau belum. Kalaupun
sudah, aku hanya ingin memberitahunya aku baik-baik saja.”
  “Tentu  saja,”  sahut  Tae-Woo  sambil  menyodorkan  telepon  kepada  Sandy.  Ia
berjalan ke dapur untuk memberikan sedikit privasi, walaupun tentu saja dari sana ia
masih bisa mendengar ucapan gadis itu. 94

  “Young-Mi. Ini aku,” kata Sandy. “Oh, kau sudah tahu? … Tidak, tidak, aku baik-
baik saja. Kau tidak usah cemas… Sekarang?”
  Tae-Woo menyadari Sandy meliriknya sekilas.
  “Emm…  aku  di  rumah  teman,”  gumam  Sandy,  lalu  cepat-cepat  menambahkan,
“begini, Young-Mi, aku mau minta  tolong. Aku boleh pinjam pakaianmu? Aku tidak
sempat membawa apa-apa. Bahkan ponselku tidak sempat kuselamatkan… Besok pagi?
Terima kasih banyak… Oh, alamatnya?”
  Sandy menyebutkan alamat rumah Tae-Woo dan setelah itu menutup telepon.
  “Apa kata temanmu?” tanya Tae-Woo.
  “Dia sudah tahu tentang kebakaran itu dan sudah berusaha menghubungiku sejak
tadi. Katanya dia bisa meminjamkan pakaiannya untukku. Tadi dia menawarkan diri
untuk  mengantarkan  pakaiannya  ke  sini.  Kuharap  kau  tidak  keberatan  karena  aku
sudah memberikan alamat rumahmu kepadanya.”
  Tae-Woo hanya mengangkat bahu. “Dia temanmu yang kauceritakan itu, kan? Yang
sudah tahu segalanya tentang kita? Kurasa tidak masalah.”
  Sandy  mengangguk  dan  mengangsurkan  pesawat  telepon  yang  dipegangnya
kepada Tae-Woo. “Jung Tae-Woo ssi, bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?”
  Tae-Woo menerima teleponnya dan menunjuk ke arah televisi. “Dari televisi.”
  Sandy menatap Tae-Woo sambil tersenyum. “Kenapa rambutmu begitu?”
  Tangan  Tae-Woo  langsung  menyentuh  kepalanya.  Ia  baru  menyadari  rambutnya
acak-acakan. Ia baru ingat ia tadi sedang mengeringkan rambut ketika melihat berita
kebakaran  itu  di  televisi.  Saking  paniknya,  ia  langsung  melesat  keluar  tanpa
memikirkan penampilan.
  Tae-Woo  berdeham  dan  menyisir  rambut  dengan  jari-jari  tangannya.  “Tadi  baru
keramas,”  gumamnya  tidak  jelas,  lalu  kembali  menyodorkan  pesawat  telepon  yang
dipegangnya kepada Sandy. “Masih ada yang ingin kautelepon? Orangtuamu?”
  Sandy berpikir sejenak. “Orangtuaku ada di Jakarta. Kurasa mereka tidak akan tahu
tentang  gedung  apartemen  yang  terbakar  di  Korea.  Aku  juga  tidak  ingin  membuat
mereka khawatir. Lagi pula sekarang sudah larut sekali. Lain kali saja baru kuceritakan
kepada mereka.”
  “Baiklah,  terserah  kamu,”  kata  Tae-Woo.  “Sebaiknya  sekarang  kau  istirahat.  Ayo,
kuantar kau ke kamarmu.”
  Ia membawa Sandy ke kamar tamu di lantai dua. “Silakan,” kata Tae-Woo setelah
membuka pintu kamar itu.
  Sandy  mengangguk  dan  melangkah  masuk.  Ketika  berbalik,  Tae-Woo  mendengar
Sandy memanggilnya. Ia pun menoleh. 95

  Sandy berdiri di sana dengan tangan memegang pintu kamar yang terbuka. “Terima
kasih,” katanya sambil tersenyum kecil. “Untuk semuanya.”
  Tae-Woo membalas senyumnya. “Selamat malam.”


Ketika membuka mata keesokan harinya, Sandy tertegun sejenak sebelum menyadari ia
sedang berada di rumah Jung Tae-Woo. Ia bangun dan duduk bersila di tempat tidur.
Otaknya  memutar  kembali  kejadian  semalam.  Ia  tidak  bisa  melukiskan  perasaannya
ketika  kebakaran  itu  terjadi.  Sepertinya  saat  itu  ia  dalam  keadaan  setengah  sadar
karena  entah  bagaimana  ia  sudah  keluar  dari  gedung  dan  berdiri  di  tepi  jalan.
Semuanya terjadi begitu cepat dan samar. Dalam sekejap ia sudah tidak punya apa-apa
lagi.
  Sejak  menyadari  gedungnya  terbakar,  hati  Sandy  diserang  rasa  panik,  namun  ia
tahu ia harus tetap kuat dan tenang karena ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Namun ketika ia berdiri kebingungan di tepi jalan sambil memandang apartemennya
yang terbakar, Jung Tae-Woo datang. Sandy merasa begitu lega melihat pria itu. Tiba-
tiba ia tahu ia tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura takut. Ia
bisa melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sendirian lagi.
  Apa  yang  sedang  kupikirkan?  Sandy  menggeleng-geleng.  Sudah  jam  berapa
sekarang? Ia melihat jam kecil yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya.
Ternyata sudah pukul 09.25
  Sandy  turun  dari  tempat  tidur  dan  memandang  ke  sekelilingnya.  Kira-kira  pintu
apa di situ? Kamar mandi?
  Ketika Sandy memutar kenopnya, ternyata memang benar itu pintu kamar mandi.
Kamar  mandinya  cukup  besar,  ada  bak  mandi  dan  pancuran.  Di  sana  juga  sudah
tersedia  keperluan  dasar  seperti  sabun,  sikat  gigi,  pasta  gigi,  dan  handuk.  Ternyata
mereka sudah mempersiapkan semuanya bagi tamu yang mungkin datang menginap.
Kemarin Sandy tidak memakai kamar mandi yang ini, tapi kamar mandi lain di lantai
bawah, jadi ia cukup terkesan.
  Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia turun ke lantai bawah. Ia menuruni
tangga dengan perlahan sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
  “Sudah bangun?”
  Sandy  terlompat  kaget  mendengar  suara  Jung  Tae-Woo.  Ternyata  laki-laki  itu
sedang  duduk  di  meja  makan  sambil  tersenyum  kepadanya.  Ia  tidak  sendirian.  Park
Hyun-Shik juga duduk di sana sambil memegang surat kabar pagi.
  “Oh,  Paman  sudah  datang?”  Sandy  menghampiri  mereka  berdua.  “Maaf,  aku
terlambat bangun.” 96

  Ia  agak  risi  karena  Park  Hyun-Shik  terus  menatapnya  dengan  pandangan  penuh
arti.  Meski  bisa  menduga  paman  yang  satu  itu  sedang  memandangi  pakaiannya,  ia
bertanya juga, “Paman, kenapa melihatku seperti itu?”
  Park Hyun-Shik tersenyum dan menggeleng. “Tidak  apa-apa. Aku lega kau tidak
terluka. Ayo duduk. Mau sarapan? Ini ada roti.”
  “Terima kasih.”
  Park Hyun-Shik melipat koran dan meletakkannya di meja. “Tadi pagi aku mampir
ke  gedung  apartemenmu.  Kelihatannya  buruk.  Kurasa  tidak  ada  yang  tersisa.  Aku
dengar dari Tae-Woo apinya berasal dari apartemen di sebelah apartemenmu?”
  Sandy mengangguk.
  “Kalau begitu, kurasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan.”
  Sandy mendesah dan mengerutkan kening dengan cemas.
  “Apa rencanamu selanjutnya?” Park Hyun-Shik bertanya.
  Sandy memandangnya. “Belum tahu. Mencari tempat tinggal baru mungkin. Aku
masih punya uang di bank, tapi…”
  “Kau akan tinggal di mana? Bisa tinggal bersama teman?”
  Sandy  berpikir-pikir.  “Temanku  hanya  Kang  Young-Mi  dan  dia  pasti  akan
mengizinkan aku tinggal di rumahnya untuk sementara. Masalahnya, rumahnya tidak
besar dan selain dia dan orangtuanya, masih ada dua adik laki-laki. Kalau aku tinggal
di sana, kurasa aku hanya akan merepotkan mereka.”
  Park Hyun-Shik menatap Jung Tae-Woo, lalu kembali menatap Sandy. “Bagaimana
kalau kau tinggal di sini saja dulu untuk sementara?”
  Sandy tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah Jung Tae-Woo dan buru-buru
menjawab, “Oh, itu tidak perlu. Itu—“
  “Kenapa tidak di rumah Hyong saja?” sela Jung Tae-Woo.
  Park  Hyun-Shik  tertawa  kecil.  “Kau  tahu  sendiri  di  apartemenku  hanya  ada  satu
kamar  tidur.  Kau  mau  dia  tidur  sekamar  denganku?  Di  rumahmu  ini  ada  banyak
kamar, jadi seharusnya tidak ada masalah.”
  Sandy  merasa  wajahnya  panas.  Apa  yang  sedang  mereka  bicarakan?  “Tidak,  itu
tidak perlu,” katanya. “Aku akan segera mencari tempat tinggal baru.”
  Jung  Tae-Woo  mengerutkan  dahi  dan  memandangnya.  “Kaukira  kau  bisa
mendapatkan tempat tinggal yang cocok dalam satu hari?”
  “Soal itu…” Sandy tidak tahu harus berkata apa.
  Jung  Tae-Woo  akhirnya  mengangguk  dan  mendesah.  “Kurasa  yang  dikatakan
Hyong benar.”
  Park  Hyun-Shik  menyandarkan  punggung  ke  kursi  dan  melipat  tangan  di  depan
dada. “Baiklah, kita putuskan begitu saja. Untuk sementara Sandy akan tinggal di sini 97

sambil mencari tempat tinggal baru. Tentu saja aku juga akan membantumu mencari.
Katakan saja padaku tempat seperti apa yang kauinginkan.”
  “Ini…,” Sandy memandang Jung Tae-Woo. “Tapi aku… Apakah tidak apa-apa?”
  Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Kurasa kau tidak punya pilihan lain, kan? Atau
kau mau pulang ke Indonesia?”
  “Aku masih harus kuliah.”
  “Kalau begitu, kau memang tidak punya pilihan,” kata Jung Tae-Woo.
  “Tapi…”
  Jung Tae-Woo menatapnya. “Kenapa? Kau takut padaku?”
  Sandy membelalakkan mata. “Ah, tidak. Bukan begitu.”
  Park Hyun-Shik tertawa dan berkata pada Sandy, “Kau boleh tenang, Sandy. Kau
pastinya juga sudah tahu Tae-Woo digosipkan sebagai gay, bukan playboy.”
  Sontak  wajah  Tae-Woo  menampilkan  ekspresi  kesal.  Sandy  ikut  tertawa  melihat
raut wajahnya.
  Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu. Jung Tae-Woo bangkit dari kursi dan berjalan
ke pintu. Lalu, “Oi, Sandy,” panggilnya.
  “Ada apa?” Sandy berdiri dan menyusulnya ke pintu.
  Jung Tae-Woo menunjuk ke monitor kecil di samping pintu. Ternyata monitor itu
menunjukkan siapa yang sedang berada di depan pintu rumah. Sandy melihat wajah
gadis bermata sipit dengan rambut dikucir dan tangan memeluk kantong kertas.
  “Itu temanmu?” tanya Jung Tae-Woo memastikan.
  “Ya. Itu Young-Mi,” kata Sandy.
  Sandy bisa melihat temannya nyaris pingsan karena sesak napas begitu mendapati
Jung Tae-Woo yang membukakan pintu untuknya. Mata Young-Mi yang sipit melebar
dan  salah  satu  tangannya  langsung  naik  ke  dada  seakan  untuk menahan  jantungnya
supaya tidak jatuh.
  “Young-Mi, kau tidak apa-apa?” tegur Sandy sambil menyentuh lengan Young-Mi
yang tiba-tiba kaku.
  Dengan  agak  tergagap-gagap,  Young-Mi  mengucapkan  selamat  pagi  kepada  Jung
Tae-Woo  sambil  membungkukkan  badan.  Jung  Tae-Woo  membalas  salamnya  dan
mempersilakannya masuk.
  “Astaga,  aku  tidak  percaya  ini,”  bisik  Young-Mi  ketika  ia  duduk  di  sofa  panjang
ruang duduk dan melihat ke sekeliling. Saat itu Jung Tae-Woo sudah berjalan kembali
ke ruang makan, meninggalkan mereka berdua di ruang duduk.
  “Kenapa kau ini?” goda Sandy sambil menyikut lengan temannya.
  Young-Mi  menatap  Sandy  dengan  mata  berbinar-binar.  “Aku  tidak  percaya  aku
baru saja bertemu Jung Tae-Woo dan sekarang berada di dalam rumahnya. Aku duduk 98

di  sofanya.  Aku  menginjak  lantai  rumahnya.  Astaga!  Hei,  kenapa  kemarin  kau  tidak
bilang kau berada di rumah Jung Tae-Woo?”
  Sandymeringis  melihat  tingkah  temannya.  “Hei,  temanmu  ini  baru  mengalami
bencana.”
  Young-Mi berpaling dengan cepat ke arah Sandy. “Oh, ya, maaf. Aku lega kau tidak
apa-apa. Ini kubawakan beberapa pakaian. Pakaian dalam juga. Pakaian dalamnya baru
kubeli tadi pagi. Baju-baju itu punyaku. Ukurannya pasti cocok untukmu.”
  Sandy menerima kantong kertas yang disodorkan Young-Mi. “Terima kasih banyak.
Aku pasti akan mengembalikannya nanti.”
  Young-Mi  mengibaskan  tangan.  “Tidak  usah  dipikirkan.  Lalu  selanjutnya
bagaimana?”
  Alis Sandy terangkat. “Mm?”
  “Kau tahu kau bisa tinggal di rumah kami. Kami tidak akan keberatan sama sekali.”
  Sandy tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih  banyak. Tapi kurasa tidak perlu. Aku
pasti hanya akan merepotkan kalian.”
  Mata  Young-Mi  melebar.  “Merepotkan  bagaimana?  Kau  boleh  tidur  denganku
Young-Joon dan Young-Ho bisa pindah tidur di ruang tengah—“
  “Mana mungkin aku membiarkan adik-adikmu tidur di ruang tengah?” sela Sandy.
“Aku tahu kalian akan dengan senang hati menerimaku, tapi aku sendiri akan merasa
tidak enak kalau begitu.”
  Young-Mi terdiam sesaat, lalu berkata, “Kalau begitu kau akan tinggal di mana?”
  Sandy berdeham. “Aku akan mencari tempat tinggal baru.”
  “Hei, kaukira kau bisa mendapatkan tempat tinggal baru dalam satu hari? Selama
kau mencari kau akan tinggal di mana?”
  Nah, kenapa kata-kata temannya ini persis seperti kata-kata Jung Tae-Woo? Sandy
memiringkan kepala dan berkata ragu, “Kurasa aku akan tinggal di… sini…”
  Sandy  melihat  Young-Mi  menahan  napas  dan  menatapnya  kaget.  Lalu  Young-Mi
mengerjapkan mata. “Di sini? Di rumah Jung Tae-Woo?”
  “Di  sini  banyak  kamar  kosong,”Sandy  mengulangi  kata-kata  Paman  Park  Hyun-
Shik tadi. “Jadi kurasa… Ah, lagi pula Jung Tae-Woo ssi yang menawarkan.”
  Tidak, sebenarnya tidak persis begitu, tapi kira-kira seperti itulah.
  “Kau yakin?” tanya Young-Mi ragu.
  “Aku tidak punya pilihan lain.” Kali ini giliran kata-kata Jung Tae-Woo yang Sandy
pinjam.
  Tepat pada saat itu Park Hyun-Shik masuk ke ruang duduk bersama Jung Tae-Woo.
Young-Mi yang melihat kedatang mereka langsung melompat berdiri seperti disengah
lebah. Park Hyun-Shik pun menyunggingkan senyumnya yang menawan. 99

  “Kau teman Sandy?” tanyanya ramah. “Apa kabar? Namaku Park Hyun-Shik.”
  Sandy  agak  geli  melihat  temannya  yang  biasanya  begitu  cerdas  tiba-tiba  berubah
menjadi agar-agar di depan dua pria tampan.
  “Ehm… Apa kabar? … N-nama saya Kang Young-Mi.”
  “Tidak usah bersikap resmi seperti itu,” kata Park Hyun-Shik. “Kau teman Sandy,
itu artinya kau teman kami juga. Oh ya, apakah Sandy sudah mengatakan padamu dia
akan tinggal di sini untuk sementara?”
  Young-Mi melirik Sandy dan menjawab, “Sudah, tentu saja sudah. Tenang saja, aku
tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa.”
  “Terima kasih banyak. Kami sangat menghargainya.”
  Jung Tae-Woo juga ikut tersenyum kepada Young-Mi dan Sandy merasa temannya
sudah hampir ambruk ke lantai. “Maaf, tidak bisa mengobrol denganmu. Kami harus
pergi  sekarang,  tapi  kau  bisa  menemani  Sandy  di  sini.  Pasti  kalian  ingin  mengobrol
banyak. Anggap saja rumah sendiri.”
  “Ooh… tentu saja. Terima kasih,” bisik Young-Mi sambil tersenyum lebar.
  Jung Tae-Woo berpaling kepada Sandy. “Apa yang akan kaulakukan hari ini?”
  “Nanti aku akan keluar sebentar. Ada yang harus kubeli,” kata Sandy. “Aku juga
ingin mampir dan melihat kondisi apartemenku.”
  “Sendiri?”
  “Oh, Young-Mi akan menemaniku. Ya, kan?”
  Young-Mi  cepat-cepat  mengangguk  dan  memasang  senyum  termanisnya  ketika
Jung Tae-Woo berpaling memandangnya.
  Jung Tae-Woo mengangguk dan kembali menatap Sandy. “Baiklah, kunci cadangan
ada  di  laci  sebelah  sana.  Jangan  lupa  mengunci  pintu  kalau  kau  keluar.  Aku  akan
meneleponmu nanti. Aku pergi dulu.”
  Keempat orang itu saling bertukar kalimat “selamat jalan dan sampai nanti”. Lalu
setelah kedua laki-laki itu pergi dengan mobil masing-masing, seperti air bah, Young-
Mi  menumpahkan  semua  kata  yang  dipendamnya  sejak  tadi,  “Wah,  mereka  berdua
tampan sekali. Yang satu lagi itu siapa? Artis juga?”
  Sandy tertawa. “Bukan, paman itu manajer Jung Tae-Woo.”
  Young-Min  mengangguk-angguk.  “Manajernya?  Namanya  Park  Hyun-Shik,  ya?
Tapi kenapa kau memanggilnya „paman‟? Dia masih muda begitu.”
  Sandy hanya menggeleng dan tersenyum.
  “Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sandy ketika melihat Young-Mi menatapnya
dengan mata disipitkan.
  “Aku ingin tanya, kau yakin tidak ada hubungan istimewa antara kau dan Jung Tae-
Woo? Kau hanya menjadi pacarnya dalam foto? Hanya itu?”   “Begitulah. Kenapa?”
  “Kau  yakin?  Lalu  kenapa  aku  merasa  kalian  terlihat  seperti  suami-istri.  Dan—
astaga, aku baru sadar kau memakai pakaian laki-laki. Pakaiannya?”
  Sandy  menunduk  memandang  baju  Tae-Woo  yang  kebesaran  untuknya.  Bingung
harus berkata apa. Untungnya sandy tidak perlu menjawab karena Young-Mi tiba-tiba
berkata, “Oh ya, aku hampir lupa memberitahumu Lee Jeong-Su meneleponku kemarin
malam.”
  Sandy mengangkat wajahnya. “Oh?”
  Young-Mi  melanjutkan,  “Karena  tidak  bisa  menghubungimu,  dia  meneleponku
untuk  menanyakan  kabarmu.  Kukatakan  padanya  kau  tidak  apa-apa,  tapi  kemudian
dia ingin tahu kau berada di mana.”
  “Kau bilang apa?”
  “Tidak  bilang  apa-apa.  Kemarin  malam  kupikir  kau  bermalam  di  rumah  salah
seorang temanmu atau semacamnya. Itu yang kukatakan pada Lee Jeong-Su. Hari ini
aku baru tahu kau ada di rumah Jung Tae-Woo.”
  “Kau tidak akan memberitahunya, kan?”
  “Memangnya  aku  bodoh?  Tentu  saja  tidak,”  sahut  Young-Mi  tegas.  “Sudahlah,
jangan bicarakan Lee Jeong-Su lagi. Ayo, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi
kemarin malam. Tentang kebakaran itu dan bagaimana kau bisa berakhir di sini. Ada
lagi, apa yang harus kukatakan pada ibuku? Ibu menyuruhku memintamu tinggal di
rumah kami.”





 101


Sepuluh




E NTAH  sudah  yang  keberapa  kalinya  Park  Hyun-Shik  melihat  Tae-Woo  sedang
menelepon.  Jadwal  kerja  Tae-Woo  hari  ini  cukup  padat,  tapi  ia  selalu  telrihat
menelepon  setiap  kali  ada  waktu  luang.  Tanpa  perlu  bertanya,  Park  Hyun-Shik  tahu
siapa yang sedang dihubunginya.
  “Tae-Woo,  kau  mau  terus  menelepon  sampai  kapan?  Kau  harus  tampil  sebentar
lagi,” tegur Park Hyun-Shik sambil menepuk punggung temannya.
  Tae-Woo  yang  sedang  duduk  di  kursi  putar  dengan  kaki  terjulur  tersentak  dan
menutup ponselnya. “Oh, Hyong.”
  “Ada apa? Kenapa wajahmu kusut begitu?”
  “Tidak ada di rumah.” Tae-Woo seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri.
  Park Hyun-Shik pura-pura tidak tahu siapa yang dimaksud Tae-Woo. “Siapa?”
  Tae-Woo mendesah. “Sudah. Lupakan, tidak ada apa-apa.”
  “Sebaiknya kau bersiap-siap,” ia mengingatkan Tae-Woo sekali lagi.
  Kali ini Tae-Woo menoleh ke arahnya dan bertanya, “Hyong, setelah ini aku tidak
punya jadwal kerja lagi, kan?”


Sandy  baru  saja  masuk  ke  rumah  ketika  ia  mendengar  telepon  rumah  berdering.  Ia
menutup  pintu  dan  meletakkan  kunci  di  meja.  Harus  diangkat  atau  tidak?
Bagaimanapun  ini  rumah  Jung  Tae-Woo  dan  ia  tidak  bisa  sembarangan  menjawab
teleponnya. Akhirnya ia membiarkan mesin penjawab telepon yang menerima.
  “Kalau kau ada di rumah, angkat teleponnya.” 102

  Sandy kaget mendengar suara Jung Tae-Woo di mesin. Ia cepat-cepat mengangkat
telepon. “Halo?”
  “Akhirnya kau menjawab juga. Aku sudah mencoba menghubungimu sejak tadi.”
Suara Jung Tae-Woo terdengar agak jengkel.
  Sandy melirik jam tangannya. “Oh, aku tidak sadar sudah sore. Ada apa mencariku?
Ada yang harus kulakukan?”
  “Tidak juga.”
  “Lalu kenapa?”
  “Hanya ingin tahu keadaanmu.”
  Sandy tersenyum sendiri. “Aku baik-baik saja. Sekarang kau di mana?”
  “Di jalan. Aku akan pulang sebentar lagi.”
  “Mmm,  kau  mau  kubuatkan  makan  malam?”  tanya  Sandy  sambil  menimbang-
nimbang. “Aku memang tidak bisa memasak, tapi aku bisa membuat bibimbab* atau…”
  Ia mendengar Jung Tae-Woo tertawa di ujung sana. “Aku belum seberani itu untuk
mencoba masakan orang yang mengaku tidak bisa memasak.”
  “Aku hanya ingin berterima kasih padamu,” protes Sandy.
  “Sudahlah, tidak usah. Hari ini kita makan di luar saja. Aku yang traktir.”
  “Makan di luar? Kau ini bagaimana? Kau ingin orang-orang melihat kita?”
  “Kalau dilihat pun kenapa? Bukankah kemarin wartawan sudah terlanjur tahu siapa
dirimu?”
  Sandy  tepekur.  Benarkah  hal  itu  baru  terjadi  kemarin?  Kenapa  sepertinya  sudah
lama sekali?
  “Sebentar  lagi  wajahmu  akan  terpampang  jelas  di  tabloid.  Apa  lagi  yang  bisa
disembunyikan?  Seluruh  Korea  akan  tahu  kau  kekasihku.  Apakah  aku  tidak  boleh
makan malam dengan kekasihku sendiri?”
  Sandy  merasa  jantungnya  seakan  berhenti  berdegap  dan  napasnya  tertahan.  Apa
yang terjadi pada dirinya?
  “Halo? Sandy, kau masih di sana?”
  Sandy tersentak. “Ya… ya.”
  “Ya sudah, aku tutup dulu.”
  Perlahan Sandy meletakkan telepon. Ada apa dengannya? Ketika tadi Jung Tae-Woo
berkata…
  Sandy  menepuk  pipi  dengan  kedua  tangannya.  “Sandy,  sadarlah,”  katanya  pada
dirinya sendiri. “Banyak hal yang lebih penting yang harus kaupikirkan.”

* * *

*Nasi campur khas Korea dengan berbagai macam sayuran dan bumbu lada merah kental. 103

“Jung  Tae-Woo  ssi,  kau  serius  mau  makan  di  sini?”  Sandy  tahu  suaranya  terdengar
khawatir.
  Ia dan Jung Tae-Woo sedang berada di dalam lift yang membawa mereka ke lantai
teratas gedung hotel itu. Setelah tahu Jung Tae-Woo akan mengajaknya makan malam
di restoran hotel mewah, ia tidak bisa menekan rasa cemas di hatinya.
  “Memangnya kenapa?” tanya Jung Tae-Woo tanpa menatap Sandy.
  Sandy merentangkan tangan. “Lihat pakaianku. Aku tidak bisa masuk ke restoran
itu.  Bisa-bisa  aku  diusir.”  Ia  hanya  mengenakan  kemeja  lengan  pendek  dan  celana
panjang jins milik Young-Mi.
  “Siapa  yang  berani  mengusirmu?”  tukas  Jung  Tae-Woo.  “Tidak  ada  yang  salah
dengan pakaianmu. Ayo, masuk.”
  Pintu lift terbuka dan tanpa menunggu komentar Sandy lebih lanjut, Jung Tae-Woo
berjalan  sambil  menarik  tangan  gadis  itu.  Mereka  masuk  ke  restoran  dan  segera
disambut  salah  satu  pelayan  yang  langsung  mengantarkan  mereka  ke  meja  untuk
berdua di dekat jendela kaca besar. Restoran itu cukup sepi, lampu-lampunya menyala
redup menciptakan suasana remang-remang. Selain suara percakapan yang sepertinya
dilakukan  dengan  berisik,  terdengar  alunan  lembut  musik  jazz.  Tidak  banyak  tamu
yang terlihat dan itu bukan hal yang mengherankan. Tentunya hanya orang-orang dari
kalangan kelas ataslah yang bisa makan di tempat seperti ini.
  “Wah,  bagus  sekali,”  Sandy  bergumam  senang  ketika  melihat  ke  luar  jendela.
Pemandangan malam kota Seoul dari ketinggian memang menakjubkan. “Kita ada di
lantai berapa ya? Tinggi sekali.”
  “Ah, aku lupa,” kata Jung Tae-Woo tiba-tiba.
  Sandy menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya-tanya.
  “Kau tunggu di sini sebentar. Aku harus mengambil sesuatu,” kata Jung Tae-Woo
sambil bangkit dari kursi.
  “Oke.  Jangan lama-lama,” sahut  Sandy. Lalu ia kembali mengagumi kerlap-kerlip
cahaya lampu kota Seoul di bawah sana.
  Beberapa  menit  berlalu  dan  Jung  Tae-Woo  belum  kembali.  Sandy  mendesah  dan
memandang ke sekeliling ruangan. Akhirnya ia bangkit dan berjalan ke toilet. Ketika
Sandy  keluar  dari  toilet  dan  sedang  berjalan  kembali  ke  mejanya,  ia  mendengar
seseorang  memanggil namanya.  Sandy berbalik  mengikuti sumber suara dan melihat
wanita  cantik  bertubuh  langsing  dan  tinggi  sedang  melambai  ke  arahnya  sambil
tersenyum  lebar.  Perasaan  Sandy  langsung  tidak  enak  begitu  melihat  wanita  itu.
Perasaannya  pun  bertambah  berat  seiring  langkah  yang  diambil  wanita  itu  untuk
mendekati dirinya. 104

  “Wah, Han Soon-Hee. Apa kabar? Aku tidak menyangka bisa berjumpa denganmu
di  sini,”  sapa  wanita  itu  dengan  ramah,  tapi  bagi  telinga  Sandy  keramahan  itu
terdengar dibuat-buat, sama seperti senyumnya.
  Sandy hanya tersenyum samar. “Apa kabar, son-bae*? Lama tidak bertemu.”
  Jin Da-Rae mengibaskan rambut panjangnya dan berkata, “Jeong-Su ssi akan ke sini
sebentar  lagi.  Kau  sendirian?”  Namun  tanpa  menunggu  jawaban  Sandy,  Jin  Da-Rae
meneruskan, “Kebetulan aku bertemu denganmu, ada yang ingin kubicarakan.”
  Sandy diam saja, berdiri bergeming, dan menunggu kata-kata selanjutnya.
  Jin  Da-Rae  menatap  Sandy  dalam-dalam.  “Aku  sudah  mendengar  tentang
apartemenmu yang terbakar dari Jeong-Su ssi. Aku senang kau selamat. Tapi aku agak
mengkhawatirkan Jeong-Su ssi.”
  Alis Sandy terangkat kaget. Apa yang sedang dia bicarakan?
  “Aku  tidak  suka  berputar-putar,  jadi  aku  akan  bicara  langsung  saja.  Aku  melihat
Jeong-Su  ssi  ikut  cemas  karena  kejadian  yang  kaualami.  Padahal  seharusnya  ia  tidak
perlu  repot-repot  seperti  itu  karena  kau  baik-baik  saja.  Ya,  kan?  Bagaimanapun  juga
hubungan kalian sudah lama berakhir. Masalahmu sudah bukan masalahnya lagi.”
  Sandy tersenyum pahit. “Son-bae—“
  “Oh, Soon-Hee.”
  Sandy menoleh dan melihat Lee Jeong-Su menghampiri mereka. Ia mendesah dan
berpikir kenapa kedua orang itu bisa datang ke tempat ini pada saat yang sama dengan
dirinya.
  “Kau  baik-baik  saja,  kan?”  tanya  Lee  Jeong-Su  sambil  menatap  Sandy  dari  ujung
kepala sampai ke ujung kaki. Sandy merasa risi diamati seperti itu, apalagi Jin Da-Rae
juga sedang menatapnya tajam.
  “Kau  lihat  sendiri,  dia  tidak  apa-apa,”  sela  Jin  Da-Rae  sambil  menyelipkan
lengannya ke lengan Lee Jeong-Su. “Benar, bukan, Soon-Hee?”
  Sandy meringis. “Ya, seperti yang bisa kalian lihat.”
  “Kau  sekarang  tinggal  di  mana?”  tanya  Lee  Jeong-Su  lagi  dan  Sandy  melihat  air
muka Jin Da-Rae langsung berubah.
  “Di rumah teman,” jawab Sandy pendek.
  “Oh ya, kau sendirian? Bagaimana kalau bergabung dengan kami?” tanya Jeong-Su
mengalihkan pembicaraan.
  Astaga. Apakah kedua orang itu sungguh-sungguh berpikir ia sudah begitu putus
asanya sampai memutuskan untuk datang ke restoran semewah ini sendirian?



* kakak kelas. 105

  Jin Da-Rae menarik lengan Lee Jeong-Su dan cepat-cepat menyela, “Tadi Soon-Hee
bilang  dia  sedang  menunggu  temannya.  Nanti  temannya  malah  merasa  tidak  enak
kalau diajak bergabung karena tidak kenal dengan kita.”
  Sandy  ingin  sekali  tertawa  keras-keras  melihat  sikap  kakak  kelasnya  yang  seperti
anak berumur lima tahun yang tidak mau melepaskan boneka beruang kesukaannya.
Kapan  ia  pernah  memberitahu  Jin  Da-Rae  ia  sedang  menunggu  seseorang?  Tapi
herannya tebakan wanita itu benar. Ia memang sedang menunggu Jung Tae-Woo.
  “Maaf, sudah menunggu lama?”
  Sandy  dan  dua  orang  yang  berdiri  di  hadapannya  itu  serentak  menoleh  ke  arah
sumber suara. Jung Tae-Woo menghampiri Sandy sambil tersenyum lebar dan dengan
kedua  tangan  di  belakang  punggung.  Sandy  mendengar  sentakan  napas  Jin  Da-Rae.
Ada  sedikit  rasa  puas  di  hati  Sandy  ketika  melihat  Jung  Tae-Woo  muncul,  apalagi
didukung kenyataan bahwa Jung Tae-Woo artis terkenal.
  “Sudah menunggu lama?” tanya Jung Tae-Woo sekali lagi sambil menatap lurus ke
arah Sandy, mengabaikan dua orang yang ada di dekatnya.
  “Oh, tidak. Tidak lama,” sahut Sandy agak linglung.
  “Tadi aku pergi membeli ini,” kata Jung Tae-Woo.
  Sandy  tercengang  melihat  seikat  besar  mawar  merah  yang  disodorkan  Jung  Tae-
Woo ke arahnya.
  Setelah Sandy menerima bunga yang disodorkan Jung Tae-Woo, laki-laki itu seakan
baru menyadari kehadiran dua orang lain yang melongo memerhatikan mereka. “Oh,
maafkan saya. Saya tidak melihat Anda tadi. Apa kabar? Anda teman-teman Sandy, ah,
maksudku Soon-Hee?”
  Sandy  melihat  mata  Jin  Da-Rae  berkilat-kilat,  tatapannya  tertuju  lekat  pada  Jung
Tae-Woo. “Anda Jung Tae-Woo ssi, bukan?” tanyanya bersemangat.
  “Benar,” kata Jung Tae-Woo ramah. “Dan hari ini saya berencana menikmati makan
malam yang romantis.” Ia mengangkat sebelah tangannya dan merangkul bahu Sandy.
  Sandy  menatap  Jung  Tae-Woo  dengan  pandangan  terkejut,  kemudian  matanya
ganti memandang dua orang di hadapannya yang juga sedang menatapnya bingung.
  “Sepertinya Anda berdua juga ingin menikmati makan malam yang romantis,” Jung
Tae-Woo melanjutkan dengan nada ramah seperti tadi. “Kami tidak akan mengganggu
acara Anda lebih lama lagi. Senang berjumpa Anda berdua.”
  Selesai  berkata  begitu,  dengan  masih  merangkul  bahu  Sandy,  Jung  Tae-Woo
menuntunnya kembali ke meja mereka.
  “Terima kasih atas mawarnya,” kata Sandy ketika mereka sudah duduk kembali. Ia
memandang bunga pemberian Jung Tae-Woo dengan gembira.
  “Kau suka?” 106

  “Mm, suka sekali.” Sandy menatap Jung Tae-Woo sambil tersenyum. “Kau sering
memberikan bunga untuk wanita?”
  Laki-laki itu hanya meringis. “Menurutmu begitu?”
  “Ngomong-ngomong, memangnya hari ini hari apa?”
  “Kenapa?”
  “Kita makan di restoran mewah. Lalu mawar ini.” Sandy menatap Jung  Tae-Woo
sambil berusaha mengingat. “Hari ini hari ulang tahunmu?”
  Jung  Tae-Woo  tertawa.  “Kalau  aku  yang  berulang  tahun,  kenapa  aku  yang
memberimu bunga? Bukankah seharusnya aku yang menerima hadiah?”
  Sandy berpikir-pikir lagi. “Kau baru tanda tangan kontrak baru atau semacamnya?”
  “Tidak juga.”
  “Lalu kenapa?”
  Jung Tae-Woo tersenyum lebar. “Nanti kau akan tahu sendiri.”
  Sandy memiringkan kepala, lalu mengangkat bahu.
  “Laki-laki yang tadi itu mantan pacarmu?” tanya Jung Tae-Woo dengan hati-hati.
  Sandy  mendesah.  “Mm,  dan  wanita  yang  bersamanya  itu  kakak  kelasku  yang
sekarang menjadi pacarnya.”
  Jung Tae-Woo menatapnya. “Kau ingin kita pergi ke tempat lain?”
  Sandy tertawa. “Untuk apa?”
  Jung Tae-Woo masih terlihat kurang yakin.
  “Tidak apa-apa,” kata Sandy menenangkan. “Bukankah ada kau yang menemaniku
di sini?”
  Jung Tae-Woo tersenyum. “Benar, ada aku di sini. Nah, sekarang kau mau makan
apa?”


Lee Jeong-Su tidak menikmati makan malamnya. Ia terus-menerus melirik ke arah meja
Soon-Hee  dan  Jung  Tae-Woo.  Ia  berharap  gadis  itu  menoleh  ke  arahnya,  tapi
kenyataannya Soon-Hee tidak meliriknya sama sekali. Gadis itu mengobrol dan tertawa
gembira  dengan  Jung  Tae-Woo.  Tentu  saja  Jeong-Su  sudah  pernah  membaca  tentang
hubungan  Jung  Tae-Woo  dengan  Soon-Hee,  tapi  waktu  itu  ia  masih  tidak  ingin
percaya. Hari ini Jeong-Su benar-benar melihat mereka berdua dengan mata kepalanya
sendiri dan ternyata memang seperti yang ditulis di tabloid. Ia harus mengakui ia sama
sekali tidak ingin melihat mereka berdua bersama.
  “Jeong-Su ssi, aku sedang bicara padamu.” 107

  Jeong-Su  tersentak  dan  menatap  wanita  yang  duduk  di  hadapannya.  Jin  Da-Rae
memang  wanita  yang  cantik  dan  menawan.  Wanita  itulah  alasannya  meninggalkan
Soon-Hee dulu. Tapi sekarang sepertinya ada sedikit penyesalan dalam hatinya.
  “Aku tidak menyangka Soon-Hee punya teman yang terkenal seperti Jung Tae-Woo.
Bagaimana bisa?” kata Jin Da-Rae sambil mengerutkan kening. “Aku memang pernah
membaca di majalah tentang  hubungan  Jung Tae-Woo dengan wanita yang  bernama
Han Soon-Hee, tapi aku tidak menyangka berita itu benar dan wanita yang dimaksud
adalah Han Soon-Hee yang ini.”
  Jeong-Su hanya bergumam tidak jelas menanggapi perkataannya.
  “Nah,  kau  sudah  tidak  perlu  mengkhawatirkannya  karena  sekarang  dia  sudah
punya pacar yang terkenal,” Jin Da-Rae melanjutkan tanpa memandang Jeong-Su.
  Jeong-Su  bergumam  sekali  lagi  dan  melirik  ke  arah  Soon-Hee.  Gadis  itu  tertawa
sambil menutup mulut dengan sebelah tangan, sedangkan Jung Tae-Woo menatapnya
sambil  tertawa  kecil.  Apa  yang  mereka  tertawakan?  Apa  yang  mereka  bicarakan?
Kapan terakhir kalinya ia melihat Soon-Hee tertawa seperti itu? Ia sudah lupa. Tiba-tiba
saja ia merasa rindu pada tawa gadis itu.
  “Lee Jeong-Su ssi!”
  Jeong-Su tersentak sekali lagi mendengar namanya disebut dengan nada tinggi.
  Jin  Da-Rae  sedang  menatapnya  kesal.  “Kau  sama  sekali  tidak  mendengarkan  apa
yang baru saja kukatakan, kan?”
  “Tentu saja aku mendengarkan,” Jeong-Su mencoba membantah.
  “Bagaimana kau bisa mendengarku kalau kau terus memerhatikan Han Soon-Hee?”
  “Aku tidak memerhatikannya.”
  Jin Da-Rae mengangkat kedua tangan. “Sudah cukup. Sekarang juga aku ingin pergi
dari sini. Kita pergi ke tempat lain saja.”
  Jeong-Su mengerutkan kening. “Da-Rae, kau sendiri yang bilang kau ingin makan
malam di sini. Kenapa sekarang kau ingin pergi?”
  Jin  Da-Rae  melipat  tangan  di  depan  dada  dan  mendengus  kesal.  “Aku  berubah
pikiran. Aku ingin pergi ke tempat lain. Ayo, kita pergi.”
  Tanpa  menunggu  lagi,  Jin  Da-Rae  meraih  tas  tangannya  dan  bangkit  dari  kursi.
Jeong-Su berusaha menahannya, tapi tidak berhasil. Ia mendesah dan menoleh ke arah
Soon-Hee  sekali  lagi.  Tentu  saja  gadis  itu  tidak  sedang  melihat  ke  arahnya.  Jeong-Su
menarik napas, membayar makanan, dan menyusul Jin Da-Rae.


Sandy menyadari kepergian Jin Da-Rae dan Lee Jeong-Su dari restoran itu. Jung Tae-
Woo juga. 108

  “Mereka pergi,” kata Tae-Woo sambil melihat ke arah pintu restoran.
  Sandy  hanya  berdeham  dan  menatap  piringnya  yang  sudah  hampir  kosong.  Ia
kesal. Kenapa perasaannya masih tidak enak ketika melihat Lee Jeong-Su dan Jin Da-
Rae  bersama?  Kenapa  ia  masih  belum  bisa  melupakan  masalah  delapan  bulan  yang
lalu? Tidak mungkin ia masih mengharapkan Lee Jeong-Su, kan?
  “Lagi-lagi ekspresi itu.”
  Sandy mengangkat wajahnya dan memandang Jung Tae-Woo. Laki-laki itu sedang
mengamati wajahnya. “Apa?” tanya Sandy.
  Jung Tae-Woo menyandarkan punggung ke kursi dan tersenyum kecil. “Setiap kali
menyebut  nama  mantan  pacarmu  dan  setiap  kali  kau  menerima  telepon  darinya,
ekspresi wajahmu pasti jadi seperti itu. Ekspresi wajah yang tertekan, seakan-akan kau
harus menyelesaikan semua masalah yang ada di dunia.”
  Sandy menunduk. “Maaf.”
  Jung Tae-Woo memandang ke luar jendela. “Nah, apa yang bisa kita lakukan agar
kau tidak memasang wajah seperti itu lagi? Mmm… Ah, aku tahu!”
  Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan penuh rasa ingin tahu.
  Jung  Tae-Woo  berpaling  kembali  ke  arahnya  sambil  tersenyum  lebar.  “Tunggu
sebentar.”
  Sandy  bertambah  bingung  ketika  Jung  Tae-Woo  bangkit  dari  kursi  dan  berjalan
keluar dari restoran. Apa yang akan dilakukannya?
  Tidak lama kemudian Jung Tae-Woo kembali dan berkata kepada Sandy, “Setelah
makan, aku akan membawamu ke suatu tempat.”
  Ketika  mereka  sudah  menyelesaikan  makan  malam  mereka,  Jung  Tae-Woo
membawa Sandy turun ke lantai dasar gedung hotel itu.
  “Jung Tae-Woo ssi, kita mau ke mana?” tanya Sandy ketika mereka menyeberangi
lobi utama hotel.
  “Kau akan tahu,” Jung Tae-Woo menjawab pendek.
  Ternyata  Jung  Tae-Woo  membawanya  ke  taman  belakang  hotel.  Taman  itu  luas
sekali  dengan  kolam  renang  besar  di  tengah-tengahnya.  Lampu-lampu  taman
dinyalakan  sehingga  walaupun  hari  sudah  malam,  taman  itu  tidak  terlihat  gelap.
Lampu-lampu di dalam kolam renang juga dinyalakan sehingga mereka bisa melihat
dasar kolam renang dengan jelas.
  “Ah,  menyenangkan  sekali  berada  di  udara  terbuka,”  kata  Jung  Tae-Woo  sambil
duduk di salah satu kursi kayu di pinggir kolam renang.
  Sandy  melihat  ke  kiri  dan  kanan  dengan  bingung.  Kenapa  Jung  Tae-Woo
membawanya  ke  sini?  Tidak  ada  orang  lain  di  taman  itu.  Meski  sepi  sekali,  Sandy
menikmati kesunyian itu. 109

  “Jung  Tae-Woo,  kenapa  kita  ke  tempat  ini?”  tanyanya  sambil  duduk  di  kursi  di
samping laki-laki itu.
  “Kalau  tidak  salah,  beberapa  hal  yang  bisa  membuatmu  bahagia  adalah
mendengarkan  musik,  makan  keripik  kentang,  bunga,  kembang  api,  hujan,  dan
bintang. Aku benar, kan?”
  Sandy agak kaget mendengar kata-kata Jung Tae-Woo. Ia sendiri tidak ingat kapan
ia memberitahu Tae-Woo tentang hal itu.
  Jung Tae-Woo melanjutkan, “Sekarang aku tidak punya keripik kentang, aku tidak
tahu kau suka musik apa. Bunga, kau sudah memegangnya.”
  Sandy menatap mawar yang sedang dipeluknya. Ia masih tidak mengerti apa yang
ingin dikatakan Jung Tae-Woo.
  Jung  Tae-Woo  mendongak  menatap  langit  yang  gelap  dan  berkata,  “Tidak  ada
bintang malam ini dan sayang sekali aku tidak bisa memanggil hujan.” Ia menoleh ke
arah Sandy. “Kalau begitu, hanya tinggal satu yang bisa dilakukan.”
  Alis  Sandy  terangkat  ketika  Jung  Tae-Woo  mengeluarkan  ponsel  dari  saku
celananya.
  “Halo? Ya, Anda bisa memulainya sekarang,” katanya kepada seseorang di ponsel.
Setelah  itu  ia  menutup  ponsel  dan  tersenyum  kepada  Sandy.  Ia  mengangkat  sebelah
tangan dan menunjuk ke langit. “Coba lihat di sana.”
  Sandy memandang ke langit yang gelap dengan dahi berkerut. Ia sama sekali tidak
mengerti apa yang sedang dipikirkan Jung Tae-Woo. Ia baru saja akan membuka mulut
untuk  bertanya  lagi  ketika  ia  mendengar  bunyi  desingan  lalu  letupan.  Saat  itu  juga
matanya  melihat  cahaya  warna-warni  di  langit.  Bunyi  desingan  dan  letupan  itu
terdengar  lagi,  sambung-menyambung.  Langit  malam  pun  tampak  semakin  semarak
dengan cahaya indah warna-warni.
  Kembang api! Banyak sekali kembang api!
  Tanpa  sadar  Sandy  berdiri  dari  kursinya.  Sebelah  tangannya  terangkat  ke  mulut.
Matanya  terpaku  pada  berkas-berkas  sinar  yang  meluncur  ke  langit  dan  meledak
menjadi  bunga-bunga  api.  Ini  pertama  kalinya  ia  melihat  kembang  api  sebanyak  itu
secara langsung dan merasa begitu takjub sampai-sampai dadanya terasa sesak.
  “Bagaimana?”
  Sandy  menoleh  dan  melihat  Jung  Tae-Woo  berdiri  di  sampingnya.  Ia  kembali
menatap langit. “Ini pertama kalinya aku melihat kembang api sungguhan, dan bukan
dari televisi.”
  “Perasaanmu sudah baikan?”
  Sandy menoleh kembali ke arah Jung Tae-Woo. Ia tidak menyangka ternyata laki-
laki  itu  sedang  berusaha  menghiburnya.  Sandy  tersenyum  dan  berkata,  “Jauh  lebih 110

baik.  Kau  tahu  kau  tidak  perlu  melakukan  semua  ini.  Tapi,  bagaimanapun,  terima
kasih.”
  Jung Tae-Woo balas tersenyum. “Aku tahu akhir-akhir ini kau merasa tertekan. Kau
sudah  membantuku.  Jadi  kalau  aku  bisa  membantu  meringankan  sedikit  bebanmu,
kenapa tidak? Aku hanya ingin melihatmu gembira seperti sekarang, itu saja.”


“Haah…  malam  ini  indah  sekali,”  kata  Sandy  ketika  ia  dan  Jung  Tae-Woo  tiba  di
rumah. Sandy menciumi mawar yang ada dalam pelukannya dan tersenyum-senyum
sendiri.
  Sementara  itu  Jung  Tae-Woo  sudah  berjalan  ke  arah  dapur,  membuka  lemari  es,
mengeluarkan sebotol air dingin, dan meminumnya langsung dari botolnya.
  “Kau punya vas bunga?” tanya Sandy.
  “Entahlah, tapi kalau tidak salah ada di dalam lemari yang itu.” Ia menunjuk lemari
dapur lalu berjalan ke pianonya.
  Sandy  membuka-buka  lemari  sambil  bersenandung  pelan.  “Ini  dia.”  Ia
mengeluarkan  vas  bunga  berwarna  biru,  mengisinya  dengan  air,  dan  memasukkan
bunga  mawarnya  ke  sana.  Ia  mendengar  Jung  Tae-Woo  memainkan  beberapa  nada
lagu di pianonya.
  Sandy  menoleh  ke  arah  Tae-Woo.  “Jung  Tae-Woo  ssi,  nyanyikan  satu  lagu,”
pintanya. Lalu ia menghampiri laki-laki itu sambil membawa vas bunganya.
  “Bukankah  aku  pernah  bilang  kau  harus  membayar  kalau  mau  mendengarkanku
menyanyi?”
  Sandy meletakkan vas bunga di atas piano dan meringis. “Bukankah kau bilang kau
mau membuatku gembira?”
  Alis Jung Tae-Woo terangkat. “Aku pernah bilang begitu?”
  Sandy mengangguk. “Kau juga pernah bilang kau akan memberikan apa pun yang
kuinginkan kalau aku bersedia berfoto denganmu. Sudah lupa?”
  “Aku pernah bilang begitu?” Jung Tae-Woo menengadah dan berusaha mengingat-
ingat.
  Sandy mengangguk dan bersandar pada piano, menunggu Jung Tae-Woo memulai
lagunya.
  Jung Tae-Woo mendesah. “Baiklah, kau ingin mendengar lagu apa?”
  Sandy berpikir sejenak, lalu berkata, “Lagunya Jo Sung-Mo. Piano. Aku suka sekali
lagu itu. Amat sangat romantis.”
  Jung  Tae-Woo  menggaruk-garuk  kepalanya.  “Piano?  Kenapa  kau  meminta  lagu
yang sedih? Tidak ada lagu lain yang lebih menyenangkan?” 111

  “Tapi lagu itu bagus. Tidak suka? Kalau begitu, terserah kau saja mau menyanyikan
lagu apa,” kata Sandy cepat-cepat.
  Jung Tae-Woo berpikir sebentar, lalu meletakkan jari-jarinya di atas tuts piano dan
mulai memainkannya sambil bernyanyi dalam bahasa Inggris.

  I see trees of green, red roses too
  I see them bloom for me and you
  And I think to myself, what a wonderful world

  Sandy  bertepuk  tangan  dengan  gembira  ketika  mengenali  lagu  What  A  Wonderful
World yang sedang dinyanyikan Jung Tae-Woo itu.

  I see skies of blue, and clouds of white
  The bright blessed day, the dark sacred night
  And I think to myself, what a wonderful world

  The colors of the rainbow so pretty in the sky
  Are also on the faces of people going by
  I see friends shaking hands saying, “How do you do?”
  They‟re really saying, “I love you”

  I hear babies crying, I watch them grow
  They‟ll learn much more than I‟ll ever know
  And I think to myself, “What a wonderful world”
  And I think to myself, “What a wonderful world”

  Walaupun  bahasa  Inggris  aktif  Sandy  tidak  terlalu  lancar,  ia  bisa  mengerti  bila
mendengar orang lain berbicara dalam bahasa itu. Lagu yang dinyanyikan Jung Tae-
Woo membuat dirinya seolah terbang ke angkasa, begitu damai, ringan, walaupun ia
kembali menginjak bumi setelah lagu itu berakhir.
  “Bagus sekali, bagus sekali,” puji Sandy sambil bertepuk tangan. “Tidak sia-sia kau
tinggal lama di Amerika. Bahasa Inggris-mu sangat bagus.”
  Jung Tae-Woo hanya tertawa kecil. “Sudah paus?”
  “Mmm, puas dan senang,” ujar Sandy.
  Jung  Tae-Woo  merogoh  saku  dalam  jasnya  dan  mengeluarkan  kotak  berbentuk
persegi  hijau  berhiaskan  pita  kuning.  Ia  meletakkan  kotak  itu  di  atas  piano  dan
mendorongnya ke arah Sandy.
  Sandy mengangkat alisnya begitu melihat kotak itu. “Apa ini?” 112

  “Buka saja.”
  Sandy membuka kotak itu dan tercengang ketika melihat di dalamnya ada ponsel
yang sama persis seperti ponselnya yang hilang dalam kebakaran.
  “Selamat ulang tahun.”
  Sandy  mengangkat  wajahnya  dan  menatap  Jung  Tae-Woo  dengan  pandangan
bingung dan kaget.
  Tanpa  menunggu  kata-kata  Sandy,  Jung  Tae-Woo  melanjutkan,  “Susah  sekali
menghubungimu kalau kau tidak punya ponsel. Sebenarnya aku ingin membeli ponsel
yang  lain  sehingga  kau  tidak  akan  salah  mengambil  ponselku  lagi,  tapi  aku  berubah
pikiran. Bagaimana? Aku juga sudah meminta nomor yang sama, jadi ponsel itu masih
menggunakan  nomor  yang  sama  seperti  ponselmu  yang  dulu.  Bisa  langsung
digunakan.”
  “Ooh… Terima kasih.” Sandy masih agak bingung. Ia mengamati ponsel pemberian
Jung Tae-Woo, lalu berkata lagi, “Tapi ulang tahun? Jung Tae-Woo ssi, ulang tahunku
besok, bukan hari ini.”
  Jung  Tae-Woo  tersenyum  lebar  dan  menunjuk  ke  arah  jam  dinding  di  belakang
Sandy. Sandy berbalik dan melihat jam dinding.
  “Sudah lewat tengah malam. Jadi hari ini hari ulang tahunmu,” kata Jung Tae-Woo.
“Kau  bahkan  tidak  sadar  ya?  Berarti  kejutan  yang  sudah  kusiapkan  bisa  dikatakan
berhasil?”
  Sandy tertegun, lalu tertawa. “Astaga, jadi makan malam tadi, bunga, kembang api,
dan ponsel ini, smeua itu untuk merayakan ulang tahunku?”
  Jung  Tae-Woo  mengangguk.  “Jangan  lupa,  aku  juga  baru  menyanyikan  lagu
untukmu. Itu juga harus dihitung.”
  “Bagaimana kau bisa tahu hari ulang tahunku?”
  Jung Tae-Woo hanya tersenyum dan tidak menjawab.
  Sandy masih bingung. “Tapi kenapa harus dirayakan malam sebelumnya? Kita bisa
merayakannya beramai-ramai besok, maksudku hari ini, eh, besok. Ah, pokoknya bisa
dirayakan pada harinya.”
  “Sebenarnya pagi-pagi nanti aku harus berangkat ke Jepng, jadi aku tidak bisa ikut
merayakan ulang tahunmu pada harinya,” Jung Tae-Woo menjelaskan.
  “Ke Jepang?” tanya Sandy. “Untuk apa?”
  “Kerja,” sahut Jung Tae-Woo. “Kaukira untuk berlibur?”
  “Berapa lama kau akan di sana?”
  Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Belum tentu, tapi mungkin sekitar tiga hari.”
  Sandy merenung.
  “Oh ya, bagaimana ini? Tidak ada kue ulang tahun,” kata Jung Tae-Woo tiba-tiba. 113

  “Tidak perlu kue segala,” sela Sandy. “Sudah banyak yang kaulakukan malam ini.
Bagiku itu sudah lebih dari cukup dan aku sangat gembira.”
  “Terharu juga?”
  “Terharu  juga.  Aku  belum  pernah  merayakan  ulang  tahunku  di  tengah  malam.”
Sandy tertawa.
  Jung Tae-Woo bangkit dari kursi piano dan berkata, “Baiklah, sudah malam, kau—“
  “Tunggu dulu.” Sandy menahannya. “Nyanyikan satu lagu lagi ya?”
  “Lagi?”
  “Ayolah,s ekali lagi saja,” katanya sambil duduk di samping Jung Tae-Woo. “Aku
suka melihatmu memainkan piano.”
  Jung Tae-Woo menyerah dan duduk kembali. “Baiklah, lagu apa?”
  “Terserah kau saja.”
  Jung  Tae-Woo  menatap  tuts-tuts  pianonya  sambil  berpikir,  lalu  ia  mengangkat
wajahnya dan menoleh menatap Sandy. “Ini salah satu lagu favoritku. Judulnya Fly Me
to the Moon.”
  Kemudian Sandy memerhatikan jari-jari panjang Jung Tae-Woo menari-nari di atas
tuts-tuts piano sementara bunyi dentingan piano yang lembut dan suara Jung Tae-Woo
yang indah menghiasi kesunyian malam.

  Poets often use many words to say a simple thing
  It takes thought and time and rhyme to make a poem sing
  With music and words I‟ve been playing
  For you I have written a song
  To be sure that you know what I‟m saying
  I‟ll translate as I go along

  Sambil  bernyanyi,  Jung  Tae-Woo  sesekali  melihat  ke  arahnya  dan  mereka  berdua
tersenyum.  Sandy  tidak  pernah  merasa  begitu…  begitu…  istimewa.  Ya,  istimewa.
Makan malam, mawar, kembang api, hadiah yang diberikan Jung Tae-Woo untuknya,
dan sekarang ia sedang duduk di sebelah Jung Tae-Woo sambil mendengarkan laki-laki
itu  menyanyi  khusus  untuknya.  Ia  merasa  bahagia.  Entah  sejak  kapan  ia  menyadari
jantungnya berdebar dua kali lebih cepat setiap kali ia bertemu pandang dengan Jung
Tae-Woo atau bila laki-laki itu tersenyum kepadanya. Entah sejak kapan juga ia mulai
suka  mendengar  Jung  Tae-Woo  bernyanyi.  Matanya  kini  tidak  bisa  lepas  dari  sosok
Jung Tae-Woo yang bernyanyi sambil memainkan piano.


 114

  Fly me to the moon and let me play among the stars
  Let me see whatSpring is like on Jupiter and Mars
  In other words, hold my hand
  In other words, darling, kiss me

  Fill my heart with song and let me sing forever more
  You are all I long for, all I worship and adore
  In other words, please be true
  In other words, I love you

  (Hiro, album: Coco d‟Or)





























 115


Sebelas



S EBELUM berangkat ke kampus, Sandy memutuskan untuk menelepon orangtuanya.
Meski tidak yakin apakah orangtuanya sudah tahu tentang kebakaran itu atau belum,
ia  tetap  berpikir  sebaiknya  mereka  diberitahu.  Siapa  tahu  mereka  malah  sudah
mendapat kabar dan tidak bisa menghubunginya karena ia sendiri baru mengaktifkan
ponsel hadiah dari Jung Tae-Woo tadi pagi. Orangtuanya tentu akan khawatir setengah
mati.
  Beberapa  saat  yang  lalu  Bibi  Chon  sudah  datang  untuk  membereskan  rumah.
Sebelum berangkat ke bandara tadi pagi, Jung Tae-Woo memberitahu Sandy, bibi itu
biasa  datang  membereskan  rumah  tiga  kali  seminggu.  Jung  Tae-Woo  juga
menambahkan Bibi Chon sudah bekerja untuk keluarganya sejak lama dan bahwa dia
bisa  dipercaya  seratus  persen,  sehingga  Sandy  lebih  tenang.  Bagaimanapun  keadaan
tidak terlalu aman saat ini. Kalau kenyataan ia tinggal di rumah Jung Tae-Woo tercium
wartawan, entah kehebohan apa lagi yang akan terjadi.
  Setelah memperkenalkan diri kepada Bibi Chon dan membiarkan wanita setengah
baya bertubuh gemuk itu menjalankan tugasnya, Sandy mengambil telepon rumah dan
masuk ke kamar untuk menelepon orangtuanya. Seperti dugaan pertamanya, ternyata
orangtuanya  tidak  tahu-menahu  tentang  kebakaran  itu  dan  sekarang  Sandy  malah
harus berusaha keras menenangkan mereka.
  Pertama-tama ia berbicara dengan ibunya, jadi ia berbicara dalam bahasa Indonesia.
  “Ya, Sandy nggak apa-apa, Ma. Nggak ada yang luka. Apinya memang besar dan
Sandy nggak sempat mengambil barang-barang… Apa? … Oh, setahu Sandy sih nggak
ada  yang  meninggal.  Semuanya  selamat…  Tapi  pemadam  kebakarannya  agak
terlambat, jadi apartemen Sandy sudah hangus semua.” 116

  Tiba-tiba  Sandy  mendengar  suara  ayahnya  di  ujung  sana  dan  ia  ganti  berbicara
dalam  bahasa  Korea.  “Ayah,  Ayah  tidak  usah  khawatir  begitu.  Aku  tidak  apa-apa.
Sungguh. Tidak terluka sedikit pun. Mama kenapa?”
  Sepertinya  ibunya  sedang  berusaha  merebut  telepon  dari  tangan  ayahnya.  Sandy
tersenyum  sendiri  mendengar  ibunya  yang  tidak  sabaran.  Akhirnya  ibunya  kembali
menguasai telepon sehingga Sandy kembali berbicara dalam bahasa Indonesia.
  “Sandy,  bagaimana  kalau  kamu  pulang  dulu  ke  sini  untuk  sementara?”  ibunya
menawarkan.
  Sandy tertawa kecil. “Sandy kan masih harus kuliah. Mama ini bagaimana?”
  “Jadi, sekarang kamu tinggal di rumah siapa?” tanya ibunya langsung.
  Sandy bingung harus menjawab apa. “Sekarang? … Ng, sementara ini Sandy tinggal
di  rumah  teman.  Dia  tinggal  sendiri  jadi  nggak  keberatan  kalau  Sandy  numpang
sebentar. Lagi pula di rumahnya ada kamar kosong. Hari ini rencananya Sandy mau
cari tempat tinggal baru.”
  “Kamu bukan tinggal di rumah Young-Mi?” tanya ibunya lagi.
  “Bukan.  Mama  kan  tahu  sendiri  rumah  Young-Mi  hanya  cukup  untuk  mereka
sekeluarga.  Kalau  tinggal  di  sana,  Sandy  hanya  bakal  menambah  beban  Paman  dan
Bibi, kan? Young-Mi sudah meminjamkan pakaiannya untuk Sandy, jadi Sandy nggak
mau lebih merepotkan lagi.”
  “Oh,  begitu?  Terus,  siapa  nama  teman  kamu  itu?  Berapa  nomor  teleponnya?
Alamatnya di mana?”
  Sekarang Sandy agak enggan menjawab, “Teman Sandy?”
  “Iya,  teman  kamu  yang  mengizinkan  kamu  tinggal  di  rumahnya  itu.  Siapa
namanya? Mama kenal dia?”
  “Oh… oh… itu…” Dilema. Apakah ia harus berterus terang?
  “Jangan-jangan kamu sekarang ada di rumah artis itu.”
  Kata-kata ibunya seperti petir di siang bolong. Jadi ibunya sudah tahu? Bagaimana
bisa?
  “Mama ini ngomong apa sih?” Sandy masih berusaha mengelak.
  “Ada teman Mama yang cerita.” Suara ibunya berubah datar. “Jadi?”
  Sandy  tidak  bersuara.  Ia  duduk  bersila  di  tempat  tidur  sambil  menatap  jari-jari
kakinya.
  “Coba  bilang  terus  terang  sama  Mama,  apa  kamu  memang  punya  hubungan
dengan artis itu?”
  Sandy menelan ludah dan menarik  napas pelan. “Memang kenal,” sahutnya  agak
takut-takut. 117

  “Kenal?  Seperti  apa?”  desak  ibunya.  “Terus,  bagaimana  ceritanya  sampai  kamu
sekarang ada di rumahnya?”
  Sandy menggigit bibir dan akhirnya memilih berterus terang. “Ma, kami sama sekali
nggak ada hubungan apa-apa. Sandy hanya bermaksud membantu Jung Tae-Woo ssi,
nggak lebih dari itu. Mama harus percaya sama Sandy. Memang benar, Sandy sekarang
tinggal di rumahnya, tapi ini juga hanya untuk sementara.”
  Sandy mendengar ibunya mendesah lirih. “Mama nggak tahu, Sandy. Memangnya
kamu nggak punya teman lain yang bisa membantu? Kenapa harus di rumahnya?”
  Sandy memejamkan mata, salah satu tangannya terangkat ke kening.
  Ibunya  melanjutkan  lagi,  “Entahlah,  Sandy,  Mama  benar-benar  nggak  tahu  harus
ngomong apa. Terus terang saja, Mama merasa… Kenapa artis itu lagi?”
  Sandy juga pernah berpikir seperti itu. Sejak ia mengatakan setuju membantu Jung
Tae-Woo, setiap hari ia selalu teringat pada hal-hal yang tidak seharusnya diingat-ingat
lagi. “Tapi, Ma, Jung Tae-Woo ssi orang yang baik,” katanya.
  “Kamu  sudah  besar,  sudah  bisa  membedakan  mana  yang  baik  dan  mana  yang
nggak. Terserah keputusanmu saja,” kata ibunya. “Mama akan mengirimkan pakaian
untukmu. Kamu perlu apa lagi?”
  Setelah ibunya menutup telepon, Sandy duduk merenung. Dadanya terasa sesak. Ia
menarik  napas  dalam-dalam,  lalu  mengembuskannya  pelan-pelan.  Cara  itu  biasa
dilakukannya untuk menenangkan diri.
  ”Nona.”
  Sandy  menoleh  ke  arah  pintu  kamar  ketika  mendengar  suara  Bibi  Chon
memanggilnya dari luar. Sandy segera turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu. Ia
membuka pintu dan melihat wajah Bibi Chon yang berseri-seri.
  Sebelum Sandy sempat membuka mulut, Bibi Chon sudah lebih dulu mengulurkan
tangan dan berkata, “Saya menemukan ini di lantai. Apakah ini milik Anda?”
  Sandy  menatap  benda  yang  ada  di  telapak  tangan  Bibi  Chon.  Benda  itu  bros
berbentuk  hati  dan  berwarna  merah  mengilat  dengan  pinggiran  keemasan.
Tenggorokannya  tercekat.  Ia  baru  ingat,  di  malam  kebakaran  itu  ia  sedang
memandangi bros tersebut. Ternyata waktu itu tanpa sadar ia lalu memasukkannya ke
saku piama. Sandy bahakn sudah hampir melupakannya sampai benda itu muncul lagi
di hadapannya sekarang.
  “Apakah ini milik Anda?” Bibi Chon mengulangi pertanyaannya.
  Sandy tersentak. “Ya, benar. Terima kasih sudah menemukannya.”
  Sandy  menerima  bros  itu  dan  Bibi  Chon  kembali  mengerjakan  tugasnya.  Sandy
menutup pintu kamar. Ia kembali duduk di tempat tidur sambil menatap bros itu. Ia
mendongak  memandang  langit-langit  kamar,  menarik  napas  panjang  sekali  lagi,  lalu 118

mengembuskannya perlahan. Sekali, dua kali, tiga kali, dan tiba-tiba saja air matanya
bergulir turun. Ia menghapusnya dengan telapak tangan, lalu menarik napas panjang
dan mengembuskannya lagi.


Kang  Young-Mi  merapikan  rambutnya  yang  tertiup  angin  dengan  jari-jari  tangan.  Ia
dan Sandy sedang duduk-duduk di kafe langganan mereka. Karena cuaca sore hari ini
bagus sekali, mereka memilih meja di luar yang dinaungi payung besar bergaris-garis
biru  dan  putih.  Young-Mi  mengamati  temannya  yang  duduk  di hadapannya  dengan
dahi berkerut. Sandy sedang mengaduk-aduk cappuccino-nya dengan gerakan lambat.
Young-Mi  merasa  sikap  temannya  agak  lain.  Akhir-akhir  ini  Sandy  sering  melamun,
sepertinya banyak sekali yang dipikirkannya. Young-Mi pernah berusaha mencari tahu
apa yang ada dalam benak Sandy, tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
  “Soon-Hee, hari ini Jung Tae-Woo pulang, ya?” tanya Young-Mi sambil lalu.
  Sandy  tidak  menjawab,  bahkan  mengangkat  wajah  pun  tidak.  Ia  masih  terus
mengaduk cappuccino-nya.
  Kang Young-Mi menarik napas dalam-dalam. “Hei, Han Soon-Hee!”
  Kali  ini  Sandy  tersentak  dan  menatapnya  dengan  pandangan  bertanya.  “Apa?
Kenapa?”
  “Aku tanya, Jung Tae-Woo kembali hari ini, bukan?”
  “Oh, tidak. Tadi siang dia menelepon dan bilang tidak jadi pulang hari ini,” jawab
Sandy  sambil  mengangkat  bahu.  “Katanya  ada  urusan  mendadak  atau  semacamnya.
Mungkin besok baru pulang.”
  “Begitu?” Young-Mi mengangguk-angguk dan terdiam. Setelah berpikir sebentar, ia
bertanya lagi, “Wah, jangan-jangan dia selingkuh dengan artis Jepang?”
  Sandy  tertawa  ringan.  “Kalau  dia  memang  bisa  selingkuh  atau  setidaknya  punya
hubungan dengan wanita, bukankah sejak awal aku tidak dibutuhkan?”
  Young-Mi  ikut  tertawa.  “Benar  juga,”  katanya.  “Jadi  kau  akan  pindah  setelah  dia
pulang nanti?”
  Sandy  mengangkat  wajah  dan  memiringkan  kepala.  “Mmm,  begitulah.  Rasanya
tidak enak kalau aku pindah begitu saja tanpa bilang dulu padanya, kan?”
  Young-Mi  mencondongkan  tubuhnya  ke  depan.  “Maksudku,  kenapa  kau  tidak
tetap tinggal di rumah Jung Tae-Woo saja? Aku rasa dia tidak akan keberatan.”
  Mata Sandy melebar. “Kau gila? Kalau ketahuan, itu bisa jadi skandal besar! Para
wartawan  tabloid  gosip  bakal  jungkir  balik  saking  senangnya,”  katanya.  “Lagi  pula
ibuku juga marah-marah. Akan jauh lebih baik kalau aku punya tempat tinggal sendiri. 119

Masa aku bisa berdiam diri membiarkan Jung Tae-Woo menanggungku? Masa dia mau
menanggungku? Yang benar saja.”
  Young-Mi berdeham, menatap kesepuluh kuku jari tangannya yang dipotong rapi
dan berkata, “Bukankah dia suka padamu?”
  Walaupun Sandy tidak menunjukkan ekspresi apa pun, sudah tentu Young-Mi bisa
menduga  hubungan  Soon-Hee  dan  Jung  Tae-Woo  tidak  sesederhana  yang  mereka
katakan.  Ia  yakin  Jung  Tae-Woo  tertarik  pada  Sandy.  Kenapa  ia  bisa  yakin?  Karena
Jung  Tae-Woo  mengizinkan  gadis  itu  tinggal  di  rumahnya,  membelikan  ponsel
untuknya, dan merayakan ulang tahunnya. Lalu selama berada di Jepang, laki-laki itu
sering  menelepon  Sandy,  kalau  tidak  menelepon,  ia  akan  mengirim  pesan  singkat
melalui ponsel. Young-Mi nyaris yakin sebenarnya Sandy juga tertarik pada Jung Tae-
Woo, tapi ia tidak punya alasan kuat yang mendukung keyakinannya itu. Sandy snediri
tidak  pernah  secara  blakblakan  mengatakan  ataupun  menunjukkan  perasaan  tentang
masalah yang satu ini.
  “Bagaimana?” tanya Young-Mi. “Kau sendiri juga bisa merasakannya, kan?”
  Sandy menatapnya sambil tersenyum samar. “Merasakan apa? Kau ini ada-ada saja.
Oh ya, aku belum berterima kasih padamu karena sudah seharian ini kau menemaniku
mencari  apartemen  baru.  Kau  mau  membantuku  memilih  perabot,  kan?  Harus
kukatakan  dulu  bahwa  aku  hanya  sanggup  membeli  beberapa  perabot  dasar.  Kalau
pindah nanti, aku pasti akan membutuhkan bantuanmu lagi.”
  Young-Mi  tidak  berkomentar  apa-apa.  Ia  mengembuskan  napas  perlahan  dan
bersandar kembali ke kursi plastiknya. “Tentu saja,” katanya setelah terdiam beberapa
saat. “Aku akan membantumu.”


Tae-Woo  melepaskan  kacamata  hitam  setelah  mobil  yang  ditumpanginya  melaju  di
jalan  dan  meninggalkan  bandara.  Ia  menyandarkan  kepala  ke  kursi  dan  menoleh  ke
arah Park Hyun-Shik yang duduk di sampingnya.
  “Hyong, sekarang kita ke mana?” tanyanya.
  Park  Hyun-Shik  menjawab,  “Bukankah  tadi  kita  bilang  mau  minum-minum
bersama  yang  lain?  Para  anggota  staf  juga  sudah  bekerja  keras  di  Jepang.  Sudah
sepantasnya mereka bersenang-senang sedikit. Kau juga.”
  Tae-Woo berpikir sejenak, lalu mengeluarkan ponsel dari balik jasnya. Ia menekan
tombol sembilan dan menempelkan ponselnya ke telinga.
  Park Hyun-Shik tersenyum. “Menelepon dia?”
  Tae-Woo memandang manajernya dan mengedipkan mata. 120

  “Irinya,” kata Park Hyun-Shik sambil mendesah. “Mungkin aku juga harus mencari
pacar.”
  Tae-Woo  tidak  menanggapi  kata-kata  manajernya  karena  suara  Sandy  sudah
terdengar di ujung sana.
  “Oh, ini aku,” kata Tae-Woo. Ia merasa semangatnya naik begitu mendengar suara
gadis itu.
  “Kau sudah sampai?”
  “Mmm, kau di mana?”
  “Di rumahmu. Eh, kau masih ada kerjaan?”
  “Tidak. Kenapa?”
  “Pulang makan?”
  Tae-Woo tertawa pelan. “Memangnya di rumah ada yang bisa dimakan?”
  “Tentu saja ada. Pulang makan ya? Aku tunggu.”
  “Oke,” kata Tae-Woo. “Aku pulang sekarang.”
  “Hei,  kau  tidak  jadi  minum-minum  dengan  kami?”  tanya  Park  Hyun-Shik  begitu
Tae-Woo menutup ponsel.
  Tae-Woo tersenyum meminta maaf. “Maaf, Hyong. Lain kali saja, aku yang traktir.”
Kemudian ia meminta sopir mengantarnya ke rumah.


“Wah, sebenarnya kita sedang merayakan apa? Kenapa makanannya banyak sekali?”
tanya Tae-Woo begitu ia masuk ke dapur.
  Sandy  yang  mengenakan  celemek  dan  sarung  tangan  tahan  panas  sedang
meletakkan sepanci kimchi jjigae* panas di meja. Ia mengangkat kepala ketika Tae-Woo
muncul. Senyumnya mengembang. “Sudah pulang? Bagaimana perjalananmu?”
  Melihat  makanan  yang  ada  di  meja  juga  Sandy  yang  mengenakan  celemek,  lalu
mendengar  gadis  itu  menanyakan  bagaimana  perjalanannya,  Tae-Woo  jadi  merasa
agak kikuk.
  “Jung Tae-Woo ssi, kau kenapa?”
  Tae-Woo tersentak dan memandang gadis di hadapannya. “Apa? Oh, perjalananku
baik-baik saja.”
  Sandy  memeriksa  kesiapan  hidangan  di  meja,  lalu  beralih  memandang  Tae-Woo.
“Ayo, kita makan.” Ia melepaskan celemek dan sarung tangannya.
  Tae-Woo duduk dan bertanya, “Kau yang masak semua ini?”


* Sup kimchi. Kimchi adalah acar khas Korea, terbuat dari sawi putih yang dipedaskan. 121

  Sandy  duduk  di  hadapannya.  “Aku  ingin  menjawab  „Benar,  akulah  yang
memasaknya‟, tapi kenyataannya bukan.” Ia tertawa kecil. “Tadi pagi aku meminta Bibi
Chon memasaknya. Aku hanya tinggal memanaskan.”
  Tae-Woo tersenyum dan mulai makan.
  Sandy mencondongkan tubuh ke depan. “Bagaimana? Enak?”
  Tae-Woo  mengangguk.  “Mmm,  tentu  saja.  Ngomong-ngomong,  apakah  ada  yang
sedang dirayakan?”
  Sandy memiringkan kepala dan berpikir-pikir. “Mmm, tentu saja ada. Banyak.”
  “Banyak? Seperti apa?”
  “Kita merayakan kepulanganmu dari Jepang,” kata Sandy. “Apakah kau tahu hari
ini tepat satu bulan sejak pertama kali kita bertemu? Itu bisa dirayakan. Kau juga boleh
menganggap ini sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah banyak membantuku.”
  Tae-Woo tersenyum dan mengangguk-angguk. “Ada lagi?”
  “Kita juga bisa merayakan apartemen baruku.”
  Tae-Woo  mengangkat  wajah  dan  menatap  Sandy.  “Kau  sudah  mendapatkan
apartemen?”
  Sandy mengangguk tegas. “Ya, besok aku akan pindah.”
  “Kenapa?” tanyanya tanpa berpikir.
  Sandy  tertawa  kecil.  “Jung  Tae-Woo  ssi,  kau  tidak  mungkin  berpikir  aku  akan
tinggal di sini dan menjadi bebanmu selamanya, bukan?”
  “Beban apa?” kata Tae-Woo.
  Sandy  tidak  mengacuhkan  pertanyaan  itu  dan  terus  berbicara,  “Lagi  pula,  kalau
wartawan tahu kita tinggal bersama, mereka pasti berpikir kita sudah bertunangan dan
akan segera menikah. Memangnya kau mau membuat skandal baru lagi?”
  Ah,  perjanjian  untuk  menghapus  gosip  gay.  Akhir-akhir  ini  Tae-Woo  sering
melupakan hal yang satu itu.
  “Menurut  persetujuan  yang  dulu,  aku  hanya  akan  menjadi  pacarmu  dalam  foto.
Jadi aku tidak bisa menikah denganmu,” kata Sandy dan tertawa.
  Tae-Woo  tahu  Sandy  hanya  bergurau,  tapi  ia  sedang  tidak  ingin  ikut  tertawa.  Ia
hanya menunduk dan meneruskan makannya.
  Sandy berdeham. “Jung Tae-Woo ssi, sebenarnya perjanjian kita sampai kapan? Aku
sudah  melakukan  semua  yang  disebutkan  dalam  kesepakatan,  bukan?  Kita  sudah
berfoto, aku bahkan sampai dikejar-kejar wartawan. Gosip gay sudah tidak terdengar
lagi, kurasa sudah cukup.”
  Tae-Woo mengangkat kepalanya. “Apa maksudmu?”
  “Apa  maksudku? Jung Tae-Woo  ssi, aku kan tidak  bisa membantumu  selamanya.
Aku  juga  punya  kesibukan  sendiri,  punya  kehidupan  sendiri.  Sejak  orang-orang 122

mengenalku sebagai „kekasih Jung Tae-Woo‟, hidupku tidak sama lagi. Aku bukan artis
dan aku tidak terbiasa dengan hal-hal semacam itu.”
  “Begitu? Kupikir banyak orang ingin punya kekasih orang terkenal.”
  Sandy  tersenyum.  “Kau  benar.  Aku  juga  pernah  berandai-andai  seperti  itu.
Alangkah senangnya kalau kekasihku artis. Teman-temanku pasti iri setengah mati.” Ia
memandang Tae-Woo dengan sorot mata geli. “Tapi kenyataan tidak persis seperti itu.
Walaupun  aku  hanya  kekasih  gadungan  Jung  Tae-Woo,  itu  saja  sudah  cukup  sulit
bagiku.”
  “Jadi kau tidak mau punya kekasih artis?” tanya Tae-Woo hati-hati.
  Sandy  memiringkan  kepala  sambil  merenung,  lalu  menjawab,  “Tidak.  Sebaiknya
tidak.”
  Tae-Woo meletakkan sendoknya. “Kalau begitu, apakah aku harus berhenti?”
  Ia  mengangkat  wajah  dan  melihat  Sandy  sedang  menatapnya  dengan  pandangan
bertanya. “Kau bilang apa?” tanya gadis itu.
  “Apakah harus berhenti menjadi penyanyi?” Tae-Woo mengulangi kata-katanya.
  “Memangnya kenapa harus berhenti?”
  Tae-Woo menatap mata Sandy dan berkata, “Karena sepertinya aku menyukaimu.”


“Karena sepertinya aku menyukaimu.”
  Apakah  ia  salah  dengar?  Tidak,  Jung  Tae-Woo  memang  mengatakannya.  Sandy
kaget mendengar pengakuan itu keluar dari mulut Jung Tae-Woo. Apakah dia sedang
bercanda? Tidak, sepertinya tidak. Raut wajahnya serius. Lalu? Bagaimana?
  “Jadi  bagaimana?  Apakah  aku  harus  mulai  mencari  pekerjaan  lain?”  tanya  Jung
Tae-Woo lagi, lebih pada dirinya sendiri.
  Sandy mengerjapkan mata dan menyadari Jung Tae-Woo sedang memerhatikannya
lekat, menanti jawaban.
  “Aku tidak sedang bercanda,” kata Jung Tae-Woo, seakan bisa membaca isi pikiran
Sandy.
  “Aku tahu,” sahut  Sandy. Itulah yang  ditakutkannya, bahwa Jung  Tae-Woo tidak
bercanda. Lalu ia tersenyum, “Tapi sebaiknya kau tetap jadi penyanyi saja.”
  “Menurutmu begitu?”
  Sandy mengalihkan pandangan dari Jung Tae-Woo dan berkata, “Tentu saja. Karena
kau  memang  cocok  menjadi  penyanyi.”  Ia  bangkit  dari  kursinya.  “Kalau  kau  sudah
selesai makan, biar kubereskan. Kau baru pulang. Istirahat saja.” 123

  Jung  Tae-Woo  tepekur  sejenak,  lalu  ia  mengangguk  dan  bangkit.  “Baiklah.  Maaf
merepotkanmu.  Besok…  mungkin  aku  tidak  bisa  membantumu  pindah  rumah.  aku
harus pergi pagi-pagi sekali.”
  Sandy tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Young-Mi akan membantuku.”
  Jung Tae-Woo mengangguk lagi, kemudian ia berbalik dan berjalan ke arah tangga.
  Sandy memandangi punggung laki-laki itu. Ketika Jung Tae-Woo menginjak anak
tangga kedua, ia memanggilnya, “Jung Tae-Woo ssi.”
  Jung Tae-Woo menoleh. “Ada apa?”
  “Terima kasih.”
  “Terima kasih? Untuk apa?”
  Karena menyukaiku.
  “Untuk segalanya. Terima kasih.”
























 124


Dua Belas




“KAu sedang membaca atau tidak?”
  Sandy tersadar dari lamunan dan mengangkat wajah. Kang Young-Mi yang duduk
di hadapannya sedang memerhatikannya dengan alis terangkat.
  “Mm?”
  Young-Mi menutup buku yang dibacanya dan melipat tangan di meja. “Kita masuk
ke  perpustakaan  ini  satu  jam  lalu.  Tapi  selama  setengah  jam  terakhir  kau  hanya
memelototi  halaman  yang  itu-itu  terus.  Kau  memegang  bolpoin,  tapi  tidak  menulis.
Kau melihat buku, tapi tidak membaca. Han Soon-Hee, apa yang sedang kaupikirkan?”
  Sandy  tertawa  kecil  dan  membalikkan  halaman  bukunya.  “Tidak  ada.  Hanya
sempat bosan dan melamun sebentar.”
  Young-Mi  mengetuk-ngetukkan  jari  di  meja.  “Jung  Tae-Woo  tidak  menghubungi-
mu?”
  “Mm,” gumam Sandy tanpa memandang temannya. “Sudah hampir satu bulan aku
tidak  berhubungan  dengannya.  Lagi  pula  untuk  apa?  Masalah  di  antara  kami  sudah
selesai.  Aku  sudah  membantunya  seperti  yang  dia  minta.  Tidak  ada  lagi  yang  bisa
kulakukan.”
  “Untunglah  wartawan  berhenti  mengejar-ngejarmu,”  kata  Young-Mi.  “Akhirnya,
meski  sudah  tahu  namamu,  mereka  belum  pernah  mendapatkan  foto-fotomu  yang
jelas. Kau tidak mungkin hidup setenang ini kalau wajah aslimu terpampang di media
cetak.”
  Saat  itu  ponsel  Sandy  yang  tergeletak  di  meja  bergetar  pelan.  Ia  meraihnya  dan
membaca tulisan yang muncul di layar. Lee Jeong-Su.
  “Halo?”
  “Soon-Hee, punya waktu sekarang?” suara laki-laki itu terdengar lesu. 125

  Sandy ragu sejenak. “Ada apa?”
  “Keluarlah sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
  Sandy menutup ponsel dan memandang Young-Mi.
  “Kenapa? Lee Jeong-Su mau bertemu lagi?” tebak Young-Mi.
  Sandy tersenyum samar dan membereskan buku-bukunya. “Aku pergi dulu ya?”


Langit sudah nyaris gelap ketika Sandy tiba di depan kafe yang disebutkan Jeong-Su.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat laki-laki itu sudah menunggunya di dalam. Lee
Jeong-Su sedang duduk bersandar di sana dengan segelas air putih di meja. Sesekali ia
melirik jam tangan dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
  Sandy masih ingat betapa dulu ia sangat memercayai laki-laki  itu. Betapa dulu ia
sangat menyukainya.
  Sandy  membuka  pintu  kafe  dan  terdengar  bunyi  dentingan  halus.  Pelayan
menghampirinya  dan  Sandy  segera  berkata  padanya  bahwa  temannya  sudah
menunggu.  Dengan  langkah  ringan,  Sandy  menghampiri  Lee  Jeong-Su.  Laki-laki  itu
duduk membelakangi pintu, sehingga tidak menyadari kehadiran Sandy.
  “Sudah menunggu lama?” tanya Sandy sambil menarik kursi di hadapan Jeong-Su
lalu duduk.
  Jeong-Su  tersentak  dan  senyumnya  mengembang.  “Oh,  tidak.  Aku  juga  baru
datang.”
  “Jus jeruk,” kata Sandy kepada pelayan yang menanyakan pesanannya.
  Setelah pelayan itu pergi, Sandy memandang Lee Jeong-Su. “Ada apa memanggilku
ke sini?”
  “Bagaimana kabarmu?”
  Sandy tersenyum. “Baik-baik saja. Seperti yang kaulihat. Kau sendiri?”
  Lee  Jeong-Su  meneguk  airnya,  lalu  terdiam  sejenak.  Akhirnya  ia  berkata,  “Aku
sudah berpisah dengannya.”
  “Oh? Memangnya kenapa?”
  Jeong-Su  menatap  mata  Sandy  dan  menjawab  dengan  nada  yakin,  “Karena
kukatakan padanya aku masih belum bisa melupakanmu.”
  Alis Sandy terangkat karena terkejut. “Apa?”
  “Itu benar,” kata Jeong-Su menegaskan.
  Saat itu pelayan mengantarkan jus jeruk yang dipesan Sandy. Sandy mengucapkan
terima kasih dengan kikuk, lalu kembali memandang Lee Jeong-Su. Laki-laki itu begitu
tampan, dan selama mereka bersama ia selalu bersikap baik kepada Sandy. Tentunya
sampai  laki-laki  itu  meninggalkannya.  Namun  dari  dulu,  salah  satu  kelemahan  Lee 126

Jeong-Su adalah tidak bisa memantapkan keputusan. Ia tidak bisa bertahan lama pada
satu pendirian.
  “Soon-Hee,  bisakah  kau  memberiku  kesempatan  sekali  lagi?”  tanyanya.  Raut
wajahnya  begitu  bersungguh-sungguh.  Sandy  bisa  merasakan  laki-laki  itu  memang
serius.
  Perlahan  Sandy  mengaduk  jus  jeruknya.  “Aku  akan  jujur  padamu.  Ketika  kita
berpisah  dulu,  selama  beberapa  waktu  perasaanku  kacau  sekali.  Aku  tidak  mengerti
kenapa  kau  meninggalkanku.  Aku  selalu  berpikir,  apa  yang  sudah  kulakukan...  apa
yang belum kulakukan... sampai kau bisa membuat keputusan seperti itu.”
  Lee Jeong-Su bergerak-gerak gelisah di kursinya.
  “Selama  beberapa  waktu,  aku  sering  memikirkanmu  dan  segala  hal  yang
berhubungan  denganmu,”  Sandy  melanjutkan.  “Tapi  kemudian  segalanya  berubah.
Perlahan-lahan, entah  sejak kapan dan entah bagaimana, ada sesuatu yang  lain yang
menggantikan dirimu dalam pikiranku.”
  Lee Jeong-Su menatap gelasnya. “Maksudmu?”
  Sandy tidak menjawab. Ia hanya meminum jus jeruknya dengan pelan.
  Lee  Jeong-Su mengangkat wajahnya dan menatap Sandy. “Kau sungguh-sungguh
tidak bisa—setidaknya mau mencoba—kembali padaku?”
  Sandy menarik napas, lalu berkata, “Aku bisa melupakan semuanya, tapi aku tidak
akan kembali pada orang yang sudah meninggalkanku.”
  Lee  Jeong-Su  tidak  mengatakan  apa-apa.  Ia  hanya  menatap  Sandy  dengan
pandangan menerawang.


“Sudah lihat?”
  Tae-Woo  tidak  menjawab.  Ia  terus  memandangi  tabloid  yang  tadi  disodorkan
manajernya. Ada artikel yang menyebutkan hubungan Jung Tae-Woo dan kekasihnya
mulai retak karena kekasihnya itu menemui pria lain. Pria lain? Apakah mantan pacar
Sandy?
  “Kau sudah menghubungi Sandy?”
  Tae-Woo mendengar pertanyaan itu, tapi tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab.
Ia sedang berpikir.
  “Tae-Woo.”
  Sepertinya  Park  Hyun-Shik  mulai  kehilangan  kesabaran.  Tae-Woo  mengangkat
wajah dan meletakkan tabloid itu di meja kerja manajernya.
  “Belum, aku belum menghubunginya,” jawabnya tenang.
  “Kenapa kau bisa setenang itu? Kau sudah punya rencana?” desak Park Hyun-Shik. 127

  Tae-Woo menggeleng dan tersenyum. “Tidak juga. Hyong mau aku melakukan apa?
Bukankah  sudah  pernah  kukatakan  bantuan  Sandy  kepada  kita  sudah  selesai.  Dia
bukan kekasih Jung Tae-Woo lagi, baik di dalam maupun di luar foto.”
  Park Hyun-Shik jelas terlihat bingung mendengarnya. “Jadi maksudmu, kau akan
membiarkan  masalah  ini?  Bagaimana  kau  akan  menghadapi  wartawan  kalau  mereka
bertanya?”
  “Aku bisa menghadapinya. Hyong tenang saja.”
  “Aku  heran,  sudah  satu  bulan  terakhir  ini  kau  tidak  menghubungi  Sandy,”  kata
Park Hyun-Shik setelah terdiam beberapa saat. “Kau benar-benar tidak mau bertemu
dengannya lagi?”
  Tae-Woo hanya tersenyum.
  Park  Hyun-Shik  mengerutkan  kening.  “Biasanya  aku  tidak  pernah  salah  tentang
hal-hal seperti ini.”
  “Hal-hal seperti apa?”
  “Kukira kau menyukainya. Apakah aku salah?”
  “Tidak.”
  “Lalu?”
  “Aku sudah ditolaknya.”
  “Ah, begitu? Lalu kau menyerah begitu saja?”
  “Tidak.”
  “Aku  tidak  mengerti.  Sekarang  kau  sama  sekali  tidak  menghubunginya.  Apa
maksudmu dengan tidak menyerah?”
  Senyum Tae-Woo bertambah lebar. Ia mengedipkan mata ke arah manajernya, tapi
tidak berkata apa-apa.


“Soon-Hee! Soon-Hee!”
  Sandy  sedang  duduk  melamun  di  bangku  panjang  di  taman  kampus  ketika  ia
mendengar  namanya  dipanggil.  Ia  menoleh  dan  melihat  Kang  Young-Mi  berlari  ke
arahnya. Benar-benar berlari. Ia tak pernah melihat temannya itu berlari sebelumnya.
  “Astaga, capek sekali,” kata Young-Mi dengan napas terengah-engah begitu ia tiba
di samping Sandy.
  “Sini, duduk dulu,” kata Sandy sambil bergeser memberi tempat untuk temannya.
  Tanpa berkata apa-apa, Young-Mi menyodorkan tabloid yang sedang dipegangnya
kepada  Sandy.  Perhatian  Sandy  langsung  tertuju  pada  artikel  yang  terpampang  di
hadapannya.
  “Apa ini?” tanyanya dengan kening berkerut. 128

  Young-Mi masih sibuk mengatur napas sehingga tidak bisa menjawab.
  Sandy  membaca  artikel  itu  tanpa  bersuara.  Setelah  selesai,  ia  melipat  kembali
tabloid tersebut dan menarik napas.
  “Bagaimana?” tanya Young-Mi.
  Sandy  mengangkat  bahu.  “Aku  tidak  tahu bagaimana  mereka  bisa  menulis  berita
seperti ini.”
  Young-Mi mengibaskan tangan dengan tidak sabar. “Bukan itu. Maksudku, apakah
menurutmu Jung Tae-woo yang mengatakan pada wartawan? Bukankah kau memang
tidak  membantunya  lagi?  Jadi  bagaimanapun  Jung  Tae-Woo  memang  harus  „putus‟
dengan „pacarnya‟.”
  Sandy tertegun, lalu memiringkan kepala. “Entahlah,” katanya.
  “Kau tidak mau bertanya kepadanya?”
  Sandy berpaling ke arah temannya dengan kaget. “Tanya apa?”
  Young-Mi mendengus jengkel. “Astaga, kau...”
  Bagaimana  ia  bisa  bertanya  pada  Jung  Tae-Woo?  Sudah  satu  bulan  mereka  tidak
bertemu dan berbicara. Lagi pula, Jung  Tae-Woo memang tidak mungkin memperta-
hankan  cerita  tentang  kekasihnya,  sementara  orang  yang  membantunya  menjadi
“pacar” sudah tidak mau membantu lagi.


Young-Mi menatap temannya yang duduk di sampingnya dengan kesal. Ia tidak bisa
percaya Sandy tidak mau melakukan apa-apa tentang artikel yang ditunjukkannya itu.
Menurutnya,  setidaknya  Sandy  bisa  menelepon  Jung  Tae-Woo  dan  bertanya  atau
menjelaskan situasi yang sebenarnya. Atau apa pun. Tapi anak bodoh itu hanya duduk
melamun. Walaupun orang-orang masih tidak mengenali Han Soon-Hee yang sedang
duduk  melamun  seperti  orang  bodoh  ini  sebagai  Han  Soon-Hee  pacarnya  Jung  Tae-
Woo, Young-Mi merasa temannya ini harus tetap menjaga nama baiknya. Kenapa anak
itu tidak keberatan disebut-sebut sebagai tukang selingkuh?
  Young-Mi  mengibaskan  rambut  ke  belakang  dengan  perasaan  jengkel.  Bisa  jadi
malah  Jung  Tae-Woo  yang  mengatakan  semua  cerita  itu  pada  wartawan  untuk
menyelamatkan reputasinya sendiri. Ya, itu mungkin saja.
  “Hei,  Soon-Hee.  Bagaimana  kalau  Jung  Tae-Woo  yang  melakukan  semua  itu?”
desaknya sekali lagi.
  Alis Soon-Hee terangkat. “Menurutmu begitu?”
  Young-Mi  mengangkat  bahu.  “Mungkin  saja,  bukan?  Makanya,  kenapa  kau  tidak
bertanya langsung kepadanya?” 129

  Sebelum  Sandy  sempat  menjawab,  ponselnya  berbunyi.  Young-Mi  melihat
temannya buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan membukanya.
  Jung Tae-Woo?
  “Halo?” Raut wajah Soon-Hee berubah sedikit.
  Bukan Jung Tae-Woo.
  “Ya, Mister Kim... Ya? Sekarang? ... Ya, saya mengerti.”
  Sandy  menutup  ponselnya  dan  tersenyum  kepada  Young-Mi.  “Young-Mi,  aku
harus pergi sekarang, Mister Kim memintaku menemuinya.”
  “Bosmu memang drakula penghisap darah,” celetuk Young-Mi. “Kau selalu bilang
mau berhenti, tapi tidak pernah sekali pun mulai menulis surat pengunduran diri.”
  “Setidaknya  jadwal  kuliahku  tidak  pernah  terganggu  gara-gara  dia,”  Soon-Hee
membela atasannya. “Aku pergi dulu ya?”
  Young-Mi  memandangi  temannya  yang  berjalan  pergi,  lalu  memandang  tabloid
yang sedang dipegangnya.
  Sebaiknya  masalah  ini  cepat  diluruskan,  sebelum  para  penggemar  Jung  Tae-Woo
mengamuk.  Han  Soon-Hee  tidak  tahu  bagaimana  liarnya  para  penggemar  Jung  Tae-
Woo  kalau  sudah  dipancing.  Mereka  tidak  akan  rela  idola  mereka  dicampakkan
seorang wanita.
  Semoga saja masalah in cepat selesai.


“Miss  Han,  terima  kasih  karena  sudah  datang.  Oh,  terima  kasih,”  Mister  Kim
menyambut  Sandy  dengan  penuh  semangat  di  dalam  studionya  yang  seperti  biasa;
berantakan.  Hari  ini  rambut  Mister  Kim  dicat  kuning  dan tubuhnya  dibungkus  jaket
kulit panjang yang kelihatannya sangat tebal. Sandy bertanya-tanya apakah Mister Kim
tidak merasa gerah.
  Mister  Kim  menggerak-gerakkan  jari  tangannya  ke  arah  beberapa  pakaian  yang
dibungkus plastik  bening yang  tergeletak di meja bundar di sudut ruangan. “Tolong
antarkan kepada Jung Tae-Woo, ya?”
  Sandy mengerjap-ngerjapkan matanya. Siapa?
  “Seperti yang kaulihat, Miss Han, aku sedang sibuk sekali dan tidak ada yang bisa
membantuku...”
  Harus diantarkan kepada siapa?
  “... Antarkan saja ke rumahnya. Kau sudah punya alamat rumahnya, bukan? ...”
  Ke rumahnya? Rumah Jung Tae-Woo?
  “... Jangan bilang kau sudah menghilangkan alamat itu, Miss Han. Aku sendiri tidak
tahu lagi di mana kusimpan alamatnya...”
  Apa yang harus kukatakan kalau kami bertemu? 130

  “... Katakan saja model pakaian itu bisa menjadikannya trendsetter di kalangan anak
muda...”
  Apakah Mister Kim membaca pikiranku?
  “...  Nah,  ide-ideku  sedang  berontak  ingin  keluar  dari  otak.  Aku  sedang  merasa
kreatif sekali...”
  Tidak, dia tidak membaca pikiranku.
  “...  Jadi  pergilan  sekarang  juga,  Miss  Han,  dan  biarkan  aku  sendiri  dengan  ide-
ideku.”
  “Menemui  Jung  Tae-Woo?”  tanya  Sandy  agak  bingung  karena  terlalu  banyak  hal
yang berlalu-lalang di benaknya.
  “Bukan,  ayahnya,”  celetuk  Mister  Kim  dari  balik  meja  kerjanya,  lalu  melanjutkan
tanpa  menunggu  tanggapan,  “tentu  saja  Jung  Tae-Woo.  Bukankah  pakaian  itu  untuk
dia? Ayo, Miss Han, gerakkan kakimu.”
  “Oh, ya.” Sandy cepat-cepat menghampiri meja bundar dan mengangkat pakaian-
pakaian yang ditunjukkan atasannya tadi.
  Ketika  ia  memegang  kenop  pintu  untuk  membukanya,  Mister  Kim  memanggil.
Sandy berbalik menunggu perintah selanjutnya.
  Mister Kim sedang memegang tabloid, tabloid yang sama dengan yang ditunjukkan
Young-Mi tadi.
  “Asal kau tahu saja, Miss Han. Aku tidak percaya sedikit pun berita ini,” kata Mister
Kim  tiba-tiba  sambil  menunjuk  artikel  yang  membahas  Sandy  itu.  “Jadi  cepat
selesaikan.”
  Sandy  kaget.  apakah  Mister  Kim  tahu  tentang  dirinya  dan  Jung  Tae-Woo?  Tidak
mungkin.
  Karena  tidak  tahu  harus  bersikap  bagaimana,  Sandy  hanya  memaksakan  seulas
senyum, lalu cepat-cepat keluar dari ruangan itu.


Sandy  sendiri  tidak  mengerti  kenapa  ia  enggan  bertemu  Jung  Tae-Woo.  Mungkin
karena kata-kata Jung Tae-Woo ketika mereka bertemu terakhir kali itu. Mungkin juga
karena sudah lama tidak saling berbicara, jadi kalau harus mulai bicara lagi, sepertinya
agak aneh. Apa yang harus dikatakannya?
  Sandy  mendesah  pelan  sambil  berjalan  menyusuri  jalan  menuju  rumah  Jung  Tae-
Woo.
  “Mm?  Mobil  itu...  seperti  mobil  Jung  Tae-Woo,”  Sandy  bergumam  sendiri  ketika
melihat  mobil  merah  yang  diparkir  di  jalan  itu,  tidak  terlalu  jauh  di  depannya.  Ia
menyipitkan mata memerhatikan mobil tersebut. 131

  Seiring setiap langkah, semakin jelas terlihat ada tiga orang yang berdiri di dekat
mobil  itu.  Seorang  laki-laki  dan  dua  wanita.  Laki-laki  itu  mengenakan  topi  dan
kacamata  hitam.  Dari  jauh  saja  Sandy  sudah  bisa  mengenali  pria  itu  Jung  Tae-Woo.
Sandy  melihatnya  sedang  berbicara  dengan  dua  wanita,  bukan...  lebih  tepatnya  dua
gadis  yang  sepertinya  siswi  sekolah  menengah.  Kedua  gadis  itu  berbicara  penuh
semangat sementara Jung Tae-Woo mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
  “Bagaimana, Oppa?”
  Sandy mendengar salah satu gadis itu bertanya penuh harap.
  Jung  Tae-Woo  tersenyum  dan  baru  akan  menjawab  ketika  matanya  menangkap
sosok Sandy. “Oh.”
  Sandy menghentikan langkahnya tidak jauh dari tiga orang itu. Ia tidak tahu harus
berbuat apa. Menyapa Jung Tae-Woo? Ya, tentu. Setidaknya itu pasti harus dilakukan
terlebih dulu.
  Tapi  sebelum  ia  sempat  membuka  mulut,  Jung  Tae-Woo  sudah  buru-buru
menghampirinya dengan wajah cerah.
  “Sudah datang?” tanya Jung Tae-Woo begitu berdiri di sampingnya.
  Sandy  mengerjapkan  mata  dan  menatap  Jung  Tae-Woo  lalu  beralih  memandang
kedua gadis tadi. Mereka masih mengenakan seragam sekolah. Sepertinya baru pulang
sekolah.  Kedua-duanya  berambut  panjang  dan  bertubuh  tinggi  kurus.  Mereka  juga
sedang memerhatikan Sandy dengan perasaan ingin tahu.
  “Mereka Lee Mi-Ra dan Chon Jin-Ae,” kata Jung Tae-Woo memperkenalkan kedua
gadis tadi. Bagi Sandy nama-nama itu tidak berarti apa-apa. Ia yakin sebentar lagi ia
pasti lupa, tapi ia mengangguk.
  Kedua  gadis  itu  tersenyum  kepadanya.  Menurut  Sandy  senyum  mereka  agak
menakutkan.
  “Apa kabar, Onni?” sapa mereka berdua bersamaan.
  “Kami  penggemar  Tae-Woo  Oppa,”  kata  salah  seorang  gadis  itu,  rambutnya  agak
pirang. Sandy sudah lupa siapa namanya.
  Oh... ternyata penggemar.
  “Onni  ini  pacarnya  Tae-Woo  Oppa,  ya?”  tanya  yang  satunya  lagi  yang  berambut
agak keriting.
  Bagaimana menjawabnya? Sandy memandang Jung Tae-Woo yang diam saja, lalu
kembali memandang dua gadis di depannya itu.
  “Kenapa?” tanyanya pada akhirnya.
  Si keriting memandangi Sandy dari kepala sampai ke ujung kaki, lalu berkata pelan,
“Onni berbeda sekali dengan yang di dalam foto.” 132

  Sandy baru menyadari bahwa selama ini, walau semua orang tahu Han Soon-Hee
adalah pacar Jung Tae-Woo, mereka tidak pernah melihat wajah Han Soon-Hee yang
sesungguhnya dengan jelas.
  “Kami  membaca  di  tabloid  kalian  berdua  sudah  berpisah  karena  Onni  suka  pada
pria lain,” sela si pirang dengan cepat.
  Alis Sandy terangkat.
  “Makanya kalian jangan langsung percaya pada apa yang kalian baca di tabloid,”
Jung Tae-Woo menyela. “Kalian lihat sendiri, kami masih baik-baik saja.”
  Kedua gadis itu berpandangan, lalu mereka memandangi Sandy. Kini mata mereka
beralih ke Jung Tae-Woo.
  Jung  Tae-Woo  menampilkan  senyumnya  yang  paling  menawan  dan  berkata,
“Baiklah, sekarang kalian pulang saja ya, sebelum orangtua kalian cemas. Hati-hati di
jalan.”
  Sandy  agak  kaget  ketika  Jung  Tae-Woo  meraih  pakaian-pakaian  yang  sedang
dijinjingnya.
  “Sini, biar kumasukkan bawaanmu ke mobil,” kata Jung Tae-Woo.
  Sandy membiarkan Jung Tae-Woo menuntunnya ke mobil. Jung Tae-Woo membuka
pintu mobil untuk Sandy, lalu langsung berjalan memutar ke sisi pengemudi.
  Sebelum  masuk  ke  mobil,  Jung  Tae-Woo  sempat  melambai  kepada  kedua
penggemarnya itu sambil berkata, “Sampai ketemu. Jangan keluyuran lagi. Langsung
pulang ke rumah, mengerti?”
  “Ya,” jawab kedua gadis itu serentak.
  Sandy juga ikut tersenyum kepada mereka, lalu masuk ke mobil. Memangnya apa
lagi yang bisa dilakukannya?
  Ketika  mobil  sudah  mulai  melaju,  Jung  Tae-Woo  mengembuskan  napas  lega.
“Untunglah  kau  datang,”  katanya  sambil  menoleh  ke  arah  Sandy.  “Aku  sudah
kehabisan  akal  tadi.  Mereka  memaksa  mau  ke  rumahku.  Masa  tadi  mereka  sampai
mencegatku di tengah jalan.”
  Sikap  Jung  Tae-Woo  kelihatan  biasa-biasa  saja.  Ia  berbicara  seakan-akan  waktu
hampir  sebulan  tanpa  berhubungan  tidak  pernah  ada  di  antara  mereka.  Ternyata
kekhawatiran yang menguasai Sandy sejak tadi tidak beralasan. Jung Tae-Woo masih
seperti dulu.
  Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo yang memegang kemudi dan menatap lurus ke
jalan.  Jung  Tae-Woo  sudah  melepaskan  kacamata  hitamnya,  tapi  ia  masih  memakai
topi.  Sandy  bertanya-tanya  dalam  hati,  sebenarnya  Jung  Tae-Woo  baru  pulang  dari
mana. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai ke siku dan
celana jins yang agak longgar. Apakah baru dari acara pemotretan? Pandangan Sandy 133

kembali beralih ke wajah Jung Tae-Woo. Sepertinya sudah lama sekali ia tidak melihat
laki-laki  itu.  Sekarang  Jung  Tae-Woo  ada  di  sampingnya.  Ia  bisa  melihatnya,  bisa
mendengar  suaranya.  Entah  kenapa,  mendadak  Sandy  merasa  lega.  Saking  leganya
sampai dadanya terasa sesak dan matanya terasa panas.
  “Kenapa diam saja?” tanya Jung Tae-Woo tiba-tiba.
  Sandy tersentak dan menyadari Jung Tae-Woo sedang menatapnya heran.
  “Tidak apa-apa,” sahutnya sambil berpaling, memandang lurus ke depan. “Kenapa
kau  tidak  mengundang  mereka  ke  rumahmu  saja?  Biar  mereka  puas.  Bukankah  kau
sangat memerhatikan penggemarmu?”
  “Yang benar saja. Kalau mereka kuizinkan masuk, bagaimana kalau lain kali mereka
datang  berbondong-bondong  dan  semua  mau  masuk?”  kata  Jung  Tae-Woo  sambil
tertawa.
  Sandy ikut tersenyum, tapi kemudian ia teringat sesuatu. Pikiran ini membuatnya
mengerutkan  kening.  “Tadi  sepertinya  salah  satu  gadis  itu  memegang  ponsel,  tepat
sebelum aku masuk ke mobil. Gadis yang pirang.”
  “Lalu kenapa? Apa yang aneh?” tanya Jung Tae-Woo tidak mengerti.
  Sandy memiringkan kepala. “Tidak ada. Mungkin... mungkin hanya perasaanku.”
  Beberapa saat kemudian Jung Tae-Woo menghentikan mobil di depan rumahnya.
  Sandy  mencondongkan  tubuh  ke  depan  dan  memandangi  rumah  itu  lewat  kaca
depan  mobil.  Sudah  lama  ia  tidak  melihat  rumah  ini  dan  tiba-tiba  ia  merasa  rindu.
Aneh sekali.
  “Ayo, turunlah,” kata Jung Tae-Woo sambil melepaskan sabuk pengaman.
  “Mm?”
  Jung Tae-Woo memandangnya. “Bukankah kau ke sini untuk menemuiku?”
  Sandy tersadar. “Oh, ya. Benar.” Ia segera membuka  sabuk pengaman dan keluar
dari mobil.
  Jung Tae-Woo sudah mengeluarkan pakaian-pakaian dari kursi belakang mobil.
  Sandy mengikuti Jung Tae-Woo masuk ke rumah. Rumah itu sama seperti terakhir
kali  ia  tinggalkan.  Tentu  saja,  pikirnya  dalam  hati.  Memangnya  sudah  berapa  tahun
aku tidak melihat rumah ini?
  “Ayo, masuk,” kata Jung Tae-Woo sambil meletakkan pakaian-pakaian dari Mister
Kim  di  meja  ruang  duduk.  “Kenapa  malu-malu  begitu?  Kau  kan  juga  sudah  pernah
tinggal di sini.”
  Sandy  mendengus,  membuka  sepatu,  dan  memakai  sandal  rumah  yang  sudah
tersedia. Kemudian ia menghampiri laki-laki itu.
  “Nah, kenapa kau datang ke sini?” tanya Jung Tae-Woo. Ia berjalan ke dapur. “Mau
minum apa?” 134

  “Itu.”  Sandy  menunjuk  pakaian-pakaian  di  meja  ruang  duduk.  “Mister  Kim
memintaku membawakannya untukmu.”
  Jung  Tae-Woo  hanya  memandang  tumpukan  pakaian  itu  sekilas  lalu  membuka
lemari es. “Oh, kenapa repot-repot? Bukankah sudah kukatakan padanya aku akan ke
butiknya besok.”
  Oh ya? Lalu kenapa Mister Kim menyuruhnya ke sini? Sandy heran.
  Sebenarnya sejak pertama kali disuruh membawakan pakaian untuk Jung Tae-Woo,
ia sudah heran. Kenapa Mister Kim menyuruhnya membawakan pakaian untuk Jung
Tae-Woo? Biasanya tugas Sandy bukan itu. Tugas Sandy sebelumnya adalah semacam
asisten pribadi Mister Kim, bukan kurir.
  “Mau minum apa?”
  “Tidak usah.”
  “Ya sudah, minum jus saja. Ini.”
  Sandy menerima sebotol jus apel yang disodorkan Jung Tae-Woo.
  “Jadi hanya itu?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
  “Mm?”
  “Kau kemari hanya untuk itu?”
  “Oh,” gumam Sandy, lalu bertanya, “apa kabarmu? Baik-baik saja?”
  Jung Tae-Woo meneguk air dan mengangguk. “Baik-baik saja.”
  “Sibuk sekali?” tanya Sandy hati-hati.
  Jung Tae-Woo berpikir sebentar. “Tidak juga,” jawabnya.
  Sandy menarik napas dan mengangguk-angguk. Tidak sibuk. Tidak sibuk katanya.
  “Kenapa?” Jung Tae-Woo menundukkan kepala sedikit untuk melihat wajah Sandy.
  “Mm?” Lalu sebagai jawaban, Sandy hanya tersenyum dan menggeleng.
  Jung Tae-Woo tersenyum. “Rindu padaku?”
  Mata Sandy membesar. Apa katanya?
  Senyum Jung Tae-Woo melebar. “Rindu padaku, kan? Aku benar, kan?”
  Sandy mendengus pelan dan tertawa kecil. “Tidak.”
  Jung Tae-Woo memasang wajah kecewa. “Tidak?”
  “Tidak,” kata Sandy sekali lagi.
  “Wah,  berarti  usahaku  sia-sia,”  kata  Jung  Tae-Woo  sambil  berjalan  ke  arah  piano
putihnya.
  “Usaha apa?” tanya Sandy.
  Jung Tae-Woo duduk menghadap pianonya. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.”
  Sandy menghampirinya. “Sudah lama tidak mendengarmu main piano,” kata Sandy
sambil berdiri bertopang dagu di piano Jung Tae-Woo. “Mainkan satu lagu.”
  Jung Tae-Woo berpikir-pikir sejenak. “Aku akan main dengan satu syarat.” 135

  Sandy mengangkat dagu, menantangnya. “Syarat apa?”
  “Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, kau mau memberitahuku?” tanya Jung
Tae-Woo.
  Sandy mengerutkan kening karena merasa lucu. “Syarat apa itu?”
  “Setuju  atau  tidak?”  tanya  Jung  Tae-Woo  sambil  memosisikan  sepuluh  jarinya  di
atas tuts-tuts piano. Ia menatap Sandy lurus-lurus, menunggu jawaban.
  “Kenapa aku harus memberitahumu?” tanya Sandy lagi.
  “Supaya aku bisa langsung berlari menemuimu,” jawab Jung Tae-Woo ringan.
  Sandy tertegun. Ia merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Apakah laki-
laki itu sungguh-sungguh? Apa maksudnya?
  Akhirnya Sandy berdeham dan berkata, “Baiklah, aku akan memberitahumu kalau
suatu saat nanti aku rindu padamu. Tapi kau tidak perlu berlari menemuiku, nanti kau
capek.”
  Jung  Tae-Woo tertawa. Tiba-tiba ia  berseru pelan, “Ah, ada satu hal lagi  sebelum
aku main!”
  “Apa?”
  Ia  menatap  Sandy.  “Artikel  itu,”  katanya  ragu-ragu.  “Artikel  tentang
„perselingkuhanmu‟ itu... bukan aku yang mengatakannya.”
  “Oh...”
  “Aku  hanya  ingin  kau  tahu,”  kata  Jung  Tae-Woo  lagi.  “Jad  kau  tidak  usah
mencemaskan masalah itu lagi. Serahkan saja padaku.”
  Dalam  hati,  Sandy  sudah  tahu  bukan  Jung  Tae-woo  yang  menyebarkan  gosip
tersebut. Maka tanpa ragu ia pun langsung mengangguk.
  “Tapi,  apakah  kau  memang...  maksudku,  apakah  sekarang  kau  memang  dekat
dengan seseorang?”
  “Kau  sendiri  yang  bilang  gosip-gosip  seperti  itu  tidak  bisa  dipercaya.  Kenapa
bertanya seperti itu?” tanya Sandy kesal.
  “Aku memang tidak percaya. Makanya aku bertanya langsung padamu,” kata Jung
Tae-Woo membela diri. Aku ingin tahu jawabannya darimu.”
  Sandy meringis. “Tidak, semua yang ditulis di artikel itu tidak benar.”
  Jung Tae-Woo mengangguk. “Oke, aku percaya padamu. Ah, satu hal lagi.”
  Sandy menghela napas. “Apa lagi? Kau sebenarnya mau main atau tidak?”
  “Kalau suatu saat nanti aku rindu padamu, bolehkah kukatakan padamu?”
  Pertanyaan itu membuat hati Sandy berdebar-debar lagi.
  “Boleh...,” sahut Sandy, berusaha agar suaranya tidak terdengar gugup. “Terserah
kau saja.”
  “Aku rindu padamu.” 136

  Kali ini Sandy merasa jantungnya berhenti berdegup. Ia hanya bisa menatap laki-
laki  yang  sedang  tersenyum  itu.  Ia  tidak  bisa  mengucapkan  apa  pun,  tidak  bisa
memikirkan apa pun.
  “Baiklah,”  kata  Jung  Tae-Woo  akhirnya.  “Sekarang  lagu  apa  yang  harus
kumainkan?”































 137


Tiga Belas




“S ANDY, setelah Mama pikir-pikir, sebaiknya kamu jangan terlibat dengan artis itu
lagi.”
  Sandy  memindahkan  ponsel  ke  telinga  kirinya.  “Mama,  Sandy  kan  sudah  bilang
bahwa hubungan Sandy dengan dia nggak seperti yang Mama kira.”
  Di  ujung  sana,  ibunya  menghela  napas  berat  dan  berkata,  “Mama  ngagk  peduli
kalian  punya  hubungan  yang  seperti  apa,  tapi  yang  penting,  jangan  bergaul  dengan
artis itu. Atau artis mana pun.”
  Giliran Sandy yang menarik napas panjang.
  “Awalnya Mama pikir kamu bisa menyelesaikannya, tapi sepertinya nggak begitu,”
kata ibunya lagi. Suaranya terdengar sedih. “Kenapa kamu harus terlibat dengan dia?
Memangnya kamu sudah lupa tentang Lisa?”
  Sandy terdiam. Ia merasa tidak perlu diingatkan pada masalah itu. Ia belum lupa.
Tidak  pernah  lupa.  Bagaimana  bisa  lupa?  Sejak  pertama  kali  bertemu  Jung  Tae-Woo
sampai sekarang, setiap kali melihat Jung Tae-Woo, ia selalu teringat pada Lisa, selalu
bertanya  pada  dirinya  sendiri  apakah  keputusannya  benar.  Kini  ia  merasa  ada  yang
salah pada keputusannya. Seharusnya ia memang tidak terlibat dengan Jung Tae-Woo,
karena sekarang ini hatinya kacau, pikirannya kacau. Ia tidak bisa tenang karena belum
sepenuhnya jujur pada laki-laki itu.
  “Jangan katakan masalah kali ini berbeda dengan masalah Lisa,” kata ibunya lagi.
“Karena  walaupun  berbeda,  Mama  nggak  peduli.  Tolong  jangan  terlibat  dengan  dia
lagi.”
  Jung Tae-Woo orang yang baik, Ma,” kata Sandy. 138

  “Mama  nggak  tahu  apakah  dia  orang  yang  baik  atau  jahat,”  sela  ibunya  cepat.
“Yang  Mama  tahu,  kematian  kakakmu  ada  hubungannya  dengan  dia.  Jadi  jauhi  dia,
Sandy. Jauhi dia.”
  Sandy tersentak. “Kenapa Mama bicara seperti itu? Mama bicara seakan-akan Jung
Tae-Woo sendiri yang menyebabkan kematian Lisa.”
  “Bukan itu yang Mama katakan!” kata ibunya keras. “Mama hanya berpikir, kalau
saja waktu itu Lisa nggak ke Korea, kalau saja dia nggak ikut acara itu, sekarang dia
pasti masih hidup.”
  Pada dasarnya ibunya bukan orang yang berpikiran sempit, Sandy tahu itu. Ibunya
bukan  orang  yang  suka  berandai-andai.  Sebenarnya  bukan  ini  yang  Sandy  harapkan
ketika  ia  memutuskan  membantu  Jung  Tae-Woo.  Saat  itu  tujuannya  hanya  untuk
mengenal Jung Tae-Woo, mengenalnya lebih baik. Hanya sebentar dan sebatas itu. Ia
tidak  punya  maksud  apa  pun.  Bagaimana  ia  bisa  tahu  masalahnya  bisa  berubah  jadi
seperti ini? Bagaimana ia bisa tahu bahkan perasaannya bisa berubah jadi seperti ini?
  Setelah menutup telepon, Sandy bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela.
Ia  menyingkap  tirai  dan  memandang  ke  luar  jendela.  Hujan.  Sudah  berapa  lama?  Ia
tidak menyadarinya.
  Sandy  menarik  napas,  lalu  mengembuskannya  pelan.  Ia  memegang  pipinya  yang
terasa  hangat.  Benar,  kakak  perempuannya,  Lisa,  sudah  meninggal.  Lisa  dulu
penggemar Jung Tae-Woo. Lisa penggemar Jung Tae-Woo yang meninggal pada acara
jumpa  penggemar  empat  tahun  lalu.  Siapa  yang  bisa  menduga  Lisa  akan  meninggal
hanya  karena  menghadiri  acara  jumpa  penggemar?  Sandy  masih  ingat  ketika  Lisa
meneleponnya empat tahun yang lalu.


“Sandy!” seru kakaknya gembira. “Acaranya baru selesai nih! Akhirnya aku ketemu Jung Tae-
Woo! Aku melihat dia! Aku bahkan bicara dengan dia! Oh ya, aku berhasil mendapatkan tanda
tangannya.  Dapat  dua.  Satu  buat  kamu.  Dan  aku  juga  mendapat  bros  dari  dia!  Tadi  dia
membagikan  sepuluh  bros  kepada  penggemar-penggemarnya.  Salah  satunya  aku!  Beruntung
banget, kan?”
  Sandy hanya mendengus dan tertawa. “Aduh, senangnya. Pasti Onni satu-satunya orang
Indonesia  di  sana.  Onni  sempat  bicara  sama  dia?  Pakai  bahasa  apa?  Memangnya  Onni  bisa
bahasa Korea?”
  “Jangan anggap enteng Onni-mu ini ya,” kata kakaknya sambil tertawa. “Aku bisa bahasa
Inggris  sedikit-sedikit.  Bahasa  Korea?  Setidaknya  aku  bisa  bilang  „Sarang  haeyo*,  Tae-Woo
Oppa‟. Itu yang paling penting.”
  Sandy tersenyum mendengar tawa kakaknya di ujung sana.
  “Kenapa sih kamu nggak mau ikutan? Rugi lho,” kata Lisa lagi. 139

  Sandy  meringis.  “Ih,  Onni  kan  tahu  aku  bukan  penggemar  Jung  Tae-Woo.  Untuk  apa
berdesak-desakan demi melihat seseorang yang tidak aku suka? Memangnya seperti Onni yang
demi melihat Jung Tae-Woo saja harus naik pesawat ke sini.”
  “Cinta perlu pengorbanan,” kata Lisa puitis, lalu tertawa lepas.
  Sandy juga ikut tertawa.
  “Ya sudah, sekarang aku lagi nunggu dia keluar,” kata Lisa. “Wah, mulai hujan nih. Oh,
nah,  nah,  nah...  itu  dia  udah  keluar.  Udah  dulu  ya.  Sebentar  lagi  aku  pasti  pulang.  Jangan
makan dulu. Tunggu aku. Annyeong!**”
  Itu  terakhir  kalinya  Sandy  mendengar  suara  Lisa.  Lisa  tidak  pulang  makan.  Sandy
menunggunya  pulang  untuk  makan,  tapi  dia  tidak  pulang.  Setelah  menunggu  lama,  telepon
berbunyi dan Sandy nyaris lumpuh mendengar berita itu. Ia tidak ingat apa yang dilakukannya
kemudian. Semuanya menjadi kabur. Kalau tidak salah, ia langsung menelepon orangtuanya di
Jakarta, lalu berlari ke rumah sakit. Lisa tidak membuka mata ketika Sandy tiba di rumah sakit.
Kakaknya  tidak  membuka  mata  saat  Mama  dan  Ayah  tiba  di  rumah  sakit.  Ia  bahkan  tidak
membuka mata ketika Mama memanggil namanya. Lisa tidak pernah membuka matanya lagi.


Sandy  tersadar  dari  lamunan  dan  menyadari  pipinya  basah  karena  air  mata.  Ia
menghapusnya dengan telapak tangan, namun air mata tidak mau berhenti mengalir.
  Sekarang harus bagaimana? Jung Tae-Woo... haruskah ia memberitahu laki-laki itu?
  Tiba-tiba  ponselnya  berdering.  Sandy  tersentak.  Ia  memandang  ponselnya  yang
tergeletak  di  tempat  tidur.  Ia  menghapus  air  mata  dan  meraih  ponsel  itu.  Ia  melihat
layar ponsel yang menyala. JTW. Jung Tae-Woo.
  “Halo?”
  “Sandy?” Terdengar suara Jung Tae-Woo. “Sudah makan?”
  Tanpa sadar Sandy tersenyum. “Kau menelepon cuma untuk menanyakan itu?”
  “Memangnya tidak boleh?” balas Jung Tae-Woo. “Sudah makan, belum?”
  “Tentu saja  sudah.  Sekarang  sudah lewat jam makan malam,”  sahut Sandy. “Kau
belum makan?”
  “Belum. Aku baru selesai syuting untuk acara televisi,” jawab Jung Tae-Woo, lalu
terdengar suara bersin.
  “Kau kenapa? Flu?” tanya Sandy.
  “Tidak. Hanya saja cuaca agak dingin hari ini,” ujar Jung Tae-Woo.
  Sandy mendengar sepertinya Jung Tae-Woo sedang membersihkan hidungnya.


* Aku cinta padamu
** Sampai nanti.   “Sekarang sedang hujan. Jangan berkeliaran ke mana-mana. Pakai baju yang tebal
sedikit,” kata Jung Tae-Woo menasihati.
  “Memangnya kau ibuku?” balas Sandy sambil tertawa kecil.
  “Hanya  berusaha  menunjukkan  sedikit  perhatian.  Sudahlah.  Tidak  apa-apa.  Aku
akan pergi makan dengan Hyun-Shik Hyong.”
  “Jung Tae-Woo ssi.”
  Ah, apakah dia barusan memanggil Jung Tae-Woo?
  “Apa?”
  Sandy  tidak  tahu  apa  yang  ingin  dikatakannya.  Tadi  ia  hanya  ingin  mendengar
suara Jung Tae-Woo.
  “Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Jung Tae-Woo dengan nada khawatir.
  Sandy menggeleng, tapi setelah menyadari Jung Tae-Woo tidak bisa melihatnya, ia
berkata, “Tidak, aku tidak apa-apa.”
  “Lalu ada yang mau kaukatakan?”
  Sandy tidak menjawab.
  “Wah, jangan-jangan kau rindu padaku?” gurau Jung Tae-Woo.
  “Mm.”
  “Apa? Kau bilang apa?”
  Sandy  ragu-ragu  sejenak,  lalu  menetapkan  hatinya.  “Mm,  aku  memang  rindu
padamu.”
  “Oke, itu artinya aku harus berlari menemuimu sekarang,” kata Jung Tae-Woo.
  Sandy tertawa. “Itu tidak perlu.”
  “Kau ada di rumah, kan? Tunggu di situ. Aku akan segera ke sana.”
  “Jung Tae-Woo ssi, tidak usah. Lagi pula sedang hujan—Jung Tae-Woo ssi? Halo?
Jung Tae-Woo ssi. Astaga.” Sandy menatap ponselnya heran. Ada apa dengan laki-laki
itu? Apakah dia serius?


Tae-Woo  hampir  tidak  bisa  memercayai  telinganya  sendiri.  Sandy  rindu  padanya.  Ia
segera bangkit dari tempat duduk dan mengumpulkan barang-barangnya.
  “Tae-Woo, kau mau makan di mana?” tanya manajernya yang baru masuk ke ruang
rias. “Mau makan bersama—hei, kau mau ke mana?”
  Tae-Woo  memandang  Park  Hyun-Shik  sekilas  dan  berkata,  “Maaf,  Hyong.  Aku
harus menemui Sandy sekarang.”
  “Oh?  Kenapa  buru-buru  seperti  itu?”  tanya  manajernya  lagi.  “Apa  yang  terjadi?
Sandy kenapa?” 141

  Tae-Woo yang sudah berjalan mencapai pintu berbalik dan menatap manajernya. Ia
tersenyum melihat manajernya kebingungan.
  “Dia rindu padaku,” kata Tae-Woo, lalu keluar meninggalkan Park Hyun-Shik yang
masih terlihat bingung.


Sandy  mendengar  bel  pintu  berbunyi.  Begitu  cepat  sudah  sampai?  Ia  bangkit  dan
berjalan ke pintu. Ketika ia membuka pintu, Jung Tae-Woo sudah berdiri di sana sambil
tersenyum lebar.
  “Bukankah  sudah  kubilang  kau  tidak  perlu  datang  kemari,”  kata  Sandy.  “Kau
kehujanan—“
  Sandy  tercengang  ketika  Jung  Tae-Woo  tiba-tiba  memeluknya.  Napasnya  tercekat
dan untuk sesaat ASndy lupa bagaimana cara bernapas kembali.
  “Jung Tae-Woo ssi, kau kenapa?” tanyanya lirih.
  Jung  Tae-Woo  masih  tetap  memeluknya.  “Padahal  kita  baru  bertemu  kemarin,
kenapa rasanya seolah sudah lama sekali aku tidak melihatmu?” gumam laki-laki itu.
  Sandy cuma tertawa kecil. “Bukankah kau tadi bilang kau belum makan?”
  Tiba-tiba  Jung  Tae-Woo  melepaskan  pelukannya  dan  memegang  bahu  Sandy
dengan kedua tangannya. “Benar juag. Ayo, temani aku makan di luar.”
  “Sebentar.”  Sandy  menahannya.  Apakah  ia  harus  memberitahu  Jung  Tae-Woo
tentang Lisa?
  “Ada apa?” tanya Jung Tae-Woo.
  Memang  sebaiknya  dikatakan.  Tapi  bagaimana  caranya?  Apakah  harus  sekarang?
Tidak, ia harus berpikir dulu. Ia harus memikirkan kata-katanya. Ia akan memberitahu
Jung Tae-Woo, tapi tidak sekarang.
  “Tidak apa-apa,” jawab Sandy akhirnya. “Baik, kutemani kau makan di luar.”


Samar-samar Sandy mendengar bunyi sirene, seperti sirene ambulans atau mobil polisi.
Bukan,  bukan  bunyi  sirene.  Itu  bunyi  bel  pintunya.  Sandy  membalikkan  tubuh  dan
berusaha membuka mata. Ia melirik jam kecil di samping tempat tidurnya. Siapa yang
datang sepagi ini?
  Sandy  memaksa  dirinya  bangkit  dari  tempat  tidur  dan  dalam  keadaan  setengah
sadar, ia berjalan terhuyung-huyung ke pintu dan membukanya.
  “Oh,  Young-Mi?”  katanya  setelah  melihat  siapa  yang  berdiri  di  depan  pintu.  Ia
mundur selangkah agar temannya bisa masuk. 142

  Tanpa  berkata  apa-apa,  Young-Mi  menerobos  masuk.  Sandy  agak  heran  melihat
sikap temannya. Ia menutup pintu kembali dan masuk menyusul temannya.
  Young-Mi berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Wajahnya serius sekali.
  “Young-Mi, ada apa?” tanya Sandy hati-hati.
  Young-Mi  membuka  tas  dan  mengeluarkan  beberapa  lembar  kertas.  Ia  memutar
tubuhnya menghadap Sandy.
  “Aku  tidak  tahu  apa  yang  harus  kukatakan,”  kata  Young-Mi.  Ia  menyodorkan
kertas-kertas itu kepada Sandy. “Tolong jelaskan apa maksud semua ini.”
  Sandy mengerutkan kening dan menerima kertas-kertas itu dari tangan Young-Mi.
Begitu membaca kertas pertama, tubuhnya menjadi kaku.
  “Aku mendapat artikel itu dari internet dan aku mencetaknya,” kata Young-Mi.
  Sandy  meletakkan  tangan  di  dahinya.  Kalimat-kalimat  artikel  itu  berputar-putar
dalam benaknya, membuat kepalanya berdenyut-denyut.
  ...Siapa  sebenarnya  Han  Soon-Hee?  Kekasih  Jung  Tae-Woo  atau  seseorang  yang  ingin
membalas  dendam?  ...  Han  Soon-Hee  adalah  adik  penggemar  Jung  Tae-Woo  yang  meninggal
dunia saat jumpa penggemar empat tahun lalu... Apa maksudnya mendekati Jung Tae-Woo? ...
Membalas dendam atas kematian sang kakak... Jung Tae-Woo sudah tahu? Atau tidak... Sekadar
menebus dosa? ... Rasa kasihan...
  Ada  juga  foto  dirinya.  Jelas  sekali.  Foto  ini...  Sandy  ingat,  pasti  diambil  ketika  ia
bertemu dua gadis penggemar Jung Tae-Woo di tengah jalan. Saat itu ia merasa mereka
memegang  ponsel.  Ternyata  mereka  memang  sedang  memotretnya  saat  itu.  Mereka
memotretnya dan mencari tahu tentang dirinya.
  “Soon-Hee, apa artinya itu?” tanya Young-Mi.
  Sandy menggeleng. “Dari mana mereka tahu semua ini?”
  Young-Mi mencengkeram bahu Sandy dan  mengguncangnya. “Maksudmu semua
ini benar?”
  Sandy menatap Young-Mi dengan pandangan bingung. “Ya... Tidak... Ya... bukan,
tidak.”
  “Demi Tuhan, jawab yang benar!” seru Young-Mi.
  Sandy terduduk di lantai. Tangannya masih memegang kertas-kertas itu.
  Young-Mi menarik napas dan ikut duduk di lantai. “Baiklah,” katanya pelan. “Aku
akan bertanya dan kau menjawab.”
  Sandy hanya menatap temannya, lalu menatap kertas-kertas di tangannya.
  “Benarkah kau punya kakak?” tanya Young-Mi.
  Sandy mengangguk.
  “Kakakmu penggemar Jung Tae-Woo yang meninggal dunia itu?”
  Sandy mengangguk lagi dan mendengar napas Young-Mi tercekat. 143

  “Kenapa  selama  ini  kau  tidak  pernah  menceritakannya  padaku?  Selama  ini  aku
berpikir kau anak tunggal.”
  “Tapi,  Young-Mi,  yang  tertulis  di  artikel  ini...  tentang  balas  dendam...  itu  tidak
benar. Aku tidak punya maksud seperti itu. Kau harus percaya padaku,” kata Sandy
panik.
  “Tentu  saja  aku  percaya  padamu,”  kata  Young-Mi.  “Sekarang  masalahnya  bukan
itu. Para penggemar Jung Tae-Woo sangat marah, kau tahu? Di setiap website Jung Tae-
Woo ada artikel-artikel semacam ini, juga komentar-komentar yang tidak enak. Ini bisa
jadi  skandal  besar,  Soon-Hee.  Dan  kau  sekarang  sudah  bukan  orang  asing  lagi.
Wajahmu  sudah  terpampang  di  internet.  Sebentar  lagi  juga  akan  terpampang  di
tabloid-tabloid. Kau akan dikejar-kejar wartawan, Soon-Hee.”
  Sandy merasa kepalanya berputar. Apa yang sudah dilakukannya?
  “Jung Tae-Woo sudah tahu tentang kakakmu?”
  Sandy tertegun. Jung Tae-Woo. Laki-laki itu tidak tahu apa-apa. Ia belum sempat...
Sandy bergegas bangkit dan meraih ponselnya.
  “Jung Tae-Woo belum tahu?”
  Sandy mendengar Young-Mi bertanya, tapi ia tidak menjawab. Ia menekan tombol
ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menempelkannya di telinga. Tidak aktif. Ponsel
Jung  Tae-Woo  tidak  diaktifkan.  Sandy  mencoba  nomor  telepon  rumahnya.  Tidak
diangkat juga.
  Ia menutup ponselnya dengan gerakan lambat. Kepalanya terasa berat. Bagaimana
sekarang? Ia menarik napas panjang, lalu berjalan cepat ke arah lemari pakaiannya.
  “Soon-Hee, kau mau ke mana?” tanya Young-Mi.
  “Aku harus bertemu dengannya,” kata Sandy sambil menarik jaketnya dari dalam
lemari.


Tae-Woo duduk di depan komputernya dengan kepala tertunduk. Pagi ini ia terbangun
dengan  perasaan  bahagia.  Saat  itu  entah  kenapa  ia  merasa  tidak  nyaman  dengan
perasaan seperti itu, seakan-akan perasaan bahagia tersebut tidak akan bertahan lama.
Ternyata  memang  terbukti.  Pagi-pagi  sekali  Park  Hyun-Shik  sudah  menelepon,
menyuruhnya membuka komputer, dan masuk ke sebuah website.
  Tae-Woo  membaca  artikel-artikel  yang  tertera  di  website  itu.  Apakah  itu  benar?
Penggemarnya  yang  meninggal  dunia  empat  tahun  lalu  itu  kakak  Sandy?  Saat  ini  ia
baru menyadari hal-hal kecil yang dulu membuatnya heran, tapi saat itu ia tidak benar-
benar memperhatikannya. 144

  Tae-Woo  ingat,  saat  itu  mereka  sedang  makan  daging  panggang  di  rumah  Hyun
Shik Hyong. Hyun-Shik Hyong memberitahu gadis itu tentang jumpa penggemar Tae-
Woo. Sandy kelihatan kaget lalu terbatuk-batuk, lalu ia bertanya, “Jumpa penggemar?
Seperti yang dulu?”
  Kemudian  ketika  ia  meminta  bantuan  Sandy  memilihkan  hadiah  untuk
penggemarnya,  gadis  itu  mengusulkan  bros.  Ketika  Tae-Woo  mengatakan  ia  sudah
pernah memberikan bros untuk penggemarnya, gadis itu berujar, “Aah, benar juga.”
  Sandy juga pernah bertanya padanya tentang kecelakaan empat tahun lalu itu. Saat
itu  wajahnya  agak  pucat,  Tae-Woo  baru  menyadarinya  sekarang.  Ia  juga  berkata,
“Kurasa... kau tidak salah.”
  Tae-Woo  juga  teringat  pada  kata-kata  manajernya  dulu.  Park  Hyun-Shik  pernah
berkomentar  bahwa  ia  merasa  aneh  Sandy  tidak  meminta  imbalan  apa  pun  untuk
berfoto dengannya dan berpura-pura menjadi kekasihnya.
  Tae-Woo  mengusap  wajah  dengan  kedua  tangannya,  matanya  menatap  layar
komputer.  Apakah  Sandy  sungguh  ada  hubungannya  dengan  penggemarnya  yang
meninggal  itu?  Apakah  gadis  itu  ingin  membalas  dendam?  Tidak,  tidak  mungkin.
Sandy sudah berkata kecelakaan itu bukan kesalahannya.
  Tidak, ia tidak bisa duduk saja. Apa yang sedang ditunggunya? Ia harus menemui
Sandy. Ia harus bicara dengannya. Bicara apa? Ia tidak tahu. Ia tidak bisa berpikir. Yang
pasti, ia harus bertemu gadis itu.
  Tepat  pada  saat  Tae-Woo  bangkit  dari  kursi,  telepon  rumahnya  berdering.  Ia
membiarkan  mesin  penjawab  telepon  yang  menerimanya.  Ia  meraih  kunci  mobilnya
dan baru akan keluar dari pintu ketika terdengar suara manajernya di mesin penjawab
telepon.
  “Tae-Woo, tolong angkat teleponnya. Aku tahu kau ada di sana. Tae-Woo!”
  Tae-Woo hanya bergeming menatap mesin penjawab telepon.
  “Mereka ingin bertemu denganmu. Kau harus datang kemari.”
  Tae-Woo tahu siapa “mereka” yang dimaksud Park Hyun-Shik. Para produser dan
agennya.
  Ia  mengangkat  gagang  teleponnya  dan  berkata,  “Aku  ingin  bertemu  dengannya
dulu. Setelah itu aku baru ke sana.”
  Seperti  yang  sudah  diduganya,  banyak  wartawan  sudah  menunggu  di  depan
rumah.  Ia  bisa  mendengar  mereka  berteriak-teriak  memanggilnya  dari  depan  pagar.
Tae-Woo langsung masuk ke mobil, membuka pagar rumah dengan remote control, dan
melesat  pergi  tanpa  menghiraukan  wartawan-wartawan  itu.  Ia  tidak  bisa  memberi
komentar apa pun. Tidak sebelum ia bertemu Sandy. 145

  Belum  begitu  jauh  meninggalkan  rumah,  Tae-Woo  melihat  seorang  gadis  sedang
berlari ke arahnya. Sandy. Gadis itu sedang berlari menuju rumahnya.


Sandy  berlari  secepat  mungkin.  Ia  berlari  menyusuri  jalan  menuju  rumah  Jung  Tae-
Woo.  Ia  harus  bertemu  laki-laki  itu.  Ia  harus  menjelaskan  semuanya.  Sebentar  lagi
sampai. Tiba-tiba ia melihat mobil merah melaju ke arahnya. Mobil Jung Tae-Woo. Ia
berhenti  berlari,  berusaha  mengatur  napasnya  yang  terengah-engah.  Pasti  Jung  Tae-
Woo juga sudah melihatnya, karena mobil itu langsung berhenti tepat di sampingnya.
  Sandy  melihat  jendela  mobil  diturunkan.  Jung  Tae-Woo  menatapnya  dari  balik
kacamata  gelapnya.  Sandy  tidak  mampu  berkata  apa-apa  karena  masih  berusaha
mengatur napas.
  “Masuklah,” kata Jung Tae-Woo. “Ada banyak wartawan di belakang.”
  Sandy menurut.
  Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara. Jung Tae-Woo tetap menatap lurus ke
depan.  Sandy  ingin  memulai  percakapan,  tapi  tidak  tahu  harus  memulai  dari  mana.
Dari sikap diam Jung Tae-Woo, Sandy yakin laki-laki itu sudah tahu tentang artikel di
internet  itu.  Apakah  Jung  Tae-Woo  marah?  Entahlah.  Sandy  melirik  Jung  Tae-Woo
dengan hati-hati. Sulit melihat ekspresinya dari balik kacamata gelap. Akhirnya Sandy
memilih diam dulu.
  Mobil Jung Tae-Woo terus melaju ke arah luar kota. Sandy memperkirakan mereka
sedang menuju pantai. Ternyata memang benar. Akhirnya Jung Tae-Woo menghenti-
kan mobil di pinggir jalan yang sepi. Di sebelah kanan mereka terbentang laut luas. Di
sebelah kiri mereka terdapat beberapa rumah makan.
  Sandy  duduk  tegang  sementara  Jung  Tae-Woo  mematikan  mesin  mobilnya.  Dari
sudut  matanya,  ia  melihat  Jung  Tae-Woo  membuka  kacamata  gelapnya  namun  tetap
memakai topi. Laki-laki itu menarik napas panjang dan melepaskan sabuk pengaman.
Kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar.
  “Keluarlah,” katanya pada Sandy.
  Sandy melepaskan sabuk pengaman perlahan-lahan. Otaknya terus menyusun kata-
kata yang ingin diutarakannya pada Jung Tae-Woo. Ia keluar dari mobil dan mengham-
piri  Jung  Tae-Woo  yang  berdiri  dan  setengah  bersandar  pada  bagian  depan  mobil,
memandang laut.
  Sandy berdiri di sampingnya. Ia ingin membuka mulut, tapi tidak ada suara yang
keluar. Ia tidak suka melihat Jung Tae-Woo yang pendiam seperti ini.
  “Maaf,” gumam Jung Tae-Woo.
  Sandy menoleh ke arahnya. Apa yang dikatakannya tadi? Maaf? 146

  Jung Tae-Woo masih tetap memandang ke laut. Ia mengembuskan napas. “Maafkan
aku,” katanya sekali lagi. Nada suaranya lemah, seakan-akan ia tidak bisa mengucap-
kan kata-kata yang lain lagi. “Maafkan aku.”
  Sandy mengerutkan kening karena heran. “Minta maaf untuk apa?” tanyanya.
  Jung  Tae-Woo  menoleh  ke  arahnya,  tersenyum  samar.  “Mengenai  kakakmu,”
katanya. “Maafkan aku.”
  Hati  Sandy  terasa  seolah  diremas.  Kenapa  Jung  Tae-Woo  yang  harus  meminta
maaf?  Justru  ia  sendiri  yang  ingin  meminta  maaf  karena  tidak  menceritakan  hal  ini
sejak awal.
  “Tidak,” gumam Sandy. “Untuk apa minta maaf? Kau tidak salah.”
  “Jadi, artikel itu benar?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
  Sandy tidak suka mendengar nada suara Jung Tae-Woo yang seperti itu. Laki-laki
itu kelihatan sedih, putus asa, kecewa.
  Sandy  menarik  napas,  lalu  mengembuskannya  perlahan.  “Benar,  dulu  aku  punya
kakak perempuan. Benar, dia meninggal empat tahun lalu. Dan benar, dia meninggal
setelah menghadiri acara jumpa penggemar itu.”
  Kepala  Jung  Tae-Woo  tertunduk.  Mereka  terdiam  sejenak,  lalu  Jung  Tae-Woo
bertanya pelan, “Kukira kau anak tunggal.”
  Sandy  menoleh  ke  arah  Jung  Tae-Woo,  lalu  kembali  menatap  laut.  Kata-katanya
mengalir  lancar.  “Sebelum  ibuku  menikah  dengan  ayahku,  ibuku  pernah  menikah
dengan  sesama  orang  Indonesia.  Lisa  anak  hasil  pernikahan  ibuku  dengan  suami
pertamanya. Tapi ketika Lisa berusia dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Dua tahun
kemudian,  ibuku  menikah  dengan  ayahku.  Aku  lahir.  Ketika  usiaku  sepuluh  tahun,
kami sekeluarga pindah ke Seoul. Lisa tidak ingin ikut, jadi ia tetap tinggal di Jakarta
bersama neneknya. Walaupun begitu, hubungan kami sangat baik. Ia sering datang ke
Seoul, tapi tidak pernah bisa berbahasa Korea.
  “Empat  tahun  yang  lalu,  ia  datang  ke  Seoul  untuk  menghadiri  jumpa
penggemarmu.  Dia  salah  satu  penggemar  terbesarmu.  Selalu  membicarakan  dirimu.
Kadang-kadang  aku  bosan  mendengarnya.  Aku  tidak  mengerti  kenapa  dia  sangat
mengidolakan  Jung  Tae-Woo.  Sebelum  pergi  ke  acara  itu,  dia  terus  berusaha
mengajakku menemaninya ke acara jumpa penggemar itu, tapi aku tidak mau. Katanya
aku akan rugi karena tidak mengenal Jung Tae-Woo, tidak mendengar Jung Tae-Woo
menyanyi.
  “Aku  ingin  kau  mengerti  aku  tidak  menyalahkanmu.”  Sandy  menatap  Jung  Tae-
Woo.  Laki-laki  itu  juga  sedang  menatapnya.  “Karena  itu  aku  tidak  pernah  punya
dendam  terhadapmu.  Mungkin  awalnya  kau  sempat  heran  kenapa  aku  bersedia
membantumu, kenapa aku bersedia terlibat dalam urusanmu. Saat itu aku hanya ingin 147

mengenal  dirimu,  mengenalmu  lebih  baik.  Aku  ingin  tahu  kenapa  kakakku  sangat
menyukaimu. Aku berpikir, bila aku bisa memahami alasan kakakku menyukaimu, aku
akan merasa lebih memahaminya dan perasaanku akan membaik. Hanya itu.”
  Sandy memalingkan wajah. “Seharusnya kuceritakan lebih awal. Maafkan aku.”
  Jung Tae-Woo memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Lalu,” katanya, “apakah
kau sudah bisa memahami kakakmu?”
  Sandy  tersenyum  samar.  Jung  Tae-Woo  menanyakan  pertanyaan  yang  tepat.
Apakah ia sudah bisa memahami Lisa? Apakah ia sudah menemukan jawaban kenapa
Lisa sangat menyukai Jung Tae-Woo?
  “Kurasa belum,” jawabnya.
  “Belum?”
  Sandy menoleh memandang Jung Tae-Woo. Laki-laki itu juga sedang menatapnya
dengan raut wajah yang susah ditebak artinya.
  “Kurasa aku tidak akan pernah bisa memahaminya,” Sandy melanjutkan, “karena
menurutku apa yang kurasakan berbeda dengan apa yang Lisa rasakan.”
  Dahi Jung Tae-Woo berkerut tidak mengerti.
  Sepertinya  rasa  suka  yang  dirasakan  Lisa  terhadapmu  berbeda  dengan  rasa  suka  yang
kurasakan  terhadapmu,  kata  Sandy  dalam  hati.  Matanya  menatap  mata  Jung  Tae-Woo
lurus-lurus.
  Kerutan  di  dahi  Jung  Tae-Woo  perlahan-lahan  menghilang.  Ketika  baru  akan
mengatakan sesuatu, ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat.
  “Halo? ... Mm... Aku mengerti.”
  Jung  Tae-Woo  hanya  mengucapkan  kata-kata  pendek  itu,  lalu  menutup  flap
ponselnya kembali.
  “Dari Paman Park Hyun-Shik?” tanya Sandy.
  Jung Tae-Woo melihatnya sekilas, lalu mengangguk. “Mm.”
  “Kau disuruh menemuinya, bukan?”
  Jung Tae-Woo tidak menjawab.
  “Mungkin...  Apakah  menurutmu  sebaiknya  kita  tidak  saling  bertemu  dulu  untuk
sementara? Maksudku, karena ada masalah seperti ini. Kurasa kita berdua juga perlu...
berpikir.”
  Jung Tae-Woo mengembuskan napas keras-keras, tapi tidak berkata apa-apa.
  Mereka  berdua  kembali  terdiam  beberapa  saat.  Masing-masing  menikmati
keheningan yang hanya diselingi deburan ombak. Entah kenapa ada sepercik perasaan
damai  ketika  itu.  Kalau  boleh,  Sandy  ingin  waktu  berhenti  saat  itu  juga.  Ia  ingin
menikmati  kesunyian  itu,  perasaan  damai  itu,  dan  suara  laut  yang  menenangkan 148

dengan Jung  Tae-Woo di sampingnya.  Tapi tentu saja itu tidak  mungkin. Cepat atau
lambat mereka harus menghadapi kenyataan.
  “Sebaiknya kita kembali saja sekarang,” kata Sandy akhirnya.
  Sandy  bergerak,  berniat  menjauhi  mobil,  ketika  tiba-tiba  ia  merasa  pergelangan
tangannya  dicekal.  Ia  menoleh  dan  melihat  Jung  Tae-Woo  sedang  mencengkeram
pergelangan  tangannya  tanpa  memandangnya.  Mendadak  saja  ia  merasa  sulit
bernapas.
  “Kau tidak usah khawatir,” kata Jung Tae-Woo dengan nada rendah. “Biar aku saja
yang  menyelesaikan  masalah  ini.  Setelah  itu  kita  akan  bicara  lagi.  Kau...  kau  mau
menunggu sampai saat itu?”
  Sandy mengangguk, lalu berkata sekali lag, “Kita kembali saja sekarang...”

























 149


Empat Belas




SEJAK hari itu, Sandy mengalami hari-hari biasa. Walaupun juru bicara Jung Tae-Woo
sudah  meluruskan  gosip  itu,  tentu  saja  tidak  semua  pihak  menerimanya  sebagai
kenyataan.  Masih  saja  ada  penggemar  Jung  Tae-Woo  yang  mengatakan  hal-hal  yang
tidak menyenangkan dan menyebarkannya di internet. Sandy juga tidak bisa berjalan-
jalan  sendirian  di  tempat  umum  lagi.  Sekarang  banyak  orang  yang  mengenalinya,
terlebih lagi remaja-remaja penggemar Jung Tae-Woo. Ada yang bersikap sopan, hanya
tersenyum ketika mengenalinya. Tapi ada juga yang kasar, menuduhnya memperalat
dan  menghancurkan  nama  baik  Jung  Tae-Woo,  bahkan  ada  yang  menuduhnya
memanfaatkan kecelakaan kakaknya sendiri demi mendapatkan Jung Tae-Woo.
  Sandy  menyadari  bahwa  yang  mengalami  masa-masa  sulit  tidak  hanya  dirinya
sendiri,  tapi  juga  Jung  Tae-Woo.  Laki-laki  itu  harus  menghadapi  mimpi  buruknya
sekali  lagi.  Orang-orang  kembali  membicarakan  kecelakaan  empat  tahun  lalu  yang
melibatkan dirinya dan yang mengakibatkan salah seorang penggemarnya meninggal
dunia.
  Sejak  mereka  kembali  dari  pantai  itu,  Sandy  sama  sekali  belum  berbicara  dengan
Jung  Tae-Woo.  Sudah  seminggu  lebih.  Berkali-kali  Sandy  ingin  meneleponnya,  tapi
kemudian membatalkan niatnya. Ia merasa sebaiknya tidak menghubungi laki-laki itu
untuk sementara ini, seperti yang mereka sepakati. Tapi bagaimana ini? Hatinya tidak
tenang.
  “Miss Han.”
  Sandy  tersentak  dan  menoleh.  Mister  Kim  sudah  berdiri  di  sampingnya  sambil
berkacak pinggang.
  “Ya, Mister Kim?” Ia bergegas bangkit dari kursinya. 150

  “Apa yang sedang kaupikirkan, Miss Han? Aku sudah memanggilmu ratusan kali,”
kata Mister Kim. “Wajahmu juga pucat seperti bulan.”
  Sandy menunduk. “Aku minta maaf.”
  “Karena Jung Tae-Woo?”
  Sandy mengangkat wajahnya dengan kaget. “Oh, Mister Kim, itu—“
  Mister  Kim  mengangkat  sebelah  tangan  untuk  menghentikan  kata-kata  Sandy.
“Miss Han, aku tidak percaya pada gosip-gosip yang beredar. Aku percaya padamu. Do
you understand that?”
  Sandy terdiam.
  Mister Kim berjalan kembali ke meja kerjanya dan duduk di kursinya yang besar.
“Tapi kau memang menyukainya, kan?”
  Pertanyaan Mister Kim yang langsung dan tiba-tiba itu membuat Sandy tidak bisa
berkata apa-apa.
  “Kau ingin bertemu dengannya?”
  Sandy masih diam.
  Ternyata  Mister  Kim  mengartikan  sikap  diamnya  sebagai  jawaban  “ya”.  “Kenapa
kau tidak menghubunginya?”
  Sandy tersenyum dan menggeleng.
  Mister  Kim  menyandarkan  kepala  ke  kursi.  “Benar  juga,”  katanya.  “Dia  pasti  se-
dang banyak urusan sekarang ini. Kalau semuanya sudah diselesaikan, aku yakin dia
pasti akan menghubungimu.”
  Sandy hanya mengangguk sedikit, lalu keluar dari studio Mister Kim. Ia berjalan ke
ruang  penerimaan  tamu  yang  saat  itu  sedang  kosong.  Ia  duduk  di  sofa  dan
memandang  ke  luar  jendela  kaca  yang  besar.  Banyak  mobil  yang  berlalu-lalang,  tapi
Sandy  tidak  benar-benar  memerhatikannya.  Ia  menatap  ponsel  yang  ada  dalam
genggamannya.
  Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, maukah kau memberitahuku?  ... Agar  aku bisa
langsung berlari menemuimu.
  Benarkah? Tidak, ia tidak akan mencobanya.
  Tiba-tiba  ponsel  dalam  genggamannya  berbunyi.  Ia  menatap  layar  ponsel  dan
jantungnya langsung berdebar dua kali lebih cepat. Jung Tae-Woo.
  Sandy menempelkan ponselnya ke telinga. “Ya?” Kenapa suaranya terdengar serak?
  “Bagaimana kabarmu?”
  Mata Sandy terasa panas begitu mendengar suara Jung Tae-Woo.
  “Baik-baik  saja?”  suara  Jung  Tae-Woo  terdengar  lagi.  Suaranya  terdengar  ceria,
ringan, dan santai. 151

  “Mm,”  jawab  Sandy  sambil  mengerjapkan  mata  untuk  menghalau  air  mata.
“Bagaimana denganmu?”
  “Ingin bertemu denganmu.”
  Sandy tidak berkata apa-apa.
  Jung  Tae-Woo  mendesah  panjang.  “Bagaimana  ini?  Sudah  lama  aku  tidak
melihatmu,  tidak  mendengar  suaramu,  rasanya  aneh  sekali.  Sepertinya  semua  yang
kulakukan tidak ada yang benar. Lalu aku berpikir, mungkin kalau aku meneleponmu
dan  mendengar  suaramu,  aku  akan  merasa  lebih  baik.  Sekarang  setelah  mendengar
suaramu, aku memang merasa lebih baik, tapi timbul masalah lain.” Hening sejenak.
“Aku jadi semakin ingin melihatmu.”
  Tanpa sadar Sandy tersenyum, namun pandangannya mulai kabur.
  “Apa aku boleh berpikir seperti itu?”
  Sandy mengerjapkan mata, tapi kali ini air matanya tidak bisa dihentikan.
  “Bisa membantuku?” tanya Jung Tae-Woo lagi. “Katakan „Jung Tae-Woo, fighting!‟
sekali saja.”
  Sandy tertawa kecil dan menghapus air mata dengan telapak tangannya. “Jung Tae-
Woo, fighting!” katanya.
  Ia mendengar Jung  Tae-Woo mendesah puas. “Baiklah, aku akan mengikuti kata-
katamu. Aku akan bertahan. Dan kau sendiri, Sandy, fighting!”
  Sandy menutup ponsel dengan perlahan. Ya, bertahanlah, Sandy.


“Kau mau ke Jakarta?”
  Sandy memandang Kang Young-Mi sambil tertawa kecil. “Kenapa terkejut begitu?”
  Mereka  berdua  sedang  mengobrol  di  kafe  langganan  ketika  Sandy  memberitahu
Young-Mi ia akan pulang ke Jakarta tiga hari lagi. Ternyata temannya kelihatan lebih
terkejut daripada yang disangkanya.
  Young-Mi mengempaskan tubuh ke kursi dan mendesah. “Kau sedang  melarikan
diri?” tuduhnya.
  Sandy menggeleng. “Tidak. Melarikan diri dari apa?”
  “Dari Jung Tae-Woo,” jawab temannya langsung.
  “Astaga, kenapa aku harus melarikan diri dari dia?”
  “Lalu kenapa tiba-tiba ingin pulang ke Jakarta?”
  Sandy  ikut  bersandar  di  kursi.  “Hanya  ingin  berganti  suasana.  Aku  ingin  mene-
nangkan diri sebentar. Kau tahu sendiri di sini aku tidak akan bisa tenang. Tidak se-
belum masalah itu beres. Lagi pula ibuku sudah marah-marah.”
  Young-Mi menatap Sandy dengan kening berkerut. “Kenapa marah?” 152

  “Tentu saja marah kalau kedua anak perempuannya mendadak jadi bahan pembica-
raan tidak enak di tabloid-tabloid, di saat yang sama pula,” jelas Sandy.
  “Tapi sebenarnya kau tidak menyalahkan Jung Tae-Woo atas kecelakaan kakakmu
itu, kan?” tanya Young-Mi hati-hati.
  “Tidak,” jawab Sandy. Ia menghela napas dan menegaskan sekali lagi, “Tidak.”
  “Lalu kenapa kau tidak menemuinya?”
  “Karena kami perlu waktu untuk berpikir. Walaupun aku tidak menyalahkannya,
bagaimanapun pasti ada ganjalan di antara kami. Apalagi aku juga harus memikirkan
ibuku.”
  Mereka  berdua  terdiam  sejenak,  sibuk  dengan  pikiran  masing-masing.  Kemudian
Young-Mi bertanya, “Berapa lama kau akan tinggal di Jakarta?”
  Sandy mengangkat bahu. “Mungkin cuma satu minggu. Mungkin lebih. Entahlah.
Yang pasti, aku akan kembali.”
  “Kau sudah memberitahu Jung Tae-Woo soal ini?”
  Sandy menggeleng. “Apakah perlu?”
  “Kurasa itu pertanyaan bodoh.”
  Sandy memiringkan kepala. “Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahunya.”
  “Jangan memintaku melakukannya,” kata Young-Mi begitu melihat tatapan Sandy.
“Kau harus mengatakannya sendiri.”


Tae-Woo memeriksa penampilannya di depan cermin. Lima menit lagi ia harus tampil
di  depan  kamera.  Hari  ini  ia  akan  tampil  dalam  acara  bincang-bincang  yang  cukup
populer. Tentu saja gosip yang paling hangat tentang dirinya akan dikonfirmasi. Tidak
apa-apa. Ia sudah siap. Melalui cermin, ia melihat Park Hyun-Shik menghampiri dari
belakang. Manajernya menunjuk jam tangan. Tae-Woo mengangguk mengerti.
  Tiba-tiba  ponselnya  berdering.  Ia  merogoh  saku  celananya  dan  mengeluarkan
ponsel.  Begitu  membaca  tulisan  yang  muncul  di  layar  ponsel,  ia  tersenyum.  Sudah
seminggu  terakhir  ini  ia  tidak  menghubungi  gadis  itu.  Kenapa  Sandy  tiba-tiba
meneleponnya?
  “Halo?” katanya begitu ponselnya ditempelkan di telinga.
  “Ini aku.” Terdengar suara Sandy di ujung sana.
  Tae-Woo tersenyum. “Aku tahu.”
  Sandy hanya bergumam tidak jelas, lalu bertanya, “Sedang apa?”
  “Sebentar lagi on air,” sahut Tae-Woo sambil melihat ke sekeliling. “Ada apa?”
  “Tidak apa-apa. Hanya ingin mendengar suaramu.”
  “Begitu?” kata Tae-Woo senang. “Di mana kau sekarang?” 153

  “Di bandara.”
  Tae-Woo mengerutkan kening. Sepertinya ia salah dengar. “Di mana?”
  “Di bandara.”
  Ia tidak salah dengar. “Kenapa ada di bandara? Menjemput seseorang?”
  “Aku akan pergi ke Jakarta. Aku meneleponmu untuk mengatakan itu.”
  Tunggu... Jakarta? Jakarta, Indonesia?
  Sepertinya  Tae-Woo  tanpa  sadar  telah  menyuarakan  pikirannya,  karena  Sandy
menjawab,  “Ya,  aku  akan  pergi  ke  Indonesia.  Sudah  cukup  lama  aku  ingin  bertemu
orangtuaku.”
  “Berapa  lama  kau  akan  di  sana?”  tanya  Tae-Woo.  Tangannya  mendadak  terasa
lemas.
  “Sekitar seminggu,” jawab Sandy cepat. “Hanya untuk liburan.”
  “Begitu.”
  “Oh, aku harus masuk sekarang. Jaga dirimu.”
  Tae-Woo masih dalam keadaan setengah sadar. “Mm... Kau juga,” gumamnya.
  Walaupun  Sandy  sudah  memutuskan  hubungan,  Tae-Woo  masih  memegangi
ponsel di telinganya.
  Gadis itu akan pergi. Tae-Woo mendadak merasa tidak bertenaga. Walaupun ia bisa
memahami  kenapa  Sandy  ingin  pergi  ke  Jakarta,  kenapa  Sandy  merasa  perlu
menjauhkan diri dari Korea untuk sementara, tetap saja ia tidak ingin gadis itu pergi.
Walaupun sangat ingin pergi ke bandara sekarang, ia tahu sudah tidak ada gunanya.
Sandy  pasti  sudah  masuk  ke  pesawat.  Itulah  sebabnya  kenapa  gadis  itu  tidak
memberitahunya  lebih  awal.  Sandy  tahu  Tae-Woo  pasti  akan  mencegahnya  kalau
memang bisa. Memikirkan gadis itu akan pergi membuat Tae-Woo cemas. Bagaimana
kalau  Sandy  tidak  kembali?  Tidak  bertemu  Sandy  beberapa  waktu  ini  saja  sudah
membuat Tae-Woo agak panik, seperti orang yang kehilangan arah, apalagi sekarang.
  “Tae-Woo, ayo, sudah saatnya.”
  Tae-Woo  menoleh  ke  manajernya.  Ia  mengangkat  sebelah  tangan  untuk  memberi
tanda. Lalu ia mematut dirinya sekali lagi di cermin. Jung Tae-Woo, fighting!







 154


Lima Belas




“H EI, lagi dengerin lagu apa nih?”
  Sandy  menoleh  ke  arah  suara  yang  bernada  ceria  dan  penuh  semangat  itu.  Tara,
saudara  sepupunya  yang  sebaya  dengannya,  masuk  ke  kamarnya  dan  langsung
merebahkan diri di tempat tidur. Sebelum Sandy menjawab, Tara sudah meraih kotak
CD yang sedang dipegang Sandy.
  “Cakep  amat  nih  cowok,”  komentarnya  ketika  melihat  cover  depan  CD  yang
gambarnya foto Jung Tae-Woo itu. “Lho, San, kok ada tanda tangan segala? Ini beneran
tanda tangan penyanyi ini? Lo pernah ketemu?”
  Sandy  tertawa  dan  merebut  kotak  CD  itu  kembali.  “Ya.  Waktu  itu  aku  pergi  ke
acara jumpa penggemarnya.”
  Ia melihat Tara hanya meringis dan mengangkat bahu. Ada kalanya ia ingin seperti
sepupunya itu. Tara gadis yang periang, santai, dan berbakat dalam bahasa. Lihat saja,
walaupun  menghabiskan  hampir  seluruh  hidupnya  di  Paris  bersama  ayahnya  dan
hanya  sesekali  mengunjungi  ibunya  di  Jakarta  bila  sedang  liburan  seperti  sekarang,
bahasa  Indonesia  Tara  tanpa  cela.  Bahkan  ia  sama  sekali  tidak  kesulitan  mengikuti
perkembangan bahasa gaul Indonesia. Tidak seperti Sandy yang bahasa Indonesia-nya
masih terdengar agak resmi.
  “Ada rencana apa hari ini?” tanya Sandy. “Kok pagi-pagi sudah ke sini?”
  “Gue  bosan  di  rumah,”  jawab  sepupunya  ringan.  Ia  duduk  di  tepi  tempat  tidur
Sandy  dan  merapikan  ikal-ikal  rambutnya.  “Ngomong-ngomong,  lo  kok  tiba-tiba
nongol di Jakarta. Bikin kaget aja. Lagi patah ati?”
  “Apa?”
  “Udah punya gebetan belon sih?” Tara mengganti pertanyaannya. 155

  “Apa itu gebetan?”
  Mata  Tara  melebar.  “Yee...  lo  ini  orang  Indonesia  apa  bukan?”  katanya  sambil
tertawa  kecil.  “Maksud  gue  tuh,  lo  udah  punya  cowok  yang  ditaksir  belon?  Udah
punya cowok belon? Gitu lho.”
  Senyum  Sandy  mengembang.  “Sudah,”  jawabnya  sambil  menunjuk  gambar  cover
depan CD Jung Tae-Woo. “Ini dia.”
  Tara meringis. “Iye, gue juga punya affair sama Brad Pitt,” katanya cepat. “Gimana
sih, ditanya baek-baek kok jawabnya gitu.”
  Sandy juga sudah memperkirakan Tara tidak akan percaya. Ia menatap wajah Jung
Tae-Woo  di  cover  CD  itu.  Sudah  satu  minggu  ia  berada  di  Jakarta,  dan  selama  satu
minggu itu ia tidak bisa melihat foto-foto dan artikel Jung Tae-Woo di tabloid dan di
televisi. Namun masih ada Young-Mi yang sering mengirimkan SMS untuk mencerita-
kan  kabar  terbaru.  Jung  Tae-Woo  juga  kadang-kadang  mengirim  SMS  untuk
mengabarkan keadaannya.
  “Tara, bisa pinjam handphone-mu sebentar?”
  “Pourquoi?  Kenapa?”  tanya  Tara  sambil  mengeluarkan  ponsel  dari  dalam  tas
tangannya.
  “Pulsaku sudah habis. Aku mau kirim SMS ke temanku di Korea. Aku mau bilang
lusa aku akan balik ke Korea,” Sandy menjelaskan.
  Tara menggeleng-geleng sambil mendesah. “Lo jangan ngomong pake bahasa yang
seresmi itu dong. Gue jadi merinding nih. Pake aku-kamu segala. Emang kita pacaran?”
  Sandy hanya tertawa. Tara membantunya mengirim SMS kepada Young-Mi dalam
bahasa  Inggris  karena  ponsel  Tara  tidak  memiliki  fasilitas  huruf  hangeul  dan  karena
Sandy  sendiri  tidak  begitu  bisa  bahasa  Inggris.  Menulis  bahasa  Korea  tanpa  hangeul
terasa terlalu aneh.
  “Nih, udah kekirim,” kata Tara, lalu ia bangkit dari tempat tidur Sandy. “Sekarang
kita cabut yuk!”
  “Apa? Kamu mau ke mana?”
  Tara memandangi dirinya di cermin yang tergantung di dinding, berbalik ke kiri,
berbalik  ke kanan, lalu mendekatkan wajah ke cermin, seakan-akan ingin memeriksa
apakah ada setitik debu di ujung hidungnya. “Kita ke Bandung. Mau nggak?” usul Tara
sambil menjauhkan wajahnya dari cermin. “Gue lagi pengin jalan nih. Bukan cuma lo
yang patah ati. Gue juga lagi bete. Hari ini kita have fun aja. Ayo dong! Lelet amat sih
nih anak. Ganti baju sana!”

* * * 156

“Jadi kamu pasti kembali hari ini?” tanya Young-Mi dengan ponsel yang ditempelkan
di  telinga.  Ia  mengucapkan  terima  kasih  kepada  pelayan  toko  yang  menyerahkan
barang  belanjaannya  dan  kembali  memusatkan  perhatian  pada  Sandy  yang  sedang
berbicara di ujung sana.
  “Mm,”  jawab  Sandy.  Suaranya  kurang  jelas  karena  sambungan  internasional.
“Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang. Dua jam lagi aku akan berangkat lagi
ke bandara. Pesawatku berangkat tengah malam, jadi menurut jadwal aku akan sampai
besok pagi.”
  Young-Mi mendorong pintu kaca toko dan keluar. “Oke. Aku akan menjemputmu
di bandara nanti.”
  “Tidak usah. Aku bisa naik taksi sendiri. Bukankah kau harus membantu ibumu?”
  “Biasanya tidak ada pelanggan yang datang pada jam-jam segitu,” bantah Young-
Mi. “Jung Tae-Woo sedang di Amerika Serikat, jadi tidak bisa pergi menjemputmu.”
  “Aku  tahu.  Dia  pulang  hari  ini  juga,  tapi  mungkin  sampai  di  Seoul  agak  malam
besok.”
  Young-Mi  meringis.  “Rupanya  kau  masih  berhubungan  dengan  dia.  Memangnya
ibumu tidak marah-marah?”
  Young-Mi mendengar temannya tertawa kecil di seberang sana, lalu Sandy berkata,
“Tidak, sebenarnya ibuku tidak benar-benar marah. Ibuku hanya sedih karena teringat
lagi  pada  Lisa.  Ibuku  juga  kesal  karena  kedua  anak  perempuannya  menjadi  bahan
pembicaraan di Korea. Tapi sekarang gosipnya sudah mereda, kan?”
  Young-Mi  mengangguk,  walaupun  ia  tahu  Sandy  tidak  bisa  melihat  anggukan
kepalanya. “Ya, Jung Tae-Woo sudah menyelesaikannya. Entah bagaimana. Setidaknya
sekarang dia memang sibuk sekali.”
  “Oh, begit—AHH!”
  Young-Mi berhenti berjalan. Ia mengerutkan kening. “Halo? Halo? Soon-Hee?”
  Tidak  ada  jawaban.  Sambungan  telepon  sudah  terputus.  Young-Mi  menatap
ponselnya,  lalu  menelepon  ponsel  Sandy.  Tidak  bisa.  Young-Mi  mencoba  sekali  lagi.
Tetap tidak bisa.
  Awalnya Young-Mi tidak begitu merisaukan hubungan telepon yang terputus, tapi
ketika tidak bisa menemukan Sandy di bandara waktu ia menjemput keesokan harinya,
ia mulai cemas. Ia kembali berusaha menghubungi ponsel Sandy, tapi tetap tidak bisa
tersambung.
  Young-Mi  kebingungan.  Ia  tidak  tahu  nomor  telepon  rumah  Sandy  di  Jakarta.  Ia
harus menghubungi siapa? Tiba-tiba ia teringat pada SMS yang diterimanya dari Sandy
dengan  menggunakan  ponsel  saudara  sepupunya.  Young-Mi  memeriksa  ponselnya.
Semoga saja SMS dari nomor ponsel sepupu Sandy itu masih ada. 157

  Ah, ternyata belum dihapus. Syukurlah.
  Young-Mi cepat-cepat menghubungi nomor itu dan menunggu dengan tidak sabar.
  “Halo?” Terdengar jawaban dari seberang sana. Suara perempuan. Saudara sepupu
Sandy atau bukan? Sepertinya memang benar.
  Young-Mi berusaha menyusun kata-kata dalam bahasa Inggris secara kilat. “Hello,”
katanya ragu-ragu. “Is this Soon-Hee‟s cousin?”
  “Yes,”  jawab  perempuan  itu.  Suaranya  terdengar  aneh.  “This  is  Tara.  Who‟s
speaking?”
  Untunglah sepupu Sandy bisa berbahasa Inggris dengan lancar. “My name is Kang
Young-Mi. Soon-Hee‟s friend from Korea,” kata Young-Mi memperkenalkan diri. “I need to
ask you something. Soon-Hee told me that she would arrive in Korea today,b ut I couldn‟t find
her at the airport. She couldn‟t make it?”
  Begitu  mendengar  jawaban  sepupu  Sandy,  mata  Young-Mi  terbelalak.  ”Apa?!  I‟m
sorry... what was that? Can you say that again, please?”
  Young-Mi  merasa  tubuhnya  lemas  seketika.  Begitu  memutuskan  hubungan,  ia
langsung menghubungi Jung Tae-Woo melalui ponsel Park Hyun-Shik karena ia tidak
punya nomor ponsel Jung Tae-Woo. Tidak tersambung. Mungkin Park Hyun-Shik dan
Jung Tae-Woo sedan berada dalam pesawat yang membawa mereka pulang ke Korea
dari Amerika Serikat.
  Young-Mi menutup flap ponselnya dengan keras. Ia mengacak-acak rambut dengan
perasaan putus asa. Ia harus segera memberitahu Jung Tae-Woo apa yang sudah terjadi
pada Sandy.


“Lelah sekali,” gumam Park Hyun-Shik sambil masuk ke mobil yang sudah menunggu
mereka di pintu depan bandara.
  Tae-Woo menyandarkan kepala ke kursi. Sandy seharusnya sudah kembali ke Korea
hari ini. Benarkah telah nyaris satu bulan berlalu sejak terakhir ia bertemu gadis itu?
Hari ini ia bakal bisa menemuinya. Tae-Woo merasa semangatnya pulih kembali begitu
berpikir ia bisa melihat Sandy.
  Ia  bertanya-tanya  pada  dirinya  sendiri  sejak  kapan  gadis  itu  menjadi  salah  satu
alasannya untuk menjalani hari-hari. Karena ingin melihat dan bersama gadis itu, maka
ia  tetap  bertahan,  tetap  bangun  di  pagi  hari,  tetap  bernapas.  Sekarang  Tae-Woo  bisa
memahami apa artinya bila seseorang ingin tetap bertahan hidup demi orang lain. Ia
sering  menonton  drama  yang  tokoh  utamanya  mengidap  penyakit  parah  yang
mematikan, namun ingin tetap bertahan hidup demi orang yang dicintainya. Sebelum
ini,  Tae-Woo  tidak  terlalu  memahami  perasaan  seperti  itu  tapi  sekarang,  walaupun 158

tidak mengidap penyakit apa pun, ia ingin tetap hidup. Karena dalam hidup ini, ada
seseorang yang sangat berharga baginya. Karena dalam hidup ini, ia ingin selalu bisa
melihat dan bersama orang itu.
  “Aneh.  Teman  Sandy  yang  bernama  Kang  Young-Mi  itu  sudah  meneleponku
belasan kali.”
  Lamunan  Tae-Woo  dibuyarkan  suara  manajernya.  Ia  menoleh  dan  melihat  Park
Hyun-Shik sedang mengerutkan kening menatap ponselnya.
  “Kang Young-Mi?” tanya Tae-Woo.
  Park  Hyun-Shik  mengangguk.  “Aku  juga  baru  tahu  setelah  kuaktifkan  ponselku
kembali.”
  Tae-Woo ikut mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya.
  Tiba-tiba ponsel Park Hyun-Shik berbunyi.
  “Dari Kang Young-Mi,” kata Park Hyun-Shik dan segera menjawab teleponnya.
  Tae-Woo memerhatikan manajernya berbicara dengan teman Sandy itu.
  “Kang  Young-Mi  ssi,  bicaranya  pelan-pelan  saja.  Aku  tidak  mengerti  apa  yang
kaukatakan,” kata Park Hyun-Shik. “Jung Tae-Woo? ... Ya, dia ada di sini... Mau bicara
dengannya? ... Oke, sebentar.”
  Tae-Woo  mengerutkan  dahi.  Mendadak  saja  perasaannya  tidak  enak.  Apa  ada
hubungannya dengan Sandy?
  Ia menerima ponsel dari Park Hyun-Shik. “Ya?”
  “Jung Tae-Woo ssi, aku ingin memberitahumu lebih awal, tapi ponsel Paman Park
Hyun-Shik  tidak  aktif  dan  aku  tidak  tahu  nomor  ponselmu.”  Tae-Woo  mendengar
suara teman Sandy itu agak gugup dan kacau.
  “Aku  dan  Hyun-Shik  Hyong  memang  baru  turun  dari  pesawat,  jadi  ponsel  kami
berdua tidak aktif tadi,” Tae-Woo menjelaskan. Perasaannya semakin tidak enak. “Ada
apa kau mencariku?”
  “Soon-Hee...”
  Kenapa ia tiba-tiba merasa sulit bernapas?
  “Ada  apa  dengan  Sandy?”  tanyanya.  Tangannya  mulai  terasa  dingin.  Ia  sendiri
mulai panik. “Di mana dia?”
  “Soon-Hee masih di Jakarta.”
  “Dia tidak pulang hari ini? Kenapa?”
  Kang Young-Mi tidak bersuara sejenak. Tae-Woo baru akan memanggilnya ketika
gadis itu berbicara lagi. “Dia mengalami kecelakaan.”
  “Apa?”
  Kali  ini  penjelasan  Kang  Young-Mi  mengalir  dengan  lancar.  “Tadi  aku  sudah
menelepon saudara sepupunya yang ada di Jakarta karena ponsel Soon-Hee tidak bisa 159

dihubungi. Dia yang mengatakan padaku Soon-Hee mengalami kecelakaan lalu lintas.
Taksi yang ditumpanginya terlibat dalam tabrakan beruntun di jalan tol.”
  Tae-Woo  merasa  dadanya  berat  sekali,  susah  bernapas,  darahnya  seolah-olah
membeku begitu saja. “Bagaimana keadaannya sekarang?”
  “Belum  sadar.”  Suara  Kang  Young-Mi  mulai  pecah.  Sepertinya  gadis  itu  mulai
menangis.
  Belum sadarkan diri... Ya Tuhan...
  Tae-Woo  berusaha  keras  untuk  menarik  napas.  “Di  rumah  sakit  mana?  ...  Aku
mengerti... Terima kasih.”
  Sandy sedang terbaring tidak sadarkan diri...
  “Tae-Woo, ada apa? Sandy masuk rumah sakit?”
  Tae-Woo  mendengar  suara  Park  Hyun-Shik,  tapi  ia  tidak  punya  tenaga  untuk
menjawab. Pikirannya kalut.
  “Hei, Jung Tae-Woo!”
  “Aku harus ke sana,” katanya cepat tanpa memandang manajernya. “Aku harus ke
Jakarta.”


Tara  memeluk  rantang  dengan  sebelah  tangan  sementara  tangannya  yang  lain  mem-
betulkan  letak  tali  tasnya.  Rantang  berisi  makanan  itu  akan  diberikannya  kepada
orangtua  Sandy  yang  sudah  menunggui  Sandy  semalaman  di  rumah  sakit.  Ibu  tara
yang menyuruhnya membawakan makanan untuk mereka.
  Ia  melangkah  memasuki  pintu  depan  rumah  sakit  besar  itu  dan  berjalan  ke  lift.
Siang  ini  ia  tidak  ada  jadwal  apa  pun,  sorenya  juga  tidak  ada  acara  penting.  Tara
berencana membujuk oom dan tantenya itu istirahat. Ia bisa menjaga Sandy bila oom
dan  tantenya  mau  pulang  sebentar.  Tara  merasa  kasihan  pada  kedua  orang  itu.
Kemarin ibu Sandy banyak menangis dan ayah Sandy juga sempat  menangis setelah
melihat  anak  perempuan  terbaring  di  kamar  rumah  sakit  dengan  tubuh  dan  wajah
penuh luka.
  Ting!
  Tara  tersentak mendengar denting bel yang menandakan terbukanya  pintu lift. Ia
mengembuskan napas keras dan keluar dari lift. Ketika akan membelok menuju kamar
Sandy, ia menghentikan langkahnya. Di depan pintu kamar Sandy ia melihat dua laki-
laki yang tidak dikenalnya sedang berdiri berhadapan dengan kedua orangtua Sandy.
Tara melihat oomnya merangkul tantenya yang sesekali menyeka air mata dengan sapu
tangan sambil mengangguk-angguk kecil. 160

  Tara menyipitkan mata. Sepertinya ia pernah melihat salah satu dari kedua laki-laki
itu.  Bukan  yan  berkacamata,  tapi  yang  berdiri  di  samping  temannya  dengan  kepala
tertunduk.  Raut  wajah  laki-laki  itu  kelihatan  kusut.  Tunggu...  bukankah  laki-laki  itu
sama dengan laki-laki yang fotonya ada di sampul depan CD yang pernah ditunjukkan
Sandy  kepadanya?  Tara  memerhatikan  lebih  cermat  lagi.  Benar...  memang  orang  itu.
Orang itu berarti... artis?
  Kemudian Tara melihat orangtua Sandy berjalan mengikuti si laki-laki berkacamata.
Si artis menundukkan kepala kepada orangtua Sandy, tapi ia tidak ikut pergi. Ia tetap
berdiri di depan pintu kamar tempat Sandy dirawat.
  Laki-laki  itu  memegang  pegangan  pintu  kamar  sejenak.  Tidak  bergerak.  Lalu
dengan perlahan ia membuka pintu dan masuk.


Tae-Woo  merasa  tubuhnya  lelah  sekali.  Belum  pernah  ia  merasa  seperti  ini.  Seluruh
tenaganya seakan sudah terserap habis. Dadanya terasa begitu berat. Ia naik pesawat
pertama  yang  bisa  didapatkannya  ke  Jakarta,  lalu  langsung  ke  rumah  sakit  tempat
Sandy  dirawat.  Semuanya  berjalan  seperti  mimpi.  Ketika  ia  bertemu  kedua  orangtua
Sandy  untuk  pertama  kalinya,  ketika  ia  berbicara  pada  mereka,  meminta  supaya  ia
diizinkan melihat Sandy, ia masih merasa dalam keadaan setengah sadar.
  Ia masuk ke kamar Sandy dan hatinya seakan diremas begitu kuat ketika melihat
gadis  itu  berbaring  dengan  mata  terpejam.  Tae-Woo  menghampiri  tempat  tidur  dan
memerhatikan  wajah  Sandy  yang  lebam.  Kepalanya  diperban,  begitu  juga  siku  dan
sebelah kakinya.
  Tae-Woo menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum lemah.
  “Ini aku,” bisiknya pelan.
  Gadis itu tetap diam tidak bergerak.
  Tae-Woo  menjulurkan  tangan  dan  menyentuh  tangan  Sandy.  “Sudah  lama  tidak
melihatmu.  Kau  tahu,  aku  hampir  melupakan  wajahmu.  Kalau  aku  sampai  lupa
bagaimana wajahmu, aku tidak bakal bisa melakukan apa pun lagi. Kau tahu kenapa?
Karena  aku  akan  terlalu  sibuk  berusaha  mengingat  wajahmu  sampai-sampai  tidak
mampu memikirkan masalah lain. Gawat, kan?”
  Ia membelai pipi Sandy dengan ujung jemarinya. “Sekarang setelah melihatmu, aku
baru  ingat.  Ah,  benar...  Matamu  seperti  ini...  hidungmu  seperti  ini...  mulutmu...
dahimu... dan rambutmu.”
  Ia  menggenggam  tangan  gadis  itu  dengan  lembut.  “Kenapa  aku  bisa  lupa
wajahmu?”  Tae-Woo  mendesah.  “Ingatanku  memang  buruk,  aku  tahu.  Menurutmu 161

aku harus bagaimana? Menurutku, aku harus melihatmu setiap hari supaya tidak lupa.
Itu artinya kau harus selalu di sisiku, bersamaku. Bagaimana?”


Tara menghampiri pintu kamar Sandy dan ragu-ragu sebentar. Ia tidak punya pikiran
atau maksud apa pun. Ia hanya ingin tahu apa yang dilakukan laki-laki itu di kamar
Sandy. Karena itu ia memantapkan hati dan membuka pintu itu dengan perlahan.
  Ia  melihat  laki-laki  itu  duduk  di  sisi  tempat  tidur.  Laki-laki  itu  tidak  menyadari
kehadirannya  di  balik  pintu.  Tara  melihatnya  menggenggam  tangan  Sandy  dengan
salah  satu  tangannya.  Tara  tertegun  melihat  cara  laki-laki  itu  memandang  saudara
sepupunya.  Belum pernah ada orang yang menatapnya dengan cara seperti itu. Tara
bukan tipe orang yang romantis, tapi ia merasa tatapan itu begitu tulus. Ia pasti sudah
luluh jika ada orang yang menatapnya penuh perasaan seperti itu.
  Laki-laki itu sedang berbicara. Samar-samar Tara bisa mendengar suaranya, ia tahu
laki-laki  itu  berbicara  dalam  bahasa  Korea,  tapi  tidak  mengerti  apa  yang  sedang
dikatakannya.  Sambil  berbicara,  laki-laki  itu  menyentuh  wajah  Sandy  dengan  ujung
jemarinya.  Hanya  dengan  ujung  jemari,  dan  perlahan  sekali,  seakan-akan  takut  akan
menyakiti gadis yang terbaring di tempat tidur itu. Tanpa disadarinya, Tara menahan
napas, terkesima melihat laki-laki itu dan Sandy. Suara laki-laki itu pelan dan dalam.
Walaupun Tara tidak mengerti sedikit pun apa yang diutarakannya, herannya ia bisa
merasakan perasaan yang mengalir melalui ucapan laki-laki itu.
  Laki-laki  itu  menghela  napas  berat.  Ia  menatap  wajah  Sandy  dan  saat  itu  Tara
mendengar laki-laki itu berbisik, “Sarang hae...”
  Kerongkongan  Tara  tercekat  dan  entah  kenapa  air  matanya  bergulir  turun.  Yang
membuat  Tara  tersentuh  adalah  cara  laki-laki  itu  mengucapkannya:  dengan  segenap
perasaan, seolah-olah tidak lagi punya tenaga untuk mengucapkan kata-kata lain. Tara
tidak bisa berbahasa Korea, tapi ia tahu arti kalimat barusan.
  Aku mencintaimu....








 162


Enam Belas




B EBERAPA hari setelah itu Tae-Woo terus berada di Jakarta. Park Hyun-Shik sibuk
membatalkan  dan  menyusun  ulang  jadwal  kerja  Tae-Woo.  Tae-Woo  ingin  berada  di
dekat  Sandy.  Ia  juga  menggunakan  kesempatan  itu  untuk  lebih  mengenal  kedua
orangtua Sandy. Setelah mengenal mereka secara pribadi, ia baru mengetahui dengan
pasti  bahwa  sebenarnya  kedua  orangtua  Sandy  tidak  membencinya  karena  kejadian
empat tahun lalu.
  “Masih  sama.  Belum  sadar,”  kata  Tae-Woo  sambil  duduk  di  bangku  panjang  di
koridor  rumah  sakit.  Ia  menggenggam  ponsel  yang  ditempelkan  di  telinga  dan
bersandar  ke  dinding.  Ibunya  menelepon  dari  Amerika  untuk  menanyakan  keadaan
Sandy.  “Tentu,  Ibu.  Kalau  ada  kabar  apa  pun,  aku  akan  menelepon  Ibu...  Ya,  Hyong
masih di sini menemaniku... Ibu tidak usah mencemaskan aku. Aku bisa menjaga diri...
Ya, bye.”
  Tae-Woo menutup ponsel dan memejamkan mata. Sudah beberapa hari ini tidurnya
tidak  nyenyak.  Ia  lelah,  tapi  tidak  bisa  terlelap.  Orangtua  Sandy  juga  begitu.  Ayah
Sandy sudah kembali bekerja tapi datang menjenguk putrinya tiap sore. Ibunya selalu
berada  di  rumah  sakit.  Tadi  sepupu  Sandy  yang  bernama  Tara  datang  dan  kini
menemani ibu Sandy pergi makan siang di kafetaria rumah sakit.
  Sambil  menarik  napas  panjang,  Tae-Woo  kembali  ke  kamar  Sandy.  Ia  duduk  di
tempatnya  seperti  biasa,  di  sisi  tempat  tidur.  Dokter  pernah  berkata,  bila  Sandy
sadarkan diri, ia akan baik-baik saja. Masalahnya, dokter tidak tahu kapan Sandy akan
sadar. Gadis itu tetap terbaring tak bergerak, tidak membuka mata. 163

  Tae-Woo  menggenggam  tangan  Sandy.  Tiba-tiba  gerakannya  terhenti.  Ia
mengerutkan  kening.  Apakah  ia  salah  lihat  tadi?  Sepertinya  kelopak  mata  Sandy
bergerak. Tidak, ia hanya bermimpi.
  Tapi  kemudian  ia  merasakan  tangan  Sandy  yang  sedang  digenggam  bergerak.  Ia
tersentak dan menatap wajah Sandy dengan jantung berdebar keras.
  Kelopak mata gadis itu bergerak, lalu perlahan-lahan matanya terbuka.
  Tae-Woo  merasa  begitu  lega  sampai  kakinya  terasa  lemas.  Sandy  sadar!  Ia  sudah
sadar.  Tae-Woo  menjulurkan  tangan  dan  menyentuh  pipi  Sandy.  Gadis  itu  menoleh
lemas dan matanya bertemu mata Tae-Woo.
  “Kau sudah sadar,” kata Tae-Woo kepadanya, senyumnya mengembang. Ia begitu
lega, begitu bahagia sampai ia ingin melompat. “Bagaimana perasaanmu?”
  Sandy membuka mulut, tapi terlalu tak bertenaga untuk berbicara. Tae-Woo cepat-
cepat menggeleng. “Jangan bicara dulu. Kau masih lemah. Tunggu sebentar, kita harus
memanggil dokter.”
  Tae-Woo menekan tombol merah di dekat tempat tidur dan kembali memandangi
Sandy.  Kelihatannya  gadis  itu  masih  setengah  terjaga,  karena  matanya  sesekali
terpejam, lalu terbuka lagi, tapi dari matanya Tae-Woo tahu Sandy mengenalinya.
  Gadis  itu  memandangnya,  lalu  membuka  mulut  lagi.  Tae-Woo  mendekatkan
telinganya ke wajah Sandy untuk mendengarkan kata-katanya.
  “Aku... rindu... padamu.”
  Tae-Woo  tertegun.  Suara  Sandy  memang  lebih  mirip  bisikan,  tapi  ia  mendengar
kata-kata itu dengan jelas. Tae-Woo tersenyum dan berkata pelan, “Aku juga.”
  Tidak  lama  kemudian,  terdengar  pintu  dibuka.  Tae-Woo  menoleh  dan  melihat
dokter dan perawat bergegas masuk. Ia menoleh kembali kepada Sandy dan berkata,
“Dokter sudah datang. Aku akan pergi sebentar untuk memanggil ibumu. Kau sudah
tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.”


“Ibumu sudah tahu aku yang akan mengantarmu pulang,” kata Jung Tae-Woo sambil
meletakkan tas Sandy di sofa kamar.
  Hari  ini  Sandy  sudah  boleh  meninggalkan  rumah  sakit.  Keadaannya  sudah
membaik walaupun tubuhnya masih agak lemah. Lagi pula setelah seminggu siuman
di rumah sakit, Sandy mulai merasa bosan setengah mati.
  Ketika tabrakan keras itu terjadi, hal terakhir yang diingatnya adalah Jung Tae-Woo.
Bahwa ia belum bertemu laki-laki itu lagi. Belum bicara dengannya. Ia takut tidak akan
pernah punya kesempatan melihat Jung Tae-Woo lagi. Lalu semuanya gelap. Ia tidak
tahu apa-apa lagi. 164

  Ia  nyaris  tidak  percaya  pada  apa  yang  dilihatnya  ketika  pertama  kali  membuka
mata. Ia melihat wajah Jung Tae-Woo. Seperti sedang bermimpi. Kalau bermimpi, saat
itu ia tidak ingin bangun. Tapi ternyata itu kenyataan. Jung Tae-Woo sungguh ada di
sana, di sisinya, menggenggam tangannya dan berbicara padanya.
  “Kenapa menatapku seperti itu?”
  Sandy  tersentak  dari  lamunan  dan  melihat  Jung  Tae-Woo  sedang  menatapnya
dengan alis terangkat. Sandy tersenyum dan menggeleng.
  Jung  Tae-Woo  mendorong  kursi  roda  ke  samping  tempat  tidur.  “Ayo,  kubantu,”
katanya.
  Sandy  membiarkan  Jung  Tae-Woo  menggendongnya  dan  mendudukkannya  di
kursi  roda.  Walaupun  sebagian  perbannya  sudah  dilepas,  kakinya  masih  tidak  kuat
untuk berjalan atau berdiri, karena itu mereka membutuhkan kursi roda.
  “Sebelum  pulang  ke  rumah,  aku  ingin  membawamu  ke  suatu  tempat,”  kata  Jung
Tae-Woo sambil meraih tas Sandy dan mendorong kursi roda Sandy keluar pintu.
  “Kita mau ke mana?” tanya Sandy heran.
  “Aku ingin mengajakmu makan siang. Untuk merayakan kesembuhanmu.”
  “Di mana?”
  “Kau akan tahu.”
  “Kita naik apa?”
  “Tentu saja naik mobil. Eh... kau tidak takut, kan?” tanya Jung Tae-Woo agak ragu.
  Sandy  menggeleng.  “Bukan  begitu  maksudku.  Ini  bukan  di  Korea.  Di  Indonesia
kemudi mobil ada di sebelah kanan. Memangnya kau bisa?”
  Jung  Tae-Woo  tertawa.  “Ada  orang  yang  akan  mengemudikan  mobil.  Aku  juga
sudah memperingatkannya untuk mengemudi dengan hati-hati sekali.”
  “Siapa?”
  “Kalau kukatakan, kau tidak akan kenal siapa dia.”
  Sandy memiringkan kepala dan tidak bertanya-tanya lagi. Bertanya juga tidak ada
gunanya kalau Jung Tae-Woo sudah tidak mau mengatakan apa-apa.
  Ternyata Sandy memang tidak mengenal pria setengah baya yang mengemudikan
mobil itu. Sandy melihat Jung Tae-Woo berbicara padanya dalam bahasa Inggris, lalu
pria setengah baya itu mengangguk mengerti. Mereka pun berangkat.


Mereka berhenti di hotel terkenal di daerah Jakarta Selatan.
  “Kita mau makan di sini?” tanya Sandy ragu-ragu.
  “Ya. Aku sudah memesan tempat. Ayo, kubantu keluar,” kata Jung Tae-Woo. 165

  Sandy  cepat-cepat  menahannya.  “Tunggu  sebentar,  Jung  Tae-Woo  ssi.  Aku...
maksudku, aku tidak masuk ke tempat seperti itu dengan kursi roda. Maksudku—“
  Kata-kata Sandy terputus ketika Jung Tae-Woo memegang wajahnya dengan kedua
tangan.
  “Tidak apa-apa. Ada aku,” katanya sambil tersenyum menenangkan.
  Sandy tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan dirinya didudukkan di kursi roda
dan didorong masuk ke lobi hotel.
  Seorang  pegawai  hotel  sepertinya  sudah  mengenal  Jung  Tae-Woo.  Ia  langsung
tersenyum ramah dan langsung menunjukkan jalan menuju restoran.
  Sandy  merasa  agak  aneh  ketika  masuk  ke  restoran  itu  dan  tidak  melihat  seorang
pun di sana. Hanya ada beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu
perintah. Sandy juga memerhatikan ada beberapa pria yang memainkan alat musik di
panggung kecil di tengah restoran.
  Pegawai  hotel  yang  mengantar  mereka  menunjukkan  meja  yang  sudah  disiapkan
untuk mereka, di bagian depan, dekat panggung. Sandy juga melihat ada  grand piano
hitam serta pemusik yang duduk di sana dan memainkannya.
  Ketika  Jung  Tae-Woo  sudah  duduk  berhadapan  dengannya,  Sandy  membuka
mulut. “Kenapa aku merasa kau sudah mengatur semua ini?”
  “Mengatur apa?” Jung Tae-Woo balas bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.
  Sandy tersenyum. “Tidak ada orang di restoran ini, kecuali pelayan dan beberapa
pemain musik. Jangan-jangan penyebabnya adalah kau.”
  Jung Tae-Woo hanya tertawa.
  Tak  lama  kemudian  makanan  mereka  diantarkan.  Sepertinya  sudah  lama  sekali
sejak Sandy makan bersama Jung Tae-Woo. Ia sangat menikmatinya. Ia selalu merasa
senang  berada  di  dekat  Jung  Tae-Woo.  Bila  ia  bersama  laki-laki  itu,  ia  merasa  lebih
tenang, lebih bahagia.
  Saat mereka selesai makan, Sandy baru akan mengatakan sesuatu ketika Jung Tae-
Woo mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya.
  “Aku tahu apa yang kauinginkan,” kata Jung Tae-Woo yakin.
  Alis Sandy terangkat.
  “Dari  tadi  kau  terus  melirik  piano  di  sana  itu,”  kata  Jung  Tae-Woo.  “Aku  sudah
tahu kau akan memintaku bermain piano. Benar tidak?”
  Sandy kaget dan tertawa. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.
  “Tentu saja,” sahut Jung Tae-Woo. “Karena aku mengenalmu.”
  Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo saat ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah
piano.  Pria  yang  tadinya  bermain  piano  berdiri  dan  mempersilakan  Jung  Tae-Woo 166

duduk. Saat itu juga lampu sorot entah di mana menyala menyinari piano itu. Jung Tae-
Woo duduk di depan piano dan memosisikan jari-jari tangan di tuts-tutsnya.
  Jung Tae-Woo menatap Sandy dan bertanya, “Kau ingin aku memainkan lagu apa?”
  “Apa saja,” jawab Sandy cepat.
  “Aku sudah menulis  sebuah lagu,”  kata Jung  Tae-Woo sambil menekan beberapa
nada  di  piano.  “Sebenarnya  lagu  ini  kutulis  untukmu,  tapi  belum  ada  liriknya,  juga
belum ada judulnya. Untuk sementara ini hanya ada nadanya.”
  Biarpun begitu, Sandy tetap merasa tersanjung.
  Jung  Tae-Woo  mulai  memainkan  piano.  Sandy  sangat  suka  mendengar  Jung  Tae-
Woo bermain. Setiap nada yang keluar dari piano itu begitu hidup, membentuk melodi
indah.  Walaupun  masih  belum  ada  liriknya,  Sandy  sangat  senang  dengan  kenyataan
bahwa Jung Tae-Woo menulis lagu itu untuknya.
  Ketika lagu itu berakhir, Sandy bertepuk tangan bersama para pemusik lain. Sandy
mengira  Jung  Tae-Woo  akan  kembali  ke  meja  mereka,  tapi  laki-laki  itu  malah
mengambil  mikrofon.  Lalu  salah  seorang  pemusik  tadi  mengambilkan  bangku  tinggi
dan  meletakkannya  di  tengah-tengah  panggung.  Para  pemusik  lain  bersiap-siap
kembali dengan alat musik mereka. Apa yang sedang dilakukan Jung Tae-Woo?
  Jung Tae-Woo tersenyum padanya. Laki-laki itu menyalakan mikrofon dan berkata,
“Sebenarnya  aku  ingin  menyanyikan  laguku  sendiri  untukmu,  tapi  tidak  ada  yang
cocok  dengan  apa  yang  ingin  kukatakan  padamu  sekarang.  Jadi,  aku  akan
menyanyikan  lagu  lain.”  Ia  terdiam  sejenak  dan  melanjutkan,  “Ada  satu  lagu  yang
rasanya cocok.”
  Jung Tae-Woo akan menyanyi? Sandy menunggu dengan hati berdebar.
  Jung Tae-Woo memberi tanda kepada para pemusik dan musik mulai mengalun. Ia
pun mulai bernyanyi.
  Sandy  menahan  napas  ketika  mengenali  lagu  itu.  Salah  satu  lagu  favoritnya
sepanjang  masa.  Lagu  yang  dinyanyikan  Kang  Ta  yang  berjudul  Confession.  Dulu,
setiap  kali  mendengarkan  lagu  ini  di  CD  Kang  Ta  atau  di  radio,  ia  selalu  bermimpi
suatu saat nanti ada seseorang yang akan menyanyikan lagu ini khusus untuknya. Kini
mimpinya  menjadi  kenyataan.  Jung  Tae-Woo  sedang  menyanyikan  lagu  itu.  Khusus
untuknya.

Ya... aku ingin hatimu datang padaku
Aku ingin melangkah ke dalam matamu yang sedih
Tidak bisa... kau tidak bisa menerima hatiku semudah itu
Tapi kuharap kau membuka hatimu dan menerimaku

 167

Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga hanya dirimu?

Seluruh cintaku akan menjadi bintang
yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku

Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga adalah dirimu?

Seluruh cintaku akan menjadi bintang
yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku

Terima kasih...
Aku akan hidup demi dirimu yang bersedia menerima hatiku
Walaupun cahaya di wajahmu meredup
aku akan tetap mencintaimu...
Aku akan tetap mencintaimu...
Aku akan tetap mencintaimu...

(Terjemahan lagu Confession)

  Ketika  lagu  itu  berakhir,  Sandy  baru  menyadari  air  matanya  mengalir  tanpa
sepengetahuannya.
  Jung  Tae-Woo  turun  dari  panggung  dan  menghampirinya.  Sandy  mendongak
menatap  Jung  Tae-Woo  yang  tersenyum.  Lalu  laki-laki  itu  berlutut  di  samping  kursi
rodanya.
  “Anak bodoh. Kenapa menangis?” tanya Jung Tae-Woo sambil menghapus air mata
di pipi Sandy dengan jarinya.
  Sandy tidak tahu harus menjawab apa. Ia diam saja sambil memandangi wajah laki-
laki di depannya. 168

  Jung Tae-Woo menatapnya lurus-lurus. “Aku mencintaimu.”
  Sandy  tidak  tahu  bagaimana  menggambarkan  perasaannya  saat  itu.  Yang  ia  tahu
pipinya  terasa  panas,  air  matanya  kembali  mengalir,  lalu  Jung  Tae-Woo
mencondongkan tubuh untuk menciumnya.
































 169


Epilog




“KAU akan pergi ke Amerika, Miss Han?” tanya Mister Kim dengan kening berkerut.
“Aku tidak salah dengar?”
  Sandy memasang senyum termanisnya dan menjawab, “Benar, Mister Kim. Hanya
sepuluh hari. Tidak lebih.”
  Mister  Kim  mendecakkan  lidah.  “Memangnya  untuk  apa  kau  ke  sana?  Kau  mau
pindah ke sana atau bagaimana?”
  Sandy menggeleng-geleng. “Tidak, Mister Kim. Hanya jalan-jalan.”
  “Tujuh bulan lalu aku sudah memberimu cuti karena kau mengalami kecelakaan.
Masa sekarang kau mau cuti lagi?” Mister Kim masih bersikeras.
  “Mister Kim, ayolah,” bujuk Sandy. “Hanya sepuluh hari.”
  Mister Kim menatapnya dengan mata disipitkan. “Kau pergi dengan siapa?”
  “Oh?” Sandy jadi salah tingkah. “Oh... dengan... Jung Tae-Woo.”
  “Hah!”  seru  Mister  Kim.  “Anak  itu!  Dia  pikir  karena  dia  artis  maka  bisa
sembarangan merebut asistenku kapan saja dia mau? Seenaknya saja! Fine, kau boleh ke
Amerika.  Sebagai  gantinya,  suruh  Jung  Tae-Woo  tidak  usah  pergi.  Dia  harus
menggantikanmu menjadi asistenku selama kau cuti.”
  Sandy  tertawa  mendengar  atasannya  marah-marah.  “Jangan  begitu,  Mister  Kim.
Tapi bagaimanapun, kalau dipikir-pikir, saya harus berterima kasih pada Anda.”
  “Untuk apa?”
  “Karena Mister Kim telah memintaku mengantarkan pakaian kepada Jung Tae-Woo
sehingga aku bisa berkenalan dengannya.”
  “Itu salah satu penyesalanku.”
  “Saya  senang  Anda  melakukannya,”  kata  Sandy,  tidak  mengacuhkan  kata-kata
Mister Kim. 170

  Mister Kim menatapnya.
  “Sungguh,” Sandy menegaskan.
  Akhirnya atasannya menyerah. “Okay, aku akan mengabulkan permintaan cutimu.
Tapi hanya sepuluh hari. Tidak lebih. Understand?”
  Sandy  mengangguk  dan  tersenyum  lebar.  “Terima  kasih,  Mister  Kim.  Anda  baik
sekali.”


“Kau  sungguh  tidak  mau  mengganti  nada  deringmu?”  tanya  Sandy.  Ia  berdiri  di
ambang pintu kamar Jung Tae-Woo sambil menggenggam ponsel laki-laki itu.
  Jung  Tae-Woo  berhenti  mengemas  pakaian  ke  koper  dan  mengangkat  wajah.
“Kenapa?  Kau  menjawab  teleponku  lagi?”  ia  balas  bertanya.  “Kau  memang  tidak
sengaja atau jangan-jangan kau sedang memata-mataiku?”
  Sandy mendengus. “Hoho... kau... Sudahlah, tidak apa-apa. Tidak perlu kaujawab
pertanyaanku. Biar aku yang mengganti nada deringmu.”
  Sandy baru mulai menekan-nekan tombol ponsel Jung Tae-Woo ketika laki-laki itu
mengambil ponselnya dari tangan Sandy.
  “Jangan diganti,” katanya.
  “Kenapa?” tanya Sandy.
  Jung Tae-Woo tersenyum dan kembali mengemasi pakaian. “Aku suka kita punya
nada dering yang sama. Silakan saja jawab teleponku sesukamu. Tidak ada yang perlu
kusembunyikan.”
  Sandy meringis, lalu berkata, “Ayo cepat. Kita harus berangkat ke bandara.”
  “Sudah hampir selesai,” kata Jung Tae-Woo sambil mengunci koper. “Kau sendiri
yakin  tidak  ada  barangmu  yang  ketinggalan?  Kita  sudah  tidak  punya  waktu  untuk
kembali ke apartemenmu.”
  “Tidak ada,” kata Sandy yakin. Ia meraih topi kuning pemberian Jung Tae-Woo dan
memakainya. “Jung Tae-Woo ssi, orangtuamu sudah tahu aku akan ikut ke sana?”
  “Kau sudah tanya itu berkali-kali,” sahut Jung Tae-woo sambil membawa koper ke
lantai bawah. Sandy menyusulnya dari belakang.
  “Aku hanya tidak mau mereka kaget begitu melihatku,” Sandy menjelaskan. “Aku
memang sudah bertemu ibumu, tapi aku belum bertemu ayahmu.”
  Jung Tae-Woo meletakkan kopernya di dekat pintu depan.
  “Jung Tae-Woo ssi,” panggil Sandy.
  Jung Tae-Woo memutar tubuh dan menatap Sandy. “Apa?”
  “Kenapa aku ada di nomor sembilan ponselmu?”   Sandy melihat  Jung  Tae-Woo agak kaget mendengar pertanyaannya,  lalu laki-laki
itu tersenyum geli. “Astaga, kukira ada masalah serius apa.”
  “Aku hanya penasaran.”
  “Karena aku suka nomor sembilan dan karena aku merasa kau cocok dengan angka
sembilan,” jawab Jung Tae-Woo ringan.
  “Cocok? Hanya karena itu?”
  Jung  Tae-Woo  meletakkan  kedua  tangan  di  bahu  Sandy.  “Ya,”  jawabnya  sambil
menatap lurus ke mata Sandy. “Sekarang, ayo pergi, sebelum ketinggalan pesawat.”
  “Siapa yang tidak berkemas sejak kemarin?” tanya Sandy agak jengkel.
  Jung Tae-Woo tertawa dan merangkul bahu Sandy. “Baiklah, aku minta maaf. Bisa
kita berangkat sekarang?”
  “Oke,”  sahut  Sandy.  “Jangan  lupa  kuncimu.  Sudah  kaukunci  semua  jendelanya?
Kompor gas sudah diperiksa?”


“Hei, kau tidak jadi minum-minum dengan kita?” tanya Park Hyun-Shik begitu ia menutup
ponsel.
  Tae-Woo tersenyum meminta maaf. “Maaf, Hyong. Lain kali aku yang traktir.” Kemudian
ia meminta sopir mengantarnya ke rumah.
  “Begitu  kembali  dari  luar  negeri,  sudah  ada  yang  menunggu  di  rumah.  Menyenangkan
sekali,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum.
  “Dia memintaku makan di rumah,” kata Tae-Woo.
  “Aku heran  kenapa kau menyimpan nomor telepon Sandy di  nomor sembilan,” kata Park
Hyun-Shik.  Ia  mendadak  ingat  pernah  melihat  Tae-Woo  menekan  nomor  sembilan  di  ponsel
untuk menghubungi Sandy.
  “Oh, itu,” kata Tae-Woo sambil tersenyum. “Hyong tahu aku suka bisbol, kan?”
  “Aah, sepertinya aku tahu alasannya,” kata  Park Hyun Shik sambil mengangguk-angguk
mengerti.
  Tae-woo mengabaikan manajernya itu dan tetap melanjutkan, “Dalam bisbol ada sembilan
pemain. Kurang satu saja tidak bisa. Sembilan artinya lengkap. Kenapa aku menyimpan nomor
Sandy di nomor sembilan? Itu karena kalau dia ada, aku baru merasa benar, merasa lengkap. Dia
nomor sembilanku.”
  “Persis seperti yang kuduga,” kata Park Hyun-Shik puas.
 
THE END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar